It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Di hari-hari ini, acara-acara bertajuk "Countdown" ("Menghitung Mundur") mulai marak di mana-mana, baik di berbagai stasiun TV maupun diskotek. Nampak jelas betapa kita suka sekali menantikan berlalunya sesuatu yang sudah usang seraya menyambutnya datangnya sesuatu yang baru, yang segar, yang akan menggantikan yang usang. Tetapi apa maknanya itu semua? Tahun yang kali ini kita sambut kedatangannya, nantinya juga akan kita rayakan berlalunya. Dan setiap tahun semua itu berulang, kita mengharapkan lagi dan lagi dan lagi sesuatu yang baru, yang lebih baik.
Tapi adakah penghitungan mundur itu membawa kita kepada suatu pertumbuhan? Adakah dampak positifnya yang nyata bagi kehidupan kita, bagi sikap dan bagi karakter kita masing-masing? Atau, itu hanya sekedar ritual yang didasarkan atas konsensus bersama, suatu ritual yang juga diadakan sekedar untuk merayakan berlalunya satu malam yang sebenarnya juga sama seperti malam-malam lainnya seandainya tidak karena adanya konsensus tentang tahun baru itu? Apakah pada akhirnya perayaan tahun baru dan ritual penghitungan mundurnya tidak lebih dari sekedar torehan aksen yang berbeda - tetapi rutin - di tengah keramaian kanvas kehidupan kita?
Bisakah kita membuat ritual ini menjadi sesuatu yang bermakna lebih?
Banyak orang stres di kota besar seperti Jakarta. Salah satu penyebabnya adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan lalu lintas. Dalam setahun terakhir ini saya melihat ada begitu banyak orang yang menjadi stres di jalan, mudah sekali mengumbar emosinya di jalan raya yang memang sudah semrawut. Tekanan kehidupan yang begitu besar nampaknya dibuat bertambah besar oleh kesemrawutan lalu lintas, ketidaktertiban sesama pengemudi, ditambah lagi sikap polisi lalu lintas beserta petugas DLLAJR yang kita semau ketahui seperti apa.
Hari ini saya menghabiskan waktu sangat banyak di jalan raya - hampir 6 jam. Di antaranya adalah satu perjalanan yang biasa saya tempuh dalam waktu 45 menit, tapi menjadi 3,5 jam pada hari ini. Dalam waktu-waktu itu saya berpikir, apa yang bisa kita dapatkan dari keadaan seperti ini? Jelas kesemrawutan lalu lintas, kemacetan di mana-mana, adalah kondisi yang tidak menyenangkan bagi siapa pun. Tetapi ketika kenyataannya kita terjebak dalam situasi yang demikian, apa yang bisa kita lakukan? Saya pikir saya cukup beruntung karena bisa memilih pulang ke rumah yang 30-an km jauhnya atau ke kos yang hanya tinggal menyeberang jalan dari tempat kerja. Tapi kalau kita terjebak, adakah sesuatu yang memiliki kegunaan yang nyata yang bisa kita raih?
Saya pikir ada satu hal yang sangat penting yang bisa kita dapatkan: pembentukan karakter. Ketika kita berada di balik kemudi, apalagi di tengah situasi lalu lintas yang kacau-balau, di situlah karakter kita dibentuk dan diuji. Akankah kita menjadi seperti sejumlah supir kendaraan umum yang beringas dan menunjukkan bahwa ternyata di belakang kemudi, pendidikan dan latar belakang keluarga tidak lagi memiliki perbedaan yang jelas dan signifikan. Sarjana atau lulusan SD menjadi sama. Orang dari keluarga terpandang dan dari keluarga yang hancur menjadi sama. Itukah yang kita kehendaki? Tetapi di belakang kemudi, kita bisa mengasah dan menunjukkan kesabaran kita, pengertian kita terhadap kesusahan dan beban orang lain (khususnya para supir angkutan umum itu dengan tekanan setoran yang tinggi, [sewa] penumpang yang susah, sedangkan istri dan anak menunggu di rumah, entah mau diberi makan apa), sehingga kita pun menjadi manusia yang lebih utuh.
Mengemudi kendaraan di tempat yang penuh dengan pencobaan bisa kita balikkan menjadi kesempatan belajar dan bertumbuh dengan cara yang luar biasa. Pilihan lainnya adalah, kita sendiri menjadi tertekan dan bahkan mungkin gila, walau dalam kadar yang minim. Kita mungkin dengan mudah menertawakan pernyataan itu, tetapi bahwa banyak orang tertekan dan rada-raga "gila" adalah fenomena yang sangat nyata di jalan raya - orang yang mengklakson seenaknya, tidak mau mengerti bahwa di depan ada hambatan, memaki-maki semaunya tanpa jelas apa maksud dan tujuannya, orang-orang yang neurotik kenyataannya banyak kita jumpai di jalan raya.
Pilihannya ada pada kita masing-masing: ketika berada di belakang kemudi, akankah kita belajar dan bertumbuh atau tunduk kepada tekanan keadaan dan mengumbar napsu kita?
Times and again, when I browse my friends’ blogs, I find word and phrases I had previously used in my blogs. Often incidentally, I find some very familiar content in my friends’ blogs. It’s really nice to know that people do read my writings, agree with them, and even greater: explore the ideas themselves and build their own thoughts on it, thus setting it to a new level.
That is the joy of blogging - to explore together: disseminate an idea and see it grow overtime, hopefully it can make a true difference and make our humanity a little bit better than before; to know that my life do have some importance in this life.
I had my first driving license when I was 25 - the age when most of my friends have had their second, almost their third. And if that isn’t strange enough, my little sister had her first when she was 17! She, just like most of my friends, had her first one paid by our parents. While me, because I already had a job, I paid my first driving license using my own money - in fact, were it not so, it seems I still won’t have any license by now.
All these times, though I got really mad by those facts, I force myself to believe that they care too much about me that they become so worried about my safety on the road. But days come when I actually had some incidents on the road …. At those times, as it is true for this day, I can no longer force myself to believe that.
Instead, I’ve been asking myself, "What if they love the car so much that they’re worried about it - and not me?"
I see those moments as moments of truth, times when their gesture, reaction and expression give just the signal you don’t expect to come from them.