Oct
22
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 22-10-2006

Biasanya saya lebih suka pemaparan yang tematis dengan mengorbankan kronologi, tetapi tulisan-tulisan dalam rangkaian perjalanan saya ke Singapura dan Malaysia ini kurang memungkinkan pola itu. Tulisan-tulisan ini lebih cenderung kronologis dan tidak sempat disertai foto-foto. Setelah saya kembali ke Indonesia mungkin saya baru akan sempat menambahkan foto-foto ke catatan-catatan ini, atau ke album foto yang terpisah. Untuk keperluan itu mungkin saya juga akan harus mengedit lagi beberapa catatan.

Tujuan utama penulisan artikel-artikel ini adalah untuk menghindari supaya kesan-kesan utama dan pertama yang saya sempat terekam sebelum hilang, baik karena faktor waktu maupun karena tertumpuk oleh banyaknya kesan yang saya dapatkan dalam hari-hari ini.

Bagaimanapun, untuk diri saya sendiri, saya berusaha sedapat mungkin untuk tidak mengedit tulisan yang telah diterbitkan. Saya percaya setiap tulisan, setelah diterbitkan, memiliki jiwanya sendiri yang sebaiknya tidak dicampui lagi, oleh penulisnya sekalipun.

Oct
22
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 22-10-2006

Ternyata saya bangun kesiangan, jadi tidak bisa beribadah pagi di ORPC. Rencana berubah.

RENCANA PERJALANAN. Ke City Hall, lantas kebaktian di St. Andrew’s Cathedral (Anglican Church), lalu berwisata di daerah Raffles dan Singapore River. Malam akan makan malam bersama Chandra dan Chika, lalu berjalan-jalan bersama ke satu tempat.

PAGI. Ternyata yang namanya pengemis di Singapura jauh lebih terhormat daripada di Indonesia. Rasanya semua pengemis yang sudah saya lihat benar-benar orang-orang invalid. Dalam kondisi invalid pun mereka benar-benar melakukan tugas seorang seniman, bukan sekedar meminta-minta. Tidak jarang, mereka juga menggunakan peralatan yang lumayan canggih dalam berseni.

Saya mampir di 7-Eleven untuk membeli roti, lantas langsung ke stasiun MRT Bishan. Di sana saya ditegur polisi karena makan di peron, rupanya makan maupun minum di peron. Untungnya hanya diperingatkan, bahwa saya bisa didenda. Kalau polisi Indonesia, rasanya sih denda dulu, baru diberitahu.

SINGAPURA SARANG SEMUT. Perjalanan ke City Hall mengagumkan. Saya baru menyadari betapa Singapura seperti sarang semut. Tanah Singapura sangat banyak lorongnya. Untuk MRT saja, ada tiga tingkat di bawah tanah. Banyak gedung dibangun dengan 2-3 lantai di bawah tanah sehingga di lift cukup sering dijumpai tombol-tombol B1, B2 (B untuk “basement”). Bahkan di daerah City Hall, banyak gedung dibangun di bawah tanah dan ada juga CityLink, sebuah pusat perbelanjaan yang sepenuhnya berada di bawah tanah. Lahan yang sempit di Singapura benar-benar dimanfaatkan secara luar biasa.

KEBAKTIAN. Saya tidak akan berkomentar terlalu banyak tentang St. Andrew’s dan ibadahnya. Itu adalah ibadah anglikan yang berlangsung hampir 2 jam, 50 menit di antaranya adalah khotbah. Gedungnya menakjubkan, perpaduan antara yang klasik dan yang modern. Saya mengikuti ibadah pukul 11.15, jadi selesai kira-kira pukul 13.10.

