It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Ketika mempelajari informasi tentang wisata di Singapura yang sangat berlimpah, juga penawaran-penawaran dari biro-biro perjalanan, seringkali sebagaimana memang lazim, kita menjumpai label “Must Visit”, “Must Do”, dan yang sejenisnya, hati-hatilah.
Banyak obyek wisata dan cinderamata yang diberi label “Must …” semacam itu, sebenarnya biasa-biasa saja untuk kita.
Satu hal yang harus diingat: sebagai orang Indonesia, apalagi dengan basis kebudayaan Cina, sebenarnya kita mempunyai landasan budaya yang sangat serupa. Jangan terlalu mudah percaya pada yang “Must …” semacam itu. Bukan berarti label itu salah, hanya saja biasanya label itu rasanya dibuat untuk orang-orang yang benar-benar asing, mereka yang datang dari jauh. Tetapi untuk kita yang dekat, faktor kemiripan budaya kita harus diperhatikan.
Dua kategori bisa ditempelkan pada hari ini: paling mahal dan paling menyebalkan. Saya merasa ditipu oleh RMG Tour.
RENCANA PERJALANAN. Cheng Ho Cruise, Singapore Arts Museum, Maghain Aboth Syangogue, Chinatown.
PAGI. Saya bangun sangat pagi, pukul 07.00. Dengan rutinitas harian yang terutama terdiri dari wisata ±14 jam per hari dan tidur 7 jam, itu cukup pagi. Jangan dihitung dengan standar Jakarta. Pukul 08.30 saya berangkat, beli roti di 7-eleven, lantas naik bus ke Bishan Interchange Station. Dalam waktu setengah jam, dari pukul 09.00 saya tidak di Harbour Front pukul 09.30.
Segera saya membeli tiket yang seharusnya berharga $25 tetapi karena sedang musim ziarah Tao ke Pulau Kusu, pelayaran ini tidak akan berhenti di Pulau Kusu, jadi didiskon menjadi $20. Saya lantas sarapan di McDonald’s. Konyolnya, saya hampir kehilangan tiket yang sudah saya beli karena tertingggal di McD. Setelah 10 menit lebih baru saya berlari-lari lagi dan meminta bantuan petugasnya untuk mencarikan tiket saya di tempat sampah mereka, yang untungnya berada di bagian paling atas.
GARIS BESAR HARI. Baiklah, saya tidak mau berpanjang-panjang menceritakan bagian terbesar dari hari yang menyebalkan ini. Hingga hari ini saya menjadi terbiasa membeli makanan di 7-eleven, McDonald’s dan BreadTalk. Restoran-restoran itu jadi terasa sangat murah di sini, apalagi dibandingkan tempat-tempat makan lainnya, begitu juga Subway yang dulu ada di Mal TA. Ya, itulah makanan saya sehari-hari.
Sebagian terbesar dari hari ini dihabiskan bersama RMG Tour. Dan saya merasa tertipu habis-habisan!
Tur pertama, Cheng Ho Imprerial Cruise, seharga $20 tadi. Tur yang seharusnya berdurasi 2,5 jam ternyata jadi hanya 2 jam karena tiadanya kunjungan ke Pulau Kusu. Dibutuhkan 15 menit masing-masing untuk persiapan berangkat dan melabuh kembali. Di awal perjalanan, kami yang 20-an orang masih bersemangat, tapi segera perjalanan menjadi membosankan, tidak ada pemandu, tidak ada apa-apa, tidak ada keterangan.
Awalnya saya di geladak paling atas, tapi karena masuk angin lalu turun ke ruangan tengah yang ber-AC. Di sana saya tertidur setengah jam. Saat saya bangun, ternyata sebagian besar peserta juga sudah masuk ke ruang tengah atau ruang bawah, banyak yang tidur atau sekurang-kurangnya kehabisan bahan pembicaraan dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Bahkan pasangan-pasangan suami-istri yang semula sangat bersemangat dan bicara banyak pun semua sudah diam. Benar-benar membosankan.
Setelah mempertimbangkan ulang perjalanan, saya memutuskan untuk mengubah rencana perjalanan menjadi ke Sentosa Island, lantas malamnya dilanjutkan sebisanya ke satu-dua tempat lain.
Setelah makan siang di McD, saya kembali untuk memesan tiket ke Sentosa. Rencananya saya akan memesan paket Imbiah yang sangat menarik dengan harga $55.50 diskon mencapai 40% dan paket yang mencakup 12 poin. Ternyata orang yang bertugas sedang makan siang, cukup lama sehingga saya bertanya ke orang di sebelahnya, yang tadi menjual tiket RMG kepada saya. Dia mengatakan paketnya sama dan saya cukup membayar $52, dengan pemandu, padahal yang $55.50 tadi tanpa pemandu. Aneh sih, tapi saya percaya saja.
Ternyata dari saat saya membeli sampai saya naik cable-car, saya harus menunggu 2 jam penuh! Tidak hanya di situ, ternyata sesampai kami di Sentosa, paket itu hanya mencakup tiket masuk ke 2 atraksi, itu pun yang jelek-jelek! Memang, hari ini Sentosa sangat-sangat penuh, tetapi benar-benar saya dibohongi mentah-mentah oleh RMG!
Jadi, JANGAN pernah ikut RMG Tours di Singapura. Dua kali sehari, saya dibohongi senilai $72! Menyebalkan!
AKHIR. Akhirnya setelah saya ditinggalkan oleh pemandu saya ke tempat atraksi ke-2, saya memutuskan untuk berkelana sendiri. Di Pulau Sentosa inilah pertama kalinya saya merasa peta tidak berguna. Peta Pulau Sentosa tidak membantu saya berkelana. Tempat-tempat yang saya kunjungi cukup lama adalah Pantai Siloso, Imbiah Walk, Dragon Walk, Sentosa Window dan Magical Fountain.
