Sep
23
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 23-09-2006

Apa artinya "maaf"? Apa yang tercakup dalam kata "maaf" dan apa yang tidak tercakup? Masalah apa yang ditimbulkan oleh kata "maaf" dan bagaimana kita seharusnya bersikap terhadap kata ini?

"Maaf". Sebuah kata yang serius tapi seringkali dipandang enteng. Ketika sebuah permintaan maaf dilontarkan, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebuah kesalahan telah dilakukan. Pada umumnya ini berarti orang yang meminta maaf mengakui bahwa ia telah berbuat kesalahan atau sekurang-kurangnya ia menyatakan diri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sebuah kesalahan yang telah terjadi.

Ketika seseorang mengucapkan "maaf" dan maaf itu diberikan, seringkali orang berpendapat masalahnya selesai di situ - "maaf" telah menyelesaikan permasalahan. Benarkah demikian? Tidak! Pemberian maaf tidak berarti masalah telah selesai. Pemberian maaf berarti upaya menuju rekonsiliasi telah terbuka, orang yang memberikan maaf telah menerima pernyataan orang yang meminta maaf. Tetapi pemberian maaf tidak berarti terhapusnya pula konsekuensi atas kesalahan yang telah dilakukan. Konsekuensi atas kesalahan yang telah terjadi tetap harus ditanggung.

Hal yang sama terjadi ketika manusia berdosa. Semua manusia telah berdosa sedangkan Allah, yang mahasuci, tidak bisa melihat dosa. Maka, keberdosaan manusia harus diganjar oleh kematian kekal - atau, maut. Tetapi bagi orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, ketika kita berbuat dosa, kita hanya perlu dengan tulus memohon pengampunan dari Allah dan kita pun bersih kembali. Apakah itu berarti konsekuensi dari dosa yang kita perbuat lantas lenyap begitu saja? Tidak! Untuk itulah Tuhan Yesus telah mati di salib kayu di Yerusalem 2.000 tahun lampau. Kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia menyatakan dengan sangat gamblang bahwa pemberian maaf tidak meniadakan konsekuensi - Ia telah menanggung segala konsekuensi dosa kita di muka, agar kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah.

Ketika seseorang meminta maaf secara tulus, ia tentu menyadari ada konsekuensi atas kesalahan yang telah terjadi dan permintaan maaf pun menjadi suatu pernyataan kesediaannya untuk menanggung konsekuensi yang ada. Tetapi jika orang meminta maaf tanpa berniat menanggung konsekuensi itu, malah sebaliknya menuntut pembebasan dari konsekuensi yang ada, itu artinya permintaan maafnya tidak tulus - ia hanya ingin cuci tangan, melepaskan diri dari tanggung jawab yang ada dan bukannya benar-benar meminta maaf. Permintaan maafnya hanyalah kedok.

Ada kalanya ketika kesalahan terjadi, kepercayaan pun menjadi koyak, seperti dalam hal korupsi dan perselingkuhan. Dalam kasus di mana kepercayaan terkoyak, orang yang bersalah juga tidak boleh mengharapkan dengan diberikannya maaf kepada dirinya, orang yang memberikan maaf harus juga memulihkan kepercayaan yang ada. Tetapi seringkali itulah yang terjadi, bahwa ketika orang meminta maaf, ia sebenarnya juga menuntut kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya segera dipulihkan kembali. Jika orang benar-benar meminta maaf secara tulus, ia menyadari bahwa kepercayaan yang telah dikhianatinya harus diraihnya kembali dengan pembuktian diri - mulai lagi dari kepercayaan dalam hal-hal kecil, berangsur-angsur hingga waktu pun turut membuktikan bahwa ia telah layak dipercaya lagi.

"Maaf" telah menjadi seperti kata sandi dalam dunia sulap, "simsalabim", yang diharapkan menyelesaikan banyak masalah dan menghindarkan orang dari tangung jawab yang seharusnya diembannya. Kedewasaan dan pendidikan seharusnya membawa kita untuk menggunakan maaf, meminta maaf dan memberikan maaf dengan bijaksana, bukan sebagai "simsalabim", tetapi sebagai sebuah ungkapan hati yang tulus, yang dilandasi atas pikiran yang sehat dan hidup yang terintegrasi. Dengan demikian, kita juga akan mendorong orang-orang di sekitar kita dalam proses pendewasaan - belajar bertanggung jawab, serta belajar hidup bersama.