WISATA KE TIMUR. Kalau kemarin saya ke pusat India dan Arab, hari ini saya ke daerah Raffles, yang konon merupakan “kota tua”-nya Singapura dan merupakan daerah yang lebih elit, daerah orang-orang Barat. Selain melihat beberapa gedung tua, wisata yang terlama saya habiskan di Esplanade, sebuah teater di tepi pantai dengan arsitektur yang mengagumkan; di Asian Civilisation Museum; dan Singapore River. Kunci pemersatu ketiganya itu adalah Raffles Landing Site di tepi Singapore River.

Sedikit komentar tentang Asian Civilisation Museum, yang terletak di Empress Building. Singapura memang hebat dalam memposisikan dirinya sebagai “hub to the Asia”. Kalau dipikir-pikir, dengan “miskin”-nya budaya khas Singapura sendiri (yang terlihat dari makanannya), sungguh mengagumkan bagaimana Singapura bisa memiliki sebuah museum yang begitu lengkap, komprehensif dan mendalam tentang seluruh Asia. Semua wisata di Singapura berbicara tentang ini: makanan, pakaian, arsitektur, apa pun itu, Singapura menempatkan dirinya sebagai jendela ke Asia. Bahkan tidak malu-malu, Singpura menawarkan pula tur ke banyak tempat di Asia. Bagi penggemar sejarah, seharian tidak akan cukup di ACM ini.

Ketika saya mulai terbosan-bosan dan terbingung-bingung di ACM, dan berpikir, “Ah, untuk saya, lebih baik kalau ada bukunya” dan ternyata di banyak tempat, setiap beberapa ratus meter, bukan saja ada monitor-sentuh yang interaktif, tetapi juga ada perpustakaan mini yang sangat nyaman dengan koleksi buku sesuai galerinya. Untuk membahas ACM saja, bisa-bisa dibutuhkan satu artikel tersendiri. Seandainya saya bersama Pak Nico di sini, pasti asyik sekali.

SORE. Di sini Bread Talk terasa sangat murah, luar biasa! Rasanya selama saya di sini saya akan sering-sering makan Bread Talk. Selesai makan saya ke Orchard Road, melihat-lihat di sana, ada barang-barang diskon di Plaza Singapura dan sempat beli dua celana rumah yang juga bisa dipakai untuk olahraga (sebenarnya beberapa bulan yang lalu mau cari di Tanah Abang, tapi malas ke sananya, untung di sini ada yang harganya murah). Tinggal mencari sepatu olahraga, mudah-mudahan ada yang murah.

Saya bertemu Chandra dan Chika di sana, lantas makan malam bersama di Pastamania, dilanjutkan perjalanan menjelajahi Orchard Road di malam hari. Lantas kami pulang dengan taksi.

PENUTUP. Rasanya puas, dalam dua hari sudah banyak daerah yang dijelajahi. Tinggal tiga wilayah yang belum. Rasanya masih cukup ditambah satu hari ke Johor Baru.

Oct
22
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 22-10-2006

Hari ini adalah Hari Raya Deepavali. Jadi, sebuah hari libur nasional. Deepavali adalah hari raya terpenting bagi umat Hindu di seluruh dunia yang merayakan menangnya terang atas kegelapan, kebaikan atas kejahatan. Seperti halnya Nyepi untuk umat Hindu di Bali, Deepavali menandai awal yang baru dan saat yang tepat untuk perayaan dan pembaharuan. Di hari raya ini, jalan-jalan di wilayah Little India (sebuah enklaf etnis) dan juga kuil-kuil Hindu dihiasi lampu berwarna-warni, mengingatkan saya pada Pekan Raya Jakarta.

RENCANA PERJALANAN. Little India dan Kampong Glam (keduanya adalah enklaf etnis, berturut-turut India dan Arab).

PAGI HARI. Kami bangun pukul 8.45, berbincang-bincang sekitar setengah jam, lalu saya menuliskan blog sekitar satu jam lagi sementara tuan rumah saya juga membuat persiapan-persiapan. Koneksi Internet di sini sangat baik, untuk satu apartemen ini disediakan koneksi terdedikasi 512 kbps, sangat cepat, nonstop, dan dengan biaya tetap. Ini, saya pikir, adalah salah satu faktor kemajuan Singapura yang sangat penting. Saya berangkat sekitar pukul 12.00 ke Bishan Station Interchange untuk naik MRT ke daerah Little India.

