Oct
19

MediocrityBahwa setiap orang unik, itu saya tahu. Bahwa setiap orang mempunyai panggilannya sendiri di dunia ini, itu juga saya tahu. Setiap orang hadir untuk menjadi berbeda dan untuk membuat perbedaan. Maka kemanusiaan itu sendiri ternyata adalah satu entitas yang jamak. Kemanusiaan terdefinisi melalui dan hanya melalui keberbedaan. Itulah yang membedakan dunia manusia dari dunia robot dan putaran keniscayaan. Manusia hadir untuk terus-menerus mempertanyakan keniscayaan.

Entah kenapa, ada orang-orang tertentu yang mudah memenuhi panggilan kemanusiaan itu, sementara banyak orang lain yang nampaknya hanya pasrah tenggelam, tergulung dalam putaran arus sejarah dan putaran waktu yang tak terelakkan. Entah apakah mereka pada masa mudanya sempat memiliki idealisme dan gelora semangat yang menggebu-gebu untuk memenuhi panggilan kemanusiaan itu dan lantas pudar, atau mereka memang tidak pernah menyadari panggilan itu. Saya bersyukur memiliki kehidupan dengan latar belakang keluarga, pendidikan dan kesempatan yang sangat memudahkan saya untuk menjalani kehidupan yang berbeda.

Di tahun 2004-2005, ketika menjadi wali kelas, saya mengatakan kepada murid-murid saya bahwa jawaban terburuk yang terpikirkan oleh saya bagi pertanyaan "Apa kelebihan saya?" adalah "Kamu hanya punya satu kelebihan: kamu tidak punya kekurangan apa pun." Menjadi manusia yang serba "biasa" adalah kutukan waktu. Mediokritas, bagi saya, adalah suatu kondisi yang harus dielakkan dengan cara apa pun. Dari situ tercetuslah gambar M-verboden.

Antara dua sisi koin. Yang pertama, saya memang berjuang untuk tidak pernah tenggelam dalam mediokritas, menjadi "biasa-biasa saja", menjadi bagian dari "orang kebanyakan", menjadi bagian dari suatu kerumunan dengan kehilangan identitas pribadi kita; itu semua adalah hal yang sangat mengerikan bagi saya. Maka saya merasa sangat tidak nyaman dan tidak aman berada di antara orang banyak, seperti mengikuti permainan, terlibat dalam kelompok yang terlalu besar di mana saya tidak berperan aktif, bahkan kebaktian yang dihadiri hingga ribuan orang. Saya akan merasa sangat takut dan gelisah dalam kondisi-kondisi semacam itu. Maka muncullah sisi yang kedua, perjuangan menafikan mediokritas akhirnya menjadi suatu gerakan aktif yang cenderung obsesif untuk menggoreskan nama saya di dalam sejarah umat manusia dengan tinta emas.

Perjuangan menafikan mediokritas nampaknya menjadi tema dari kehidupan saya, hidup seorang pemimpi. Dalam kehidupan yang demikian, mandi adalah kebutuhan yang sangat penting. "Lho, kok tiba-tiba jadi mandi?", Anda bertanya. Ketika mandi, sangat penting air bak mengalir tidak dengan halus tetapi dengan suara yang bergelora atau sekurang-kurangnya bergemericik. Suara air memberikan ketenangan, tetapi suara air juga membantu saya menghidupkan delusi-delusi keagungan, ‘delusions of grandeur‘ dalam diri saya. Mandi dan menulis adalah dua ritual yang membantu saya menghubungkan berbagai momen dalam kehidupan ini dalam benang merah perjuangan menafikan mediokritas.

Nampaknya saya cukup berhasil. Di tahun 2002-2003, ketika saya akan dipercayakan membimbing suatu KTB baru (kini bernama KTB Opus Dei) di Gereja Kristus Ketapang, rohaniwan remaja, Ibu Casthelia Kartika, memperkenalkan saya kepada para anggota kelompok pra-KTB yang akan dipecah ke dalam sekitar 4 KTB dengan begitu rupa sehingga saya merasa tidak nyaman sendiri. Saya diperkenalkan dengan serangkaian pujian yang total berdurasi dua menit! Saya sampai gentar, karena menyadari saya sebenarnya masih sangat banyak kekurangan, tapi diperkenalkan dengan cara yang begitu baik dan begitu terhormat.

