Sep
24

Kehormatan (Cuma) Karena Jabatan

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-09-2006

Berbicara tentang kehormatan pada hari-hari ini sepertinya aneh. Benarkah perasaan saya itu? Yang jelas, saya merasa "kehormatan" bukanlah suatu topik yang terlalu disukai lagi - nampaknya "keberhasilan" dan "popularitas" adalah topik-topik yang lebih disukai daripada "kehormatan". Sementara keberhasilan dan popularitas seyogianya diraih secara terhormat, kenyataannya wacana populer berbicara lain.

Kali ini saya hendak menyoroti dua jenis sumber kehormatan: yang satu berasal dari dalam diri sendiri, yang lain berasal dari luar. Kehormatan yang berasal dari dalam diri sendiri bisa dikatakan adalah buah kepribadian, hasil pembawaan diri yang matang. Kehormatan yang berasal dari luar bisa berasal dari jabatan, kekayaan, pendidikan, keluarga. Kehormatan yang berasal dari jabatan, kekayaan, pendidikan, keluarga, nampaknya besar kemungkinannya saling terpaut satu sama lain. Tapi kali ini saya hendak menyoroti masalah kehormatan dalam dikotomi antara kehormatan yang berasal dari diri sendiri dan kehormatan yang berasal dari jabatan.

Seiring dengan berlalunya waktu, jika kita bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, tentu karier kita akan meningkat. Jabatan akan bertambah tinggi. Sejalan dengan kenaikan jabatan, ada kehormatan yang terikat dengan jabatan itu. Setiap jabatan datang dengan tanggung jawab yang berbeda, dengan insentif finansial yang berbeda, dengan tunjangan-tunjangan yang berbeda dan tentunya, dengan kehormatan yang berbeda pula. Semakin tinggi jabatan yang kita peroleh, semakin tinggi pula kehormatan yang kita peroleh karena jabatan.

Berbicara soal jenjang karier, setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda dalam kelajuan karier. Ada orang yang mampu menanggung tanggung jawab yang besar, ada yang merasa cukup dengan tanggung jawab yang sederhana. Ada orang yang selalu terdorong untuk mencoba lagi dan lagi dan lagi, ada yang merasa harus membatasi dirinya dalam karier, misalnya karena ingin lebih mengutamakan keluarga sedangkan jabatan yang terlalu tinggi dirasa mengancam keluarga. Ada orang yang mampu mengemban dan mengelola kehormatan yang besar, ada yang tidak mampu mengembannya.

Satu hal sangat penting diperhatikan: sebelum kehormatan yang kita peroleh karena jabatan itu benar-benar kita peroleh, kita harus terlebih dulu mempersiapkan diri dengan membangun kehormatan pribadi. Alangkah celakanya orang yang kehormatan-karena-jabatannya lebih besar daripada kehormatan-karena-pribadinya sendiri! Orang semacam itu akan "dihormati" oleh rekan-rekan kerjanya semata-mata karena jabatannya, artinya hanya di depannya. Tetapi sebagai pribadi, kehormatannya sebenarnya tidak memadai. Sebaliknya, bagi orang yang memiliki kehormatan-karena-pribadinya sendiri, tidak perlu dipersoalkan apakah ia memiliki jabatan atau tidak, kehormatan itu sudah menjadi miliknya. Jabatan yang diperolehnya hanya menjadi pelengkap, sebuah legitimasi formal atas kehormatan yang memang telah dimilikinya.

Rasanya menyedihkan sekali melihat ada orang yang mengandalkan jabatannya sekedar mendapatkan rasa hormat. Tetapi ia tidak mampu menimbulkan rasa hormat dan penghargaan dari orang lain kepada pribadinya! Andalannya untuk dihormati hanya jabatannya. Keutuhan organisasi dan kelanggengan lembaga sedikit-banyak tergantung kepada pribadi pemimpinnya. Tidak seyogianya seorang pemimpin mengandalkan jabatannya saja sementara pribadinya tidak dibenahi.

Cepat atau lambat, seorang pemimpin harus bisa dihormati karena pribadinya, bukan karena jabatannya. Seorang pemimpin yang tidak bisa memperoleh kehormatan karena pribadinya rasanya tidak layak untuk mengemban jabatan pemimpin.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: