Sep
28
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 28-09-2006

Beberapa tahun berselang, saya membaca sebuah kisah tentang dua orang artis yang sama-sama bekerja dalam sebuah proyek rekonstruksi sebuah katedral di Inggris. Kisah itu terjadi beberapa abad lampau. Mereka bekerja puluhan meter dari permukaan lantai dengan peralatan pengaman yang sangat minim karena pada masa itu memang belum ada peralatan-peralatan pengaman yang kita miliki saat ini. Sebagai artis, tugas mereka adalah merekonstruksi lukisan-lukisan di dinding-dinding dan kubah-kubah katedral agar kembali terlihat indah dan menarik.

Seusai menyelesaikan rekonstruksi sebuah lukisan, satu dari antara mereka melihat hasil rekonstruksinya dengan perasaan puas dan kagum. Sebagaimana lazimnya yang kita lakukan ketika melihat sebuah lukisan dengan rasa puas dan kagum, kita akan melangkah mundur atau bergeser untuk melihatnya dari perspektif yang agak berbeda, dari sudut pandang yang lain. Setelah beberapa kali si artis melangkah dan bergeser, sedang ia menikmati hasil rekonstruksinya, BUK! Dia menerima bogem mentah dari temannya. Sekonyong-konyong, ia pun maju, hendak membalas tinju yang tak terduga itu.

Belum sempat ia membalas jotosan itu, temannya berkata, "Tunggu! Lihat!"

Apa yang dilihatnya? Ketika ia melihat arah telunjuk temannya itu, yang mengacung ke arah tempat ia berdiri tadi, ia pun sadar: ia telah mundur berkali-kali hingga tinggal selangkah lagi ia akan jatuh dari lantai-buatan yang menopang mereka puluhan meter dari permukaan lantai. Sedikit saja lagi, ia akan menemui ajalnya.

Tapi, kenapa harus dengan tonjokan? Tidak bisakah temannya itu sekedar berseru, atau memberi tahu dari kejauhan? Dalam kondisi seperti itu, seruah dari jauh tidak akan menyadarkan orang yang tengah larut dalam kekagumannya. Dalam kondisi seperti itu, teriakan hanya akan mengejutkannya sehingga ia malah akan lebih cepat jatuh. Tonjokan itu adalah wujud kasih seorang sahabat.

Beberapa bulan terakhir ini, saya menerima sesuatu yang sangat berlawanan: senyuman yang manis, bahkan yang sangat manis. Tapi, senyuman-senyuman itu mengandung kemunafikan. Manisnya senyuman itu membuatnya semakin memuakkan karena kemunafikan yang terkandung di dalamnya. Lebih jauh lagi, di balik senyuman itu ada tipuan-tipuan keji, ada pengingkaran-pengingkaran yang tak terkira, ada hubungan yang dimanfaatkan secara tak terduga, ada rasa tega yang kedalamannya sungguh mengejutkan.

Ternyata ada orang yang bisa bertindak begitu munafiknya sampai-sampai di depan umum bisa bermanis ria dan segera sesudah orang-orang berlalu, dengan sigap mengatupkan mulutnya dan mengalirkan bisa yang mematikan. Orang yang hanya bisa memeras, memeras dan memeras. Memanfaatkan apa yang ada pada kita sejauh berguna bagi dirinya. Dan begitu kita tidak berguna lagi, dicampakkanlah kita.

Ternyata ada orang yang bisa berlaku sebagai seorang kawan terang tetapi ternyata terhadap si Jahat pun ia berkawan. Tetapi tidak mungkin orang berkawan dengan terang tetapi juga berkawan dengan si Jahat. Orang yang menampakkan tanda-tanda demikian hanya mempunyai satu kemungkinan: ia sesungguhnya adalah kawan dari si Jahat. Hanya si Jahat-lah yang mampu memberikan kecerdikan, kelicikan dan kekuatan untuk bersikap munafik dengan kekuatan sedahsyat itu.

Tonjokan seorang sahabat adalah sesuatu yang sangat indah. Senyuman manis penuh kemunafikan adalah sesuatu yang menjijikkan dan memuakkan.

Teman macam apa kita? Adakah kita jenis yang berani memberikan tonjokan ketika sebuah tonjokan memang dibutuhkan - karena rasa sayang dan kepedulian kita terhadap teman kita? Atau, jenis yang hanya akan berpuas diri dan menipu orang dengan hubungan superfisial-simbiotis?

Akhirnya, memang waktu yang harus bicara.