Dec
17

Masa 18 bulan terakhir sungguh merupakan masa yang penuh dengan naik dan turun seperti roller coaster. Saya mendapati diri saya 18 bulan yang lalu sebagai seorang idealis … kemudian menjadi pesimis. Pada 1 Juli 2006, saya merasa kembali berada di puncak; saya berharap itu adalah satu hari yang kelak akan menjadi satu tonggak sejarah, saat ketika sebuah manifesto dibacakan, sebuah penjabaran sistematis pertama yang dikemukakan di depan umum terhadap visi yang ada. Tetapi ternyata masa itu hanya berlangsung sekitar 1 jam … bahkan mungkin kurang. Seperti roller coaster, semua segera meluncur turun. Rangkaian peristiwa yang terjadi sesudah itu membuat saya akhirnya menjadi apatis.

Sempat ada beberapa cercah harapan, tetapi pada akhirnya saya berkesimpulan: tidak ada lagi gunanya berupaya, tidak ada lagi gunanya berhadap di unit ini. Semua sudah pupus, setiap cercah harapan yang membangkitkan semangat ternyata berlalu dan terbukti kebohongan belaka. Janji-janji tidak pernah ditepati. Perilaku lama berulang kembali. Kejahatan menjadi bagian intrinsik dari sistem.

Kini saya menjadi seorang fatalis. Memang, saya masih menunggu bulan Desember berlalu sebab masih ada satu janji yang seharusnya ditepati di bulan ini tanpa menyebutkan tanggal, tetapi nampaknya janji itu pun tidak akan dipenuhi. Dan jadilah saya seorang fatalis: apa yang terjadi, terjadilah. Dalam masa 18 bulan ini, saya sudah belajar untuk berkata, "Saya tidak peduli!" dan sekarang saya bahkan bisa berkata dengan lebih tenang, "Saya tidak peduli." Dengan membuat tanda seru menjadi titik, rasanya saya sudah menjadi fatalis sejati.

Kini saatnya memikirkan ke mana melangkah. Tetapi bersamaan dengan itu ada satu tugas yang cukup menantang: bagaimana melangkah tidak hanya sendirian, tetapi menyelamatkan orang-orang lain yang mengerti betul apa panggilan mereka, orang-orang yang jiwanya di sini, orang-orang yang bisa diandalkan menjadi harapan bagi masa depan … ya, bagaimana caranya menyelamatkan mereka dari kapal yang segera akan tenggelam ini.

Dec
17
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 17-12-2006

Politik kantor. Benar-benar dahsyat. Hari ini seorang kawan bercerita dan berbagi berbagai masalah dan pergumulannya. Saya teringat kepada pengalaman saya dalam kurun waktu hampir empat tahun ini. Sejak pertama kali saya masuk ke tempat kerja saya, saya sekonyong-konyong mendapati diri saya nyaris selalu berada di tengah sorotan. Bukan saja dari murid, tetapi juga dari guru-guru. Sungguh mengherankan bagaimana kata-kata yang saya ucapkan di dalam ruang kelas dalam waktu yang sangat singkat bisa terdengar oleh orang-orang di pusat, oleh orang-orang yayasan. Bukan cuma kata-kata saya, bahkan tindak-tanduk saya pun dalam waktu singkat terinformasikan kepada mereka. Entah ini harus dipandang dengan rasa kesal dan curiga atau dengan rasa syukur. Memang, rasanya sebagian besar (kalau bukan semua) itu dilatarbelakangi oleh rasa iri hati dan keinginan untuk menjatuhkan. Tetapi kenyataan berbicara lain karena dalam setiap kasus citra saya dikuatkan dan dipertegas dan saya pun terus melaju.

Kembali ke sang kawan. "Kalau Bapak tidak di sini lagi, bagaimana dengan saya? Saya tinggal sendirian." Satu orang. Dua orang. Tiga orang. Ternyata saya tidak sendirian.

