It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Day 1. Jakarta-Batam. Batam-Singapore. Harbour Front. Bishan.
Day 2. Little India. Tekka Centre. Little India’s Arts Belt. Little India Arcade. Abdul Gafoor Mosque. Sim Lim Tower. The Church of True Light. Sri Veeramakaliamman Temple. Moslem Cemetary. Arab Street. Kampong Glam. Masjid Sultan. Malay Heritage Centre. Gedung Kuning. Bussorah Mall. Haji Lane. DHL Balloon. Suntec City. Stamford Road. Orchard Boulevard. Orchard Road. The Banana Leaf Apolo. Farrer Park. Sri Srinivasa Perumal Temple.
Day 3. City Hall. St Andrew’s Cathedral. CityLink Mall. Esplanade. War Memorial Park. The Padang. Parliament House. Supreme Court. Raffles’ Landing Site. Asian Civilisations Museum. Singapore River. Clarke Quay. Coleman Bridge. Elgin Bridge. Cavenagh Bridge. The Merlion Park. Lim Bo Seng Memorial. The Cenotaph. Orchard Road. MacDonald House.
Day 4. Harbour Front. Cheng Ho Imperial Cruise. Kusu Island. Sentosa Island. Butterfly Park & Insect Kingdom. Siloso Beach. Nature Walk / Dragon Trail. Fort Siloso. The Sentosa Window. Mount Imbiah. Merlion Walk. The Merlion. Musical Fountain. Raffles Hotel. The Long Bar. Chijmes.
Day 5. Bras Basah Complex. Popular. National Library. Goddess of Mercy Temple. Sri Krishnan Temple. Maghain Aboth Synagogue. Singapore Art Museum. Suntec City. Esplanade. Chinatown. Chinatown Point. Lau Pa Sat. Jamae Mosque. Ann Siang Hill Park. Ann Siang Road. Sri Mariamman Temple. Temple Street. Lucky Chinatown. Pagoda Street. Chinatown Street Markets. Chinatown Heritage Centre. Raffles the Plaza. Wheelock Place. Junction 8.
Day 6. Katong / Joo Chiat. Malay Village. Changi Chapel & Museum. Changi Airport.
Day 7. Kranji. Johor Bahru. Chinese Garden. Jurong. Jurong Bird Park. National University of Singapore. University Hall. Cultures of Creativity: The Centennial Exhibition of the Nobel Prize. Outram Park. Tan Boon Liat Building. SKS Books Warehouse. Raffles Place. CityLink Mall.
Day 8. Bras Basah Complex. Tecman. Killiney Road. Bishan. Orchard Road Presbyterian Church. The Prata Cafe.
Day 9. Harbour Front. Singapore-Batam. Batam. Batam-Jakarta.
Ini adalah akhir dari perjalanan menjelajah Singapura. Ko Chandra berkali-kali mengutarakan kekagumannya atas jiwa penjelajah saya, yang katanya berwisata seperti Kublai Khan menjajah (hehehe …). Kami ke pelabuhan naik taksi, di mana saya kebingungan karena tidak ada loket Wavemaster, ternyata untuk naik Wavemaster harus ke loket Berlian karena nama perusahaannya adalah Berlian. Untungnya bertemu Ko Johan dan Ci Mariska yang bersama keluarga besarnya sedang boarding. Saya menitipkan $10 pajak perjalanan dan paspor saya, sayangnya saya tiba terlalu pas-pasan sehingga tidak sempat naik feri yang saya inginkan, harus menunggu feri berikutnya, pukul 11.05.
Lantas Ko Chandra dan saya berpisah.
Biasa, urusannya sudah berubah mengantri dan mengantri dan mengantri … bagian yang paling menyebalkan.
Berangkat dari Singapore pukul 11.20 waktu setempat, tiba di Batam juga pukul 11.20 waktu setempat, lantas beristirahat di tempat Papa, sempat tidur pulas sebelum berangkat ke bandara, dan naik pesawat Air Asia pukul 17.30 ke Jakarta, dijemput di bandara.
Perjalanan yang melelahkan dan agak menyebalkan dengan adanya anak-anak kecil yang mendorong-dorong kursi kami di pesawat. Tapi cukup menyenangkan juga dengan Rp30.000 bisa menjadi VIP lagi.
Berikutnya, saatnya membuat tulisan-tulisan reflektif dan ulasan-ulasan menyeluruh dari perjalanan ini.
Di rumah masih menunggu setumpuk tugas yang harus diselesaikan sebelum kembali bekerja hari Rabu. Tapi besok pun, hari Minggu, sudah ada setumpuk tugas dan beberapa rapat yang menunggu.
Hari ini Ko Chandra, Ci Chika dan saya pergi bersama setelah makan siang, dengan taksi ke ORPC tempat Ko Chandra akan ber-KTB dan persiapan untuk HUT ORPC ke-150 malam harinya. Ci Chika dan saya berjalan-jalan ke toko buku Tecman tempat saya dihadiahi satu buku lagi dan membeli satu buku lainnya dengan diskon (dari toko dan dari Ci Chika), lalu kami mencari oleh-oleh, kembali ke Bishan.
Malam harinya? Tidak ada yang lebih tepat untuk menutup ajang besar ini dengan ibadah pengucapan syukur. Dan luar biasa, pada malam ini dirayakat HUT Orchard Road Presbyterian Church yang ke-150. Acara berlangsung pukul 20.00-22.20, lalu kami makan makanan India.
Pada pergantian hari, kami berkemas.
RENCANA PERJALANAN. Johor Bahru dan wilayah Barat: Chinese Garden, Jurong Bird Park, NUS.
JOHOR BAHRU. Saya berangkat agak siang karena kegiatan bisnis di Johor Bahru dimulai sekitar pukul 11, lagipula perjalanan ke wilayah Barat terutama akan lebih menarik di malam hari. Baik NUS maupun Chinese Garden buka sampai larut malam. Perjalanan saya tempuh melalui MRT ke Kranji, disambung dengan bus Causeway Link. Ternyata Causeway Link lebih mahal daripada SBS dan juga lebih ribet.
Perjalanan itu cukup singkat, dengan dua tempat perhentian: imigrasi Singapura dan imigrasi Malaysia. Di bagian imigrasi Malaysia saya tertinggal bus Causeway Link yang semula saya tumpangi karena lamanya proses di loket saya, walaupun sebenarnya proses saya sendiri berjalan cepat. Akhirnya saya pun naik di bus berikutnya, hanya sendiri.
Di Johor Bahru saya cukup bingung dengan arah lalu lintas dan tempat tombol penyala lampu hijau untuk menyeberang jalan. Baru saja tiba, saya sudah hampir ditabrak mobil karena menyeberang sembarangan. Rupanya tombol itu, yang di Singapura menghadap ke trotoar, di Malaysia menghadap ke jalan raya.
Tidak seperti Singapura, Johor Bahru berantakan. Tidak ada tanda-tanda penunjuk jalan ke tempat-tempat menarik yang ada di peta mereka. Akhirnya saya hanya memfoto Bangunan Sultan Ibrahim dan tidak ke mana-mana lagi, hanya sekitar 1 jam, lalu kembali ke Singapura. Tadinya berencana naik Causeway Link, tapi karena pelayanannya yang membingungkan akhirnya saya kembali dengan SBS. Untung, ternyata SBS lebih murah. Rupanya RM25 yang saya beli kemarin sia-sia.
WILAYAH BARAT. Dari Kranji, kembali saya naik MRT ke ujung barat, melalui Chinese Garden, lantas ke Jurong. Tempat yang menarik, untungnya juga saya mendapat voucher potongan 25% dari Chika. Tetapi rupanya saya orang yang lebih suka melihat keseluruhan daripada berlama-lama di satu tempat, jadi saya menggunakan Panorail (semacam monorail) untuk berkeliling dan selebihnya hanya melihat lebih dalam wilayah African Wetland, burung hantu dan pinguin. Kalau beramai-ramai mungkin lebih enak berkeliling, melihat burung-burung itu satu per satu dan juga ke tempat reptil. Tapi kalau sendiri, saya lebih memilih melihat sekilas, tetapi menyeluruh.
Selesai dari Jurong Bird Park, hujan sangat lebat turun. Lagi-lagi, untungnya ada payung pinjaman dari Chika. Perjalanan ke NUS untuk melihat pameran "Cultures of Creativity: the Centennial Exhitibion of the Nobel Prize" yang baru dibuka hari ini ditandai dengan hujan di sepanjang perjalanan.
Setiba saya di NUS University Hall, saya dipandu oleh mahasiswa yang masih gugup-gugup dan salah-salah, maklumlah, itu hari pertamanya menjadi pandu. Saat saya masih berkeliling melihat-lihat, saya dihampiri oleh seorang ibu, anggota staf NUS yang hendak memfoto saya menjadi modelnya untuk sampul majalah NUS. Hahaha … tidak menyangka. Setelah beberapa kali berpose dan berpindah-pindah tempat, akhirnya jadi juga fotonya.
SORE DAN MALAM. Menjelajahi jalur MRT hijau, saya menutup siklusnya di statsiun Outram Park, makan, lalu ke Tan Boon Liat Building, yup, ke SKS Books Warehouse yang terkenal itu dan sempat beli NIV Study Bible untuk Billy di sana. Toko buku yang sangat menarik, walaupun di kompleks pergudangan, tetap saja lebih bagus daripada BPK Gunung Mulia.
Sampai hari ini saya sudah menghabiskan sekitar $40 untuk transportasi saja, sehingga rencana untuk kembali ke Chinese Garden pada malam hari untuk melihat lampion saya batalkan, toh sudah dua kali saya melewatinya dan melihatnya dari atas. Malam hari saya berkeliling pusat perbelanjaan dari Raffles Place ke CityLink sampai Orchard Road.
Akhirnya saya sudah bisa menemukan tempat-tempat makan yang murah, sekitar $3-4, bahkan di Orchard sekalipun. Demikianlah hari ini, tidak terlalu banyak lagi yang bisa dijelajahi, semua situs utama sudah didatangi, dari Jurong sampai Changi, dari Kusu sampai Kranji. Besok tinggal saatnya membeli oleh-oleh titipan.
RENCANA PERJALANAN. Wilayah kota sudah selesai dijelajahi. Kini saatnya beralih ke wilayah-wilayah tepi. Hari ini adalah saya akan menjelajahi wilayah Timur, daerah Changi dan Katong.
Saya berangkat pukul 12.15, naik bus menuju ke daerah Malay Village. Rasanya tidak ada yang istimewa di daerah ini, selain gedung-gedung yang bernilai sejarah. Saya tidak terlalu lama, hanya berputar-putar sekitar 30 menit, lalu kembali melanjutkan perjalanan ke Museum dan Kapel Changi.
Beruntung sekali, dalam minggu ini hujan mulai turun di wilayah Singapura, termasuk hari ini, sempat satu kali hujan kecil dan satu kali hujan sangat deras. Ini membantu mengatasi masalah asap ulah Indonesia yang benar-benar menyesakkan.
MUSEUM & KAPEL CHANGI. Saya tidak akan berpanjang lebar juga di bagian ini, bukan karena museum dan kapel ini tidak menarik, tetapi justru sebaliknya, rasanya sayang sekali kalau tempat yang sangat penting dan sangat menarik saya tulis dalam keadaan terburu-buru di Singapura. Saya perlu merenung lebih jauh untuk membuat tulisan mengenai museum dan kapel Changi ini.
Satu hal, saya sangat kagum bagaimana pemerintah Singapura memberikan perhatian yang sangat besar kepada sejarah dan humaniora sehingga museum ini yang menurut dugaan saya hanya berukuran sekitar 50 m × 20 m dan bisa dikelilingi dalam belasan menit, tetapi dengan fasilitas audio tour, saya kelilingi dalam waktu hampir 2 jam. Sangat menarik. Changi Museum & Chapel dan Asian Civilisation Museum adalah bukti kehebatan dan keagungan jiwa Singapura.
BANDARA CHANGI. Tempat ketiga yang saya kunjungi adalah bandara Changi karena banyak orang ini adalah salah satu tempat yang harus dikunjungi. Memang besar, mewah dan megah, tapi kok rasanya begitu-begitu saja ya? Tidak ada yang terlalu istimewa.
Setelah dari bandara, saya langsung pulang, menggunakan MRT, melewati dua interchange, sampai di Bishan. Karena jauhnya perjalanan ke Barat dan lamanya saya diam di masing-masing tempat yang saya kunjungi, akhirnya hari ini saya hanya bisa mengunjungi ketiga tempat ini dan tidak sempat ke toko-toko buku lagi. Saatnya beristirahat dan menata ulang rencana perjalanan saya untuk 3 hari yang terakhir.
To know. To do. To be. Mengetahui. Melakukan. Menjadi.
Perjalanan saya ke Singapura dimulai dengan rencana riset untuk proram M.Th., pada bulan Maret 2006. Ketika ternyata saya mengambil M.Pd. dan bukannya M.Th., maka perjalanan yang sudah direncanakan pun berubah dari riset menjadi tamasya. Maka sejumlah upaya perencanaan perjalanan dilakukan. Tidak kurang dari 5 kali saya membuat revisi atas rencana perjalanan itu. Tahap ini menyenangkan sekali karena pemerintah Singapura menyediakan informasi yang sangat lengkap tentang negerinya. Bisa dikatakan negara Singapura adalah sebuah industri pariwisata.
Minggu lalu, “mengetahui” berubah menjadi “melakukan”, ketika saya berangkat ke Singapura untuk mewujudnyatakan rencana yang telah saya buat sekian lama. Dan hasilnya adalah sejumlah travelog yang telah saya tulis. Tetapi hari ini berbeda. Hari ini saya belajar menjadi orang Singapura. Menariknya, ternyata orang-orang mengasumsikan saya orang Singapura, dari supir taksi sampai orang-orang asing yang menanyakan jalan dan rute MRT ke saya.
RENCANA PERJALANAN. Maghain Aboth Synagogue, Singapore Art Museum, Chinatown.
PAGI. Ini adalah Hari Raya Puasa, atau Aidilfitri, sebuah hari libur nasional. Pagi ini saya cukup santai. Walaupun tetap bangun pagi seperti biasa, saya berbincang-bincang cukup lama dengan Ko Chandra dan baru berangkat pukul 10.30. Ketika keluar, di mana-mana terlihat orang-orang berbaju tradisional Melayu, saling bersilaturahmi.
Saya menuju Tacman, toko buku Kristen di Bras Basah Complex. Ternyata saya malah menemukan toko buku Popular dan membeli buku “Evidence that Demands A Verdict” edisi gabungan (I & II) dan revisi. Sebelumnya sempat saya juga mau membeli satu Alkitab bilingual JPS-Tanakh seharga $35, suatu harga yang sangat murah menurut saya. Ketika dilihat-lihat, ada cacatnya sedikit di bagian jahitan dan sampul. Sangat mengesankan, ketika satu petugasnya melihat saya ragu dan saya jelaskan kenapa, dia langsung memanggil penyelianya dan … saya dapat diskon 10% untuk pembelian buku itu! Di Indonesia, mana ada yang seperti itu. Tapi, setelah petugas kasir membuat bonnya, saya terkejut: kok hampir $100? Ternyata $35 tadi adalah USD, bukan SGD. Yah, tidak jadi beli deh.
