It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Pada saat saya memasuki wilayah perairan Singapura, tulisan "TELKOMSEL" di ponsel saya berganti menjadi "SGP.ST-G9", dan saya langsung mendapatkan 4 SMS dari SingTel mengenai orientasi penggunaan ponsel di Singapura beserta sejumlah nomor penting. Menyenangkan. Bagaimana dengan XL? Di Jakarta saya pernah mengkonfirmasi Telkomsel maupun XL bahwa nomor saya (dua-duanya pascabayar) bisa digunakan di Singapura. Ternyata, XL langsung mati! Tidak dapat sinyal sedikit pun. Huh, cuma segitu ternyata omongannya XL. Lagipula, kata orang, kalau pakai nomor XL, sekali SMS dikenakan biaya Rp4.000. Barusan saya memeriksa tagihan saya ke Telkomsel, ternyata hanya dikenakan Rp249/SMS.
Hampir semuanya terlihat sama di Singapura dengan di Jakarta. Orang-orangnya, gaya berpakaiannya, model ponselnya, plaza dan toko-tokonya. Hanya saja, di sini terasa sekali ada teknologi dan peradaban yang lebih maju. Orang-orangnya lebih tertib, sistem transportasi publik sangat nyaman dan modern, ada informasi publik yang juga disediakan dengan sangat baik. Ada satu keluarga yang mengantri di depan saya menuju loket imigrasi. Ketika mereka masuk, penjaga menutup antrian tepat saat satu anak remaja mereka belum lewat dan mereka meminta izin, karena katanya ketinggalan satu orang. Penjaganya hanya menjawab, nanti kan di sana juga ketemu? Begitu pula ada orang yang menyuruh anaknya nyelip-nyelip hingga bisa tiba di loket imigrasi lebih awal, ketika dicari orang tuanya, tetap tidak diizinkan duluan, anaknya masuk dulu ke Singapura, orang tuanya tetap mengikuti antrian. Benar-benar tertib.
Semua sarana transportasi publik dapat diakses hanya dengan kartu plastik bernama ezLink yang dapat dengan mudah diisi ulang dengan sejenis mesin ATM, baik dengan transfer rekening maupun memasukkan uang tunai. Konon ezLink juga bisa dipakai belanja di toko-toko seperti Carrefour.
Kehidupan di Singapura dimulai lebih siang daripada di zona WIB. Walaupun zona waktu mereka sama dengan WITA yang 1 jam lebih cepat daripada WIB, aktivitas mereka ternyata 2-3 jam lebih belakang daripada di Jakarta. Menurut tuan rumah saya, sekolah ada yang mulai pukul 7, tapi ada juga yang mulai pukul 8 bahkan 9. Pusat-pusat perbelanjaan beraktivitas mulai pukul 11-an. Sebaliknya, kehidupan malam dimulai pukul 9-an. Itulah sebabnya ketika saya tiba, sekitar tengah malam, MRT masih ramai dan padat.
Akses Internet tersedia dengan biaya yang sangat terjangkau. Nampaknya, sungguh menyenangkan tinggal di Singapura.
O ya, satu lagi. Terasa sekali Singapura adalah kota multietnik. Di stasiun-stasiun MRT, saya melihat semua papan petunjuk disediakan dalam bahasa Inggris, Melayu, dan satu bahasa asing lainnya, mungkin India? Saya juga melihat seorang perempuan yang membaca semacam novel di MRT dalam bahasa itu.
Konon pemerintah sudah mengeluarkan anjuran agar sekolah mengurangi kegiatan luar ruangan karena asap dari Indonesia sudah mencapai tingkat yang membahayakan, juga melarang warganya untuk beraktivitas luar. Memang, di beberapa tempat terlihat jelas asap di mana-mana. Mudah-mudahan asap itu tidak pekat dalam minggu ini sehingga saya bebas berjalan-jalan.
RENCANA PERJALANAN. Dari rumah ke Bandara Soekarno-Hatta pk. 12.00, dilanjutkan penerbangan ke Batam dengan Air Asia nomor penerbangan QZ 7556 pk. 13.30, makan malam di Batam, lantas naik feri ke Singapura pk. 19.00 WIB.
TAKSI. Saya mencoba memesan Taksi Express melalui layanan teleponnya sejak subuh, tapi baru terhubung pada pukul 9.00-an. Itu pun melalui layanan pengaduannya karena layanan pemesanan tetap penuh sampai pukul 10.00-an.
Tiba-tiba, pada pukul 11.45 Express menelepon, membatalkan pemesanan karena tidak ada pengemudi yang tersedia. Kesal juga, karena dengan Taksi Express saya menargetkan tiba di bandara dalam waktu 30-40 menit dengan biaya sekitar Rp50.000. Kalau tidak ada Express, berarti saya harus memesan Blue Bird dan biayanya bisa dua kali lipat, atau bahkan lebih.
