Sep
24
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-09-2006

Ternyata saya tidak sendirian. Seorang sahabat beberapa waktu lalu berbagi pengalaman pahit - suatu hal yang ternyata juga saya alami. Ini yang kami alami:

Kita sama-sama tahu bahwa kita tidak bisa serta-merta mencari teman. Pertemanan tidak dicari, tetapi diberikan. Kita mulai dengan menawarkan pertemanan, lantas ketika gayung bersambut, terjalinlah suatu hubungan. Ketika waktu berlalu, hubungan pun dievaluasi dan bisa berkembang ke tahap selanjutnya. Tetapi ada kalanya kita berjumpa dengan orang-orang yang begitu mengesankan sehingga kita ingin bersahabat dengan mereka. Kita menawarkan persahabatan. Kita hadir di dalam kesulitan mereka. Kita ada ketika mereka membutuhkan bantuan. Kita berupaya memahami mereka dalam segala keberadaan dan keterbatasan mereka.

Persahabatan adalah soal memberi dan soal ada di saat sulit. Ada kalanya ketika saat-saat sulit itu berlalu dan tiba saat-saat yang bahagia, kita diabaikan - atau, kita membiarkan diri kita diabaikan seraya menyingkir dari tengah kehidupannya.

Tetapi ada juga orang-orang yang sulit memberi dan menerima persahabatan. Ada orang-orang yang telah mengalami kepahitan yang luar biasa sehingga begitu sulit bagi mereka untuk mempercayai adanya persahabatan. Ada orang-orang yang pernah harus melalui masa-masa yang sangat sulit sendirian sehingga mereka percaya bahwa untuk bertahan, untuk maju, mereka harus berupaya sendiri dan tidak pernah menyusahkan sahabat. Padahal, sahabat ada untuk disusahkan, untuk direpotkan, untuk hadir di dalam masa-masa tersulit dalam kehidupan. Tanpa kemampuan melalui ujian itu, persahabatan bukanlah persahabatan. Persahabatan tidak mungkin terjadi hanya di dalam masa-masa senang.

Persahabatan harus terjadi secara resiprokal. Bagaikan seutas tali, kedua ujungnya harus dipegang agar persahabatan terentang. Persahabatan tidak bisa hanya ditawarkan dan disodorkan tanpa ada yang menerimanya, tanpa ada gayung yang bersambut. Persahabatan boleh jadi masih mengandung rahasia, tetapi persahabatan tidak mungkin melibatkan kebohongan, apalagi tentang hal-hal esensial dalam kehidupan.

Ketika persahabatan hanya terjadi dari satu pihak, maka itu tidak lebih dari persahabatan yang diasumsikan - bukan sebuah persahabatan yang nyata.

Yang penting dalam saat-saat demikian adalah tetap berharap dan percaya, bahwa persahabatan itu sungguh ada.

Sep
24
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-09-2006

Seorang sahabat bercerita bahwa ia orang yang "jauh" dari keluarga. Tidak seperti saudara-saudaranya, ia tidak terlalu dekat dengan keluarganya. Pada hari-hari itu, hasil tes HTP saya (tes psikologi 12-gambar: rumah, pohon, orang) juga keluar, dengan salah satu butir analisisnya berbunyi: "kedekatan/keterlibatan dengan keluarga … terlihat … kurang … sepertinya [Anda] ada di luar keluarga (menonton dari luar)."

Dalam minggu lalu, ada anggota keluarga kami masing-masing yang mengalami musibah dan ternyata kami bereaksi berbeda. Ketika ia menceritakan musibah yang terjadi dan reaksinya sendiri, saya merasa bahwa orang ini sebenarnya adalah orang yang saya keluarganya - tidak seperti yang ia sendiri katakan sebelumnya. Memang ternyata, ketika percakapan berlanjut, ia juga mengatakan bahwa musibah yang mereka alami membuatnya menyadari bahwa sebenarnya ia sayang keluarganya.

Berbeda dengan saya, setelah melalui berbagai kemelut dan serangkaian berita yang mengejutkan, saya tetap merasa sangat dingin. Dalam minggu-minggu ini, saya semakin menyadari betapa saya benar-benar berlagak seperti seorang penonton, bukan seorang pelaku. Kalaupun terlibat, saya lebih memilih peran sutradara, yang mengatur ini dan itu, daripada seorang pelaku.

