It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Apakah pemimpin dilahirkan atau dibuat? Apakah guru dilahirkan atau dibuat? Apakah memang ada orang-orang yang "dari sononya" dilahirkan untuk menjadi guru? Dan jika demikian, apakah lantas hanya mereka yang terlahir untuk menjadi guru yang kelak akan menjadi guru-guru terbaik? Atau, sebenarnya semua orang bisa menjadi guru? Lantas, kenapa ada begitu banyak guru yang bermasalah (di dalam segala pengertiannya)?
Saya percaya bahwa sebagaimana belajar dan mengajar adalah tuntutan yang harus dipenuhi umat manusia sebagai satu spesies yang berbudaya agar kebudayaannya bisa terus bertahan dan bahkan berkembang. Tanpa adanya kegiatan belajar dan mengajar, kebudayaan akan mengalami kemunduran, manusia akan kembali ke dalam masa purba. Kegiatan belajar dan mengajar inheren dalam kehidupan manusia dan inheren dalam fungsi-fungsi di dalam keluarga. Hanya ketika kebutuhan berkembanglah maka fungsi guru diambil dari fungsi-fungsi di dalam keluarga dan muncullah profesi guru.
Bagaimana menghasilkan guru yang optimal?
Guru dibentuk, bukan dicetak. Dan proses pembentukan itu pun bukan mekanis. Lembaga-lembaga pendidikan bertanggung jawab untuk mengondisikan (ya, mengondisikan) lingkungan kerja sebagai sebuah lingkungan akademik yang sehat sehingga masing-masing guru berada dan bertumbuh sebagai satu pribadi yang utuh dalam profesinya, sebagai satu pribadi dan sebagai seorang profesional.
Kenapa dikondisikan? Karena tidak mungkin kita membuat serangkaian peraturan dan lantas mengharapkan guru bertindak secara mekanis berdasarkan peraturan-peraturan itu. Natur dunia pendidikan tidak memungkinkan hal semacam itu terjadi, karena jiwa akademik dari sebuah komunitas pendidikan justru akan dilibas oleh pola pikir semacam itu. Agar sebuah iklim akademik tercipta, guru harus bebas dan dalam kebebasan itulah akan mengalir kreativitas dan ilmu pun berkembang. Maka dalam hal ini bisa dikatakan kita berbicara tentang guru saja, tetapi juga tentang akademisi secara umum.
Bagaimana mengondisikannya?
1. Waktu untuk merenung
Guru harus punya waktu untuk merenung. Bukan saja merenung di bus atau di rumah, tetapi di dalam jam yang dibayarkan kepadanya, di dalam jam kerjanya, guru tidak boleh hanya diharapkan untuk mengajar dan melakukan persiapan (yang biasanya dipersepsikan melulu sebagai upaya memenuhi kewajiban administratif). Tetapi yang sangat penting adalah dia harus punya waktu untuk merenung, untuk berefleksi, karena di dalam refleksi itulah seorang guru akan masuk ke dalam kedalaman jiwa dan ilmunya, meramunya dengan metode-metode yang telah dikuasainya, dan dari kedalaman itu akan memancar kualitas yang otentik.
2. Ruang kerja pribadi yang nyaman
Bukan berarti satu ruang yang tertutup dengan empat dinding atau tersekat-sekat dengan tiga partisi, tetapi cukuplah kalau guru memiliki meja kerjanya sendiri, tempat bukunya sendiri dan lokernya sendiri; bahkan kalau bisa komputernya sendiri. Ruang guru seyogianya tempat untuk bekerja, pusat pengembangan ilmu dan dari ruang guru itu seharusnya memancar kualitas ilmu yang menjadi karakteristik dan kebanggaan bagi lembaga pendidikan. Ruang guru bukan sekedar ruang-tunggu-mengajar dan tempat kongkow-kongkow. Memang ruang guru memiliki fungsi sosialnya sendiri, tetapi terlebih dari itu ruang guru harus menjadi pusat pengembangan profesionalisme guru.
