Nov
10

4 Tahun Opus Dei (10 November 2002-2006)

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 10-11-2006

Luar biasa. Menakjubkan! Sungguh mengagumkan!

Genap empat tahun telah berlalu pada hari ini, Jumat, 10 November 2006 sejak pertemuan pertama KTB Opus Dei di RGK. Dalam empat tahun, apa yang bisa direfleksikan?

Ada masa-masa senang dan ada masa-masa sulit. Hari-hari pertama adalah hari-hari yang berat. Kami belum terbiasa satu sama lain, terkadang ada kata-kata yang terasa menyakitkan, padahal tidak dimaksudkan demikian. Proyek ketaatan berjalan lumayan baik di awalnya, walaupun lama-kelamaan semakin sulit menginternalisasikan disiplin ini, mungkin memang saya terlalu berbaik hati ketika itu sehingga beberapa kebiasaan yang sangat penting seperti melakukan persiapan KTB dan menghafal ayat, apalagi membaca buku, tetap sulit hingga hari ini.

Dalam bulan-bulan pertama, cukup banyak kebersamaan diadakan, bahkan hingga acara ke Puncak dalam bulan ke-2 KTB dilahirkan. Acara kebersamaan selalu menjadi sesuatu yang penting di Opus Dei walaupun terkadang juga menimbulkan pergumulan tentang pemanfaatan waktu kebersamaan itu dengan lebih efektif bagi saya dalam pembinaan anggota Opus Dei.

Kemudian datanglah hari-hari yang sulit, ketika kesibukan masing-masing aggota bertambah secara pesat. Kesibukan pelayanan di BP masing-masing, ditambah pula acara-acara KRSGK, menambah kesulitan pertemuan. Optimisme yang saya miliki di awal tahun kedua bahwa kami akan menghasilkan pembimbing-pembimbing baru di akhir tahun ke-2 serta KTB yang diselang-seling antara 2 buku (1 dari Perkantas sesuai kurikulum dan 1 lagi dari SAAT sebagai ekstrakurikuler tentang sejarah Gereja) ternyata harus diredam. Perjalanan cukup tertatih-tatih di masa itu sehingga buku dari SAAT pun diabaikan setelah 2-3 kali dipakai, walau materinya sebenarnya bagus.

Mendengar sharing anak-anak KTB di hari-hari terakhir ini, ada beberapa hal yang mengharukan. Melihat pertumbuhan pergumulan mereka, pertumbuhan iman mereka, bahkan kesadaran dan kegigihan untuk menjadi pembimbing-pembimbing KTB baru (padahal sekian tahun lalu mati-matian mereka menolak menjadi pembimbing) sungguh mengharukan dan menyenangkan.

Saya sendiri ternyata banyak sekali belajar, banyak sekali diubah, dan banyak sekali disokong di dalam pertumbuhan kerohanian melalui KTB ini. Ya, KTB bukan hanya untuk anak KTB, tetapi juga untuk pembimbingnya. Justru lebih banyak hal yang dipelajari dan lebih banyak pertumbuhan yang dialami setelah menjadi pembimbing KTB daripada ketika menjadi anak KTB, jadi memang tidak sepatutnya orang takut untuk ikut kelas TCPKK.

Minggu-minggu terakhir ini memang cukup sendu untuk Opus Dei. Setelah sekitar setahun terjadi konflik berkepanjangan serta hampir empat tahun dengan defisiensi yang sangat menyolok, kami harus mengurangi satu orang anggota, entah sampai kapan dan entah akan kembali menjadi berempat lagi. Menyedihkan, tetapi itu satu hal yang harus dilakukan. Memanjakan tidak akan menyelesaian masalah. Ketegasan dibutuhkan demi pertumbuhan. KTB ada untuk mendukung, tetapi dukungan itu harus memberdayakan dan mendewasakan, bukannya membuat orang menjadi kecanduan.

Di hari ini, Jumat, 10 November 2006, saya menengok ke belakang dan melihat dengan hati yang terharu sekaligus sangat bersyukur betapa Tuhan telah memimpin dan membentuk kami semua. "Seperti apa wajah kekristenan di Indonesia yang kalian harapkan 20, 30 tahun dari sekarang?" demikian satu pertanyaan yang pernah saya utarakan kepada Alfin, Antony dan Stevanus. Jangan pernah duduk berdiam diri dan berpangku tangan. Bertindaklah. Kita memerlukan orang-orang yang berani berkomitmen, berani mengambil risiko, menyediakan diri dan waktu untuk membimbing sebuah KTB, untuk membuat perubahan dalam diri orang-orang, untuk berkata bersama Rs. Paulus, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (1Kor. 11:1).

Di hari ini, Jumat, 10 November 2006, saya menatap ke depan dan berharap kelak saya akan melihat pembimbing-pembimbing KTB yang baik dan yang terus bertumbuh dari kelompok ini. Saya juga berharap ada pertumbuhan yang terjadi secara luar biasa melampaui apa yang bisa dipikirkan atau bahkan diduga oleh pikiran kita. Bahkan ketika manusia sudah putus asa, semua orang sudah angkat tangan, Tuhan masih bisa bertindak dengan cara yang mengherankan, membawa pertumbuhan dan menjamin Gereja-Nya akan terus bertumbuh dan menjadi besar dan menaklukkan alam maut.

Opus Dei. Karya Allah. Bagi Allah, bagi Gereja-Nya dan bagi dunia.



1 Comment So Far

Mittu on 11 December, 2008 at 9:35 am #
    

Blogwalking ..
nice posting i found here,.. thanks for the info


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: