It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Beberapa hari yang lalu saya menerima email tentang pengunduran diri Ted Haggard. "Tidak terlalu menarik", pikir saya, maka saya hapus. Keesokan harinya, kembali saya menerima email, kembali dengan nama Ted Haggard, tetapi subyeknya lebih provokatif. Penasaran, maka saya membaca lebih lanjut. Yang saya temukan selanjutnya sungguh mengejutkan. Kemungkinan Anda juga sudah membaca tentang peristiwa itu.
Artikel pertama yang saya baca adalah tulisan Gordon MacDonald, "When Leaders Implode" yang tersedia baik di LeadershipJournal.net maupun di Out of Ur (di bawah judul "The Haggard Truth").
Di situ saya serasa bercermin, saya melihat cerminan diri saya sendiri. Salah satu ketakutan terbesar saya selama ini tercermin dengan baik dalam tulisan MacDonald.
Satu paragraf yang sangat berkesan adalah (cetak-tebal oleh saya),
If you have been burned as deeply as I (and my loved ones) have, you never live a day without remembering that there is something within that, left unguarded, will go on the rampage. Wallace Hamilton once wrote, "Within each of us there is a herd of wild horses all wanting to run loose."
Seringkali saya merasa satu hari bisa berlalu dengan baik bukan karena saya baik-baik saja, justru sebaliknya, karena hari itu penuh dengan upaya menambal bendungan di sana-sini. Saya membayangkan di dalam diri saya ada sejumlah berang-berang (seperti teman-teman Kiki dan Koko dari masa kecil saya) yang terus berlarian ke sana-kemari untuk menambal bendungan yang terus-menerus bocor. Seandainya saja ada yang kebocoran yang tidak teratasi, maka saya akan siap meledak.
Padatnya jadwal dan kegiatan serta tuntutan di sana-sini membuat kerentanan tersendiri di dalam diri saya dan ancaman yang paling nyata adalah begitu mudahnya mengabaikan perawatan-kerohanian-pribadi. Kehidupan rohani cenderung diabaikan di tengah kesibukan yang sebenarnya malah mengasumsikan dan menuntut kerohanian yang semakin baik.
Kalau satu hari lagi telah berlalu dengan baik-baik saja, itu adalah karena anugerah semata.
Harus diperhatikan baik-baik adalah jangan sampai kita memiliki begitu banyak kegiatan, bahkan yang berlabel pelayanan sekalipun sentara kehidupan pribadi sendiri akhirnya diabaikan, bahkan dilupakan. Ketika kita berada pada posisi yang semakin tinggi, semakin besar cobaan itu dan kita juga semakin rentan - maka kita harus semakin baik belajar untuk bergantung kepada Tuhan. Semakin tinggi posisi kita, ketika kita jatuh, maka semakin banyak orang yang akan terseret oleh kejatuhan kita. Rasanya mustahil jatuh sendirian tanpa melibatkan terguncangnya iman orang-orang lain, tanpa menimbulkan torehan mendalam dalam kehidupan organisasi yang kita tinggalkan.
Di dalam diri saya seringkali masih ada kecamuk yang tak terpadamkan, bendungan yang siap meledak, sekawanan kuda yang siap menerjang, maka saya harus belajar untuk berserah dan mengandalkan Tuhan saja. Ketika kita bertambah besar, jangan bertambah besar seperti balon yang kopong dan siap meledak kapan saja, tetapi pertumbuhan itu harus diimbangi dengan isi yang semakin padat dan berkembang pula.
Di dalam anugerah-Nya kita dihidupkan, kita hidup dan kita berkarya. Maka marilah kita terus bergantung kepada-Nya senantiasa (bnd. Gal. 5:25).
Beberapa kali dalam waktu-waktu belakangan ini orang mempertanyakan sikap saya yang menurut mereka terlalu tegas, terlalu keras, bahkan cenderung kasar terhadap orang-orang tertentu. Sikap saya dipertanyakan atas dasar iman dan moral. Saya dipandang terlalu mudah memvonis, menjatuhkan hukuman, bahkan menstereotipekan orang. Apakah itu sejalan dengan iman saya? Demikian tanya orang. Seorang sahabat bahkan bertanya, "Bukankah kita seharusnya hidup berdamai dengan semua orang?" (bnd. Rm. 12:18).
Inilah jawaban saya.
Di masa-masa sekolah saya, saya pernah punya kawan-kawan yang cukup akrab yang bisa saya katakan juga cukup bejat. Mereka ini adalah orang-orang yang suka menonton film porno, suka mengumpat dan memaki, seringkali menggunakan kata-kata yang kasar. Tetapi saya bisa bergaul dengan mereka. Di sisi lain, orang-orang yang berseberangan dengan saya seringkali adalah orang-orang yang dalam skala kebejatan, jauh lebih baik daripada kawan-kawan saya tersebut. Tapi kenapa sikap saya berbeda? Kelompok yang pertama adalah orang-orang yang tidak mengenal Kebenaran, mereka hidup di luar Kristus, secara gamblang itu mereka nyatakan, maka wajar-wajar saja kalau sikap mereka demikian. Tetapi kelompok yang kedua berbeda, mereka adalah orang-orang yang menurut pengakuan adalah orang-orang Kristen, mereka mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi ternyata hidup mereka tidak sinkron dengan pengakuan mereka. Dalam hal ini saya berpegang pada 1Kor. 5:9-13.
Kita hidup di dalam dunia yang berdosa. Tidak mungkin kita tidak bergaul dengan orang-orang yang di luar Kristus, mereka adalah bagian dari keseharian kita, mereka adalah juga bagian dari realita dunia ini, sedapat mungkin kita perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang, sebab hanya dengan demikianlah keadaan kita sebagai garam dan terang bagi dunia ini dapat menjadi nyata. Terhadap orang yang berada di luar Kristus, kita tidak punya hak untuk menghakimi, kita tidak bisa mengatakan mereka harus begini dan harus begitu sebab memang seluruh pandangan dan kerangka berpikir kita akan sangat berbeda. Tetapi bagi orang-orang yang berada di dalam Kristus, walaupun itu hanya menurut pengakuannya, kita harus tegas.
Pendirian Rs. Paulus jelas: kalau orang Kristen bergaul dengan seorang Kristen-bejat orang-orang di luar Gereja akan mengatakan, "O, rupanya orang Kristen itu begitu hidupnya." Kebejatan itu akan menjadi sesuatu yang normal dan diterima seiring dengan berjalannya waktu; kita akan menjadi terbiasa dan tidak lagi jengah dengan kebejatan yang muncul dan menggeragoti integritas dan kehormatan Gereja. Gereja harus tetap menjaga dirinya dari kebejatan-kebejatan di dalam anggota-anggotanya. Kekotoran itu harus dibersihkan, dan memang Gereja memiliki alat untuk itu. Setelah berulang kali ditegur dan tidak juga menunjukkan tanda-tanda penyesalan apalagi pertobatan, Gereja seyogianya melakukan ekskomunikasi terhadap anggota itu. Gereja bukan kumpulan orang-orang suci; Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa, tetapi orang-orang berdosa itu bukanlah orang-orang berdosa yang senang dan menikmati berdiam di dalam keberdosaannya, sebaliknya mereka adalah orang-orang berdosa yang menyadari sebegitu kelamnya keberdosaan mereka sehingga mereka tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri, mereka butuh campur tangan Tuhan dalam membereskan dosa mereka. Orang yang terus senang berdiam di dalam dosa tidak mungkin tetap menjadi bagian dari Gereja.
Demikianlah pendirian saya. Dengan siapapun, pergaulan perlu diupayakan. Tetapi di dalam Gereja, harus ada standar yang lebih tinggi. Gereja harus berani menegur. Gereja harus berani melakukan tindakan disiplin. Gereja bahkan harus berani melakukan ekskomunikasi. Atau, gereja-gereja akan kehilangan kewibawaan dan kenabiannya.
Hal yang sama berlaku bagi setiap orang Kristen. Kita harus berani berdisiplin dan melakukan tindakan disiplin. Jaga pergaulan. Jaga kehormatan dan nama baik Tuhan dalam seluruh kehidupan kita, mulai dari pemikiran hingga tingkah laku kita, bahkan juga dalam pergaulan kita.
Kemuliaan hanya bagi Tuhan selama-lamanya! Dan bagaimana mungkin kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kita kalau kita lebih mengutamakan perdamaian dengan semua orang, termasuk mereka yang merusak nama baik-Nya dari dalam Gereja?
Luar biasa. Menakjubkan! Sungguh mengagumkan!
Genap empat tahun telah berlalu pada hari ini, Jumat, 10 November 2006 sejak pertemuan pertama KTB Opus Dei di RGK. Dalam empat tahun, apa yang bisa direfleksikan?
Ada masa-masa senang dan ada masa-masa sulit. Hari-hari pertama adalah hari-hari yang berat. Kami belum terbiasa satu sama lain, terkadang ada kata-kata yang terasa menyakitkan, padahal tidak dimaksudkan demikian. Proyek ketaatan berjalan lumayan baik di awalnya, walaupun lama-kelamaan semakin sulit menginternalisasikan disiplin ini, mungkin memang saya terlalu berbaik hati ketika itu sehingga beberapa kebiasaan yang sangat penting seperti melakukan persiapan KTB dan menghafal ayat, apalagi membaca buku, tetap sulit hingga hari ini.
