It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Beberapa tahun berselang, saya membaca sebuah kisah tentang dua orang artis yang sama-sama bekerja dalam sebuah proyek rekonstruksi sebuah katedral di Inggris. Kisah itu terjadi beberapa abad lampau. Mereka bekerja puluhan meter dari permukaan lantai dengan peralatan pengaman yang sangat minim karena pada masa itu memang belum ada peralatan-peralatan pengaman yang kita miliki saat ini. Sebagai artis, tugas mereka adalah merekonstruksi lukisan-lukisan di dinding-dinding dan kubah-kubah katedral agar kembali terlihat indah dan menarik.
Seusai menyelesaikan rekonstruksi sebuah lukisan, satu dari antara mereka melihat hasil rekonstruksinya dengan perasaan puas dan kagum. Sebagaimana lazimnya yang kita lakukan ketika melihat sebuah lukisan dengan rasa puas dan kagum, kita akan melangkah mundur atau bergeser untuk melihatnya dari perspektif yang agak berbeda, dari sudut pandang yang lain. Setelah beberapa kali si artis melangkah dan bergeser, sedang ia menikmati hasil rekonstruksinya, BUK! Dia menerima bogem mentah dari temannya. Sekonyong-konyong, ia pun maju, hendak membalas tinju yang tak terduga itu.
Belum sempat ia membalas jotosan itu, temannya berkata, "Tunggu! Lihat!"
Apa yang dilihatnya? Ketika ia melihat arah telunjuk temannya itu, yang mengacung ke arah tempat ia berdiri tadi, ia pun sadar: ia telah mundur berkali-kali hingga tinggal selangkah lagi ia akan jatuh dari lantai-buatan yang menopang mereka puluhan meter dari permukaan lantai. Sedikit saja lagi, ia akan menemui ajalnya.
Tapi, kenapa harus dengan tonjokan? Tidak bisakah temannya itu sekedar berseru, atau memberi tahu dari kejauhan? Dalam kondisi seperti itu, seruah dari jauh tidak akan menyadarkan orang yang tengah larut dalam kekagumannya. Dalam kondisi seperti itu, teriakan hanya akan mengejutkannya sehingga ia malah akan lebih cepat jatuh. Tonjokan itu adalah wujud kasih seorang sahabat.
Beberapa bulan terakhir ini, saya menerima sesuatu yang sangat berlawanan: senyuman yang manis, bahkan yang sangat manis. Tapi, senyuman-senyuman itu mengandung kemunafikan. Manisnya senyuman itu membuatnya semakin memuakkan karena kemunafikan yang terkandung di dalamnya. Lebih jauh lagi, di balik senyuman itu ada tipuan-tipuan keji, ada pengingkaran-pengingkaran yang tak terkira, ada hubungan yang dimanfaatkan secara tak terduga, ada rasa tega yang kedalamannya sungguh mengejutkan.
Ternyata ada orang yang bisa bertindak begitu munafiknya sampai-sampai di depan umum bisa bermanis ria dan segera sesudah orang-orang berlalu, dengan sigap mengatupkan mulutnya dan mengalirkan bisa yang mematikan. Orang yang hanya bisa memeras, memeras dan memeras. Memanfaatkan apa yang ada pada kita sejauh berguna bagi dirinya. Dan begitu kita tidak berguna lagi, dicampakkanlah kita.
Ternyata ada orang yang bisa berlaku sebagai seorang kawan terang tetapi ternyata terhadap si Jahat pun ia berkawan. Tetapi tidak mungkin orang berkawan dengan terang tetapi juga berkawan dengan si Jahat. Orang yang menampakkan tanda-tanda demikian hanya mempunyai satu kemungkinan: ia sesungguhnya adalah kawan dari si Jahat. Hanya si Jahat-lah yang mampu memberikan kecerdikan, kelicikan dan kekuatan untuk bersikap munafik dengan kekuatan sedahsyat itu.
Tonjokan seorang sahabat adalah sesuatu yang sangat indah. Senyuman manis penuh kemunafikan adalah sesuatu yang menjijikkan dan memuakkan.
Teman macam apa kita? Adakah kita jenis yang berani memberikan tonjokan ketika sebuah tonjokan memang dibutuhkan - karena rasa sayang dan kepedulian kita terhadap teman kita? Atau, jenis yang hanya akan berpuas diri dan menipu orang dengan hubungan superfisial-simbiotis?
Akhirnya, memang waktu yang harus bicara.
Membuat visi yang "kinclong", yang puitis, yang terpampang dengan manisnya di dinding-dinding perusahaan dan di kop-kop surat perusahaan sangat mudah. Apalagi kalau didukung oleh desainer grafis yang nomor wahid, ditambah dana yang memadai untuk bingkai dan berbagai perlengkapan memajang dan memamerkan tulisan-tulisan visi itu. Tetapi pertanyaannya, sejauh mana visi itu benar-benar menjadi kenyataan-hidup bagi perusahaan? Sejauh mana visi itu menjadi pandu bagi setiap tarikan napas kehidupan perusahaan? Sejauh mana visi itu telah mendarah daging dalam denyut nadi kegiatan perusahaan dan dalam hembusan napas setiap orang di dalamnya?
Yang pertama, sangat mudah menilainya. Tengoklah kepada sang pimpinan. Lihatlah siapa (yaitu, orang-orang macam apa) yang dijadikan "orang-orang kunci" dalam perusahaan. Yang saya maksudkan dengan orang-orang kunci bukan dan tidak boleh disamakan dengan orang-orang yang memegang jabatan kunci. Itu adalah dua hal yang berbeda. Bisa saja orang memegang jabatan kunci, tapi tidak dianggap, tidak diperlakukan sebagai orang kunci. Yang harus dilihat adalah siapa orang-orang kunci di perusahaan itu. Siapa orang-orang yang dilibatkan dalam berbagai kegiatan, yang seringkali diajak konsultasi, yang suaranya didengar.
Dalam zaman ini, bekerja secara tim adalah imperatif. Adakah yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut? Setiap orang mewakili nilai-nilai tertentu. Orang-orang kunci sang pimpinan menggambarkan dengan sangat gamblang nilai-nilai yang dihargai olehnya, serta kinerja dan sikap yang diharapkannya.
Menilai visi dari pernyataan formal yang dicetak di kop surat dan dipampangkan di dinding-dinding tidak sahih. Visi harus dinilai dari orang-orang yang ada di sekitar sang pimpinan. Dengan demikian kita mengetahui akan jadi apa perusahaan itu dalam 5 tahun mendatang.
Yang kedua, lihatlah bagaimana sang pimpinan mendelegasikan tugasnya kepada staf struktural/fungsional dan tugas-tugas apa yang diberikannya kepada staf administrasi. Tugas-tugas itu bukan sekedar tugas yang netral. Tugas-tugas itu bisa berbicara banyak, sama seperti orang-orang kunci; tugas-tugas itu menggambarkan apa yang dihargai oleh sang pimpinan, bagaimana ia memandang pekerjaannya, bagaimana ia menilai orang-orang penerima tugas itu, bahkan juga menggambarkan bagaimana konsep abstraknya tentang "bagaimana roda perusahaan seharusnya bergulir".
Kehidupan sebuah visi sangat tergantung pada pimpinan perusahaan. Dan niat sang pimpinan serta pemahaman dan penghayatan visi itu oleh sang pimpinan dapat dilihat dari bagaimana ia mengelola orang-orang di sekitarnya dan bagaimana ia menggulirkan roda perusahaan.
Benarkah visi yang dipampang di mana-mana itu visi yang dihidupi? Tidak perlu riset ekstensif. Gampang saja. Lihatlah ke sekelilingmu dan tanyakan: "Ke tujuan mana semua ini akan bergulir?" "Bersediakah saya memberikan sekian tahun dari hidup saya untuk mencapai tujuan itu?"
