Nov
10

Berdamai dengan Semua Orang? Tak Akan!

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 10-11-2006

Beberapa kali dalam waktu-waktu belakangan ini orang mempertanyakan sikap saya yang menurut mereka terlalu tegas, terlalu keras, bahkan cenderung kasar terhadap orang-orang tertentu. Sikap saya dipertanyakan atas dasar iman dan moral. Saya dipandang terlalu mudah memvonis, menjatuhkan hukuman, bahkan menstereotipekan orang. Apakah itu sejalan dengan iman saya? Demikian tanya orang. Seorang sahabat bahkan bertanya, "Bukankah kita seharusnya hidup berdamai dengan semua orang?" (bnd. Rm. 12:18).

Inilah jawaban saya.

Di masa-masa sekolah saya, saya pernah punya kawan-kawan yang cukup akrab yang bisa saya katakan juga cukup bejat. Mereka ini adalah orang-orang yang suka menonton film porno, suka mengumpat dan memaki, seringkali menggunakan kata-kata yang kasar. Tetapi saya bisa bergaul dengan mereka. Di sisi lain, orang-orang yang berseberangan dengan saya seringkali adalah orang-orang yang dalam skala kebejatan, jauh lebih baik daripada kawan-kawan saya tersebut. Tapi kenapa sikap saya berbeda? Kelompok yang pertama adalah orang-orang yang tidak mengenal Kebenaran, mereka hidup di luar Kristus, secara gamblang itu mereka nyatakan, maka wajar-wajar saja kalau sikap mereka demikian. Tetapi kelompok yang kedua berbeda, mereka adalah orang-orang yang menurut pengakuan adalah orang-orang Kristen, mereka mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi ternyata hidup mereka tidak sinkron dengan pengakuan mereka. Dalam hal ini saya berpegang pada 1Kor. 5:9-13.

Kita hidup di dalam dunia yang berdosa. Tidak mungkin kita tidak bergaul dengan orang-orang yang di luar Kristus, mereka adalah bagian dari keseharian kita, mereka adalah juga bagian dari realita dunia ini, sedapat mungkin kita perlu bergaul dengan sebanyak mungkin orang, sebab hanya dengan demikianlah keadaan kita sebagai garam dan terang bagi dunia ini dapat menjadi nyata. Terhadap orang yang berada di luar Kristus, kita tidak punya hak untuk menghakimi, kita tidak bisa mengatakan mereka harus begini dan harus begitu sebab memang seluruh pandangan dan kerangka berpikir kita akan sangat berbeda. Tetapi bagi orang-orang yang berada di dalam Kristus, walaupun itu hanya menurut pengakuannya, kita harus tegas.

Pendirian Rs. Paulus jelas: kalau orang Kristen bergaul dengan seorang Kristen-bejat orang-orang di luar Gereja akan mengatakan, "O, rupanya orang Kristen itu begitu  hidupnya." Kebejatan itu akan menjadi sesuatu yang normal dan diterima seiring dengan berjalannya waktu; kita akan menjadi terbiasa dan tidak lagi jengah dengan kebejatan yang muncul dan menggeragoti integritas dan kehormatan Gereja. Gereja harus tetap menjaga dirinya dari kebejatan-kebejatan di dalam anggota-anggotanya. Kekotoran itu harus dibersihkan, dan memang Gereja memiliki alat untuk itu. Setelah berulang kali ditegur dan tidak juga menunjukkan tanda-tanda penyesalan apalagi pertobatan, Gereja seyogianya melakukan ekskomunikasi terhadap anggota itu. Gereja bukan kumpulan orang-orang suci; Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa, tetapi orang-orang berdosa itu bukanlah orang-orang berdosa yang senang dan menikmati berdiam di dalam keberdosaannya, sebaliknya mereka adalah orang-orang berdosa yang menyadari sebegitu kelamnya keberdosaan mereka sehingga mereka tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri, mereka butuh campur tangan Tuhan dalam membereskan dosa mereka. Orang yang terus senang berdiam di dalam dosa tidak mungkin tetap menjadi bagian dari Gereja.

Demikianlah pendirian saya. Dengan siapapun, pergaulan perlu diupayakan. Tetapi di dalam Gereja, harus ada standar yang lebih tinggi. Gereja harus berani menegur. Gereja harus berani melakukan tindakan disiplin. Gereja bahkan harus berani melakukan ekskomunikasi. Atau, gereja-gereja akan kehilangan kewibawaan dan kenabiannya.

Hal yang sama berlaku bagi setiap orang Kristen. Kita harus berani berdisiplin dan melakukan tindakan disiplin. Jaga pergaulan. Jaga kehormatan dan nama baik Tuhan dalam seluruh kehidupan kita, mulai dari pemikiran hingga tingkah laku kita, bahkan juga dalam pergaulan kita.

Kemuliaan hanya bagi Tuhan selama-lamanya! Dan bagaimana mungkin kemuliaan Tuhan dinyatakan melalui kita kalau kita lebih mengutamakan perdamaian dengan semua orang, termasuk mereka yang merusak nama baik-Nya dari dalam Gereja?



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: