It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Pelajaran olahraga selalu menjadi momok di masa saya sekolah. Itu adalah pelajaran yang menyebalkan. Bukan hanya pelajarannya, hampir semua gurunya pun menyebalkan - mulai dari guru olahraga di SD hingga SMA. Sebagian besar dari antara mereka, terutama guru-guru olahraga di SMP pernah mengutarakan kata-kata atau melakukan tindakan yang meledek saya. Saya memang lemah di olahraga dan perlakuan-perlakuan itu membuat pelajaran olahraga menjadi semakin menyebalkan dan pada akhirnya juga membuat saya berpersepsi sama tentang olahraga secara keseluruhan.
Di tahun-tahun pertama saya mengajar, saya mendapati bahwa murid-murid yang sangat ingin berolahraga justru dikekang. Mereka tidak diizinkan menggunakan lapangan (bahkan pada jam-jam pelajaran dan ekstrakurikuler yang menjadi hak mereka), sedangkan kondisi di sekolah juga tidak memungkinkan mereka terlalu banyak beraktivitas secara fisik tanpa mengganggu orang-orang di sekitar mereka. Mengingat usia mereka, terutama bagi yang pria, itu adalah masa-masa ketika produksi adrenalin sedang amat sangat tinggi, maka tindakan pengekangan terhadap kegiatan olahraga mereka bagi saya adalah suatu bentuk penyiksaan. Tetapi kenyataannya ketiga pihak yang berotoritas sama-sama menutup mata terhadap kenyataan ini. Salah satu hal yang terjadi pada masa itu adalah saya pada akhirnya berulang kali menjadi pihak yang harus bertanggung jawab ketika sejumlah murid hendak meminjam lapangan tanpa ada guru yang mau mendampingi. Pada tahun-tahun itu saya melihat olahraga dari perspektif yang berbeda, sebagai seorang yang tidak berminat terhadap olahraga tapi toh menyadari bahwa olahraga sesuatu yang penting dan juga menyadari pada usia tertentu, dalam kondisi tertentu dan bagi orang-orang tertentu, betapa olahraga bisa menjadi sesuatu yang imperatif.
Olahraga, dalam tahun-tahun belakangan ini, telah bisa saya pandang secara lebih obyektif: sebagai sebuah segmen yang dibutuhkan dalam kehidupan setiap manusia demi keseimbangan. Tetapi patut disayangkan bahwa dalam masa-masa pertumbuhan saya sebelumnya, banyak orang yang sangat gemar berolahraga ternyata tidak bisa menyajikan olahraga sebagai sesuatu yang menyenangkan: olahrara malah cenderung diasosiasikan dengan orang-orang yang memiliki prestasi akademik rendah, olahraga juga cenderung terasosiasi dengan kelebihan waktu dan kelebihan tenaga yang tidak bisa disalurkan ke bidang-bidang lain yang lebih bermanfaat sehingga olahraga malah saya pandang tidak lebih dari pekerjaan orang-orang yang kekurang pekerjaan. Suatu pandangan yang benar-benar merugikan saya dalam kurun waktu yang cukup panjang.
Beberapa bulan yang lalu, saya menjadi moderator di sebuah seminar dengan topik "Imanku dan Iman Sesamaku". Tak terduga, di dalam seminar itu, sang pembicara memperlihatkan sebuah kliping dari The Jakarta Post tentang kegiatan murid-murid Sekolah Pelita Harapan yang membawa basket ke Aceh sebagai sarana pemulihan. Tim basket SPH dengan prestasinya yang luar biasa telah datang ke Aceh yang sekitar setahun sebelumnya dilanda tsunami; ya, mereka datang dengan keahlian mereka bermain basket, tetapi juga dengan pikiran yang terasah dengan baik dan dengan hati yang penuh kehangatan. Para olahragawan mudah itu bukan sekedar jago basket. Mereka datang untuk membawa pengharapan melalui permainan basket.
Wawancara serta memoar mereka di The Jakarta Post menunjukkan bahwa mereka benar-benar memiliki konsep yang luar biasa bagaimana ternyata olahraga adalah sarana yang sangat efektif untuk mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang utuh: bahwa melalui olahraga kita seharusnya membentuk karakter yang unggul, mengajarkan kerjasama dan membentuk hati yang mengasihi sesama. Melalui basket, murid-murid SPH telah membawa harapan baru kepada banyak murid di banyak sekolah di Aceh.
Pertanyaannya adalah: ada berapa banyak guru olahraga yang demikian hebat bisa memiliki filosofi yang luar biasa dan membawanya ke dalam pelajaran olahraga? Ada berapa banyak sekolah - bahkan sekolah yang mengaku "Kristen" - memiliki keyakinan terhadap adanya filosofi yang mulia di balik olahraga? Atau, seperti yang banyak terjadi, lapangan olahraga adalah tempat di mana banyak terjadi caci maki, umpatan-umpatan yang kasar, tindakan-tindakan yang tidak pantas?
Dalam hari-hari belakangan ini saya telah berolahraga secara lebih rutin, dan saya pun telah bisa memandang olahragawan dengan pandangan yang lebih menghargai, tetapi berapa banyak murid-murid yang melalui bangku sekolah bisa melihat olahraga dengan perspektif yang mulia? Ataukah, kita akan berpuas diri dengan olahraga sebagai suatu kebutuhan alami setiap manusia, tanpa mempedulikan nilai-nilai dan filosofi yang mulia dan yang sangat luar biasa yang sebenarnya bisa kita kembangkan dari suatu hal yang sangat biasa itu - olahraga?