It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Dengan asumsi saya akan hidup 70 tahun - dan tetap produktif hingga tahun ke-70 itu, maka saya sudah melalui hampir 40% dari masa hidup saya, 40% yang sekali-pakai dan tidak bisa didaur ulang. HUT GKK yang ke-80, 11 Januari 2008, bertepatan dengan hari ke-10.000 dalam hidup saya. Tidak sedikit hari-hari yang sudah saya lalui. Tapi … apa yang sudah saya capai?
Saya merasa tidak ada apa-apanya. Akankah impian-impian saya menjadi kenyataan? Nampaknya, langkah-langkah strategis yang saya ambil selama ini terasa salah … apakah ini hanya sindrom-di-tengah-perjalanan atau benar-benar sebuah kesalahan? Apakah ada langkah-langkah lain yang lebih efektif dengan daya ungkit yang lebih besar yang seharusnya sudah saya ambil? Bagaimana dengan apa yang sudah terjadi selama ini?
Satu hal yang saya yakini, apa yang telah terjadi tidak saya sesali. Tetapi, mungkinkah saya "menebus" kerugian potensial yang tidak berhasil saya dapatkan hingga sejauh ini?
Semakin lama semakin saya menyadari - dan ini benar-benar memfrustrasikan - betapa sedikitnya yang saya ketahui, betapa sedikitnya yang saya kuasai, betapa banyaknya hal-hal yang seharusnya sudah saya kuasai! Betapa berbedanya sistem pendidikan yang saya jalani di Indonesia ini dengan sistem pendidikan yang dijalani orang-orang di Eropa Barat dan Amerika Serikat … belum lagi melihat sistem pendidikan di universitas-universitas mereka!
Bagaimana ketertinggalan ini dapat dikejar? Lagipula, apa sih yang sebenarnya saya kejar dalam hidup ini?
Sekonyong-konyong, hidup jadi terasa begitu menjemukan, begitu tidak berarti, begitu memfrustrasikan …. Apa yang bermakna di dalam kehidupan ini? Adakah sesuatu yang pantas dikejar? Dan kalau itu dikejar, bisakah kita benar-benar menangkapnya? Atau, apakah pengejaran itu tidak akan berakhir?
Apa makna di balik kehidupan ini? Apa sih yang disebut dengan "mengisi kehidupan"?
Sejauh mana di dalam kehidupan kita bisa membuat perencanaan dan sejauh mana kita harus berpuas diri dengan melangkah hanya satu demi satu, tanpa pernah mengetahui belokan berikutnya, tanpa pernah memahami keseluruhan skemanya …? Akankah pengejaran ini suatu saat berakhir?
Seberapa besar prestasi yang bisa dicapai seorang manusia dalam masa hidupnya yang singkat? Seberapa banyak kita bisa menafikan faktor lingkungan, faktor "keberuntungan", faktor-faktor pembentuk masa lalu kita? Adakah semua itu bisa dikompensasikan di masa kini dan mendatang? Seberapa jauh seorang harus berjuang mengkompensasikan masa lalunya?
Perjuangan hidup ternyata bukan sebuah entitas tunggal … pertama-tama perlu ada perjuangan untuk mengkompensasikan masa lalu, kemudian perjuangan untuk mencukupkan masa kini dan barulah perjuangan untuk meraih masa depan. Tapi masalahnya, yang pertama pun sudah sangat sulit. Haruskah itu diabaikan? Cukupkah kita berjuang langsung kepada yang ketiga? Pantaskah kalau yang kedua pun diabaikan? Tapi sampai kapan? Bukankah itu bagian dari tanggung jawab menjadi seorang dewasa?
Ketika kaki kita terikat pada pada lalu dan tangan kita terikat pada masa kini, masih mungkinkah kita meraih kemenangan atas masa depan? Yang mana dari belenggu-belenggu itu yang harus dilepaskan terlebih dulu?
Aaarrrggghhh … what a life! Damn, it’s so frustrating, so tiring! What should I be obsessed with all this, anyway? … But I just can’t get myself off the hook ….
It’s Christmas eve. And I’m full of anger and disappointment. Finally, it seems high time that I should accept my family for what they are - and for what they’re not, in that matter. All these years, I’ve been day dreaming that my family is an ideal family. One in which only the things of Phil. 4:8 are in the air. That would be a family I could take pride in.