Hari-hari ini sangat membingungkan. Satu hal yang beberapa waktu ini semakin saya sadari: bersikap sebagai penonton adalah satu hal yang saya nikmati selama ini tetapi, cepat atau lambat, ini harus berubah. Tanggung jawab dalam posisi yang istimewa di dalam keluarga menanti. Dan tanggung jawab terhadap keluarga tidak bisa diabaikan.

Sep
24
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-09-2006

Berbicara tentang kehormatan pada hari-hari ini sepertinya aneh. Benarkah perasaan saya itu? Yang jelas, saya merasa "kehormatan" bukanlah suatu topik yang terlalu disukai lagi - nampaknya "keberhasilan" dan "popularitas" adalah topik-topik yang lebih disukai daripada "kehormatan". Sementara keberhasilan dan popularitas seyogianya diraih secara terhormat, kenyataannya wacana populer berbicara lain.

Kali ini saya hendak menyoroti dua jenis sumber kehormatan: yang satu berasal dari dalam diri sendiri, yang lain berasal dari luar. Kehormatan yang berasal dari dalam diri sendiri bisa dikatakan adalah buah kepribadian, hasil pembawaan diri yang matang. Kehormatan yang berasal dari luar bisa berasal dari jabatan, kekayaan, pendidikan, keluarga. Kehormatan yang berasal dari jabatan, kekayaan, pendidikan, keluarga, nampaknya besar kemungkinannya saling terpaut satu sama lain. Tapi kali ini saya hendak menyoroti masalah kehormatan dalam dikotomi antara kehormatan yang berasal dari diri sendiri dan kehormatan yang berasal dari jabatan.

Seiring dengan berlalunya waktu, jika kita bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, tentu karier kita akan meningkat. Jabatan akan bertambah tinggi. Sejalan dengan kenaikan jabatan, ada kehormatan yang terikat dengan jabatan itu. Setiap jabatan datang dengan tanggung jawab yang berbeda, dengan insentif finansial yang berbeda, dengan tunjangan-tunjangan yang berbeda dan tentunya, dengan kehormatan yang berbeda pula. Semakin tinggi jabatan yang kita peroleh, semakin tinggi pula kehormatan yang kita peroleh karena jabatan.

Berbicara soal jenjang karier, setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam kelajuan karier. Ada orang yang mampu menanggung tanggung jawab yang besar, ada yang merasa cukup dengan tanggung jawab yang sederhana. Ada orang yang selalu terdorong untuk mencoba lagi dan lagi dan lagi, ada yang merasa harus membatasi dirinya dalam karier, misalnya karena ingin lebih mengutamakan keluarga sedangkan jabatan yang terlalu tinggi dirasa mengancam keluarga. Ada orang yang mampu mengemban dan mengelola kehormatan yang besar, ada yang tidak mampu mengembannya.

Satu hal sangat penting diperhatikan: sebelum kehormatan yang kita peroleh karena jabatan itu benar-benar kita peroleh, kita harus terlebih dulu mempersiapkan diri dengan membangun kehormatan pribadi. Alangkah celakanya orang yang kehormatan-karena-jabatannya lebih besar daripada kehormatan-karena-pribadinya sendiri! Orang semacam itu akan "dihormati" oleh rekan-rekan kerjanya semata-mata karena jabatannya, artinya hanya di depannya. Tetapi sebagai pribadi, kehormatannya sebenarnya tidak memadai. Sebaliknya, bagi orang yang memiliki kehormatan-karena-pribadinya sendiri, tidak perlu dipersoalkan apakah ia memiliki jabatan atau tidak, kehormatan itu sudah menjadi miliknya. Jabatan yang diperolehnya hanya menjadi pelengkap, sebuah legitimasi formal atas kehormatan yang memang telah dimilikinya.

Rasanya menyedihkan sekali melihat ada orang yang mengandalkan jabatannya sekedar mendapatkan rasa hormat. Tetapi ia tidak mampu menimbulkan rasa hormat dan penghargaan dari orang lain kepada pribadinya! Andalannya untuk dihormati hanya jabatannya. Keutuhan organisasi dan kelanggengan lembaga sedikit-banyak tergantung kepada pribadi pemimpinnya. Tidak seyogianya seorang pemimpin mengandalkan jabatannya saja sementara pribadinya tidak dibenahi.

Cepat atau lambat, seorang pemimpin harus bisa dihormati karena pribadinya, bukan karena jabatannya. Seorang pemimpin yang tidak bisa memperoleh kehormatan karena pribadinya rasanya tidak layak untuk mengemban jabatan pemimpin.