Beberapa tahun berselang, ketika film "Gie" keluar, beberapa teman saya yang adalah sekelompok konselor profesional menonton film itu beramai-ramai. Saya ingat seusai mereka menonton mereka berkata, "Dre, kok Gie itu seperti kamu ya? Tingkahnya, nyleneh-nya, …" Saya hanya menjawab, "Yang jelas Gie itu pasti bau karena jarang mandi. Saya nggak."

Baru-baru ini seorang teman lainnya untuk kesekian kalinya menonton film "Luther" keluaran beberapa tahun silam dan ia berkomentar, "Semakin saya lihat, saya melihat semakin banyak kesamaanmu dengan Martin." Entah apa yang sama, saya tidak bertanya balik. Tetapi pembandingan-pembandingan diri saya dengan orang-orang sebesar Martin Luther dan Soe Hok Gie membuat saya tersanjung dan merenungkan kehidupan saya sendiri.

Antara Martin dan Gie, saya bersyukur bahwa pada usia ini saya telah menjalani apa yang saya jalani dan bahwa saya memiliki kehidupan yang saya miliki. Tetapi hidup terus bergulir. Perjuangan menafikan mediokritas tidak boleh berakhir sebab sekali berakhir kita akan tenggelam. Waktu terus menggulung dan mediokritas mengancam. Apa yang saat ini cukup tidak akan tetap cukup. Apa yang saat ini baik tidak akan tetap baik kalau tidak dengan aktif diupayakan demikian.

Antara Martin dan Gie, saya melihat adanya ketekunan, keteguhan hati dan keberanian mengkonfrontasikan apa yang tidak sinkron, mencapai suatu integritas pemikiran dengan mempertanyakan keniscayaan. Pemikiran yang terintegrasi dengan baik pada waktunya akan menjadi modal kredibilitas yang kokoh serta keberanian yang dahsyat untuk membongkar belenggu-belenggu keniscayaan yang menawan umat manusia dalam mediokritas.

Antara Martin dan Gie, saya menyadari bahwa untuk menjadi manusia dalam pengertian yang seutuh-utuhnya pun ternyata dibutuhkan perjuangan karena kebanyakan orang memilih untuk membekap kesadarannya hingga tersedak mati dan lantas berpuas diri dengan menjadi pion-pion yang lebih memilih untuk diam dan tenggelam, menjadi bagian dari "orang kebanyakan" dan dengan demikian mengancam majunya kemanusiaan (baiklah kita bicara tentang kemanusiaan an sich, bukan soal peradabannya, bukan soal teknologinya, tapi kemanusiaan dalam pengertiannya yang paling kental, kemanusiaan sebagai penghayatan kedalaman kondisi "ada"-nya umat manusia secara pribadi dan kolektif). Setiap orang dilahirkan untuk menjadi manusia, tapi tidak semua orang berani berjuang untuk mencapai kepenuhan hidup seorang manusia.

Antara Martin dan Gie, saya mendapati bahwa bermimpi adalah imperatif. Kita tidak tahu ke mana gemericik air di kamar mandi akan membawa kita. Kita tidak tahu ke mana pemikiran-pemikiran, mimpi-mimpi dan tulisan-tulisan kita akan membawa kita ke mana. Tetapi setidaknya, ketika kita berani berkonfrontasi dengan diri sendiri, menantang asumsi-asumsi kita, mempertanyakan keniscayaan, berjuang menafikan mediokritas, maka kita akan berani mengambil keputusan-keputusan yang tidak populer dan masuk ke dunia-dunia yang tidak populer: menjadi guru, menjadi rohaniwan, terjun ke dunia politik, membuat gebrakan-gebrakan, mendorong perubahan, bertekun dalam kesulitan karena adanya pengharapan yang besar yang menanti kita.

Antara Martin dan Gie, kita mendapati bahwa ternyata tanggung jawab kemajuan kemanusiaan an sich bergantung hanya pada pundak sedikit orang yang berani untuk memenuhi panggilannya, menjadi berbeda dan membuat perbedaan. Terus-menerus mempertanyakan keniscayaan dan berjuang menafikan mediokritas. Maka sangat penting bahwa jiwa dan semangat Martin dan Gie hidup dalam diri kita, hadir dalam degup jantung kita, mengalir dalam pembuluh darah kita.

Berpikir. Merenung. Bergulat. Percaya. Memberontak. Mendobrak. Seperti Martin. Seperti Gie.

Oct
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-10-2006

Ketika aku menilik kehidupanku, aku melihat ada banyak kompartemen di dalamnya. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang tertata dengan baik, ada yang berantakan. Ada yang hanya berupa kompartemen tunggal, ada yang terbagi-bagi lagi menjadi banyak bagian yang lebih kecil. Kompartemen-kompartemen itu di antaranya: SKK, GKK, UPH, sahabat, keluarga. Kompartemen SKK terbagi lagi menjadi SMK, SMA, dan beberapa bagian minor. Demikian juga kompartemen-kompartemen lainnya.

Ada kalanya ketika aku menyeriusi satu kompartemen, aku merasa tidak pas, tidak cocok berada di situ dan aku berpikir, apakah aku seharusnya mengabaikan saja yang satu itu dan menggantinya dengan yang lain. Semakin lama, ketika itu terus berulang, aku jadi bertanya, apa sebenarnya masalahnya? Apakah benar karena aku tidak cocok atau karena diriku yang sebenarnya bermasalah?

Aku adalah orang yang suka terlibat dalam banyak kegiatan secara simultan. Dalam satu waktu, aku bisa memegang sampai 10 tanggung jawab sekaligus. Aku menduga, jangan-jangan ini masalahnya.

Aku baru saja pulang dari semacam RCR (refreshing course and retreat, semacam retret, tapi lebih santai) yang melibatkan teman-temanku sebagai pembimbing. RCR diadakan oleh SMA Kristen Ketapang I yang berada di bawah naungan Gereja Kristus Ketapang dengan melibatkan Pemuda Gereja Kristus (PGK) Ketapang sebagai pembimbing-pembimbingnya.

Aku terlibat terutama sebagai guru, tetapi karena kedudukanku sebagai sekretaris di PGK, aku juga menjadi penghubung dengan PGK. Selanjutnya, karena aku juga merangkap sebagai koordinator bidang misi di PGK, maka aku juga menjadi penanggung jawab pendampingan acara itu dari sisi PGK. Tanggung jawabku ganda. Atau, sekurang-kurangnya, begitulah seharusnya.

Ketika aku melihat teman-temanku yang menjadi pembimbing dalam rentang 3 hari 2 malam itu, banyak hal berkecamuk di hatiku. Berawal dari masalah koordinasi internal SMA dan koordinasi SMA-PGK, kemudian banyaknya acara permainan (yang kubenci!), ditambah lagi ada outobund dan jurit malam, semua itu membuat hatiku tidak tenang. Aku sangat malas terlibat dalam kegiatan-kegiatan itu, tapi bagaimana dengan tanggung jawab yang dipercayakan kepadaku? Ditambah lagi, hanya ada 3 guru yang hadir dan aku satu-satunya guru pria. Ini kondisi yang unik dan tidak pernah terjadi sebelumnya - sebegitu sedikit guru yang ada.

Keadaan bertambah parah ketika para guru dan para pembimbing berkoordinasi tentang penyelenggaraan outbound dan jurit malam tanpa mengajakku. Hatiku semakin berkecamuk. Aku, seorang konseptor, jika tidak diikutsertakan dalam proses perencanaan dan pengonsepan, lebih memilih untuk berdiam diri sama sekali dan melipat tangan di dada dalam keseluruhan acara daripada terlibat di lapangan tanpa terlibat dalam perencanaan dan pengonsepan. Dengan pekerjaan kantor yang kubawa ke sana, aku memiliki alasan lebih banyak untuk diam di kamar atau di dalam aula, mengikuti sesi dan menjadi satpamnya anak-anak yang mengantuk dan mengobrol, daripada menerjunkan diri ke dalam kegiatan di mana aku merasa tidak dilibatkan.