But all these years all I’ve done is only fooling myself. Most of the piety we have is nothing but nonsense - it’s all just a kind of public performance. The greed is all too abound to neglect. Even the small things have become small rocks in my shoes. I’m greatly disturbed but paralysed by the fact. It seems there’s nothing I can do.
Driving back home from the church with my family, I honked several times - all of them totally unnecessary honks.
Even at this age, I’m still pondering about accepting the reality of being a member of just-another-average-family. It hurts me, it disappoints me. Though there are many things I could take pride in, somehow I just feel that these are all not enough.
My life has been one full of delusions.
My family is just another average family. Its members are but another human beings with all their mediocrities. It hurts to be forced to swallow these facts. Maybe that’s why I prefer to be on my own, to be detached from my past, to be detached from all that’s been known as the shaper of my past.
I like to be free. And I love dreaming of true detachment from all I detest. I just wish it could all come true.
But in the meantime, I suppose I need to get things done with my anger.
Mengawali musim liburan Natal ini saya berkenalan dengan satu
keluarga yang luar biasa, keluarga seorang sahabat saya. Dan dari
perkenalan itulah blog ini terinspirasi. Dalam proses menuliskan blog
ini saya sebenarnya juga tengah berupaya mendefinisikan "satu hal" yang
terus-menerus mengganggu pikiran saya tahun demi tahun, berupaya
mencari tahu apa apa sebenarnya "satu hal" itu, "satu hal" yang juga
tengah saya gumulkan untuk menjadi topik tesis saya. Saya berharap para
pembaca bisa memberikan tanggapan atas tulisan ini … dengan harapan
kegelisahan saya tentang "satu hal" itu sekurang-kurangnya akan dapat
terdefinisi dengan lebih baik.
1. Manusia Memilih
Setiap orang dilahirkan dengan bakat, minat dan kombinasi kompetensi
yang unik. Dalam bahasa awamnya, orang seringkali mengatakan bahwa
setiap orang "punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri".
Setiap orang juta disodorkan kepada serangkaian kesempatan yang unik
dalam rentang waktu hidupnya. Bagi kita, tugas kita adalah memilih.
Pilihan kita memimpin kita menapaki kehidupan - pilihan demi pilihan,
belokan demi belokan, langkah demi langkah - setiap orang dalam
perannya sendiri dan dengan citranya sendiri yang unik. Ketika melihat
kehidupan seseorang lain ada kalanya kita melihat potensi yang luar
biasa dan kemampuan yang luar biasa - jauh di atas rata-rata - di dalam
bidang-bidang tertentu. Ada orang yang sangat pintar bermain drama, ada
yang sangat berbakat musik, ada yang sangat jago dalam Matematika dan
Sains, ada yang bisa berolah raga dengan luar biasa. Ketika melihat
kehidupan orang-orang semacam itu kita (atau mungkin lebih tepat:
saya?) mengharapkan orang itu untuk menekuni bidang tersebut hingga
menjadi ahli di bidang tersebut.
Seorang kawan saya Melinda
memiliki suara yang sangat indah. Kami biasa mengatakan, kalau ia
melatih vokalnya, ia bisa memiliki suara sekelas Whitney Houston pada
puncak kejayaannya. Ia juga seorang yang sangat jago dalam ilmu-ilmu
eksakta. Tetapi kemudian ia memilih masuk ke FISIP dan kemudian menjadi
produser di radio. Ketika suatu kali saya membawa seorang murid
berkonsultasi karier dengannya, Melinda bertanya kenapa murid itu tidak
ingin meneruskan usaha papanya seraya mengatakan bahwa kalau papanya
punya usaha sendiri, ia akan memilih untuk melanjutkan usaha papanya
daripada bekerja seperti sekarang ini. Sejauh yang saya tahu, Melinda
tidak pernah melatih vokalnya maupun mendalami ilmu-ilmu eksakta yang
dalam pandangan kami merupakan bidang di mana ia bisa dengan mudah
menjadi orang yang diperhitungkan.
Melinda adalah sebuah kasus
yang moderat yang tidak mengganggu pikiran saya karena kenyataannya toh
ia berhasil juga menjadi produser yang andal. Tetapi di dalam masa
hidup saya yang singkat ini saya juga sudah menjumpai beberapa orang
yang rasanya begitu mudahnya menyia-nyiakan kesempatan berharga di
dalam hidup mereka. Mereka memiliki bakat yang luar biasa, mereka
memiliki bukan satu atau dua, tetapi banyak kesempatan yang luar biasa,
yang tidak begitu saja berlari tetapi dihadapkan kepada mereka tahun
demi tahun … tanpa pernah mereka ambil. Bakat yang luar biasa,
kesempatan yang luar biasa, semua disia-siakan ….
Alih-alih
semua itu, mereka lebih memilih jalan mediokritas - menjadi biasa-biasa
saja, cukup meneruskan toko orang tuanya, alih-alih menjadi ilmuwan;
cukup menjadi karyawan biasa, alih-alih merintis jalan menjadi pakar.
Dan setiap kali melihat hal semacam itu terjadi, rasanya miris sekali
hati ini.
2. Pilihan-Pilihan yang Disayangkan
Tapi, kenapa perasaan itu harus muncul? Kenapa saya harus menyayangkan
pilihan-pilihan yang mereka buat itu? Apa kerugian saya? Apa kerugian
kita? Siapa yang rugi? Adakah yang rugi? Jangan-jangan itu adalah alat
yang memang Tuhan pakai sebagai kendali atas kemajuan umat manusia?
Seringkali saya, kalau bukan selalu, beranggapan bahwa keberbakatan
seseorang adalah petunjuk bagi jalan hidupnya. Tetapi, bagaimana kalau
ternyata tidak demikian?
Apakah keberbakatan seseorang harus
kita paksakan menjadi jalan hidupnya? Tidak bolehkah seorang yang
berbakat memilih jalan hidup yang "biasa-biasa saja"? Sekedar
"meneruskan toko Papa", sekedar berupaya menggelembungkan nilai
aset-asetnya sambil mencari pasangan kemudian menikah punya anak dan
menikmati masa tua? Tidak bolehkah?
Kalau tidak boleh,
bukankah kita hanya akan membuat bakat-bakatn itu menjadi sebuah
kutukan dalam hidupnya? Bagaikan di film-film X-Men dan Heroes,
keberbakatan seseorang bisa berbalik menjadi penjara virtual bagi diri
sendiri bukan?
Haruskah kita memaksa seorang yang berbakat
untuk hidup melawan arus? Atau, jangan-jangan mereka adalah korban
belaka, yaitu orang-orang yang menjadi tumbal gara-gara masyarakat yang
tidak mampu menghargai keberbakatan mereka di bidang-bidang yang unik
tersebut? Orang-orang non-arus utama ini sepertinya harus memilih
antara hidup pas-pasan dan memenuhi panggilan hidup mereka di satu sisi
atau di sisi lainnya hidup mapan dalam mediokritas dan membiarkan semua
bakat mereka mati kelaparan karena tidak pernah dilatih maupun
dikembangkan.
3. Umat yang Dirugikan
Umat
manusia dan kemanusiaan mengalami kerugian potensial akibat
berlian-berlian kasar yang potensinya tak terasahkan ini. Kebudayaan
kita yang seharusnya bisa berkembang dengan sangat pesat pada akhirnya
terhambat karena bakat-bakat yang Tuhan sudah berikan kepada kita di
dalam diri orang-orang ini tidak bisa dikembangkan. Tapi untuk
merealisasikan potensi keuntungan itu umat manusia harus berupaya
dengan menciptakan suatu sistem sosial yang memadai dan kondusif bagi
orang-orang berbakat ini, agar jangan sampai mereka hanya dijadikan
sapi perah bagi kemajuan umat manusia tanpa mereka sendiri bisa
menikmatinya, suatu hal yang banyak kita lihat dalam diri
ilmuwan-ilmuwan di Indonesia pada saat ini. Dalam hal itu, bahkan
terkadang tanpa mereka sadari, bakat mereka telah menjadi kutukan
mereka: mereka yang bekerja keras, masyarakat yang menikmati.
4. Orang-Orang yang Berani
Tetapi tetap saja kita melihat ilmuwan-ilmuwan itu tetap ada dari
generasi ke generasi, demikian juga budayawan-budayawan,
seniman-seniman … ada orang-orang yang berani mengambil
keputusan-keputusan yang tidak populer yang membawa hidup mereka ke
arah yang kurang nyaman. Siapa orang-orang ini? Apa yang dibutuhkan
untuk menghasilkan orang-orang semacam ini?
Pilihan yang
pertama bagi saya adalah selamanya pemerintah harus bertanggung jawab
untuk menciptakan suatu sistem sosial dan membentuk suatu masyarakat
yang memadai dan kondusif bagi orang-orang berbakat itu agar mereka
terkondisikan untuk tertarik mendalami bidang di mana mereka berbakat
itu dan mengembangkan diri mereka sehingga menghasilkan karya-karya
besar bagi umat manusia. Pemerintah memberikan beasiswa dan pemerintah
juga memberikan gaji yang memadai bagi mereka untuk berkarya secara
maksimal. Kepentingan hidup orang banyak dan kemajuan kemanusiaan kita
adalah tanggung jawab pemerintah-pemerintah yang tidak seyogianya
dipercayakan kepada tangan-tangan swasta.
Tetapi di
tempat-tempat seperti Indonesia di mana terjadi disfungsi sistem-sistem
sosial dan kemandulan masyarakat kita untuk menghasilkan suatu generasi
yang lebih baik, saya menduga bahwa ada tiga faktor yang dibutuhkan:
keberbakatan, kapabilitas mental dan panggilan. Keberbakatan sendiri
tidak akan cukup. Dibutuhkan juga kapabilitas mental untuk
mendisiplinkan diri, memberanikan diri untuk mengaktualisasikan diri
kendati inpopularitas pilihan itu serta ketekunan untuk tetap konsisten
dalam perjuangan melawan arus. Yang ketiga, panggilan, mengimplikasikan
sensitivitas rohani yang baik.
Dengan kehadiran ketiganya,
tentangan masyarakat tidak akan menjadi masalah yang berarti. Tapi
memang, keberbakatan sendiri tidak akan memadai.
Sayang, memang …. Tetapi mungkin itulah cara Tuhan mengendalikan kemajuan umat manusia?
Saya baru saja mencek rekening saya via Internet dan ternyata gaji sudah masuk. Horeee …. Berita pun beredar via YM, "Gaji sudah masuk …." Lengkap dengan emoticon-nya: dari
sampai :-O dan =D> (silakan cek sendiri di YM ya, bentuknya seperti apa.)
Seorang kawan bertanya, "Kenapa orang suka kalau gajian ya? Bukannya biasa-biasa saja?"
Ya, gajian memang bisa menjadi suatu pengalaman rutin. Tetapi selain menjadi suatu "moment of relief", begitu kata orang, saat gajian kita juga bisa merenungkan, apa yang sudah saya lakukan dalam sebulan terakhir? Pantaskah saya mendapatkan gaji ini? Atau saya sudah menggunakan waktu dan sumber daya yang ada pada saya selama sebulan ini dengan baik? Lantas, bagaimana pula dengan sebulan ke depan? Apa yang mau saya lakukan?
In short, it would be a good time to be a moment to ponder in gratitude. Karena itulah saatnya gajian bukan sekedar "moment of relief", as it is for some. Nor it is just another day. But we could make it a special and meaningful moment.
Saya baru saja membeli 4 buah tiket Jiffest.
Walaupun bukan orang yang terlalu suka menonton, saya selalu menikmati
Jiffet. Dalam film yang baik, saya percaya, kita bisa bercermin, bukan
saja di cermin itu kita melihat pantulan diri kita tetapi juga banyak
hal yang ada di latar belakang kita.
Film yang baik juga akan membantu kita berefleksi dengan baik,
berfilosofi dengan lebih baik, memikirkan ulang banyak hal di dalam
kehidupan kita. Di dalam sebuah film yang baik kita bukan saja
menemukan sebuah relaksasi bagi pikiran dan jiwa kita, tetapi juga
sebuah oasis yang membantu kita memiliki perspektif-perspektif yang
segar.
Keterlarutan di dalam sebuah film bisa jadi bahkan mampu mengubah perspektif kita terhadap kehidupan.
Bukan seperti film-film lokal yang kini banyak menghiasi layar TV kita,
yang menggugah emosi sesaat, penuh dengan deformasi dan invaliditas
moral yang tak terselesaikan atau diselesaikan secara prematur dan
superfisial, sebuah film yang baik akan menggugah emosi dengan
menyediakan alternatif penyaluran yang terarah dan bermanfaat bagi
masyarakat secara luas, mendorong masyarakat untuk bertindak dan
membuat perubahan.