LITTLE INDIA. Saya turut di Little India (NE7), lalu mengikuti “Panduan Menjelajahi Little India: Sebuah Pesta Budaya” dari Singapore Tourism Board. Singapura memang dirancang sedemikian rupa menjadis sebuah tempat wisata raksasa. Di mana-mana tersedia peta dan petunjuk-petunjuk lainnya sehingga rasanya tidak mungkin tersesat di Singapura. Pemerintah Singapura sangat bersahabat kepada turis.

Perjalanan saya dimulai dari Tekka Market, Ellison Building, lantas Little India’s Arts Belt. Di sini saya sempat mau mencoba berfoto dengan kostum nasional India, tetapi ternyata kostumnya biasa-biasa saja dan harganya yang paling murah $15! Di mana-mana orang India, ada juga tempat-tempat di mana pria-pria India berkumpul, menonton film India di TV mereka, seperti orang Indonesia menonton layar tancap. Baiklah, saya tidak akan membahas setiap tempat yang saya kunjungi secara mendetail, hanya yang paling menarik.

Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Masjid Abdool Gafoor. Ya, walaupun ini enklaf etnis, tetapi tetap saja ada mesjid dan gereja. Di Singapura, bahkan setiap apartemen pun diatur komposisi etnisnya agar tetap berimbang. Di ambang pintu masuk mesjid ini ada sebuah kaligrafi berbentuk matahari dengan 25 sinar yang adalah ke-25 nama sang Nabi (konon satu-satunya dalam dunia Islam). Sayangnya, pada saat itu ada tenda terpasang untuk acara buka puasa bersama. Akhirnya saya jadi berkunjung ke Sim Lim Square, sebuah pusat barang elektronik seperti Mangga Dua di sini, langsung naik ke lantai 4-6, ke lantai parkirnya, sekedar untuk mencari tempat di mana saya bisa memfoto kaligrafi itu. Sayangnya kamera saya tetap tidak bisa menangkap kaligrafi itu dengan baik karena fasilitas zoom-nya tidak memadai. Tapi toh saya sudah berhasil mendapatkannya. Mungkin kalau tenda itu tidak ada, tetap saja saya harus membayar untuk foto itu, atau bahkan sama sekali dilarang.

KESAN-KESAN UMUM TENTANG SINGAPURA DAN ORANG-ORANGNYA. Ternyata di Singapura pun banyak orang menyeberang jalan sembarangan, juga merokok sembarangan. Yang mengejutkan, di bungkus-bungkus rokok bukan hanya dicetak peringatan tentang kanker, tetapi juga ditampilkan foto-foto kanker, berbagai jenis kanker, benar-benar mengerikan.

Eskalator: hampir semua eskalator, di bagian awal dan akhirnya tidak langsung naik/turun seperti di Indonesia, tetapi sempat mendatar sebanyak 3 unit anak tangga sehingga seharusnya cukup membantu orang-orang yang takut menggunakan eskalator.

Orang-orang Singapura juga rada-rada tidak tahu diri dalam berpakaian. Banyak sekali di mana-mana orang berpakaian sangat minim, celana pendek, tank top, baik laki maupun perempuan, tua maupun muda. Bahkan orang tua rasanya tidak bisa membawa diri mereka dengan pantas.

KAMPONG GLAM. Setelah puas berputar-putar di Little India, saya menyeberangi Rochor Canal melalui kuburan Islam yang di depannya ada pedagang di pinggir jalan, seperti pasar kaget, menuju Kampong Glam, sebuah enklaf etnis Arab. Kampong Glam bukan sebuah wilayah yang terlalu menarik. Baik Sultan Mosque maupun Malay Heritage Center tidak terlalu menarik, walaupun katanya di saat berbuka puasa, ada kebiasaan-kebiasaan berbuka puasa bersama yang unik, sangat sopan dan tertib yang dapat dinikmati di daerah ini, berbeda dari kebiasaan di Indonesia.