Perjalanan saya lanjutkan melalui National Library, menuju Waterloo St. di mana terletak kuil Goddess of Mercy (untuk pemujaan Dewi Kwan Im) dan Sri Krishnan (Hindu) yang di depannya terdapat pasar jalanan. Di jalan yang sama ada Maghain Aboth Synagogue. Sayangnya saat itu pukul 12.30 dan sinagoge baru boleh dimasuki pukul 14.00, saya jadi malas untuk kembali lagi. Setidaknya saya sudah melihat eksteriornya.
Selanjutnya saya menyeberang ke Singapore Arts Museum, tapi juga tidak masuk karena sepertinya museum itu lebih didedikasikan pada seni-seni kontemporer yang kurang saya sukai; lalu naik bus ke Suntec untuk makan siang dan ke Esplanade untuk membeli kalung Legolas yang sudah saya incar dalam kunjungan sebelumnya, suatu kalung dengan lambang Legolas dari The Lord of the Rings yang dibuat dari baja patri.
CHINATOWN. Menu utama perjalanan hari ini adalah Chinatown, dengan MRT. Dalam rangka menghayati gaya hidup Singapura, hari ini saya hanya bercelana pendek dan berkaus, dengan sandal, tanpa membawa tas gendong yang beberapa hari ini saya bawa. Menyesal juga, karena jadinya tidak bisa minum dan tidak bisa membeli lebih banyak oleh-oleh karena beratnya oleh-oleh itu.
Dalam perjalanan ini saya juga tidak membawa peta dan tidak membawa kamera. Tapi untungnya sebagian besar situs menarik di Chinatown sudah saya kunjungi, walaupun dengan kaki yang sudah sangat sakit seharian ini. Saya sempat makan sekali lagi di Chinatown.
Kesan keseluruhan tentang Chinatown, hari ini sebagian besar wilayah ini seperti kota mati, karena memang pusat keramaian di hari libur nasional ini adalah di Jalan Arab, wilayah Kampong Glam. Yang menyenangkan, para pramuniaga di wilayah ini sangat ramah, banyak menawarkan jasa dan produk mereka, sikap seperti ini tidak saya jumpai di wilayah-wilayah lain yang sudah saya kunjungi.
Di wilayah ini, papan penunjuk jalan dituliskan dalam tiga bahasa: Inggris, Mandarin dan Jepang. Entah kenapa Jepang.
SORE. Akhirnya sore hari saya berjalan-jalan di beberapa mal di daerah Raffles dan Orchard sebelum kembali ke Bishan, menjelajahi lagi mal Junction 8, lalu membeli makan malam di 7-eleven, nasi lemak dan mi kuah, dua-duanya siap saji dan mencoba vending-machine untuk membeli rootbeer.
CATATAN PERJALANAN. Mulai hari ini, sepertinya sifat perjalanan saya berubah. Semua rencana yang rigid dan dingin mulai mencair, beberapa tempat yang rencananya saya kunjungi tidak jadi saya kunjungi tanpa ada rencana penggantian waktu. Tempat-tempat seperti Singapore Botanic Garden, Treetop Walk, dan beberapa tempat lainnya tidak asyik kalau dijalani sendiri, apalagi saya hanya suka kebunnya, tapi tidak menyukai tanamannya. Walaupun saya suka jalan, tapi hari-hari ini sudah overdosis, jadi lebih baik membatasi kegiatan.
ORANG INDONESIA. Di mana menemukan orang Indonesia di sini? Ketika saya ke museum, ke tempat-tempat bersejarah, di antara campuran bahasa Inggris, Melayu, Mandarin dan Tamil, tidak pernah saya mendengar bahasa Indonesia. Tapi di Orchard, di mana-mana terdengar bahasa Indonesia. Hari ini kondisinya berbeda. Karena pembantu-pembantu diliburkan, di mana-mana terdengar bahasa Indonesia. Tapi tetap saja hanya di tempat-tempat hiburan, bukan di tempat-tempat penting.
