It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Nampaknya ini bagaikan kutukan yang sulit sekali diakhiri dan diputus efeknya. Setelah titik-titik puncak, momen-momen yang tinggi dalam kehidupan saya, selalu datang titik-titik terendah, saat-saat ketika segalanya nampak menjadi begitu kelam dan membosankan. Hanya sesaat semua yang baik itu bertahan. Ketika saya pulang dan masuk kamar, beristirahat, semua keramaian dan keindahan yang baru saja terjadi membuat keadaan yang kini dihadapi menjadi terasa begitu sepi dan mencekam serta menakutkan.
Kejatuhan saya yang terdalam selalu terjadi segera - ya, segera - sesudah keberhasilan saya yang tertinggi.
Kebutuhan terhadap teman, kebutuhan untuk diperhatikan, didengarkan, ditemani, terkadang menjadi begitu tinggi dan ketika itu tidak terpenuhi hati menjadi bagaikan tercekam - tidak ada yang bisa ditelepon, diajak jalan bareng, diajak makan bareng, diajak ngobrol, atau sekedar ada bersama-sama, entah bermain apa … dan kebosanan yang mencekam serta perasaan sendiri tidak pernah membawa dampak yang baik.
Ada kalanya mungkin lebih baik hidup datar-datar saja sehingga saya tidak perlu menghadapi nadir-nadir itu. Tetapi, bukankah itu yang membuat hidup lebih bermakna? Mengatasi keberhasilan tertinggi tetapi juga mengelola kejatuhan terdalam sehingga hidup dapat berjalan dengan baik sementara kita sendiri bertambah dewasa karena keberhasilan mengalahkan diri sendiri.
Zenit dan nadir kita perlukan dalam kehidupan. Tetapi pendewasaan yang lebih besar akan kita alami jika kita berhasil mengalahkan keduanya dan menjaga kehidupan tetap seimbang walau zenit dan nadir harus kita lalui.
Seorang sahabat bertanya kepada rekan sesama guru, "Bagaimana rasanya menjadi guru, tidak menjadi orang biasa lagi?"
Saya sempat terhenyak oleh pertanyaan itu. Dalam hitungan bulan, ia sudah bisa meresapi apa yang bagi saya butuh waktu bertahun-tahun. Ya, menjadi guru bukan pekerjaan gampangan. Bukan hanya soal pukul 7 sampai 15, Senin sampai Jumat. Tapi di luar jam-jam itu pun, di mana pun kita berada, ada orang-orang yang akan melihat kita sebagai gurunya. Perjumpaan di luar jam sekolah adalah hal yang sangat lazim terjadi dan di situlah pendidikan yang utuh terjadi, ketika murid melihat kita dalam seluruh keberadaan dan kehidupan kita, menjadi contoh dan teladan dalam seluruh kehidupan kita.
Menjadi guru yang baik berarti juga menjadi orang yang berbagi kehidupan dengan murid-muridnya, menjadi orang yang senantiasa siap menjadi konselor, menjadi penasihat bagi kehidupan mereka, menyediakan satu pilar dan patokan, standar dan batu tapal bagi kehidupan mereka.
Ketika melihat kondisi dunia pendidikan yang menyedihkan, berbagai tantangan dan kondisi membuat kita berkata "Tidak mungkin …", tapi pada akhirnya toh disingkirkan sehingga yang tidak mungkin menjadi mungkin. Menjadi guru adalah panggilan hidup. Kalau bukan karena panggilan, orang tidak akan bertahan. Apalagi pria. Apalagi di zaman konsumeris ini. Apalagi … masih banyak "apalagi" lainnya. Tetapi Tuhan bekerja dan Ia melakukannya dengan cara yang luar biasa. Ia terus menyediakan orang-orang yang berkomitmen untuk menjadi guru - orang-orang yang bukan lagi buangan karena tidak diterima di mana-mana, tetapi orang-orang yang memang pada waktu-Nya Ia panggil untuk menjadi guru. Dan orang yang Ia panggil Ia perlengkapi.
Kalau tren ini terus berlanjut, kita boleh berbesar hati bahwa suatu era baru akan segera tiba, bahwa kita kini berada di adven dari suatu era keemasan yang hanya Tuhan yang tahu seberapa gemilang nantinya.