3. Perpustakaan memadai
Ya, ini salah satu hambatan terbesar di Indonesia. Perpustakaan! Tapi apa maksudnya perpustakaan "yang memadai"? Untuk pengembangan ilmu yang baik, harus tersedia perpustakaan dengan koleksi yang cukup dan menyeluruh. Koleksinya bukan saja harus banyak, tetapi harus mencakup ruang lingkup yang luas dalam bidang yang didalami di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Koleksinya pun harus terus diperbarui, diremajakan sehingga terus-menerus tersedia buku-buku kontemporer dan jurnal-jurnal yang representatif terhadap pengembangan ilmu yang bersangkutan. Dan alangkah baiknya jika tersedia juga akses Internet kepada perpustakaan-perpustakaan besar dunia, sekurang-kurangnya yang mendalami bidang ilmu yang relevan. Tanpa perpustakaan yang memadai, lembaga pendidikan hanya akan berisi ilmu-ilmu yang sudah karatan dan tertinggal.
Itulah ketiga imperatif bagi guru yang optimal.
Mereka tidak berhenti pada dirinya sendiri, masing-masing akan membawa implikasinya sendiri. Tetapi baiklah kita memulai dari ketiga hal ini untuk menciptakan komunitas-komunitas akademik dan komunitas-komunitas akademisi yang sehat, yang bertumbuh dan memberikan kehidupan.
Ada saatnya bermain. Ada saatnya bekerja. Di dalam diri setiap orang dewasa, tetap ada jiwa seorang anak. Bermain tetap adalah suatu kebutuhan. Orang butuh rekreasi, orang butuh penyegaran kembali dari kepenatan, orang butuh istirahat. Banyak orang di zaman ini yang nampaknya bekerja begitu keras sehingga istirahat bukan lagi suatu kebutuhan, tetapi sudah harus dijadikan proyek ketaatan. Ada juga orang-orang yang memiliki pekerjaan sesuai dengan hobinya, mereka hidup dari hobinya. Mereka ini adalah orang-orang yang sangat beruntung. Tetapi harus diingat bahwa dalam kondisi mereka yang demikian pun, ketika mereka mengerjakan hobi mereka itu untuk mendapatkan penghasilan, mereka pun tetap harus bekerja dengan sepenuh hati, hanya saja bedanya lebih mudah dan lebih alami bagi mereka untuk bekerja dengan sepenuh hati karena yang dikerjakan itu adalah hobi mereka sendiri.
Yang menyebalkan dan ada kalanya membuat muak, adalah orang-orang yang begitu menikmati bersenang-senang sehingga melalaikan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Ada orang-orang yang nampaknya begitu suka bersenang-senang hingga rela mengorbankan kualitas pekerjaan mereka demi kesenangan mereka. Orang-orang ini bekerja dengan segenap hati hanya pada saat mereka tidak memiliki kesempatan untuk bermain-main, ketika mereka berada di ambang tenggat waktu, ketika keadaan memojokkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak mempunyai pilihan lain selain bekerja. Tetapi apakah itu yang disebut segenap hati? Di bawah tekanan keterpaksaan, nampaknya sulit mengatakan suatu hal dikerjakan dengan "segenap hati".
Kita butuh olahraga, tetapi olahraga juga ada tempatnya. Olahraga ada proporsinya dalam hidup. Untuk apa menjaga tubuh tetap bugar sampai tua tanpa meninggalkan sesuatu yang berharga dan bertahan? Menjaga kebugaran tubuh adalah sarana, sebuah cara untuk berkarya dengan lebih baik lagi, berkarya dengan lebih efektif. Tetapi ketika menjaga kebugaran tubuh menjadi sebuah tujuan dan kebugaran itu tidak digunakan untuk berkarya dengan lebih efektif, untuk apa? Itu semua omong kosong!
Kita hidup sesuai panggilan. Kita memenuhi panggilan itu dengan segenap hati, segenap akal budi, dengan segenap kekuatan yang ada pada kita. Dengan segenap hati, akal budi dan kekuatan kita kita bekerja bagi Tuhan, di mana pun Ia menempatkan kita. Dan ketika kita memilih untuk mengerjakan panggilan itu dengan asal-asalan, dengan performa minimum, "yang penting jadi", "yang penting ada hasilnya", apakah itu bekerja? Apakah itu panggilan? Apakah itu bahkan layak disebut bekerja?