Maka persiapan outbound pun berjalan tanpa keterlibatanku. Tapi setelah beberapa menit kegiatan itu dimulai, aku pun keluar dan mulai berkeliling, melihat-lihat, membantu P3K dan duduk di taman, membuat persiapan satu sesi pengajaran yang harus kubawakan pada acara lain. Semua berjalan dengan cukup baik, walaupun aku mengajukan komplain atas beberapa permainan yang kurasa tidak pantas, juga atas sikap beberapa orang yang tidak tepat pada latar itu.

Sudah pernah kutulis dalam "Permainan? Saya Benci Permainan!" bahwa aku bermasalah dalam kegiatan-kegiatan semacam ini, apalagi ketika aku seharusnya dilibatkan dan ternyata tidak dilibatkan. Aku berutang permintaan maaf kepada sahabatku, bahwa ia sampai harus melihat diriku dalam masa-masa kelam. Memang ia bertanya, "Kau pendiam sekali hari ini?" tapi ia juga yang kemudian mengajakku, "Mau mengeram lagi di kamar? Ayolah, ikut menjaga pos!"

Persiapan jurit malam yang direvisi juga berlangsung tanpa keterlibatanku sama sekali, aku hanya membantu berkeliling di jurit malam yang direvisi menjadi semacam refleksi, atas undangan sahabatku, berkeliling dari pos ke pos, menjaga jangan sampai ada murid yang tersesat.

Di dalam ketidaknyamanan itu, aku bertanya, "Di manakah tempat bagiku di dunia ini? Bidang apa yang seharusnya kutekuni? Pelayanan semacam apa yang seharusnya menjadi fokus hidupku?" Percakapan sahabatku dengan seorang pembicara membuatku semakin bertanya-tanya, kenapa mereka nampaknya memiliki arah yang begitu jelas, satu hal yang mereka suka dan mereka kejar, satu alur hidup yang begitu mudah ditapaki, sedangkan aku memiliki minat yang begitu melebar (aku tidak lagi berani menyebutnya sebagai "meluas") dan begitu banyak alur yang harus ditapaki bersaman.

Aku merasa retret dan menjadi pembimbing retret bukan tempatku dan karena itulah wajar-wajar saja aku merasakan ketidaknyamanan itu. Tetapi aku bertanya lagi, benarkah demikian?

Kalau dipikir-pikir, aku punya lebih banyak alasan untuk menunjukkan gairah dan semangat dalam kegiatan itu. Kalau aku punya alasan A sampai J, mungkin teman-temanku sesama pembimbing hanya punya A sampai E. Bukan cuma jumlahnya, tapi juga intensitasnya. Katakanlah untuk alasan-alasan yang sama-sama kami punyai, alasan A sampai E. Kalau untuk alasan A mereka memiliki tingkat intensintas 7, aku seharusnya memiliki tingkat intensitas 10. Begitu juga untuk setiap alasan lainnya.

Misalnya, aku memiliki bekal pelatihan EE, pendidikan formal di bidang teologia, dan pengalaman dalam kehidupan bergereja yang jauh lebih lama dari mereka. Tapi kenapa mereka lebih alami dalam berinteraksi dengan murid-murid? Kenapa mereka lebih peduli dengan jaminan keselamatan yang dimiliki murid-murid? Kenapa mereka lebih bersemangat dalam merencanakan berbagai acara dan interaksi dengan murid-murid? Mengapa aku justru lebih menikmati peran sebagai penonton dan pengamat?

Misalnya lagi, para pembimbing itu harus meninggalkan pekerjaan mereka, berarti juga kehilangan pendapatan mereka dan hanya memperoleh kenang-kenangan berupa benda yang tidak terlalu mahal dan tidak ada yang berupa kompensasi finansial. Aku, di sisi lain, masih mendapatkan juga kenang-kenangan itu dalam kapasitasku sebagai pengurus PGK, tetapi aku juga pergi dalam kapasitas pekerjaanku sehingga secara finansial mendapatkan kompensasi dalam suatu jumlah yang berkali-kali lipat dari nilai yang diterima para pembimbing itu.

Contoh yang ketiga, aku mendapati teman-temanku itu ternyata cukup cepat merasa kelelahan tapi mereka tetap bersemangat. Aku, di sisi lain, masih terus bertenaga tapi kekurangan semangat.