Memang sulit. Mendisiplinkan adalah tindakan yang sangat sulit. Baik mendisiplinkan murid maupun (apalagi) mendisiplinkan diri sendiri. Banyak orang tidak berani menjadi tidak populer. Banyak orang walaupun memiliki kesempatan-kesempatan yang penting dalam kehidupan seorang manusia tetapi ternyata berjiwa kerdil, pengecut, dan tidak berani menjadi tidak populer demi kebaikan murid-murid itu. Popularitas lebih penting daripada pembentukan karakter murid. Dan malanglah orang-orang yang masih mempunyai hati nurani dan kesadaran yang lumayan jernih, bahwa kita ada untuk mendidik dan untuk membentuk, bukan untuk menjadi idola.

Saya dihadapkan kepada suatu dilema. Di satu sisi, di hari-hari ini saya sedang menunggu tanda-tanda penting yang, menurut perjanjian, akan diberikan di bulan Desember. Kalau tanda-tanda itu diberikan dalam bentuk tindakan nyata, saya akan mempertimbangkan kembali keberadaan saya di sini. Tetapi kalau tidak, saya akan bergerak tanpa segan. Di sisi lain, ada juga orang-orang yang walaupun memiliki kelemahan-kelemahannya sendiri, adalah orang-orang yang punya panggilan yang jelas, berani mendisiplinkan baik diri sendiri maupun orang lain. Bagaimana ini? Akankah saya meninggalkan mereka? Akankah saya biarkan lembaga ini jatuh ke dalam kekelaman yang lebih pekat, lebih kelam dan lebih dahsyat?

Orang tidak mungkin netral. Entah dia baik atau dia jahat. Orang baik adalah musuh orang jahat dan orang jahat adalah musuh orang baik. Di tangan siapakah kendali berada? Ke mana kita akan melangkah?

Kalau orang jahat berada di balik kemudi dan memenuhi ruang penasihat, tidak perlu diragukan lagi kita sedang melangkah ke tempat yang jahat. Dan kalau itu terjadi, saatnya mulai melakukan evakuasi terhadap orang-orang terbaik yang ada … dan saatnya kita sendiri bersiap meneruskan hidup, memenuhi panggilan kita masing-masing, menuju tempat di mana orang baik-baik dihargai dan memegang kendali.

Dec
17
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 17-12-2006

Tahun 2006 adalah tahun yang cukup suram. Entah bagaimana saya akan melabeli tahun ini kelak. Tetapi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, saya merasa gejolak di dalam kehidupan saya memiliki amplitudo yang lebih-kurang sama, hanya saja frekuensi naik-turunnya yang agak lebih fluktuatif.

Di tengah gelombang perubahan dan pergolakan yang ada, saya sangat bersyukur bahwa Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya dengan cara yang luar biasa. Dia mengirimkan seorang sahabat, seorang harapan bagi masa depan, seorang yang memiliki panggilan dan visi yang jelas, komitmen yang luar biasa serta kemampuan beradaptasi yang istimewa. Ketika semua harapan terasa pupus, ternyata obor itu bisa diestafetkan dan perjuangan pun bisa dilanjutkan, entah di tempat ini, entah di tempat lain; entah tetap satu, entah menjadi banyak; entah dalam waktu dekat, entah masih lama.

Ketika Tuhan mengirimkan orang-orang yang diutus-Nya, maka harapan pun bersinar kembali. Saya diingatkan untuk terus bergantung kepada Tuhan dan mengandalkan Dia saja, bukan yang lain.

Tuhan adalah sumber pengharapan, tetapi Dia juga menggunakan orang-orang yang taat dan dengar-dengaran kepada panggilan-Nya. Begitulah Ia memperlengkapi hamba-Nya dan Gereja-Nya bagi pekerjaan-Nya.

