It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Ternyata saya tidak sendirian. Seorang sahabat beberapa waktu lalu berbagi pengalaman pahit - suatu hal yang ternyata juga saya alami. Ini yang kami alami:
Kita sama-sama tahu bahwa kita tidak bisa serta-merta mencari teman. Pertemanan tidak dicari, tetapi diberikan. Kita mulai dengan menawarkan pertemanan, lantas ketika gayung bersambut, terjalinlah suatu hubungan. Ketika waktu berlalu, hubungan pun dievaluasi dan bisa berkembang ke tahap selanjutnya. Tetapi ada kalanya kita berjumpa dengan orang-orang yang begitu mengesankan sehingga kita ingin bersahabat dengan mereka. Kita menawarkan persahabatan. Kita hadir di dalam kesulitan mereka. Kita ada ketika mereka membutuhkan bantuan. Kita berupaya memahami mereka dalam segala keberadaan dan keterbatasan mereka.
Persahabatan adalah soal memberi dan soal ada di saat sulit. Ada kalanya ketika saat-saat sulit itu berlalu dan tiba saat-saat yang bahagia, kita diabaikan - atau, kita membiarkan diri kita diabaikan seraya menyingkir dari tengah kehidupannya.
Tetapi ada juga orang-orang yang sulit memberi dan menerima persahabatan. Ada orang-orang yang telah mengalami kepahitan yang luar biasa sehingga begitu sulit bagi mereka untuk mempercayai adanya persahabatan. Ada orang-orang yang pernah harus melalui masa-masa yang sangat sulit sendirian sehingga mereka percaya bahwa untuk bertahan, untuk maju, mereka harus berupaya sendiri dan tidak pernah menyusahkan sahabat. Padahal, sahabat ada untuk disusahkan, untuk direpotkan, untuk hadir di dalam masa-masa tersulit dalam kehidupan. Tanpa kemampuan melalui ujian itu, persahabatan bukanlah persahabatan. Persahabatan tidak mungkin terjadi hanya di dalam masa-masa senang.
Persahabatan harus terjadi secara resiprokal. Bagaikan seutas tali, kedua ujungnya harus dipegang agar persahabatan terentang. Persahabatan tidak bisa hanya ditawarkan dan disodorkan tanpa ada yang menerimanya, tanpa ada gayung yang bersambut. Persahabatan boleh jadi masih mengandung rahasia, tetapi persahabatan tidak mungkin melibatkan kebohongan, apalagi tentang hal-hal esensial dalam kehidupan.
Ketika persahabatan hanya terjadi dari satu pihak, maka itu tidak lebih dari persahabatan yang diasumsikan - bukan sebuah persahabatan yang nyata.
Yang penting dalam saat-saat demikian adalah tetap berharap dan percaya, bahwa persahabatan itu sungguh ada.