Nov
13
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 13-11-2006

Dalam tahun-tahun kami menjalin persahabatan ada ekspresi-ekspresi yang dapat dengan mudah kami pahami bersama. Ekspresi-ekspresi itu menunjukkan persahabatan kami, mengingatkan ada sesuatu yang khusus di antara kami. Secara verbal, ada ungkapan-ungkapan atau rujukan-rujukan tertentu dalam perbincangan kami yang langsung mengingatkan kami berdua kepada peristiwa-peristiwa tertentu yang hanya dapat dipahami kami berdua. Secara fisik, ada bahasa-bahasa tubuh tertentu, senyuman, sentuhan, rangkulan, yang menunjukkan akrabnya hubungan kami. Senyuman yang berbeda dari senyuman orang lain. Sentuhan yang berbeda. Rangkulan yang memiliki makna lebih dari sekedar rangkulan.

Kemudian datanglah masa-masa yang buruk dan sangat buruk. Badai menerpa dengan sangat dahsyat. Tetapi hubungan itu terlalu berarti untuk dilalaikan begitu saja dan tidak mungkin juga badai itu dianggap tidak ada dan kami berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja sebab sesungguhnya keadaan memang sedang tidak baik-baik. Masalah yang ada harus dihadapi dan diselesaikan.

Tetapi, dalam masa-masa buruk itu, ketika kami bersama-sama di depan umum, ketika ada orang-orang lain di sekitar kami, ia tetap saja menunjukkan tanda-tanda persahabatan tadi. Saya jadi merasa muak. Saya merasa jijik. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia bisa begitu pandai bermanis-manis, berpura-pura di depan orang banyak, dan hanya ketika tidak ada orang banyak ia menunjukkan aslinya. Saya jadi bertanya-tanya, "Benarkah apa yang saya sebut ‘tanda-tanda persahabatan’ itu ada?" Atau, jangan-jangan itu semua hanyalah tanda-tanda yang tidak menandai apa pun? Jangan-jangan itu semua hanyalah ekspresi kosong tanpa ada yang diekspresikan? Sekedar menjaga penampilan di depan publik?

Bagaimana mungkin orang berpura-pura demikian rupa sehingga bisa bermanis ria di depan umum, sementara hubungan yang terjalin sesungguhnya tidak demikian? Dengan kedekatan dan keakraban yang telah terjalin sekian lama, bagaimana mungkin?

Setelah bulan demi bulan berlalu, akhirnya keadaan membaik. Ini saatnya mencari "kenormalan baru" dari hubungan yang ada, sebab pemulihan suatu hubungan tidak mungkin membawanya kembali ke "hubungan normal" yang semula sebab masalah yang ada telah membuat masing-masing pihak belajar dan tentunya juga membawa tingkat kedewasaan tertentu kepada hubungan itu. Dalam proses pencarian "kenormalan baru" inilah saya mendapati bahwa ternyata ekspresi persahabatan yang lama sudah tidak bisa dipercaya lagi.

Senyuman yang diberikan membuat saya bertanya, "Benarkah ini?", "Adakah sesuatu yang solid dan nyata di balik senyuman itu?" atau, jangan-jangan itu hanya penampilan saja? Ketika keramahan diberikan, ketika kata-kata yang manis dilontarkan, ketika pujian diberikan, semua itu masih membuat saya bertanya-tanya, "Benarkah ini?"

Rasanya, begitu sulit untuk kembali mempercayai bahwa di balik semua ekspresi itu ada persahabatan yang tulus.