It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Ada saatnya bermain. Ada saatnya bekerja. Di dalam diri setiap orang dewasa, tetap ada jiwa seorang anak. Bermain tetap adalah suatu kebutuhan. Orang butuh rekreasi, orang butuh penyegaran kembali dari kepenatan, orang butuh istirahat. Banyak orang di zaman ini yang nampaknya bekerja begitu keras sehingga istirahat bukan lagi suatu kebutuhan, tetapi sudah harus dijadikan proyek ketaatan. Ada juga orang-orang yang memiliki pekerjaan sesuai dengan hobinya, mereka hidup dari hobinya. Mereka ini adalah orang-orang yang sangat beruntung. Tetapi harus diingat bahwa dalam kondisi mereka yang demikian pun, ketika mereka mengerjakan hobi mereka itu untuk mendapatkan penghasilan, mereka pun tetap harus bekerja dengan sepenuh hati, hanya saja bedanya lebih mudah dan lebih alami bagi mereka untuk bekerja dengan sepenuh hati karena yang dikerjakan itu adalah hobi mereka sendiri.
Yang menyebalkan dan ada kalanya membuat muak, adalah orang-orang yang begitu menikmati bersenang-senang sehingga melalaikan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Ada orang-orang yang nampaknya begitu suka bersenang-senang hingga rela mengorbankan kualitas pekerjaan mereka demi kesenangan mereka. Orang-orang ini bekerja dengan segenap hati hanya pada saat mereka tidak memiliki kesempatan untuk bermain-main, ketika mereka berada di ambang tenggat waktu, ketika keadaan memojokkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka tidak mempunyai pilihan lain selain bekerja. Tetapi apakah itu yang disebut segenap hati? Di bawah tekanan keterpaksaan, nampaknya sulit mengatakan suatu hal dikerjakan dengan "segenap hati".
Kita butuh olahraga, tetapi olahraga juga ada tempatnya. Olahraga ada proporsinya dalam hidup. Untuk apa menjaga tubuh tetap bugar sampai tua tanpa meninggalkan sesuatu yang berharga dan bertahan? Menjaga kebugaran tubuh adalah sarana, sebuah cara untuk berkarya dengan lebih baik lagi, berkarya dengan lebih efektif. Tetapi ketika menjaga kebugaran tubuh menjadi sebuah tujuan dan kebugaran itu tidak digunakan untuk berkarya dengan lebih efektif, untuk apa? Itu semua omong kosong!
Kita hidup sesuai panggilan. Kita memenuhi panggilan itu dengan segenap hati, segenap akal budi, dengan segenap kekuatan yang ada pada kita. Dengan segenap hati, akal budi dan kekuatan kita kita bekerja bagi Tuhan, di mana pun Ia menempatkan kita. Dan ketika kita memilih untuk mengerjakan panggilan itu dengan asal-asalan, dengan performa minimum, "yang penting jadi", "yang penting ada hasilnya", apakah itu bekerja? Apakah itu panggilan? Apakah itu bahkan layak disebut bekerja?
Di dalam diri setiap orang dewasa, tetap ada jiwa seorang anak. Tetapi ada kalanya jiwa itu adalah jiwa yang kekanak-kanakan. Dan seorang kanak-kanak tidak bisa dibebankan tanggung jawab yang berarti. Seorang kanak-kanak hidup untuk bermain. Lebih dari itu, ia tidak bisa. Itulah yang membedakan orang dewasa dari kanak-kanak: tahu kapan saatnya serius, kapan saatnya bermain; bisa serius dengan segenap hatinya, bisa juga bermain dengan segenap keseriusannya, tapi tidak mencampuradukkan keduanya.