Sebuah film bisa menjadi sebuah mimbar yang sangat efektif, jika
dimanfaatkan dengan baik. Sebuah film bisa menjadi sebuah meja yang
fasilitatif, jika digunakan dengan semestinya. Sebuah film bisa membuka
sebuah forum, sebuah wacana, sebuah kesadaran … menuju dunia yang
baru.
Itulah film, sebuah produk kebudayaan manusia.
"Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar
apa yang kau ingini sendiri
dan memuaskan hati orang yang tertindas
maka terangmu akan terbit dalam gelap
dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari
TUHAN akan menuntun engkau senantiasa
dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering
dan akan membaharui kekuatanmu;
engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik
dan seperti mata air yang tidak pernah
mengecewakan."
– Yesaya 58:10-11
Adalah kalimat yang lebih aneh lagi daripada kalimat ini: "kegelapanmu
akan seperti rembang tengah hari"? Bagaimana mungkin kegelapan akan
menjadi seperti rembang tengah hari (= siang bolong)? Dan kalimat ini:
"TUHAN akan memuaskan hatimu di tanah yang kering … seperti taman
yang diairi dengan baik"?
Minggu-minggu belakangan ini merupakan minggu-minggu yang cukup berat
dan menggelisahkan. Berbagai pergumulan kehidupan datang dalam waktu
yang hampir bersamaan sebagai sebuah efek domino yang dibuat semakin
intensif oleh liburan lebaran yang panjang. Berbagai pemikiran datang
silih berganti. Keputusan dibuat. Tekad dibulatkan. Tetapi tetap saja
ada elemen-elemen yang mengganjal.
Persiapan-persiapan khotbah yang dibawakan di akhir Oktober dan awal
November ternyata agak membantu, ditambah pula dengan pesan-pesan yang
luar biasa yang Tuhan sampaikan bertubi-tubi, hari demi hari, melalui
saat teduh. Salah satunya adalah kedua ayat di atas.
Memang benar bahwa seorang bisa belajar lebih banyak ketika ia
mengajarkan satu hal daripada ketika ia sendiri belajar seorang diri.
Maka bukan hanya di dalam momen-momen penyiapan khotbah, tetapi bahkan
di saat membawakan khotbah-khotbah itu Tuhan berbicara dengan lebih
lantang.
Khotbah-khotbah yang saya bawakan bertema sekitar 490 tahun Reformasi
Gereja oleh Martin Luther yang jatuh pada 31 Oktober 1517. Dalam salah
satu khotbah itu saya juga memberikan proporsi yang cukup besar untuk
menceritakan biografi Dr. Paul Brand dan Dr. Margaret Brand, sepasang
suami-istri yang luar biasa.
Sudah menjadi sebuah bagian dari kenangan, pengalaman dan pengajaran
Gereja bahwa St. John of the Cross mengalami apa yang disebutnya
sebagai the dark night of the soul, ‘kelamnya malam bagi jiwa’ selama
1,5 bulan. Bunda Teresa dikisahkan juga mengalami hal yang sama - hanya
saja selama 50-an tahun! Kekelaman jiwa dan pergumulan yang besar
merupakan satu hal yang nampaknya menjadi salah satu karakteristik
penting teolog-teolog besar Gereja.
Martin Luther sendiri adalah seorang yang eksentrik karena di tengah
kehidupan biara yang demikian saleh ia masih bergumul dengan
dosa-dosanya yang dirasanya begitu mencekam dan Iblis menguasai
dirinya. Kawan-kawannya pun sampai bertanya-tanya kenapa ia harus
bergumul sedemikian rupa sedangkan Luther sudah dipandang sebagai
seorang yang paling saleh di antara para rahib lainnya. Kalau ia yang
paling saleh masih bergumul demikian rupa, bagaimana dengan selebihnya
dari para rahib itu? Mereka pun memandangnya sebagai orang yang terlalu
banyak bergelut dengan - terlalu menganggap serius - dosa dan
keberdosaan.