Ternyata saya tidak sendirian. Seorang sahabat beberapa waktu lalu berbagi pengalaman pahit - suatu hal yang ternyata juga saya alami. Ini yang kami alami:
Kita sama-sama tahu bahwa kita tidak bisa serta-merta mencari teman. Pertemanan tidak dicari, tetapi diberikan. Kita mulai dengan menawarkan pertemanan, lantas ketika gayung bersambut, terjalinlah suatu hubungan. Ketika waktu berlalu, hubungan pun dievaluasi dan bisa berkembang ke tahap selanjutnya. Tetapi ada kalanya kita berjumpa dengan orang-orang yang begitu mengesankan sehingga kita ingin bersahabat dengan mereka. Kita menawarkan persahabatan. Kita hadir di dalam kesulitan mereka. Kita ada ketika mereka membutuhkan bantuan. Kita berupaya memahami mereka dalam segala keberadaan dan keterbatasan mereka.
Persahabatan adalah soal memberi dan soal ada di saat sulit. Ada kalanya ketika saat-saat sulit itu berlalu dan tiba saat-saat yang bahagia, kita diabaikan - atau, kita membiarkan diri kita diabaikan seraya menyingkir dari tengah kehidupannya.
Tetapi ada juga orang-orang yang sulit memberi dan menerima persahabatan. Ada orang-orang yang telah mengalami kepahitan yang luar biasa sehingga begitu sulit bagi mereka untuk mempercayai adanya persahabatan. Ada orang-orang yang pernah harus melalui masa-masa yang sangat sulit sendirian sehingga mereka percaya bahwa untuk bertahan, untuk maju, mereka harus berupaya sendiri dan tidak pernah menyusahkan sahabat. Padahal, sahabat ada untuk disusahkan, untuk direpotkan, untuk hadir di dalam masa-masa tersulit dalam kehidupan. Tanpa kemampuan melalui ujian itu, persahabatan bukanlah persahabatan. Persahabatan tidak mungkin terjadi hanya di dalam masa-masa senang.
Persahabatan harus terjadi secara resiprokal. Bagaikan seutas tali, kedua ujungnya harus dipegang agar persahabatan terentang. Persahabatan tidak bisa hanya ditawarkan dan disodorkan tanpa ada yang menerimanya, tanpa ada gayung yang bersambut. Persahabatan boleh jadi masih mengandung rahasia, tetapi persahabatan tidak mungkin melibatkan kebohongan, apalagi tentang hal-hal esensial dalam kehidupan.
Ketika persahabatan hanya terjadi dari satu pihak, maka itu tidak lebih dari persahabatan yang diasumsikan - bukan sebuah persahabatan yang nyata.
Yang penting dalam saat-saat demikian adalah tetap berharap dan percaya, bahwa persahabatan itu sungguh ada.
Seorang sahabat bercerita bahwa ia orang yang "jauh" dari keluarga. Tidak seperti saudara-saudaranya, ia tidak terlalu dekat dengan keluarganya. Pada hari-hari itu, hasil tes HTP saya (tes psikologi 12-gambar: rumah, pohon, orang) juga keluar, dengan salah satu butir analisisnya berbunyi: "kedekatan/keterlibatan dengan keluarga … terlihat … kurang … sepertinya [Anda] ada di luar keluarga (menonton dari luar)."
Dalam minggu lalu, ada anggota keluarga kami masing-masing yang mengalami musibah dan ternyata kami bereaksi berbeda. Ketika ia menceritakan musibah yang terjadi dan reaksinya sendiri, saya merasa bahwa orang ini sebenarnya adalah orang yang saya keluarganya - tidak seperti yang ia sendiri katakan sebelumnya. Memang ternyata, ketika percakapan berlanjut, ia juga mengatakan bahwa musibah yang mereka alami membuatnya menyadari bahwa sebenarnya ia sayang keluarganya.
Berbeda dengan saya, setelah melalui berbagai kemelut dan serangkaian berita yang mengejutkan, saya tetap merasa sangat dingin. Dalam minggu-minggu ini, saya semakin menyadari betapa saya benar-benar berlagak seperti seorang penonton, bukan seorang pelaku. Kalaupun terlibat, saya lebih memilih peran sutradara, yang mengatur ini dan itu, daripada seorang pelaku.