Dec
17
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 17-12-2006

When I say that I don’t care
It means I’ll do it by the book
When I say that I don’t care
I really give none more than my least

No more fear for the future
And blame for the past
I’ll just give my least
When I say that I don’t care

Apa artinya ketika saya mengatakan, "Saya tidak peduli"? Artinya saya hanya akan memberikan kinerja saya sebatas yang dituntut oleh buku, bahkan kalau bisa kurang dari itu. Tidak ada lagi pekerjaan di luar jam kantor. Tidak ada lagi kreativitas dan ide gratis. Tidak perlu lagi takut untuk melangkah dan tidak perlu lagi mencari-cari kesalahan dari masa lalu sebab semuanya sudah tidak ada gunanya. Mau dievaluasi? Toh evaluasi juga tidak akan mengubah apa-apa. Hasil dvaluasi hanya akan memperpanjang notulen rapat tanpa menimbulkan suatu perubahan yang nyata.

Ketika saya berkata, "Saya tidak peduli", maka artinya saya hanya tinggal menunggu waktu untuk menutup lembaran ini dalam kehidupan saya dan bersiap-siap membuka lembaran yang baru.

Dec
17
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 17-12-2006

Tua atau muda, sarjana atau anak kecil, ternyata sama saja. Orang lebih suka tampil daripada mempersiapkan diri baik-baik. Ketika saatnya persiapan, ketika saatnya berlatih, sulit sekali mengumpulkan orang-orang. Tetapi ketika tampil, wah, begitu bersemangatnya mereka! Kasus-kasus seperti ini ternyata bukan cuma terjadi pada diri anak kecil, tetapi orang-orang "dewasa" (secara biologis) pun demikian.

Malu rasanya waktu ditanya, "Pak, latihan tidak sih? Kok jelek sekali?" Sebenarnya latihan sih, tapi apa mau dikata, yang latihan hanya 5 orang, yang maju 15 orang!

Apa itu yang disebut pelayanan? Apa itu yang disebut persembahan? Itu tidak lebih dari eksibisionisme! Setiap orang yang hanya ingin tampil - entah sebagai MC, pemusik, pengajar, pembicara, pelatih, atau apa pun itu yang tampil di depan umum - tapi tidak mau meluangkan waktu benar-benar untuk berlatih dengan sungguh-sungguh, itu bukan pelayanan, itu bukan sikap yang profesional, itu sekedar pelampiasan dan pemuasan eksibisionisme.

Bukan cuma orang-orangnya yang perlu ditindak dan dididik ulang, tetapi sistem dan pemimpin yang mengizinkan hal-hal semacam itu terjadi pun harus dibenahi. Orang-orang sakit tidak sepatutnya diberikan paparan berlebihan (over exposure) terhadap hal-hal yang membuat penyakit mereka semakin parah. Mereka harus disembuhkan dulu, baru diberikan kesempatan lebih jauh.

Dec
17
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 17-12-2006

Itu adalah satu pertanyaan yang menghentakkan dan sekaligus menggembirakan, ketika seorang anggota KTB saya bertanya balik kepada saya. Seperti biasa, saya menanyakan kebiasaan mereka bersaat teduh dan berdoa, tetapi tidak pernah terjadi dalam tahun-thaun sebelumnya mereka bertanya bali. Bahwa saat teduh dan doa saya lancar adalah satu hal yang nampaknya mereka asumsikan.

Maka pada hari itu, ketika satu orang bertanya balik, saya bertanya, "Apanya?" Saya sama sekali tidak menduga ia akan bertanya soal saat teduh dan doa saya. "Yeee … ya, bagaimana dengan saat teduh dan doa Koko sendiri?" itu responnya.

Saya menyadari bahwa ternyata kesibukan lebih berbahaya daripada masa-masa sulit. Dalam masa-masa sulit kita bisa semakin tekun dalam doa dan semakin dalam bersaat teduh. Tetapi ketika sibuk, semua menjadi terancam. Belakangan ini memang nampaknya kualitas kehidupan rohani saya menurun.

Masa-masa liburan di bulan desember ini harus dimanfaatkan sbaik mungkin untuk beristirahat, memulihkan stamina rohani serta bereksperimen kembali dengan kehidupan rohani, nampaknya saya akan memindahkan waktu saat teduh ke malam hari dan mencoba pedoman saat teduh "Every Day with Jesus" tulisan Selwyn Hughes.

Mudah-mudahan masa liburan ini juga menjadi satu masa revitalisasi yang memberikan kesegaran baru yang memancar terus-menerus.