Paul Brand dan Margaret Brand saya kenal melalui sebuah DVD yang
dipinjamkan seorang sahabat untuk menghibur hati saya di tengah
kekalutan pergumulan batin saya. Mereka adalah dokter-dokter Inggris
yang merupakan lulusan terbaik pada angkatan mereka (Margaret pertama,
Paul kedua). Mereka bisa mendapatkan pekerjaan terbaik di Inggris
dengan penghasilan yang luar biasa besar tetapi mereka memilih menjadi
dokter-misionaris di India. Di India mereka dipanggil Tuhan untuk
melayani kaum penderita kusta, yaitu orang-orang yang dibuang oleh
masyarakat, oleh pemerintah, bahkan oleh sanak-saudara dan keluarga
mereka sendiri.
Ada banyak hal yang menarik dan menggelorakan batin, menonton kisah
hidup mereka, saya pikir setiap orang yang tengah menggumulkan
panggilan Tuhan di dalam kehidupan mereka akan sangat diberkati dengan
menonton film ini.
Tetapi satu di antara banyak hal yang ajaib adalah di dalam perjalanan
pelayanan mereka di India, ternyata Tuhan menggunakan banyak hal dari
masa lalu mereka. Misalnya, upaya Paul untuk melarikan diri dari
bayang-bayang ayahnya yang juga adalah seorang dokter-misionaris dengan
mencoba menjadi pembangun rumah sebelum ia akhirnya menyerah kepada
panggilan Tuhan dan menjadi dokter, pun dipakai oleh Tuhan dengan cara
yang menakjubkan sehingga ia menjadi seorang dokter yang istimewa
dengan kemampuan rehabilitasi medik yang belum pernah dimiliki orang
sebelumnya.
Yang menegur saya: mereka menyerahkan semuanya untuk Tuhan dan pergi ke
pedalaman India di mana pemerintah pun hanya bersedia menyediakan
sebidang tanah yang gersang untuk tempat mereka mengadakan fasilitas
kesehatan - untuk rakyat India sendiri! Tetapi pada akhirnya Paul dan
Margaret Brand menjadi ahli-ahli yang paling terpandang di bidang
mereka masing-masing. Paul di bidang penyakit kusta dan Margaret di
bidang penyakit mata yang berhubungan dengan kusta. Mereka menjadi
dokter-dokter yang mempelopori kemajuan riset dan ilmu di bidang-bidang
mereka - dari pedalaman India! Bukan dari pusat riset dengan pendanaan
raksasa di AS, bukan dari universitas-universitas besar, bukan dari
rumah sakit terpandang di kota-kota penting dunia. Mereka membuang diri
ke ladang Tuhan dari dari sana Tuhan meninggikan derajat mereka di
hadapan manusia.
Paul Brand telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Ketika
diwawancarai, Margaret Brand mengatakan, "Apa yang bisa saya banggakan?
Kalau Tuhan tidak memakai kami, Dia toh bisa bekerja melalui
orang-orang lain. Justru kami harus bersyukur karena kamilah yang
dipilih oleh Tuhan sehingga kami hidup dari petualangan ke petualangan.
Hidup kami adalah hidup yang penuh petualangan. Dan apa yang bisa kami
banggakan? Tidak ada. Benar-benar tidak ada …."
Betapa malunya saya! Ternyata selama ini saya bukannya membuang diri ke
ladang Tuhan, saya hanya sedang membuat sebuah pengungkit, saya hanya
membuang jala! Untuk apa membuang jala? Supaya saya bisa menariknya
kembali dan mendapatkan banyak ikan! Betapa memalukan!
St. John of the Cross, Martin Luther, Bunda Teresa, Paul Brand dan
Margaret Brand. Orang-orang ini adalah orang-orang yang bergumul banyak
di dalam kehidupan mereka. Mereka melakukan hal-hal yang tidak populer
atau terlibat di dalam pergumulan-pergumulan yang eksentrik bagi banyak
orang. Mereka memusingkan hal-hal yang bagi banyak orang tidak perlu
dipusingkan sama sekali. Tetapi kekelaman hidup mereka ternyata di
kemudian hari menjadi terang bagi banyak orang.
Kalimat-kalimat di atas ternyata tidaklah seaneh yang nampak dari
pembacaan sekilas. Sejarah Gereja telah membuktikannya. Kekelaman jiwa
seorang yang dekat dengan Tuhannya akan menerangi kehidupan banyak
orang. Ada kalanya kita bertanya, "Tuhan, kenapa saya harus mengalami
pergumulan ini? Kenapa saya tidak bisa hidup nyaman-nyaman dan
santai-santai saja seperti orang-orang lainnya?" Karena melalui kita
Tuhan ingin menerangi dunia. Karena melalui kegelapan pergumulan yang
kita lewati itulah kebenaran Tuhan akan menerangi kehidupan banyak
orang.
