Nov
17
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 17-11-2006

Apakah pemimpin dilahirkan atau dibuat? Apakah guru dilahirkan atau dibuat? Apakah memang ada orang-orang yang "dari sononya" dilahirkan untuk menjadi guru? Dan jika demikian, apakah lantas hanya mereka yang terlahir untuk menjadi guru yang kelak akan menjadi guru-guru terbaik? Atau, sebenarnya semua orang bisa menjadi guru? Lantas, kenapa ada begitu banyak guru yang bermasalah (di dalam segala pengertiannya)?

Saya percaya bahwa sebagaimana belajar dan mengajar adalah tuntutan yang harus dipenuhi umat manusia sebagai satu spesies yang berbudaya agar kebudayaannya bisa terus bertahan dan bahkan berkembang. Tanpa adanya kegiatan belajar dan mengajar, kebudayaan akan mengalami kemunduran, manusia akan kembali ke dalam masa purba. Kegiatan belajar dan mengajar inheren dalam kehidupan manusia dan inheren dalam fungsi-fungsi di dalam keluarga. Hanya ketika kebutuhan berkembanglah maka fungsi guru diambil dari fungsi-fungsi di dalam keluarga dan muncullah profesi guru.

Bagaimana menghasilkan guru yang optimal?

Guru dibentuk, bukan dicetak. Dan proses pembentukan itu pun bukan mekanis. Lembaga-lembaga pendidikan bertanggung jawab untuk mengondisikan (ya, mengondisikan) lingkungan kerja sebagai sebuah lingkungan akademik yang sehat sehingga masing-masing guru berada dan bertumbuh sebagai satu pribadi yang utuh dalam profesinya, sebagai satu pribadi dan sebagai seorang profesional.

Kenapa dikondisikan? Karena tidak mungkin kita membuat serangkaian peraturan dan lantas mengharapkan guru bertindak secara mekanis berdasarkan peraturan-peraturan itu. Natur dunia pendidikan tidak memungkinkan hal semacam itu terjadi, karena jiwa akademik dari sebuah komunitas pendidikan justru akan dilibas oleh pola pikir semacam itu. Agar sebuah iklim akademik tercipta, guru harus bebas dan dalam kebebasan itulah akan mengalir kreativitas dan ilmu pun berkembang. Maka dalam hal ini bisa dikatakan kita berbicara tentang guru saja, tetapi juga tentang akademisi secara umum.

Bagaimana mengondisikannya?

1. Waktu untuk merenung
Guru harus punya waktu untuk merenung. Bukan saja merenung di bus atau di rumah, tetapi di dalam jam yang dibayarkan kepadanya, di dalam jam kerjanya, guru tidak boleh hanya diharapkan untuk mengajar dan melakukan persiapan (yang biasanya dipersepsikan melulu sebagai upaya memenuhi kewajiban administratif). Tetapi yang sangat penting adalah dia harus punya waktu untuk merenung, untuk berefleksi, karena di dalam refleksi itulah seorang guru akan masuk ke dalam kedalaman jiwa dan ilmunya, meramunya dengan metode-metode yang telah dikuasainya, dan dari kedalaman itu akan memancar kualitas yang otentik.

2. Ruang kerja pribadi yang nyaman
Bukan berarti satu ruang yang tertutup dengan empat dinding atau tersekat-sekat dengan tiga partisi, tetapi cukuplah kalau guru memiliki meja kerjanya sendiri, tempat bukunya sendiri dan lokernya sendiri; bahkan kalau bisa komputernya sendiri. Ruang guru seyogianya tempat untuk bekerja, pusat pengembangan ilmu dan dari ruang guru itu seharusnya memancar kualitas ilmu yang menjadi karakteristik dan kebanggaan bagi lembaga pendidikan. Ruang guru bukan sekedar ruang-tunggu-mengajar dan tempat kongkow-kongkow. Memang ruang guru memiliki fungsi sosialnya sendiri, tetapi terlebih dari itu ruang guru harus menjadi pusat pengembangan profesionalisme guru.

3. Perpustakaan memadai
Ya, ini salah satu hambatan terbesar di Indonesia. Perpustakaan! Tapi apa maksudnya perpustakaan "yang memadai"? Untuk pengembangan ilmu yang baik, harus tersedia perpustakaan dengan koleksi yang cukup dan menyeluruh. Koleksinya bukan saja harus banyak, tetapi harus mencakup ruang lingkup yang luas dalam bidang yang didalami di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Koleksinya pun harus terus diperbarui, diremajakan sehingga terus-menerus tersedia buku-buku kontemporer dan jurnal-jurnal yang representatif terhadap pengembangan ilmu yang bersangkutan. Dan alangkah baiknya jika tersedia juga akses Internet kepada perpustakaan-perpustakaan besar dunia, sekurang-kurangnya yang mendalami bidang ilmu yang relevan. Tanpa perpustakaan yang memadai, lembaga pendidikan hanya akan berisi ilmu-ilmu yang sudah karatan dan tertinggal.

Itulah ketiga imperatif bagi guru yang optimal.

Mereka tidak berhenti pada dirinya sendiri, masing-masing akan membawa implikasinya sendiri. Tetapi baiklah kita memulai dari ketiga hal ini untuk menciptakan komunitas-komunitas akademik dan komunitas-komunitas akademisi yang sehat, yang bertumbuh dan memberikan kehidupan.

Nov
17
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 17-11-2006

Ada saatnya bermain. Ada saatnya bekerja. Di dalam diri setiap orang dewasa, tetap ada jiwa seorang anak. Bermain tetap adalah suatu kebutuhan. Orang butuh rekreasi, orang butuh penyegaran kembali dari kepenatan, orang butuh istirahat. Banyak orang di zaman ini yang nampaknya bekerja begitu keras sehingga istirahat bukan lagi suatu kebutuhan, tetapi sudah harus dijadikan proyek ketaatan. Ada juga orang-orang yang memiliki pekerjaan sesuai dengan hobinya, mereka hidup dari hobinya. Mereka ini adalah orang-orang yang sangat beruntung. Tetapi harus diingat bahwa dalam kondisi mereka yang demikian pun, ketika mereka mengerjakan hobi mereka itu untuk mendapatkan penghasilan, mereka pun tetap harus bekerja dengan sepenuh hati, hanya saja bedanya lebih mudah dan lebih alami bagi mereka untuk bekerja dengan sepenuh hati karena yang dikerjakan itu adalah hobi mereka sendiri.

Yang menyebalkan dan ada kalanya membuat muak, adalah orang-orang yang begitu menikmati bersenang-senang sehingga melalaikan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Ada orang-orang yang nampaknya begitu suka bersenang-senang hingga rela mengorbankan kualitas pekerjaan mereka demi kesenangan mereka. Orang-orang ini bekerja dengan segenap hati hanya pada saat mereka tidak memiliki kesempatan untuk bermain-main, ketika mereka berada di ambang tenggat waktu, ketika keadaan memojokkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak mempunyai pilihan lain selain bekerja. Tetapi apakah itu yang disebut segenap hati? Di bawah tekanan keterpaksaan, nampaknya sulit mengatakan suatu hal dikerjakan dengan "segenap hati".

Kita butuh olahraga, tetapi olahraga juga ada tempatnya. Olahraga ada proporsinya dalam hidup. Untuk apa menjaga tubuh tetap bugar sampai tua tanpa meninggalkan sesuatu yang berharga dan bertahan? Menjaga kebugaran tubuh adalah sarana, sebuah cara untuk berkarya dengan lebih baik lagi, berkarya dengan lebih efektif. Tetapi ketika menjaga kebugaran tubuh menjadi sebuah tujuan dan kebugaran itu tidak digunakan untuk berkarya dengan lebih efektif, untuk apa? Itu semua omong kosong!

Kita hidup sesuai panggilan. Kita memenuhi panggilan itu dengan segenap hati, segenap akal budi, dengan segenap kekuatan yang ada pada kita. Dengan segenap hati, akal budi dan kekuatan kita kita bekerja bagi Tuhan, di mana pun Ia menempatkan kita. Dan ketika kita memilih untuk mengerjakan panggilan itu dengan asal-asalan, dengan performa minimum, "yang penting jadi", "yang penting ada hasilnya", apakah itu bekerja? Apakah itu panggilan? Apakah itu bahkan layak disebut bekerja?

Di dalam diri setiap orang dewasa, tetap ada jiwa seorang anak. Tetapi ada kalanya jiwa itu adalah jiwa yang kekanak-kanakan. Dan seorang kanak-kanak tidak bisa dibebankan tanggung jawab yang berarti. Seorang kanak-kanak hidup untuk bermain. Lebih dari itu, ia tidak bisa. Itulah yang membedakan orang dewasa dari kanak-kanak: tahu kapan saatnya serius, kapan saatnya bermain; bisa serius dengan segenap hatinya, bisa juga bermain dengan segenap keseriusannya, tapi tidak mencampuradukkan keduanya.