Ketika mempelajari informasi tentang wisata di Singapura yang sangat berlimpah, juga penawaran-penawaran dari biro-biro perjalanan, seringkali sebagaimana memang lazim, kita menjumpai label “Must Visit”, “Must Do”, dan yang sejenisnya, hati-hatilah.
Banyak obyek wisata dan cinderamata yang diberi label “Must …” semacam itu, sebenarnya biasa-biasa saja untuk kita.
Satu hal yang harus diingat: sebagai orang Indonesia, apalagi dengan basis kebudayaan Cina, sebenarnya kita mempunyai landasan budaya yang sangat serupa. Jangan terlalu mudah percaya pada yang “Must …” semacam itu. Bukan berarti label itu salah, hanya saja biasanya label itu rasanya dibuat untuk orang-orang yang benar-benar asing, mereka yang datang dari jauh. Tetapi untuk kita yang dekat, faktor kemiripan budaya kita harus diperhatikan.
Dua kategori bisa ditempelkan pada hari ini: paling mahal dan paling menyebalkan. Saya merasa ditipu oleh RMG Tour.
RENCANA PERJALANAN. Cheng Ho Cruise, Singapore Arts Museum, Maghain Aboth Syangogue, Chinatown.
PAGI. Saya bangun sangat pagi, pukul 07.00. Dengan rutinitas harian yang terutama terdiri dari wisata ±14 jam per hari dan tidur 7 jam, itu cukup pagi. Jangan dihitung dengan standar Jakarta. Pukul 08.30 saya berangkat, beli roti di 7-eleven, lantas naik bus ke Bishan Interchange Station. Dalam waktu setengah jam, dari pukul 09.00 saya tidak di Harbour Front pukul 09.30.
Segera saya membeli tiket yang seharusnya berharga $25 tetapi karena sedang musim ziarah Tao ke Pulau Kusu, pelayaran ini tidak akan berhenti di Pulau Kusu, jadi didiskon menjadi $20. Saya lantas sarapan di McDonald’s. Konyolnya, saya hampir kehilangan tiket yang sudah saya beli karena tertingggal di McD. Setelah 10 menit lebih baru saya berlari-lari lagi dan meminta bantuan petugasnya untuk mencarikan tiket saya di tempat sampah mereka, yang untungnya berada di bagian paling atas.
GARIS BESAR HARI. Baiklah, saya tidak mau berpanjang-panjang menceritakan bagian terbesar dari hari yang menyebalkan ini. Hingga hari ini saya menjadi terbiasa membeli makanan di 7-eleven, McDonald’s dan BreadTalk. Restoran-restoran itu jadi terasa sangat murah di sini, apalagi dibandingkan tempat-tempat makan lainnya, begitu juga Subway yang dulu ada di Mal TA. Ya, itulah makanan saya sehari-hari.
Sebagian terbesar dari hari ini dihabiskan bersama RMG Tour. Dan saya merasa tertipu habis-habisan!
Tur pertama, Cheng Ho Imprerial Cruise, seharga $20 tadi. Tur yang seharusnya berdurasi 2,5 jam ternyata jadi hanya 2 jam karena tiadanya kunjungan ke Pulau Kusu. Dibutuhkan 15 menit masing-masing untuk persiapan berangkat dan melabuh kembali. Di awal perjalanan, kami yang 20-an orang masih bersemangat, tapi segera perjalanan menjadi membosankan, tidak ada pemandu, tidak ada apa-apa, tidak ada keterangan.
Awalnya saya di geladak paling atas, tapi karena masuk angin lalu turun ke ruangan tengah yang ber-AC. Di sana saya tertidur setengah jam. Saat saya bangun, ternyata sebagian besar peserta juga sudah masuk ke ruang tengah atau ruang bawah, banyak yang tidur atau sekurang-kurangnya kehabisan bahan pembicaraan dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Bahkan pasangan-pasangan suami-istri yang semula sangat bersemangat dan bicara banyak pun semua sudah diam. Benar-benar membosankan.
Setelah mempertimbangkan ulang perjalanan, saya memutuskan untuk mengubah rencana perjalanan menjadi ke Sentosa Island, lantas malamnya dilanjutkan sebisanya ke satu-dua tempat lain.
Setelah makan siang di McD, saya kembali untuk memesan tiket ke Sentosa. Rencananya saya akan memesan paket Imbiah yang sangat menarik dengan harga $55.50 diskon mencapai 40% dan paket yang mencakup 12 poin. Ternyata orang yang bertugas sedang makan siang, cukup lama sehingga saya bertanya ke orang di sebelahnya, yang tadi menjual tiket RMG kepada saya. Dia mengatakan paketnya sama dan saya cukup membayar $52, dengan pemandu, padahal yang $55.50 tadi tanpa pemandu. Aneh sih, tapi saya percaya saja.
Ternyata dari saat saya membeli sampai saya naik cable-car, saya harus menunggu 2 jam penuh! Tidak hanya di situ, ternyata sesampai kami di Sentosa, paket itu hanya mencakup tiket masuk ke 2 atraksi, itu pun yang jelek-jelek! Memang, hari ini Sentosa sangat-sangat penuh, tetapi benar-benar saya dibohongi mentah-mentah oleh RMG!
Jadi, JANGAN pernah ikut RMG Tours di Singapura. Dua kali sehari, saya dibohongi senilai $72! Menyebalkan!
AKHIR. Akhirnya setelah saya ditinggalkan oleh pemandu saya ke tempat atraksi ke-2, saya memutuskan untuk berkelana sendiri. Di Pulau Sentosa inilah pertama kalinya saya merasa peta tidak berguna. Peta Pulau Sentosa tidak membantu saya berkelana. Tempat-tempat yang saya kunjungi cukup lama adalah Pantai Siloso, Imbiah Walk, Dragon Walk, Sentosa Window dan Magical Fountain.
Magical Fountain benar-benar sebuah atraksi yang menyegarkan di penghujung hari yang menyebalkan ini. Sangat menyenangkan, harus dikunjungi!
Selepas dari Pulau Sentosa, saya ke Hotel Raffles, menikmati Singapore Sling yang terkenal itu, lantas kembali ke Bishan.
Makan malam saya? Subway di Sentosa dan BreadTalk di Bishan.
Kisah lebih lanjut tentang Pulau Sentosa dan Hotel Raffles akan saya tulis tersendiri.
Singapura ternyata adalah negeri yang sangat bersahabat dengan pelajar. Di mana-mana saya menemukan ada diskon untuk pelajar, bahkan di restoran-restoran waralaba internasional. Di restoran-restoran seperti McDonald’s, seorang pelajar boleh duduk dan belajar selama ia mau walaupun ia hanya membeli satu makanan/minuman yang paling murah.
Ketika status seseorang sebagai pelajar sangat dihargai, wajarlah status itu menjadi terhormat dan keterdidikan adalah suatu prestise tersendiri.
Sisi buruknya, ternyata kalau 100 orang bersahabat di SMP, dalam kondisi normal, hanya 2 orang yang akan tetap bersama-sama di bangku kuliah. Itu terjadi karena hanya 20% lulusan SMP yang boleh melanjutkan studi ke SMA, begitu juga hanya 10% lulusan SMA yang boleh melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dengan kualitas pendidikan yang begitu baik di Singapura, tidak heran mereka kesal dengan penduduk di luar Singapura yang datang untuk kuliah di sana sementara mereka sendiri tidak boleh masuk ke perguruan-perguruan tinggi itu.
Saya diberitahu bahwa kebanyakan remaja Singapura melanjutkan studi di luar negeri sementara studi tingkat lebih lanjut di Singapura banyak diduduki oleh pelajar dari luar negeri.
Pindah topik. Bagi saya, satu lagi hal yang menarik di Singapura. Di tempat-tempat umum, termasuk pusat-pusat perbelanjaan, kita tidak perlu menitipkan barang-barang yang kita bawa. Semua bisa kita bawa berkeliaran, bahkan di perpustakaan sekalipun. Mereka tidak khawatir kehilangan barang karena adanya fasilitas pengamanan yang sangat canggih.
Dalam kedua hal itu, bagi saya, Singapura nampak sebagai negeri yang lebih bersahabat daripada Indonesia.
KEBIASAAN-KEBIASAAN DI KUIL HINDU. Ketika orang-orang Hindu tiba di kuil, seperti orang-orang Katholik yang menyelupkan jari mereka ke wadah yang menampung air suci dan membuat tanda salib, mereka menyentuhkan jari mereka ke anak tangga di pintu masuk, lalu menyentuhkannya ke dahi mereka. Setelah masuk, di depan altar mereka lantas menelungkupkan badan sepenuhnya ke lantai, berdoa beberapa saat.
Ada dua hal yang sangat menarik perhatian saya dalam arsitektur kuil-kuil mereka. Yang pertama, ambang gerbang utama atau atap kuil mereka dihiasi patung para makhluk ilahi yang sangat tinggi, bertingkat-tingkat. Mereka dibuat sedemikian tinggi dengan tujuan di mana pun orang Hindu berada, mereka tidak perlu jauh-jauh ke kuil untuk berdoa, tetapi cukup menghadap ke arah pintu gerbang itu, lantas berdoa dari tempat mana pun mereka berada - dalam hal ini, dari toko-toko mereka.
Yang kedua, pintu gerbang kuil-kuil itu, betapa pun tingginya, selalu dipenuhi bermotif kotak-kotak yang diakseni oleh lonceng-lonceng kecil berselang-seling, baik dalam baris maupun kolom. Banyak orang yang keluar dari kuil lantas membunyikan bel-bel itu. Walaupun pintunya sangat tinggi, tetap sampai sisi yang lebih atas dari pintu itu dihiasi oleh lonceng-lonceng yang sama.
BUS. Sementara MRT sangat mudah digunakan, sampai hari ini saya masih kebingungan menggunakan bus di Singapura, sangat banyak, dan rumit sekali. Bahkan dengan “Bus Guide & Bus Stop Directory” setebal 512 halaman dari Chandra dan Chika, tetap saja seringkali saya kebingungan, mungkin dibutuhkan 5 harian baru saya akan terbiasa.
PERPUSTAKAAN ESPLANADE. Perpustakaan di Esplanade, walaupun bukan yang terbesar, adalah perpustakaan yang sangat menakjubkan. Esplanade adalah sebuah teater di tepi pantai. Di gedung inilah ada satu-satunya perpustakaan yang bisa meminjamkan media audio-visual. Tetapi bukan itu yang menakjubkan. Yang membuat saya terkagum-kagum adalah bagaimana sistem perpustakaan dibuat begitu otomatisnya sehingga orang dengan bebas meminjam buku dan mengembalikannya, bahkan membayar denda semua tanpa perlu bersentuhan dengan orang.
Untuk meminjam buku, cukup pindai kartu anggota, lantas, pindaikan buku yang akan dipinjam, satu demi satu di alas pemindai seperti yang seringkali kita jumpai di supermarket. Ada juga mesin untuk memeriksa jumlah denda dan tempat terpisah yang tidak saya pelajari, untuk pengembalian buku.
Perpustakaan-perpustakaan di Singapura sangat mengagumkan dan menyenangkan, tidak heran di mana-mana dijumpai orang yang membaca buku, kebanyakan adalah buku pinjaman dari perpustakaan.