Dalam bulan-bulan pertama, cukup banyak kebersamaan diadakan, bahkan hingga acara ke Puncak dalam bulan ke-2 KTB dilahirkan. Acara kebersamaan selalu menjadi sesuatu yang penting di Opus Dei walaupun terkadang juga menimbulkan pergumulan tentang pemanfaatan waktu kebersamaan itu dengan lebih efektif bagi saya dalam pembinaan anggota Opus Dei.
Kemudian datanglah hari-hari yang sulit, ketika kesibukan masing-masing aggota bertambah secara pesat. Kesibukan pelayanan di BP masing-masing, ditambah pula acara-acara KRSGK, menambah kesulitan pertemuan. Optimisme yang saya miliki di awal tahun kedua bahwa kami akan menghasilkan pembimbing-pembimbing baru di akhir tahun ke-2 serta KTB yang diselang-seling antara 2 buku (1 dari Perkantas sesuai kurikulum dan 1 lagi dari SAAT sebagai ekstrakurikuler tentang sejarah Gereja) ternyata harus diredam. Perjalanan cukup tertatih-tatih di masa itu sehingga buku dari SAAT pun diabaikan setelah 2-3 kali dipakai, walau materinya sebenarnya bagus.
Mendengar sharing anak-anak KTB di hari-hari terakhir ini, ada beberapa hal yang mengharukan. Melihat pertumbuhan pergumulan mereka, pertumbuhan iman mereka, bahkan kesadaran dan kegigihan untuk menjadi pembimbing-pembimbing KTB baru (padahal sekian tahun lalu mati-matian mereka menolak menjadi pembimbing) sungguh mengharukan dan menyenangkan.
Saya sendiri ternyata banyak sekali belajar, banyak sekali diubah, dan banyak sekali disokong di dalam pertumbuhan kerohanian melalui KTB ini. Ya, KTB bukan hanya untuk anak KTB, tetapi juga untuk pembimbingnya. Justru lebih banyak hal yang dipelajari dan lebih banyak pertumbuhan yang dialami setelah menjadi pembimbing KTB daripada ketika menjadi anak KTB, jadi memang tidak sepatutnya orang takut untuk ikut kelas TCPKK.
Minggu-minggu terakhir ini memang cukup sendu untuk Opus Dei. Setelah sekitar setahun terjadi konflik berkepanjangan serta hampir empat tahun dengan defisiensi yang sangat menyolok, kami harus mengurangi satu orang anggota, entah sampai kapan dan entah akan kembali menjadi berempat lagi. Menyedihkan, tetapi itu satu hal yang harus dilakukan. Memanjakan tidak akan menyelesaian masalah. Ketegasan dibutuhkan demi pertumbuhan. KTB ada untuk mendukung, tetapi dukungan itu harus memberdayakan dan mendewasakan, bukannya membuat orang menjadi kecanduan.
Di hari ini, Jumat, 10 November 2006, saya menengok ke belakang dan melihat dengan hati yang terharu sekaligus sangat bersyukur betapa Tuhan telah memimpin dan membentuk kami semua. "Seperti apa wajah kekristenan di Indonesia yang kalian harapkan 20, 30 tahun dari sekarang?" demikian satu pertanyaan yang pernah saya utarakan kepada Alfin, Antony dan Stevanus. Jangan pernah duduk berdiam diri dan berpangku tangan. Bertindaklah. Kita memerlukan orang-orang yang berani berkomitmen, berani mengambil risiko, menyediakan diri dan waktu untuk membimbing sebuah KTB, untuk membuat perubahan dalam diri orang-orang, untuk berkata bersama Rs. Paulus, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (1Kor. 11:1).
Di hari ini, Jumat, 10 November 2006, saya menatap ke depan dan berharap kelak saya akan melihat pembimbing-pembimbing KTB yang baik dan yang terus bertumbuh dari kelompok ini. Saya juga berharap ada pertumbuhan yang terjadi secara luar biasa melampaui apa yang bisa dipikirkan atau bahkan diduga oleh pikiran kita. Bahkan ketika manusia sudah putus asa, semua orang sudah angkat tangan, Tuhan masih bisa bertindak dengan cara yang mengherankan, membawa pertumbuhan dan menjamin Gereja-Nya akan terus bertumbuh dan menjadi besar dan menaklukkan alam maut.
Opus Dei. Karya Allah. Bagi Allah, bagi Gereja-Nya dan bagi dunia.
Bisakah iman dinilai? Seorang teman saya bersikeras bahwa iman tidak bisa dinilai. Maka ia merestui seorang pecandu film porno, seorang yang suka berpakaian sensual, seorang koruptor, seorang kikir, seorang tamak untuk menjadi pembimbing KTB, untuk menjadi pembimbing retret, untuk menjadi pembicara dalam forum dan kapasitas rohani. Kenapa? Sebab kita tidak bisa menilai seberapa beriman atau tidak bisa beriman orang itu; kalau orang itu mau (demikian katanya) maka kita harus mengizinkan dan memberikan kesempatan.
Iman tidak bisa dilihat. Itu jelas. Tetapi tanda-tanda iman bisa, sebab tanda-tanda itu nampak nyata di dalam hidup dan interaksi kita. Bukan cuma itu. Tanda-tanda iman bahkan bisa dirasakan. Seiring dengan kedewasaan dan pertumbuhan kehidupan beriman kita, sensitivitas dan sensibilitas kehidupan beriman juga semakin bertumbuh dan berkembang.
Benarkah bahwa kita tidak boleh berupaya mengukur iman dan menjadikan diri kita sendiri sebagai standar?
Saya setuju bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh membanding-bandingkan dua orang begitu saja, sebab bisa saja seorang mulai dari tempat yang lebih tinggi (latar belakang keluarga yang lebih baik, pendidikan yang lebih baik, pergaulan dan kesempatan-kesempatan yang lebih baik) sehingga ia lebih mudah bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dibandingkan orang kedua. Tetapi itu juga tidak berarti bahwa begitu seseorang menunjukkan sedikit perubahan langsung dia bisa diberikan posisi yang tinggi. Bahaya sekali bahwa ia akan jatuh ke dalam kecongkakan dan akhirnya melempem dalam pertumbuhannya - kalau diasumsikan yang sedikit itu benar-benar pertumbuhan sejati.
Seperti Rs. Paulus mengatakan, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (1Kor. 11:1). Pertumbuhan iman mungkin tidak terlihat secara mudah, tetapi bukan berarti ia tidak terlihat sama sekali. Kita tidak boleh semena-mena menyuruh orang bertumbuh menjadi seperti Kristus ("Seperti Kristus? Seperti apa itu?") karena itu sangat abstrak dan tidak bertanggung jawab. Rs. Paulus memberikan contoh, kita dulu pertama-tama harus bertumbuh dan menjadi seperti Kristus dan baru sesudah itu kita membimbing orang untuk menjadi seperti Dia. Bukan berarti kita telah sempurna, tetapi kita sama-sama berjuang dan berupaya untuk semakin menyerupai Dia dalam setiap pergumulan dan langkah kehidupan kita.
Ketika kita mengatakan - seringkali dengan entengnya dan tanpa pikir panjang - bahwa iman tidak bisa dinilai, itu akan membawa kita kepada tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab. Dan ketika ada orang-orang yang dibimbing oleh pembimbing yang rusak, oleh pembina(sa) yang hanya tahu berfoya-foya tanpa tahu apa itu jaminan keselamatan, siapa yang akan bertanggung jawab?
Saya mendapat pesan-kaleng dari seseorang yang mengatakan bahwa blog saya semakin lama semakin bernada sombong. Entah kenapa ia tidak langsung menggunakan fasilitas "Comment" atau "Send Email" yang ada di halaman blog ini, tetapi malah mengutarakannya kepada orang lain yang bahkan tidak pernah membaca blog saya. Satu hal yang hendak saya tanggapi adalah bahwa melalui blog ini saya berharap membuka diri saya, pemikiran, pergumulan dan pengalaman saya. Blog ini seharusnya menjadi cerminan diri saya. Saya memang menyadari bahwa ada suatu jumlah signifikan kesombongan dan narsisme dalam diri saya, dan justru kalau itu tidak terpancar melalui tulisan-tulisan saya malah patut dipertanyakan otentisitas tulisan-tulisan ini. Tetapi itu juga tidak berarti bahwa saya membiarkan hal-hal buruk dalam diri saya terus berkembang dan merusak. Blog ini adalah salah satu upaya mengartikulasikan diri saya sehingga bisa dikenali dengan lebih baik dan dicermati demi perbaikan-perbaikan.
Untuk tujuan itu, saya kadang kala juga masih membaca blog-blog yang saya tulis di masa-masa silam dan untuk tujuan itu pula saya sangat menghargai kawan-kawan yang telah mengirimkan komentar, email maupun pendapatnya secara lisan yang telah membangun dan mendorong saya.
Terima kasih kepada semua yang telah rela membaca dan berpartisipasi.