Di dalam diri setiap orang dewasa, tetap ada jiwa seorang anak. Tetapi ada kalanya jiwa itu adalah jiwa yang kekanak-kanakan. Dan seorang kanak-kanak tidak bisa dibebankan tanggung jawab yang berarti. Seorang kanak-kanak hidup untuk bermain. Lebih dari itu, ia tidak bisa. Itulah yang membedakan orang dewasa dari kanak-kanak: tahu kapan saatnya serius, kapan saatnya bermain; bisa serius dengan segenap hatinya, bisa juga bermain dengan segenap keseriusannya, tapi tidak mencampuradukkan keduanya.
Berada di Tengah adalah bagian yang paling sulit. Mudah kita memulai suatu proyek, suatu perjuangan, suatu pergerakan, asalkan ada cukup dorongan, mudah juga kita mengakhirinya. Tetapi yang paling sulit adalah ketika kita berada di tengah-tengah. Saat itulah banyak pertanyaan berkecamuk, keraguan menerpa dan kebimbangan mengguncang keteguhan hati kita yang semula.
Ketika kita berada di Tengah, bahaya yang sangat besar yang mengancam kita adalah kesendirian dan perasaan sendiri. Ketika rasanya tidak ada orang yang bisa diajak berbagi, tidak ada sahabat yang siap diandalkan, ketika sulit rasanya meyakinkan diri sendiri bahwa benar inilah jalan yang harus dan seharusnya saya tempuh, kendati segala hambatan dan rintangan yang ada, maka kita menjadi goyah. Betapapun kokohnya keyakinan kita ketika memulai, seringkali tetap saja masalah "Tengah" ini mengganggu.
Maka sangat penting bahwa kita mempersiapkan diri bukan saja untuk memulai dan mengakhiri tetapi terutama untuk menjaga stamina kita, bukan cuma stamina fisik, tetapi juga stamina mental dan stamina rohani agar kita bisa melalui masa-masa "Tengah" yang bagaikan padang gurun yang gersang, yang kering dan nampaknya tak berujung. Ketika kita berada dalam tahap-tahap perencanaan, ingatlah selalu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk melalui masa-masa "Tengah" yang mengerikan karena "Tengah" adalah sebuah medan pertempuran dan kecuali kita telah mempersiapkan diri kita baik-baik menghadapi masa-masa itu, hidup bisa menjadi hancur berantakan karena beratnya tekanan padang gurun "Tengah" itu.
Ketika kita berada di Tengah, berpeganglah erat-erat pada iman, jangan sekali-kali melepaskannya. Ketika kita berada di Tengah, mintalah sahabat kita untuk selalu dekat dengan kita, walaupun ia mungkin sulit mengerti pergumulan kita. Ketika kita berada di Tengah, sabarlah menanggung segala tekanan, sebab di Tengah itulah kita mengalami pembentukan yang sesungguhnya: daya tahan dan daya juang kita, bukti dari keinginan dan kesungguhan kita untuk mencapai garis akhir dengan baik.
Tengah adalah medan pertempuran batin yang sesungguhnya, satu pertempuran yang menentukan kehidupan kita: berhasil atau gagal.
Dalam tahun-tahun kami menjalin persahabatan ada ekspresi-ekspresi yang dapat dengan mudah kami pahami bersama. Ekspresi-ekspresi itu menunjukkan persahabatan kami, mengingatkan ada sesuatu yang khusus di antara kami. Secara verbal, ada ungkapan-ungkapan atau rujukan-rujukan tertentu dalam perbincangan kami yang langsung mengingatkan kami berdua kepada peristiwa-peristiwa tertentu yang hanya dapat dipahami kami berdua. Secara fisik, ada bahasa-bahasa tubuh tertentu, senyuman, sentuhan, rangkulan, yang menunjukkan akrabnya hubungan kami. Senyuman yang berbeda dari senyuman orang lain. Sentuhan yang berbeda. Rangkulan yang memiliki makna lebih dari sekedar rangkulan.
Kemudian datanglah masa-masa yang buruk dan sangat buruk. Badai menerpa dengan sangat dahsyat. Tetapi hubungan itu terlalu berarti untuk dilalaikan begitu saja dan tidak mungkin juga badai itu dianggap tidak ada dan kami berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja sebab sesungguhnya keadaan memang sedang tidak baik-baik. Masalah yang ada harus dihadapi dan diselesaikan.
Tetapi, dalam masa-masa buruk itu, ketika kami bersama-sama di depan umum, ketika ada orang-orang lain di sekitar kami, ia tetap saja menunjukkan tanda-tanda persahabatan tadi. Saya jadi merasa muak. Saya merasa jijik. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia bisa begitu pandai bermanis-manis, berpura-pura di depan orang banyak, dan hanya ketika tidak ada orang banyak ia menunjukkan aslinya. Saya jadi bertanya-tanya, "Benarkah apa yang saya sebut ‘tanda-tanda persahabatan’ itu ada?" Atau, jangan-jangan itu semua hanyalah tanda-tanda yang tidak menandai apa pun? Jangan-jangan itu semua hanyalah ekspresi kosong tanpa ada yang diekspresikan? Sekedar menjaga penampilan di depan publik?
Bagaimana mungkin orang berpura-pura demikian rupa sehingga bisa bermanis ria di depan umum, sementara hubungan yang terjalin sesungguhnya tidak demikian? Dengan kedekatan dan keakraban yang telah terjalin sekian lama, bagaimana mungkin?
Setelah bulan demi bulan berlalu, akhirnya keadaan membaik. Ini saatnya mencari "kenormalan baru" dari hubungan yang ada, sebab pemulihan suatu hubungan tidak mungkin membawanya kembali ke "hubungan normal" yang semula sebab masalah yang ada telah membuat masing-masing pihak belajar dan tentunya juga membawa tingkat kedewasaan tertentu kepada hubungan itu. Dalam proses pencarian "kenormalan baru" inilah saya mendapati bahwa ternyata ekspresi persahabatan yang lama sudah tidak bisa dipercaya lagi.
Senyuman yang diberikan membuat saya bertanya, "Benarkah ini?", "Adakah sesuatu yang solid dan nyata di balik senyuman itu?" atau, jangan-jangan itu hanya penampilan saja? Ketika keramahan diberikan, ketika kata-kata yang manis dilontarkan, ketika pujian diberikan, semua itu masih membuat saya bertanya-tanya, "Benarkah ini?"
Rasanya, begitu sulit untuk kembali mempercayai bahwa di balik semua ekspresi itu ada persahabatan yang tulus.
Beberapa hari yang lalu saya menerima email tentang pengunduran diri Ted Haggard. "Tidak terlalu menarik", pikir saya, maka saya hapus. Keesokan harinya, kembali saya menerima email, kembali dengan nama Ted Haggard, tetapi subyeknya lebih provokatif. Penasaran, maka saya membaca lebih lanjut. Yang saya temukan selanjutnya sungguh mengejutkan. Kemungkinan Anda juga sudah membaca tentang peristiwa itu.
Artikel pertama yang saya baca adalah tulisan Gordon MacDonald, "When Leaders Implode" yang tersedia baik di LeadershipJournal.net maupun di Out of Ur (di bawah judul "The Haggard Truth").
Di situ saya serasa bercermin, saya melihat cerminan diri saya sendiri. Salah satu ketakutan terbesar saya selama ini tercermin dengan baik dalam tulisan MacDonald.
Satu paragraf yang sangat berkesan adalah (cetak-tebal oleh saya),
If you have been burned as deeply as I (and my loved ones) have, you never live a day without remembering that there is something within that, left unguarded, will go on the rampage. Wallace Hamilton once wrote, "Within each of us there is a herd of wild horses all wanting to run loose."
Seringkali saya merasa satu hari bisa berlalu dengan baik bukan karena saya baik-baik saja, justru sebaliknya, karena hari itu penuh dengan upaya menambal bendungan di sana-sini. Saya membayangkan di dalam diri saya ada sejumlah berang-berang (seperti teman-teman Kiki dan Koko dari masa kecil saya) yang terus berlarian ke sana-kemari untuk menambal bendungan yang terus-menerus bocor. Seandainya saja ada yang kebocoran yang tidak teratasi, maka saya akan siap meledak.
Padatnya jadwal dan kegiatan serta tuntutan di sana-sini membuat kerentanan tersendiri di dalam diri saya dan ancaman yang paling nyata adalah begitu mudahnya mengabaikan perawatan-kerohanian-pribadi. Kehidupan rohani cenderung diabaikan di tengah kesibukan yang sebenarnya malah mengasumsikan dan menuntut kerohanian yang semakin baik.
Kalau satu hari lagi telah berlalu dengan baik-baik saja, itu adalah karena anugerah semata.
Harus diperhatikan baik-baik adalah jangan sampai kita memiliki begitu banyak kegiatan, bahkan yang berlabel pelayanan sekalipun sentara kehidupan pribadi sendiri akhirnya diabaikan, bahkan dilupakan. Ketika kita berada pada posisi yang semakin tinggi, semakin besar cobaan itu dan kita juga semakin rentan - maka kita harus semakin baik belajar untuk bergantung kepada Tuhan. Semakin tinggi posisi kita, ketika kita jatuh, maka semakin banyak orang yang akan terseret oleh kejatuhan kita. Rasanya mustahil jatuh sendirian tanpa melibatkan terguncangnya iman orang-orang lain, tanpa menimbulkan torehan mendalam dalam kehidupan organisasi yang kita tinggalkan.
Di dalam diri saya seringkali masih ada kecamuk yang tak terpadamkan, bendungan yang siap meledak, sekawanan kuda yang siap menerjang, maka saya harus belajar untuk berserah dan mengandalkan Tuhan saja. Ketika kita bertambah besar, jangan bertambah besar seperti balon yang kopong dan siap meledak kapan saja, tetapi pertumbuhan itu harus diimbangi dengan isi yang semakin padat dan berkembang pula.
Di dalam anugerah-Nya kita dihidupkan, kita hidup dan kita berkarya. Maka marilah kita terus bergantung kepada-Nya senantiasa (bnd. Gal. 5:25).
Beberapa kali dalam waktu-waktu belakangan ini orang mempertanyakan sikap saya yang menurut mereka terlalu tegas, terlalu keras, bahkan cenderung kasar terhadap orang-orang tertentu. Sikap saya dipertanyakan atas dasar iman dan moral. Saya dipandang terlalu mudah memvonis, menjatuhkan hukuman, bahkan menstereotipekan orang. Apakah itu sejalan dengan iman saya? Demikian tanya orang. Seorang sahabat bahkan bertanya, "Bukankah kita seharusnya hidup berdamai dengan semua orang?" (bnd. Rm. 12:18).
Inilah jawaban saya.
Di masa-masa sekolah saya, saya pernah punya kawan-kawan yang cukup akrab yang bisa saya katakan juga cukup bejat. Mereka ini adalah orang-orang yang suka menonton film porno, suka mengumpat dan memaki, seringkali menggunakan kata-kata yang kasar. Tetapi saya bisa bergaul dengan mereka. Di sisi lain, orang-orang yang berseberangan dengan saya seringkali adalah orang-orang yang dalam skala kebejatan, jauh lebih baik daripada kawan-kawan saya tersebut. Tapi kenapa sikap saya berbeda? Kelompok yang pertama adalah orang-orang yang tidak mengenal Kebenaran, mereka hidup di luar Kristus, secara gamblang itu mereka nyatakan, maka wajar-wajar saja kalau sikap mereka demikian. Tetapi kelompok yang kedua berbeda, mereka adalah orang-orang yang menurut pengakuan adalah orang-orang Kristen, mereka mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi ternyata hidup mereka tidak sinkron dengan pengakuan mereka. Dalam hal ini saya berpegang pada 1Kor. 5:9-13.
Kita hidup di dalam dunia yang berdosa. Tidak mungkin kita tidak bergaul dengan orang-orang yang di luar Kristus, mereka adalah bagian dari keseharian kita, mereka adalah juga bagian dari realita dunia ini, sedapat mungkin kita perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang, sebab hanya dengan demikianlah keadaan kita sebagai garam dan terang bagi dunia ini dapat menjadi nyata. Terhadap orang yang berada di luar Kristus, kita tidak punya hak untuk menghakimi, kita tidak bisa mengatakan mereka harus begini dan harus begitu sebab memang seluruh pandangan dan kerangka berpikir kita akan sangat berbeda. Tetapi bagi orang-orang yang berada di dalam Kristus, walaupun itu hanya menurut pengakuannya, kita harus tegas.