Hari-hari ini sangat membingungkan. Satu hal yang beberapa waktu ini semakin saya sadari: bersikap sebagai penonton adalah satu hal yang saya nikmati selama ini tetapi, cepat atau lambat, ini harus berubah. Tanggung jawab dalam posisi yang istimewa di dalam keluarga menanti. Dan tanggung jawab terhadap keluarga tidak bisa diabaikan.
Berbicara tentang kehormatan pada hari-hari ini sepertinya aneh. Benarkah perasaan saya itu? Yang jelas, saya merasa "kehormatan" bukanlah suatu topik yang terlalu disukai lagi - nampaknya "keberhasilan" dan "popularitas" adalah topik-topik yang lebih disukai daripada "kehormatan". Sementara keberhasilan dan popularitas seyogianya diraih secara terhormat, kenyataannya wacana populer berbicara lain.
Kali ini saya hendak menyoroti dua jenis sumber kehormatan: yang satu berasal dari dalam diri sendiri, yang lain berasal dari luar. Kehormatan yang berasal dari dalam diri sendiri bisa dikatakan adalah buah kepribadian, hasil pembawaan diri yang matang. Kehormatan yang berasal dari luar bisa berasal dari jabatan, kekayaan, pendidikan, keluarga. Kehormatan yang berasal dari jabatan, kekayaan, pendidikan, keluarga, nampaknya besar kemungkinannya saling terpaut satu sama lain. Tapi kali ini saya hendak menyoroti masalah kehormatan dalam dikotomi antara kehormatan yang berasal dari diri sendiri dan kehormatan yang berasal dari jabatan.
Seiring dengan berlalunya waktu, jika kita bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, tentu karier kita akan meningkat. Jabatan akan bertambah tinggi. Sejalan dengan kenaikan jabatan, ada kehormatan yang terikat dengan jabatan itu. Setiap jabatan datang dengan tanggung jawab yang berbeda, dengan insentif finansial yang berbeda, dengan tunjangan-tunjangan yang berbeda dan tentunya, dengan kehormatan yang berbeda pula. Semakin tinggi jabatan yang kita peroleh, semakin tinggi pula kehormatan yang kita peroleh karena jabatan.
Berbicara soal jenjang karier, setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam kelajuan karier. Ada orang yang mampu menanggung tanggung jawab yang besar, ada yang merasa cukup dengan tanggung jawab yang sederhana. Ada orang yang selalu terdorong untuk mencoba lagi dan lagi dan lagi, ada yang merasa harus membatasi dirinya dalam karier, misalnya karena ingin lebih mengutamakan keluarga sedangkan jabatan yang terlalu tinggi dirasa mengancam keluarga. Ada orang yang mampu mengemban dan mengelola kehormatan yang besar, ada yang tidak mampu mengembannya.
Satu hal sangat penting diperhatikan: sebelum kehormatan yang kita peroleh karena jabatan itu benar-benar kita peroleh, kita harus terlebih dulu mempersiapkan diri dengan membangun kehormatan pribadi. Alangkah celakanya orang yang kehormatan-karena-jabatannya lebih besar daripada kehormatan-karena-pribadinya sendiri! Orang semacam itu akan "dihormati" oleh rekan-rekan kerjanya semata-mata karena jabatannya, artinya hanya di depannya. Tetapi sebagai pribadi, kehormatannya sebenarnya tidak memadai. Sebaliknya, bagi orang yang memiliki kehormatan-karena-pribadinya sendiri, tidak perlu dipersoalkan apakah ia memiliki jabatan atau tidak, kehormatan itu sudah menjadi miliknya. Jabatan yang diperolehnya hanya menjadi pelengkap, sebuah legitimasi formal atas kehormatan yang memang telah dimilikinya.
Rasanya menyedihkan sekali melihat ada orang yang mengandalkan jabatannya sekedar mendapatkan rasa hormat. Tetapi ia tidak mampu menimbulkan rasa hormat dan penghargaan dari orang lain kepada pribadinya! Andalannya untuk dihormati hanya jabatannya. Keutuhan organisasi dan kelanggengan lembaga sedikit-banyak tergantung kepada pribadi pemimpinnya. Tidak seyogianya seorang pemimpin mengandalkan jabatannya saja sementara pribadinya tidak dibenahi.