Maka ketika aku sebelumnya tiba pada kesimpulan bahwa retret bukan kompartemen yang harus kuseriusi, aku bertanya lagi, benarkah kesimpulan itu? Ketika aku mempertanyakan tempatku di dalam dunia ini, jangan-jangan sebenarnya yang harus kupertanyakan adalah hatiku. Mungkin sebenarnya masalahnya sederhana saja: bagaimana aku belajar tahu diri, membatasi konsentrasi pada beberapa kompartemen dan menyeriusinya. Itu jauh lebih baik daripada terlibat di banyak kompartemen, tapi tidak ada satu pun yang diseriusi.

Dengan banyaknya modal yang kumiliki dan tingginya intensitas pada masing-masing modal itu, seharusnya ada banyak sekali hal yang bisa kucapai dan ada banyak sekali hal yang bisa kulakukan dengan sangat baik. Tetapi sayangnya, ternyata yang terjadi sama sekali berbeda dengan yang seharusnya terjadi. Aku mempertanyakan diriku kembali. Akankah ini berulang terus? Bukan saja hidupku yang terancam menjadi berantakan, tetapi hubunganku dengan sahabat-sahabatku pun menjadi terancam, seperti sahabatku yang harus bersamaku di saat-saat buruk itu.

Aku berutang permintaan maaf kepada sahabatku. Tetapi itu tidak cukup. Aku juga berutang kepada diriku sendiri untuk menjalani hidup yang lebih baik, kehidupan yang dijalani dengan segenap hati, segenap kekuatan, segenap akal budi, bukan asal-asalan. Kehidupan yang dijalani dengan hati.

Oct
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-10-2006

Mengingat profil-publik saya, orang-orang pasti mengira saya suka retret. Banyak orang pasti terkejut kalau tahu bahwa saya tidak suka retret. Ya, saya tidak suka retret. Bukan karena retret itu sendiri, tapi karena hampir bisa dipastikan, bahwa di dalam retret ada sesi permainan, mulai dari yang diberi label-populer "ice breaking", "games", "outbound" sampai (yang parah) "talent show".

Saya bukan sekedar tidak suka acara-acara semacam itu, saya bahkan membenci acara-acara itu. Sampai hari ini sikap saya tetap sama. Bahkan ketika saya menyadari ada kebutuhan terhadap acara-acara semacam itu, sulit sekali bersikap suka, atau bahkan sekedar untuk bersikap netral terhadap acara-acara itu. Pada mulanya saya merasa acara-acara itu tidak ada gunanya atau dirancang sembarangan, tanpa memperhatikan tujuan, atau bahkan saya terkadang memandang acara-acara itu diadakan oleh orang-orang yang sekedar senang "ngerjain" orang lain. Di mata saya, sesi-sesi itu bagaikan noda bagi retret dan sejenisnya.

Tetapi sikap itu justru membuat saya menjadi bermasalah ketika di tahun-tahun belakangan ini orang melihat saya terutama dalam peran-peran seperti pembimbing, guru, penanggung jawab acara, dsb. Saya berupaya memahami pentingnya acara-acara itu, berupaya merancang acara-acara itu sebaik mungkin tanpa mempermalukan orang, tanpa mengorbankan perasaan orang yang "kalah", "dihukum", dsb. Ketika acara sudah dirancang sebaik mungkin, ternyata saya bisa lebih menikmati jalannya sesi-sesi tersebut. Saya bisa terlibat secara lebih alami, tetapi itu butuh upaya ekstra.

Terkadang, dengan temperamen saya yang melankolis-koleris, masih berat saya terlibat dalam permainan-permainan semacam itu. Kalaupun saya memaksakan diri, akhirnya di dalam jam pelaksanaannya, saya memaksakan menekan sisi mel-ko saya dan menjadi agak-agak flek-sang. Tetapi apa akibatnya? Saya dapat merasakan bahwa di penghujung acara itu, sisi mel-ko yang saya tekan akan berbalik seperti air sungai yang dibendung dan lantas bendungannya dibuka: sisi melankolis saya akan menggelora dan saya akan tenggelam dalam kegelapan dan kemurungan yang hebat. Kegelapan itu bisa berlangsung beberapa puluh menit, bisa beberapa jam, bahkan bisa lebih dari satu hari. Rasanya itu seperti gejala depresi - overdosis sanguin diikuti oleh overdosis melankoli.

