Oct
24
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-10-2006

To know. To do. To be. Mengetahui. Melakukan. Menjadi.

Perjalanan saya ke Singapura dimulai dengan rencana riset untuk proram M.Th., pada bulan Maret 2006. Ketika ternyata saya mengambil M.Pd. dan bukannya M.Th., maka perjalanan yang sudah direncanakan pun berubah dari riset menjadi tamasya. Maka sejumlah upaya perencanaan perjalanan dilakukan. Tidak kurang dari 5 kali saya membuat revisi atas rencana perjalanan itu. Tahap ini menyenangkan sekali karena pemerintah Singapura menyediakan informasi yang sangat lengkap tentang negerinya. Bisa dikatakan negara Singapura adalah sebuah industri pariwisata.

Minggu lalu, “mengetahui” berubah menjadi “melakukan”, ketika saya berangkat ke Singapura untuk mewujudnyatakan rencana yang telah saya buat sekian lama. Dan hasilnya adalah sejumlah travelog yang telah saya tulis. Tetapi hari ini berbeda. Hari ini saya belajar menjadi orang Singapura. Menariknya, ternyata orang-orang mengasumsikan saya orang Singapura, dari supir taksi sampai orang-orang asing yang menanyakan jalan dan rute MRT ke saya.

RENCANA PERJALANAN. Maghain Aboth Synagogue, Singapore Art Museum, Chinatown.

PAGI. Ini adalah Hari Raya Puasa, atau Aidilfitri, sebuah hari libur nasional. Pagi ini saya cukup santai. Walaupun tetap bangun pagi seperti biasa, saya berbincang-bincang cukup lama dengan Ko Chandra dan baru berangkat pukul 10.30. Ketika keluar, di mana-mana terlihat orang-orang berbaju tradisional Melayu, saling bersilaturahmi.

Saya menuju Tacman, toko buku Kristen di Bras Basah Complex. Ternyata saya malah menemukan toko buku Popular dan membeli buku “Evidence that Demands A Verdict” edisi gabungan (I & II) dan revisi. Sebelumnya sempat saya juga mau membeli satu Alkitab bilingual JPS-Tanakh seharga $35, suatu harga yang sangat murah menurut saya. Ketika dilihat-lihat, ada cacatnya sedikit di bagian jahitan dan sampul. Sangat mengesankan, ketika satu petugasnya melihat saya ragu dan saya jelaskan kenapa, dia langsung memanggil penyelianya dan … saya dapat diskon 10% untuk pembelian buku itu! Di Indonesia, mana ada yang seperti itu. Tapi, setelah petugas kasir membuat bonnya, saya terkejut: kok hampir $100? Ternyata $35 tadi adalah USD, bukan SGD. Yah, tidak jadi beli deh.

Perjalanan saya lanjutkan melalui National Library, menuju Waterloo St. di mana terletak kuil Goddess of Mercy (untuk pemujaan Dewi Kwan Im) dan Sri Krishnan (Hindu) yang di depannya terdapat pasar jalanan. Di jalan yang sama ada Maghain Aboth Synagogue. Sayangnya saat itu pukul 12.30 dan sinagoge baru boleh dimasuki pukul 14.00, saya jadi malas untuk kembali lagi. Setidaknya saya sudah melihat eksteriornya.

Selanjutnya saya menyeberang ke Singapore Arts Museum, tapi juga tidak masuk karena sepertinya museum itu lebih didedikasikan pada seni-seni kontemporer yang kurang saya sukai; lalu naik bus ke Suntec untuk makan siang dan ke Esplanade untuk membeli kalung Legolas yang sudah saya incar dalam kunjungan sebelumnya, suatu kalung dengan lambang Legolas dari The Lord of the Rings yang dibuat dari baja patri.

CHINATOWN. Menu utama perjalanan hari ini adalah Chinatown, dengan MRT. Dalam rangka menghayati gaya hidup Singapura, hari ini saya hanya bercelana pendek dan berkaus, dengan sandal, tanpa membawa tas gendong yang beberapa hari ini saya bawa. Menyesal juga, karena jadinya tidak bisa minum dan tidak bisa membeli lebih banyak oleh-oleh karena beratnya oleh-oleh itu.

Dalam perjalanan ini saya juga tidak membawa peta dan tidak membawa kamera. Tapi untungnya sebagian besar situs menarik di Chinatown sudah saya kunjungi, walaupun dengan kaki yang sudah sangat sakit seharian ini. Saya sempat makan sekali lagi di Chinatown.

Kesan keseluruhan tentang Chinatown, hari ini sebagian besar wilayah ini seperti kota mati, karena memang pusat keramaian di hari libur nasional ini adalah di Jalan Arab, wilayah Kampong Glam. Yang menyenangkan, para pramuniaga di wilayah ini sangat ramah, banyak menawarkan jasa dan produk mereka, sikap seperti ini tidak saya jumpai di wilayah-wilayah lain yang sudah saya kunjungi.

Di wilayah ini, papan penunjuk jalan dituliskan dalam tiga bahasa: Inggris, Mandarin dan Jepang. Entah kenapa Jepang.

SORE. Akhirnya sore hari saya berjalan-jalan di beberapa mal di daerah Raffles dan Orchard sebelum kembali ke Bishan, menjelajahi lagi mal Junction 8, lalu membeli makan malam di 7-eleven, nasi lemak dan mi kuah, dua-duanya siap saji dan mencoba vending-machine untuk membeli rootbeer.

CATATAN PERJALANAN. Mulai hari ini, sepertinya sifat perjalanan saya berubah. Semua rencana yang rigid dan dingin mulai mencair, beberapa tempat yang rencananya saya kunjungi tidak jadi saya kunjungi tanpa ada rencana penggantian waktu. Tempat-tempat seperti Singapore Botanic Garden, Treetop Walk, dan beberapa tempat lainnya tidak asyik kalau dijalani sendiri, apalagi saya hanya suka kebunnya, tapi tidak menyukai tanamannya. Walaupun saya suka jalan, tapi hari-hari ini sudah overdosis, jadi lebih baik membatasi kegiatan.

ORANG INDONESIA. Di mana menemukan orang Indonesia di sini? Ketika saya ke museum, ke tempat-tempat bersejarah, di antara campuran bahasa Inggris, Melayu, Mandarin dan Tamil, tidak pernah saya mendengar bahasa Indonesia. Tapi di Orchard, di mana-mana terdengar bahasa Indonesia. Hari ini kondisinya berbeda. Karena pembantu-pembantu diliburkan, di mana-mana terdengar bahasa Indonesia. Tapi tetap saja hanya di tempat-tempat hiburan, bukan di tempat-tempat penting.