Pendirian Rs. Paulus jelas: kalau orang Kristen bergaul dengan seorang Kristen-bejat orang-orang di luar Gereja akan mengatakan, "O, rupanya orang Kristen itu begitu hidupnya." Kebejatan itu akan menjadi sesuatu yang normal dan diterima seiring dengan berjalannya waktu; kita akan menjadi terbiasa dan tidak lagi jengah dengan kebejatan yang muncul dan menggeragoti integritas dan kehormatan Gereja. Gereja harus tetap menjaga dirinya dari kebejatan-kebejatan di dalam anggota-anggotanya. Kekotoran itu harus dibersihkan, dan memang Gereja memiliki alat untuk itu. Setelah berulang kali ditegur dan tidak juga menunjukkan tanda-tanda penyesalan apalagi pertobatan, Gereja seyogianya melakukan ekskomunikasi terhadap anggota itu. Gereja bukan kumpulan orang-orang suci; Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa, tetapi orang-orang berdosa itu bukanlah orang-orang berdosa yang senang dan menikmati berdiam di dalam keberdosaannya, sebaliknya mereka adalah orang-orang berdosa yang menyadari sebegitu kelamnya keberdosaan mereka sehingga mereka tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri, mereka butuh campur tangan Tuhan dalam membereskan dosa mereka. Orang yang terus senang berdiam di dalam dosa tidak mungkin tetap menjadi bagian dari Gereja.
Demikianlah pendirian saya. Dengan siapapun, pergaulan perlu diupayakan. Tetapi di dalam Gereja, harus ada standar yang lebih tinggi. Gereja harus berani menegur. Gereja harus berani melakukan tindakan disiplin. Gereja bahkan harus berani melakukan ekskomunikasi. Atau, gereja-gereja akan kehilangan kewibawaan dan kenabiannya.
Hal yang sama berlaku bagi setiap orang Kristen. Kita harus berani berdisiplin dan melakukan tindakan disiplin. Jaga pergaulan. Jaga kehormatan dan nama baik Tuhan dalam seluruh kehidupan kita, mulai dari pemikiran hingga tingkah laku kita, bahkan juga dalam pergaulan kita.
Kemuliaan hanya bagi Tuhan selama-lamanya! Dan bagaimana mungkin kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kita kalau kita lebih mengutamakan perdamaian dengan semua orang, termasuk mereka yang merusak nama baik-Nya dari dalam Gereja?
Luar biasa. Menakjubkan! Sungguh mengagumkan!
Genap empat tahun telah berlalu pada hari ini, Jumat, 10 November 2006 sejak pertemuan pertama KTB Opus Dei di RGK. Dalam empat tahun, apa yang bisa direfleksikan?
Ada masa-masa senang dan ada masa-masa sulit. Hari-hari pertama adalah hari-hari yang berat. Kami belum terbiasa satu sama lain, terkadang ada kata-kata yang terasa menyakitkan, padahal tidak dimaksudkan demikian. Proyek ketaatan berjalan lumayan baik di awalnya, walaupun lama-kelamaan semakin sulit menginternalisasikan disiplin ini, mungkin memang saya terlalu berbaik hati ketika itu sehingga beberapa kebiasaan yang sangat penting seperti melakukan persiapan KTB dan menghafal ayat, apalagi membaca buku, tetap sulit hingga hari ini.
Dalam bulan-bulan pertama, cukup banyak kebersamaan diadakan, bahkan hingga acara ke Puncak dalam bulan ke-2 KTB dilahirkan. Acara kebersamaan selalu menjadi sesuatu yang penting di Opus Dei walaupun terkadang juga menimbulkan pergumulan tentang pemanfaatan waktu kebersamaan itu dengan lebih efektif bagi saya dalam pembinaan anggota Opus Dei.