Akhirnya saya tetap memesan Blue Bird, tapi juga dikabari pada pukul 12.15 bahwa tidak ada pengemudi yang tersedia, maka saya pun mencari sendiri taksi Blue Bird hingga baru berangkat dari rumah pukul 12.40, lebih lambat 40 menit dari perkiraan semula. Perjalanan diperkirakan memakan waktu 40 menit lewat Ciledug dengan biaya sekitar Rp70.000.
BANDARA. Tetapi kenyataan bicara lain. Setelah 70 menit dan Rp130.000 kemudian (di luar Rp5.500 uang kembalian tol yang tidak dikembalikan oleh supir Blue Bird), kami pun tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Bandara itu tetap seperti yang dulu: tidak terawat, bahkan sekarang panas dan sumpek. Petugasnya ketika dikomplain penumpang lain menjawab, "Ini masih mending Pak, biasanya lebih panas lagi." Alamak!
Selesai melapor di terminal 1A dan membayar pajak bandara Rp30.000/orang, saya meminta kursi roda untuk Oma saya. Kami diantar hingga ke Gerbang A7. Untuk layanan itu kami ditagih biaya Rp30.000, termasuk penjemputan, juga dengan kursi roda di Bandara Hang Nadim, Batam. Satu hal yang menyenangkan, dengan Rp30.000 itu bukan saja Oma saya lebih nyaman karena tidak perlu berjalan kaki menempuh jarak yang sangat jauh, tapi juga kami diprioritaskan untuk naik ke pesawat terbang, tidak perlu berebut. Ini sangat penting karena Air Asia tidak memberikan nomor kursi sehingga naik ke pesawat seperti naik bus kota, berebut! Di WC Gerbang A7, dari 2 kloset dan 2 urinoir yang ada, masing-masing rusak satu, itu pun penyiramannya tidak lancar. Benar-benar menyedihkan terminal ini.
Penerbangan tertunda 25 menit. Dua orang yang dilayani dengan kursi roda dipanggil untuk naik lebih dulu ke pesawat, bersama dengan keluarga yang mendampingi. Beberapa menit setelah kami duduk dengan nyaman di kursi pesawat, terdengar suara orang berlarian dan tiba dengan napas tersengal-sengal. Rupanya mereka menempuh perjalanan dari Gerbang A7 ke pintu pesawat yang panjangnya ratusan meter, berbelok-belok dan naik-turun tangga dengan berlari-lari, berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat yang nyaman. Kasihan orang-orang tua yang tidak membawa anak, juga mereka yang membawa anak bayi. Akhirnya kami tinggal landas pukul 15.15. Cuaca berawan sangat tebal dan beberapa kali pesawat mengalami guncangan ringan. Rencana saya membaca buku di pesawat gagal karena guncangan-guncangan itu membuat saya pusing, akhirnya saya memutuskan untuk tidur. Pesawat tiba di Bandara Hang Nadim pukul 16.30. Penumpang yang akan dilayani di kursi roda diharapkan keluar terakhir sehingga baru pukul 17.00-an.
BATAM. Setelah kami turun, langsung terlihat jelas kabut di mana-mana. Rupanya ini yang ramai dibicarakan di koran-koran beberapa minggu terakhir ini. Papa sudah menjemput kami dan kami langsung pergi makan malam, dilanjutkan perjalanan ke pelabutan terbaru di Batam Centre. Saya tiba pukul 18.20. Proses di check-in dan imigrasi berjalan cepat dan lancar. Pukul 18.55 saya sudah menuju pemeriksaan X-ray dan pukul 19.00 sudah duduk di Wavemaster 7 yang akan membawa saya ke Singapura. Biaya-biaya yang muncul di pelabuhan dan imigrasi adalah: tiket Wavemaster $15 pp., fiskal Rp500.000 dan pajak perjalanan (dibayarkan waktu mengambil boarding pass) $3. Wavemaster berangkat pk. 19.10.
SINGAPURA. Perjalanan memakan waktu 1 jam (artinya saya tiba pk. 21.10 waktu Singapura), dilanjutkan dengan antrian di loket imigrasi selama 2 jam (ya, betul, 2 jam penuh!). Luar biasa banyaknya orang yang mau masuk ke Singapura. Akhirnya saya baru keluar dari imigrasi menjelang tengah malam.
Chandra dan Chika sudah menunggu bersama beberapa teman mereka dari Orchard Road Presbyterian Church (ORPC) yang masing-masing menunggu teman-temannya. Kami segera menuju Bishan menggunakan MRT disambung dengan bus. Saya sempat mengisi ezLink senilai $20 di stasiun transit.
Kami tiba di rumah mereka lepas tengah malam dan memperbincangkan rencana perjalanan saya. Baiklah ini menjadi topik blog berikutnya.
Liburan lebaran tahun 2006 ini benar-benar sebuah libur besar bagi saya. Bayangkan: dua minggu penuh! Hari terakhir kerja saya adalah 13 Oktober dan baru masuk kembali 1 November.
Dalam liburan kali ini, saya berjalan-jalan ke Singapura dan Malaysia. Jadi, beberapa tulisan berikut akan berupa travelog saya, dari Jumat, 20 Oktober hingga Sabtu, 28 Oktober 2006.
Selamat menikmati.