Magical Fountain benar-benar sebuah atraksi yang menyegarkan di penghujung hari yang menyebalkan ini. Sangat menyenangkan, harus dikunjungi!
Selepas dari Pulau Sentosa, saya ke Hotel Raffles, menikmati Singapore Sling yang terkenal itu, lantas kembali ke Bishan.
Makan malam saya? Subway di Sentosa dan BreadTalk di Bishan.
Kisah lebih lanjut tentang Pulau Sentosa dan Hotel Raffles akan saya tulis tersendiri.
Singapura ternyata adalah negeri yang sangat bersahabat dengan pelajar. Di mana-mana saya menemukan ada diskon untuk pelajar, bahkan di restoran-restoran waralaba internasional. Di restoran-restoran seperti McDonald’s, seorang pelajar boleh duduk dan belajar selama ia mau walaupun ia hanya membeli satu makanan/minuman yang paling murah.
Ketika status seseorang sebagai pelajar sangat dihargai, wajarlah status itu menjadi terhormat dan keterdidikan adalah suatu prestise tersendiri.
Sisi buruknya, ternyata kalau 100 orang bersahabat di SMP, dalam kondisi normal, hanya 2 orang yang akan tetap bersama-sama di bangku kuliah. Itu terjadi karena hanya 20% lulusan SMP yang boleh melanjutkan studi ke SMA, begitu juga hanya 10% lulusan SMA yang boleh melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Dengan kualitas pendidikan yang begitu baik di Singapura, tidak heran mereka kesal dengan penduduk di luar Singapura yang datang untuk kuliah di sana sementara mereka sendiri tidak boleh masuk ke perguruan-perguruan tinggi itu.
Saya diberitahu bahwa kebanyakan remaja Singapura melanjutkan studi di luar negeri sementara studi tingkat lebih lanjut di Singapura banyak diduduki oleh pelajar dari luar negeri.
Pindah topik. Bagi saya, satu lagi hal yang menarik di Singapura. Di tempat-tempat umum, termasuk pusat-pusat perbelanjaan, kita tidak perlu menitipkan barang-barang yang kita bawa. Semua bisa kita bawa berkeliaran, bahkan di perpustakaan sekalipun. Mereka tidak khawatir kehilangan barang karena adanya fasilitas pengamanan yang sangat canggih.
Dalam kedua hal itu, bagi saya, Singapura nampak sebagai negeri yang lebih bersahabat daripada Indonesia.
KEBIASAAN-KEBIASAAN DI KUIL HINDU. Ketika orang-orang Hindu tiba di kuil, seperti orang-orang Katholik yang menyelupkan jari mereka ke wadah yang menampung air suci dan membuat tanda salib, mereka menyentuhkan jari mereka ke anak tangga di pintu masuk, lalu menyentuhkannya ke dahi mereka. Setelah masuk, di depan altar mereka lantas menelungkupkan badan sepenuhnya ke lantai, berdoa beberapa saat.
Ada dua hal yang sangat menarik perhatian saya dalam arsitektur kuil-kuil mereka. Yang pertama, ambang gerbang utama atau atap kuil mereka dihiasi patung para makhluk ilahi yang sangat tinggi, bertingkat-tingkat. Mereka dibuat sedemikian tinggi dengan tujuan di mana pun orang Hindu berada, mereka tidak perlu jauh-jauh ke kuil untuk berdoa, tetapi cukup menghadap ke arah pintu gerbang itu, lantas berdoa dari tempat mana pun mereka berada - dalam hal ini, dari toko-toko mereka.
Yang kedua, pintu gerbang kuil-kuil itu, betapa pun tingginya, selalu dipenuhi bermotif kotak-kotak yang diakseni oleh lonceng-lonceng kecil berselang-seling, baik dalam baris maupun kolom. Banyak orang yang keluar dari kuil lantas membunyikan bel-bel itu. Walaupun pintunya sangat tinggi, tetap sampai sisi yang lebih atas dari pintu itu dihiasi oleh lonceng-lonceng yang sama.
BUS. Sementara MRT sangat mudah digunakan, sampai hari ini saya masih kebingungan menggunakan bus di Singapura, sangat banyak, dan rumit sekali. Bahkan dengan “Bus Guide & Bus Stop Directory” setebal 512 halaman dari Chandra dan Chika, tetap saja seringkali saya kebingungan, mungkin dibutuhkan 5 harian baru saya akan terbiasa.
PERPUSTAKAAN ESPLANADE. Perpustakaan di Esplanade, walaupun bukan yang terbesar, adalah perpustakaan yang sangat menakjubkan. Esplanade adalah sebuah teater di tepi pantai. Di gedung inilah ada satu-satunya perpustakaan yang bisa meminjamkan media audio-visual. Tetapi bukan itu yang menakjubkan. Yang membuat saya terkagum-kagum adalah bagaimana sistem perpustakaan dibuat begitu otomatisnya sehingga orang dengan bebas meminjam buku dan mengembalikannya, bahkan membayar denda semua tanpa perlu bersentuhan dengan orang.
Untuk meminjam buku, cukup pindai kartu anggota, lantas, pindaikan buku yang akan dipinjam, satu demi satu di alas pemindai seperti yang seringkali kita jumpai di supermarket. Ada juga mesin untuk memeriksa jumlah denda dan tempat terpisah yang tidak saya pelajari, untuk pengembalian buku.
Perpustakaan-perpustakaan di Singapura sangat mengagumkan dan menyenangkan, tidak heran di mana-mana dijumpai orang yang membaca buku, kebanyakan adalah buku pinjaman dari perpustakaan.