Kemudian datanglah hari-hari yang sulit, ketika kesibukan masing-masing aggota bertambah secara pesat. Kesibukan pelayanan di BP masing-masing, ditambah pula acara-acara KRSGK, menambah kesulitan pertemuan. Optimisme yang saya miliki di awal tahun kedua bahwa kami akan menghasilkan pembimbing-pembimbing baru di akhir tahun ke-2 serta KTB yang diselang-seling antara 2 buku (1 dari Perkantas sesuai kurikulum dan 1 lagi dari SAAT sebagai ekstrakurikuler tentang sejarah Gereja) ternyata harus diredam. Perjalanan cukup tertatih-tatih di masa itu sehingga buku dari SAAT pun diabaikan setelah 2-3 kali dipakai, walau materinya sebenarnya bagus.
Mendengar sharing anak-anak KTB di hari-hari terakhir ini, ada beberapa hal yang mengharukan. Melihat pertumbuhan pergumulan mereka, pertumbuhan iman mereka, bahkan kesadaran dan kegigihan untuk menjadi pembimbing-pembimbing KTB baru (padahal sekian tahun lalu mati-matian mereka menolak menjadi pembimbing) sungguh mengharukan dan menyenangkan.
Saya sendiri ternyata banyak sekali belajar, banyak sekali diubah, dan banyak sekali disokong di dalam pertumbuhan kerohanian melalui KTB ini. Ya, KTB bukan hanya untuk anak KTB, tetapi juga untuk pembimbingnya. Justru lebih banyak hal yang dipelajari dan lebih banyak pertumbuhan yang dialami setelah menjadi pembimbing KTB daripada ketika menjadi anak KTB, jadi memang tidak sepatutnya orang takut untuk ikut kelas TCPKK.
Minggu-minggu terakhir ini memang cukup sendu untuk Opus Dei. Setelah sekitar setahun terjadi konflik berkepanjangan serta hampir empat tahun dengan defisiensi yang sangat menyolok, kami harus mengurangi satu orang anggota, entah sampai kapan dan entah akan kembali menjadi berempat lagi. Menyedihkan, tetapi itu satu hal yang harus dilakukan. Memanjakan tidak akan menyelesaian masalah. Ketegasan dibutuhkan demi pertumbuhan. KTB ada untuk mendukung, tetapi dukungan itu harus memberdayakan dan mendewasakan, bukannya membuat orang menjadi kecanduan.
Di hari ini, Jumat, 10 November 2006, saya menengok ke belakang dan melihat dengan hati yang terharu sekaligus sangat bersyukur betapa Tuhan telah memimpin dan membentuk kami semua. "Seperti apa wajah kekristenan di Indonesia yang kalian harapkan 20, 30 tahun dari sekarang?" demikian satu pertanyaan yang pernah saya utarakan kepada Alfin, Antony dan Stevanus. Jangan pernah duduk berdiam diri dan berpangku tangan. Bertindaklah. Kita memerlukan orang-orang yang berani berkomitmen, berani mengambil risiko, menyediakan diri dan waktu untuk membimbing sebuah KTB, untuk membuat perubahan dalam diri orang-orang, untuk berkata bersama Rs. Paulus, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (1Kor. 11:1).
Di hari ini, Jumat, 10 November 2006, saya menatap ke depan dan berharap kelak saya akan melihat pembimbing-pembimbing KTB yang baik dan yang terus bertumbuh dari kelompok ini. Saya juga berharap ada pertumbuhan yang terjadi secara luar biasa melampaui apa yang bisa dipikirkan atau bahkan diduga oleh pikiran kita. Bahkan ketika manusia sudah putus asa, semua orang sudah angkat tangan, Tuhan masih bisa bertindak dengan cara yang mengherankan, membawa pertumbuhan dan menjamin Gereja-Nya akan terus bertumbuh dan menjadi besar dan menaklukkan alam maut.
Opus Dei. Karya Allah. Bagi Allah, bagi Gereja-Nya dan bagi dunia.
Bisakah iman dinilai? Seorang teman saya bersikeras bahwa iman tidak bisa dinilai. Maka ia merestui seorang pecandu film porno, seorang yang suka berpakaian sensual, seorang koruptor, seorang kikir, seorang tamak untuk menjadi pembimbing KTB, untuk menjadi pembimbing retret, untuk menjadi pembicara dalam forum dan kapasitas rohani. Kenapa? Sebab kita tidak bisa menilai seberapa beriman atau tidak bisa beriman orang itu; kalau orang itu mau (demikian katanya) maka kita harus mengizinkan dan memberikan kesempatan.