Cepat atau lambat, seorang pemimpin harus bisa dihormati karena pribadinya, bukan karena jabatannya. Seorang pemimpin yang tidak bisa memperoleh kehormatan karena pribadinya rasanya tidak layak untuk mengemban jabatan pemimpin.
Apa artinya "maaf"? Apa yang tercakup dalam kata "maaf" dan apa yang tidak tercakup? Masalah apa yang ditimbulkan oleh kata "maaf" dan bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap kata ini?
"Maaf". Sebuah kata yang serius tapi seringkali dipandang enteng. Ketika sebuah permintaan maaf dilontarkan, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebuah kesalahan telah dilakukan. Pada umumnya ini berarti orang yang meminta maaf mengakui bahwa ia telah berbuat kesalahan atau sekurang-kurangnya ia menyatakan diri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sebuah kesalahan yang telah terjadi.
Ketika seseorang mengucapkan "maaf" dan maaf itu diberikan, seringkali orang berpendapat masalahnya selesai di situ - "maaf" telah menyelesaikan permasalahan. Benarkah demikian? Tidak! Pemberian maaf tidak berarti masalah telah selesai. Pemberian maaf berarti upaya menuju rekonsiliasi telah terbuka, orang yang memberikan maaf telah menerima pernyataan orang yang meminta maaf. Tetapi pemberian maaf tidak berarti terhapusnya pula konsekuensi atas kesalahan yang telah dilakukan. Konsekuensi atas kesalahan yang telah terjadi tetap harus ditanggung.
Hal yang sama terjadi ketika manusia berdosa. Semua manusia telah berdosa sedangkan Allah, yang mahasuci, tidak bisa melihat dosa. Maka, keberdosaan manusia harus diganjar oleh kematian kekal - atau, maut. Tetapi bagi orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, ketika kita berbuat dosa, kita hanya perlu dengan tulus memohon pengampunan dari Allah dan kita pun bersih kembali. Apakah itu berarti konsekuensi dari dosa yang kita perbuat lantas lenyap begitu saja? Tidak! Untuk itulah Tuhan Yesus telah mati di salib kayu di Yerusalem 2.000 tahun lampau. Kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia menyatakan dengan sangat gamblang bahwa pemberian maaf tidak meniadakan konsekuensi - Ia telah menanggung segala konsekuensi dosa kita di muka, agar kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah.
Ketika seseorang meminta maaf secara tulus, ia tentu menyadari ada konsekuensi atas kesalahan yang telah terjadi dan permintaan maaf pun menjadi suatu pernyataan kesediaannya untuk menanggung konsekuensi yang ada. Tetapi jika orang meminta maaf tanpa berniat menanggung konsekuensi itu, malah sebaliknya menuntut pembebasan dari konsekuensi yang ada, itu artinya permintaan maafnya tidak tulus - ia hanya ingin cuci tangan, melepaskan diri dari tanggung jawab yang ada dan bukannya benar-benar meminta maaf. Permintaan maafnya hanyalah kedok.
Ada kalanya ketika kesalahan terjadi, kepercayaan pun menjadi koyak, seperti dalam hal korupsi dan perselingkuhan. Dalam kasus di mana kepercayaan terkoyak, orang yang bersalah juga tidak boleh mengharapkan dengan diberikannya maaf kepada dirinya, orang yang memberikan maaf harus juga memulihkan kepercayaan yang ada. Tetapi seringkali itulah yang terjadi, bahwa ketika orang meminta maaf, ia sebenarnya juga menuntut kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya segera dipulihkan kembali. Jika orang benar-benar meminta maaf secara tulus, ia menyadari bahwa kepercayaan yang telah dikhianatinya harus diraihnya kembali dengan pembuktian diri - mulai lagi dari kepercayaan dalam hal-hal kecil, berangsur-angsur hingga waktu pun turut membuktikan bahwa ia telah layak dipercaya lagi.
"Maaf" telah menjadi seperti kata sandi dalam dunia sulap, "simsalabim", yang diharapkan menyelesaikan banyak masalah dan menghindarkan orang dari tangung jawab yang seharusnya diembannya. Kedewasaan dan pendidikan seharusnya membawa kita untuk menggunakan maaf, meminta maaf dan memberikan maaf dengan bijaksana, bukan sebagai "simsalabim", tetapi sebagai sebuah ungkapan hati yang tulus, yang dilandasi atas pikiran yang sehat dan hidup yang terintegrasi. Dengan demikian, kita juga akan mendorong orang-orang di sekitar kita dalam proses pendewasaan - belajar bertanggung jawab, serta belajar hidup bersama.
Hari-hari ini saya melihat dan mengalami betapa orang yang punya hati jauh lebih dibutuhkan daripada orang yang "hanya" punya kepintaran.
Dengan kepintaran orang dapat melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Dengan kepintaran, banyak prestasi dapat diraih. Dengan kepintaran, banyak alasan untuk berbangga diri. Kepintaran bisa jadi merupakan alat yang sangat efektif untuk mem-"besar"-kan diri sendiri.
Tapi, tanpa hati, semua kebaikan dan kebesaran dan keunggulan itu hanya akan menjadi bahan baku bagi tembok kastil yang semakin tinggi, semakin besar, semakin megah. Tanpa hati, menara-lah yang akan dibangun oleh kepintaran.
Dengan hati, kepintaran akan membangun jalan dan jembatan - bukan kastil. Dengan hati, jalan dan jembatan itu akan menjangkau banyak orang, menjadi berkat bagi semakin banyak orang.
Kastil, jalan dan jembatan: apa bedanya? Ketiganya adalah bagian dan bukti dari kemajuan peradaban manusia. Bedanya, kastil memusatkan kemajuan dan peradaban di satu tempat; sedangkan jalan dan jembatan menyebarluaskan kemajuan dan peradaban itu ke banyak tempat, memajukan seluruh masyarakat. Kastil mengukuhkan status quo karena di dalam kejayaan masa lalulah status quo terletak; jalan dan jembatan mendobrak stagnasi dan memaksa orang untuk terus maju seraya menolak ketertinggalan. Demikianlah hati memampukan kepintaran mengkontekstualkan dirinya. Dengan hati, kepintaran akan menjadi berguna, sesuai kebutuhan masyarakat di mana ia berada.
Tapi bagaimana kalau hati tidak diimbangi kepintaran? Mana yang harus kita pilih? Orang yang punya hati atau orang yang pintar? Tetap, hati masih lebih baik daripada kepintaran. Hati akan menemukan jalannya sendiri agar ia menjadi berguna. Tapi tidak demikian dengan kepintaran. Tanpa hati, kepintaran hanya akan mencari jalan untuk membesarkan dirinya sendiri tanpa menjadi berguna. Kepintaran tanpa hati hanya akan menjadi parasit.
Karena itulah, di atas segalanya, sangat penting kita menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan.
Baiklah. Saya harus menerima kenyataan bahwa blog saya di Friendster terhapus bersih, beserta semua komentar yang telah diberikan orang-orang. Mengesalkan, memang. Tapi untungnya saya mempunyai dua blog: satu lagi di Yahoo!360°, lagipula saya sempat menyimpan semua arsip dan komentar blog Friendster itu beberapa hari sebelum musibah itu terjadi.
Caveat emptor! Ternyata, kalau kita menggunakan layanan-bayar di blog-nya Friendster, kita tidak bisa kembali ke layanan non-bayar kecuali dengan pilihan "Cancel Account", yang berarti seluruh blog yang ada akan terhapus dan kita harus membuat layanan blog dari nol lagi! Menyedihkan dan menyebalkan!
Tapi, ada baiknya juga, setidaknya ini membantu saya untuk membuka lembaran baru dan mencoba memberikan karakteristik baru untuk blog di Friendster ini. Para pembaca yang masih ingin melihat dan mengomentari blog-blog lama, silakan mengaksesnya di http://blog.360.yahoo.com/akiskandar/.