Yang paling menarik bagi saya di Kampong Glam adalah Bussorah Street, sebuah jalan pendek seperti Pasar Baru. Saya sempat makan satay kajang di restoran Hajjah Essah, sate dari daging ayam, sapi dan kambing dengan bumbu kacang yang khas. Ibu itu adalah seorang India, tetapi sangat menyukai musik Indonesia, maka ia selalu memutar musik-musik Indonesia. Di situ saya minum kelapa Thai, yang menarik adalah kelapa itu telah dibuang kulitnya sehingga menjadi cukup kecil, satu sisi dipapas datar sehingga bisa diletakkan dengan baik dan sisi lawannya dipotong sedikit, lantas dikemas dengan plastik ketat. Dengan cara itu, kelapa yang sebenarnya masih kalah dari kelapa kita di Indonesia, menjadi lebih mudah dipasarkan, sampai di-ekspor bahkan.

Kalau dipikir-pikir, Indonesia punya banyak sekali budaya dan makanan yang sangat laku dan berkualitas premium kalau dipasarkan dengan baik. Sayangnya justru di sini, di Singapura, semua itu dapat dilihat menjadi produk unggulan sementara kita sendiri tidak bisa menjualnya.

WISATA SORE. Dari Kampong Glam, saya menuju wisata balon udara DHL untuk melihat Singapura dari udara - wisata yang sangat mahal, $23, jadi langsung saya lanjutkan perjalanan ke Suntec City, sebuah kompleks pertokoan terbesar di Singapura yang juga adalah pusat perkantoran, dibangun dengan sangat memperhatikan feng shui, Suntec City terdiri dari 5 gedung yang melambangkan ke-5 jari tangan dengan di tengahnya ada air mancur buatan manusia yang terbesar.

Tidak tahu mau ke mana, akhirnya saya naik bus kota bertingkat dan duduk di atas untuk menikmati pemandangan. Bus membawa saya melewati Stamford Road menuju Orchard Blvd di mana saya berganti MRT kembali ke Little India untuk kembali menikmati perayaan Deepavali.

LITTLE INDIA - LAGI. Ternyata perayaan Deepavali tidak terlalu ramai, masih lebih ramai PRJ. Konon, orang India justru harus diam di rumah, menyalakan lilin dan melakukan sejumlah ritual lainnya. Seperti hari raya Idul Fitri (Aidilfitri), Deepavali adalah puncak dari serangkaian ritual (bahkan serangkaian festival) yang berlangsung sebulan. Saya sempat makan malam di “The Banana Leaf Apolo” dengan menu: briyani, kari cumi, tandoori paratha dan minuman lasi manis. Sangat mengenyangkan dan mahal: $13.35.

Dua kuil yang sempat saya kunjungi adalah Sri Veeramakaliamman dan Sri Srinivasa Perumal.

AKHIR HARI KEDUA. Akhirnya saya pun kembali ke Bishan dengan MRT, disambung bus. Malam ini pengemudi bus-nya kasar, mengemudi ugal-ugalan. Halte tempat saya turun terlewat dan beru pada rute balik saya bisa turun, itu pun sempat terlewat satu halte lagi. Hari ini saya menghabiskan sekitar $6 untuk transportasi saja. Mahal memang, tapi sangat nyaman.

Jadi, perjalanan hari ini cukup menyenangkan, mengenyangkan dan padat, saya berhasil menjelajah sejumlah besar daerah kota di Singapura. Rencananya besok kebaktian pagi di Orchard Road Presbyterian Church, pukul 9.00. Jadi harus bangun pukul 7.00-an.