Iman tidak bisa dilihat. Itu jelas. Tetapi tanda-tanda iman bisa, sebab tanda-tanda itu nampak nyata di dalam hidup dan interaksi kita. Bukan cuma itu. Tanda-tanda iman bahkan bisa dirasakan. Seiring dengan kedewasaan dan pertumbuhan kehidupan beriman kita, sensitivitas dan sensibilitas kehidupan beriman juga semakin bertumbuh dan berkembang.
Benarkah bahwa kita tidak boleh berupaya mengukur iman dan menjadikan diri kita sendiri sebagai standar?
Saya setuju bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh membanding-bandingkan dua orang begitu saja, sebab bisa saja seorang mulai dari tempat yang lebih tinggi (latar belakang keluarga yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, pergaulan dan kesempatan-kesempatan yang lebih baik) sehingga ia lebih mudah bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dibandingkan orang kedua. Tetapi itu juga tidak berarti bahwa begitu seseorang menunjukkan sedikit perubahan langsung dia bisa diberikan posisi yang tinggi. Bahaya sekali bahwa ia akan jatuh ke dalam kecongkakan dan akhirnya melempem dalam pertumbuhannya - kalau diasumsikan yang sedikit itu benar-benar pertumbuhan sejati.
Seperti Rs. Paulus mengatakan, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (1Kor. 11:1). Pertumbuhan iman mungkin tidak terlihat secara mudah, tetapi bukan berarti ia tidak terlihat sama sekali. Kita tidak boleh semena-mena menyuruh orang bertumbuh menjadi seperti Kristus ("Seperti Kristus? Seperti apa itu?") karena itu sangat abstrak dan tidak bertanggung jawab. Rs. Paulus memberikan contoh, kita dulu pertama-tama harus bertumbuh dan menjadi seperti Kristus dan baru sesudah itu kita membimbing orang untuk menjadi seperti Dia. Bukan berarti kita telah sempurna, tetapi kita sama-sama berjuang dan berupaya untuk semakin menyerupai Dia dalam setiap pergumulan dan langkah kehidupan kita.
Ketika kita mengatakan - seringkali dengan entengnya dan tanpa pikir panjang - bahwa iman tidak bisa dinilai, itu akan membawa kita kepada tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab. Dan ketika ada orang-orang yang dibimbing oleh pembimbing yang rusak, oleh pembina(sa) yang hanya tahu berfoya-foya tanpa tahu apa itu jaminan keselamatan, siapa yang akan bertanggung jawab?
Saya mendapat pesan-kaleng dari seseorang yang mengatakan bahwa blog saya semakin lama semakin bernada sombong. Entah kenapa ia tidak langsung menggunakan fasilitas "Comment" atau "Send Email" yang ada di halaman blog ini, tetapi malah mengutarakannya kepada orang lain yang bahkan tidak pernah membaca blog saya. Satu hal yang hendak saya tanggapi adalah bahwa melalui blog ini saya berharap membuka diri saya, pemikiran, pergumulan dan pengalaman saya. Blog ini seharusnya menjadi cerminan diri saya. Saya memang menyadari bahwa ada suatu jumlah signifikan kesombongan dan narsisme dalam diri saya, dan justru kalau itu tidak terpancar melalui tulisan-tulisan saya malah patut dipertanyakan otentisitas tulisan-tulisan ini. Tetapi itu juga tidak berarti bahwa saya membiarkan hal-hal buruk dalam diri saya terus berkembang dan merusak. Blog ini adalah salah satu upaya mengartikulasikan diri saya sehingga bisa dikenali dengan lebih baik dan dicermati demi perbaikan-perbaikan.
Untuk tujuan itu, saya kadang kala juga masih membaca blog-blog yang saya tulis di masa-masa silam dan untuk tujuan itu pula saya sangat menghargai kawan-kawan yang telah mengirimkan komentar, email maupun pendapatnya secara lisan yang telah membangun dan mendorong saya.
Terima kasih kepada semua yang telah rela membaca dan berpartisipasi.