Di tengah kekeringan pergumulan batin yang kita alami Tuhan bekerja
dengan cara yang luar biasa, memuaskan diri kita menjadi seperti taman
yang diairi dengan baik, seperti mata air yang tidak pernah
mengecewakan. Di manakah itu akan terjadi? Di taman yang rindangkah?
Tidak. Itu akan terjadi ketika kita mengikuti pimpinan Tuhan, bahkan di
tanah yang kering dan tandus sekalipun.
Tuhan bekerja dengan cara yang tak terduga oleh pemikiran dan pemahaman
kita. Yang dituntut dari kita adalah agar kita taat dan setia. Ke mana
pun Tuhan memimpin. Sebab kegelapan yang kita alami akan menjadi terang
bagi banyak orang. Dan kekeringan yang kita alami akan menjadi mata air
yang menyejukkan dan melepaskan dahaga banyak jiwa.
God took two-third of Moses’ life to prepare him for the great mission of leading Israel from Egypt to the border of the promised land. I took courage in that fact every time I look upon my life. The end of the university years is not the end of learning which would take the whole of life. I’ve been wondering how could Da Vinci and the gang became "doctors" in many respectable fields while it’s so hard for us these days just to be one in one field.
Day after day, realigning my vision with the course of my life, I get really frustrated. There are still so many things to learn! How little do I know! How much time will it take even to master one field of discipline? The Westerners seem so lucky they have a specialised education since a very early time in their lives.
There are so many things to do. The need for the right leverages is great. But there are also so many things to prepare. Time is a very important independent variable here. With such a short life in hand, o dear, how can life be meaningful? How should I make the best out of this short life of mine?
Teknologi baru selalu menyenangkan untuk dicoba, menyenangkan untuk
dimainkan, tetapi tentu selalu ada "momen-momen menyebalkan" yang
menyertainya …. Huhh … memang "momen-momen menyebalkan" itu selalu
menyebalkan! Tetapi, benarkah momen-momen itu merupakan paket yang tak
terpisahkan, sebuah cacat-tak-terelakkan dari pengalaman menggunakan
teknologi baru? Atau sebenarnya hanya kekurangsempurnaan sebuah produk?
Ponsel baru, notebook baru, mobil baru
… semuanya menyenangkan untuk diutak-atik. Ada yang lebih suka
membolak-balik buku manualnya dulu, ada yang memegang buku manual di
satu tangan dengan peralatan barunya di tangan yang lain, ada pula yang
lebih suka melupakan buku manualnya dan langsung mengutak-atik …
kalau ada masalah, "kan tinggal telepon teman!" begitu katanya.
Tetapi di Indonesia seringkali sikap terhadap manual bukan merupakan
suatu pilihan karena manual yang ada seringkali tidak lengkap - atau
malah sama sekali tidak ada! Dan yang paling parah, sebuah ponsel yang
saya beli beberapa tahun lalu ternyata tidak menjalankan satu fungsi
sebagaimana oleh manualnya, ketika saya tanyakan kepada petugasnya,
dijawab dengan entengnya, "Kan peraturan dibuat untuk dilanggar Pak!"
Apaaa? Apa tidak salah? Huh, tidak akan lagi saya beli ponsel merk itu!
Kalau begitu, berarti kan mereka membuat manual yang menyesatkan!
Baik, kita kembali ke topik semula. Teknologi yang baru selalu menyenangkan untuk dicoba. Teknologi apa kali ini?
Kali ini Telkomsel Flash, sebuah cara mengakses Internet dengan 3G. Sekali lagi, ponsel Sony Ericsson K800i saya memainkan peranan yang penting
Saya membeli paket perdana simPATI, membeli pulsanya dan kemudian
menggunakan pulsa itu untuk membeli paket Telkomsel Flash senilai
Rp50.000 untuk 24 jam (promo khusus Lebaran), diakses menggunakan
fasilitas 3G pada SE K800i.
Pada percobaan pertama, saya menghabiskan hampir 1 jam untuk
mengutak-atik komputer saya karena ternyata situs Telkomsel hanya
menyediakan informasi yang sama sekali tidak memadai untuk menggunakan
Flash. Sungguh menyebalkan! Setelah men-download petunjuk penggunana
Flash untuk SonyEricsson, ternyata kebanyakan isinya hanya cara
meng-install PC Suite! Untuk apaaa …? Benar-benar bodoh! Akhirnya
saya berhasil juga, tetapi harus menggunakan kabel data USB. Alhasil,
setelah sekitar 3 jam, baterai ponsel saya yang tadinya terisi 100%
malah menjadi 50% setelah ter-charge terus-menerus via USB ditambah
pula baterainya … wow, sangat panas! Pengalaman yang mengerikan!
Hari kedua. Saya mencoba untuk mengakses Flash kembali dengan
menggunakan Bluetooth. Satu jam lagi tanpa hasil …
benar-benar-benar-benar menyebalkan! Akhirnya kembali kabel data USB
digunakan.
Hari kedua. Beberapa jam kemudian. Kali ini Bluetooth berhasil digunakan … pada percobaan pertama! Yeah! That’s nice! ![]()
Tapi apa mau dikata, jaringan 3G-nya malah ngadat, byar-pet-byar-pet
… 10 detik, putus … connect lagi, 20 detik, putus …. dasar
Telkomsel! Huh!
Yah, kini saatnya mencoba lagi. Mudah-mudahan kali ini jaringan 3G-nya bisa lebih stabil.
"Give me a lever long enough and single-handedly I can lift the world."
Those are the words of Peter Senge, printed on the cover of his Fifth Discipline book.
Dreams
are many, but the strength is very limited, not to mention the time and
all the other resources. It’s not a matter of covering all the need you
need where it is needed at the time it seems to be needed, I suppose.
It takes something much better than that.
My dream has always
been to see the birth of a better society - an utopia, you may say -
through the betterment education: "quality education for all". Through
education, we’ll see greater chances are opened wide for many families,
chances of vertical mobility. We’ll also see that they would have
better economies, thus better health care. With better health care
we’ll also see a better quality of life. With all those in hand, we’ll
achieve a better society for all.
The dreams are for Indonesia.
The means are supposed to be Christian institutions, namely churches
and Christian schools. But there are points of disappointments - lots
of them. It seems clear to me now that to do our best for Indonesia, we
don’t have to begin in Indonesia. We don’t even have to begin with
Indonesia. More effective ways of achieving the dreams are available.
And it’s called leverage.
The same principle applies with the
choice of the vehicle. Grace is abundant. It’s not about the
institutions, it’s about the people. Labels are oftenly misleading, or
even meaningless.
My eyes are widely opened now. It’s not just a
matter of giving the best, all of me, but with the same degree of
importance, it’s also a matter of doing it from the right place at the
right time. The longer the lever, the easier it will be.
These days I’ve been experiencing one of the greatest turmoil in my
life. My world, in a sense, has been turned upside down. I kind of lost
my grip. Many options are suddenly widely opened before me. Many
important decisions have to be made as to reorient myself to this new
reality. But how can I? The turmoil was just to great.
I usually
take a stroll in the village or browse bookstores or some pedestrian to
find relief from stress. Under worse conditions, I would blog or just
write anything, though it be just a sketch. But in even worse
conditions, il faut parler. I need to talk. But to whom?
I’m so
glad to have nice friends - yes it’s true, friends are something you
don’t count by the number but by the quality of the relationship - that
would spare hours of their time, listening to my complaints and doubts,
helping me finding again my grip and regaining my step. It’s a very
nice thing to have them to chat with, to converse in a serious manner.
One of them is one fine man with an astonishing mind. He’s right in
saying that prayer is of the utmost importance, that it might be just
the time to step back and re-ponder everything altogether, and that
maybe I just have to enjoy things - my life, all I’ve achieved, all
that’s before me … in other words, to rejoice. Hmmm … those 3
things sound so simple yet so hard for me both to find and to do.
This
process is quite tedious … sometimes it’s even devastating … tiring
… it consumes my thoughts even during this long holiday … what an
unfortunate time to be bothered by such a thought!
Well, I must finally decide. And indeed decided have I.
Thanks to my friends, who have been a great channel of relief for me, I can now regain my stature.
Have rest, my soul
Pals, your prayers would be of the utmost value to me. Thanks in advance