Di dalam permainan-permainan itu, entah kenapa, saya merasa sangat tersiksa. Tetapi perasaan itu akan semakin kuat ketika saya seharusnya dilibatkan dalam perancangan, tetapi tidak dilibatkan - atau sebaliknya, ketika saya tidak bisa melepaskan diri dari keterlibatan di dalam pelaksanaannya.

"Ice breaking" dan "games" sudah lumayan bisa saya atasi, "outbound" juga lebih baik, apalagi kalau diadakan di alam terbuka dan tidak terlalu keras. Tetapi "talent show"? Itu yang paling parah! Jangankan "talent show", saya bahkan tidak bisa merasa nyaman ketika menonton sebuah "performing art" yang dilakonkan oleh orang-orang yang saya kenal.

Hmmmhhhh … entah apa yang salah dan entah bagaimana saya harus mengatasinya. Saya tahu ini salah dan bermasalah, tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya.

Oct
19
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 19-10-2006

Tahun demi tahun berlalu. Usia bertambah. Kesadaran-diri berkembang, berubah, bergeser.

Ketika pagi demi pagi aku menatap diriku di cermin, menatap pantulan wajahku sendiri tepat di mata, aku bertanya: "Siapa aku?", "Siapa kamu, Dre?" Pagi demi pagi aku menjawab sendiri pertanyaan itu, terkadang di dalam hati, terkadang dengan lantang. Tetapi ketika jawaban yang satu dijejerkan dengan jawaban yang lain, dalam rentang tahunan, aku mendapati jawaban yang berbeda-beda. Ternyata aku telah berubah. Dan ketika aku menatap diriku lagi, aku kembali menanyakan pertanyaan yang sama, "Siapa kamu, Dre?"

Apa yang aku suka? Apa yang aku tidak suka? Kenapa aku melakukan ini? Kenapa aku bereaksi begini? Kenapa aku tidak seperti yang lain? Apakah perkembanganku ini normal? Apakah tindakanku, reaksiku, refleksiku ini normal? Apa itu normal dan apa yang normal? Adakah yang benar-benar normal? Hanyakah yang normal itu sebuah ekstrapolasi harapan bersama?

Aku mendapati diriku senantiasa di tengah tarik-ulur di antara keinginan menjadi normal dan kesadaran bahwa aku berbeda dan bahwa aku harus menjadi berbeda, bahwa aku memiliki panggilan yang unik dalam hidupu ini.

Ketika aku berada di tengah-tengah sahabat-sahabat yang paling kusayangi, aku terkadang merasa iri melihat mereka sepertinya begitu mantap dalam menjadi diri mereka sendiri - tidak seperti diriku yang selalu gundah gulana. Aku begitu mudah terpengaruh oleh orang-orang di sekitarku dalam mendefinisikan apa yang aku suka dan apa yang aku tidak suka. Ya, bahkan dalam hal apa yang aku suka dan tidak suka pun, aku mudah terpengaruh. Mungkinkah ini disebabkan penolakan-penolakan dan keberbedaan-keberbedaan yang bertubi-tubi kualami di masa kecilku?

Ketika aku berada di tengah-tengah sahabat-sahabat yang paling kusayangi, aku seringkali merasa iri melihat mereka begitu alaminya bisa bergaul dan berada di tengah orang banyak; begitu mudahnya mereka menjadi diri mereka sendiri di antara orang banyak. Aku? Sulit. Sulit sekali! Butuh pergumulan, butuh upaya dan kerja keras sekedar untuk menjadi diri sendiri, sekedar untuk merasa nyaman berada di antara orang banyak. Tarik-ulur itu tak kunjung usai.

Di satu sisi aku bertanya, "Akankah kegundahan itu usai?" sementara aku juga menyadari bahwa hidup berarti bergumul dengan kesadaran sendiri.

Seiring dengan itu, ketika tahun demi tahun berlalu, mungkin salah satu hal terbaik yang bisa kulakukan adalah menikmati persahabatan dengan orang-orang yang kusayangi itu, orang-orang yang kehadirannya adalah hadiah tak ternilai yang Tuhan berikan kepadaku.