It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Di penghujung tahun ini, di tengah-tengah waktu libur yang menyenangkan ini, saya hendak mengambil waktu sejenak untuk memikirkan satu topik: apa yang akan saya lakukan dengan hidup saya seandainya saya tahun bahwa usia saya hanya tinggal tiga bulan lagi? Apakah saya akan menjalani hidup saya dengan cara yang berbeda? Atau, semuanya sama saja?
Kenapa saya sampai memikirkan topik semacam itu? Kita setiap tahun menghitung mundur waktu menuju peralihan tahun, bahkan ketika kita menunggu datangnya peralihan milenium, penghitungan mundur itu dilakukan secara sangat besar-besaran, sampai-sampai orang membangun monumen di sana-sini, jam elektronik yang menghitung mundur, bukan hanya dari hitungan detik seperti biasanya, bahkan dari hitungan tahun, ya, bertahun-tahun sebelum peralihan milenium, sudah ada jam di beberapa tempat yang menghitung mundur datangnya milenium yang baru! Padahal itu semua hanya ilusi belaka, sebuah konsensus yang membuat satu malam menjadi malam yang berbeda dibandingkan malam-malam lainnya, sampai-sampai National Geographic (?) mengeluarkan sejumlah uang yang sangat besar nilainya untuk membeli satu pulau di Pasifik, sekedar untuk memvideokan berkas cahaya Matahari pertama dari milenium yang baru, padahal apatah bedanya berkas itu dari berkas-berkas lainnya? Orang pun tidak akan dapat membedakan video itu dari video lain yang dibuat pada hari yang berbeda. Tapi kenyataan yang kita lihat di Piramida Besar (Giza, Mesir), Times Square (New York, AS), Kubah Milenium (Greenwich, Inggris), juga di pusat-pusat peziarahan keagamaan seperti Roma, Yerusalem, Stonehenge, Machu Picchu, semua itu menunjukkan minat yang sangat besar terhadap ilusi komunal ini.
Tapi ironisnya, untuk satu peralihan waktu yang mutlak, yaitu peralihan kita dari kehidupan yang fana kepada kehidupan yang kekal, justru banyak orang abaikan. Berbeda dengan peralihan tahun yang sekedar konsensus bersama, peralihan kita dari kehidupan fana ke kehidupan kekal adalah suatu fakta dan orang justru jarang sekali memperhatikannya. Padahal lagi, peralihan tahun akan berulang banyak kali dalam hidup kita, sedangkan peralihan kehidupan hanya akan berlangsung sekali sehingga tentunya perlu disiapkan dengan lebih matang, lebih seksama, dan dengan refleksi yang lebih mendalam.
Seandainya usia saya hanya tinggal tiga bulan lagi, akankah saya menjalaninya dengan cara yang berbeda?
Kalau pada hari ini saya meninggal, saya pikir saya dapat dengan cukup yakin mengatakan bahwa saya telah memberikan yang terbaik dari yang saya bisa kepada lingkungan saya - seluas dan sedalam yang Tuhan telah percayakan kepada saya. Tidak ada penyesalan. Saya telah melakukannya dengan cara yang saya yakini sebagai yang terbaik.
Tetapi kalau tiga bulan lagi, tentu akan ada beberapa perubahan yang saya lakukan. Selama ini saya menjalani hidup seperti seekor gurita dengan kaki-kakinya yang banyak, tetapi tidak satu pun berpijak, semuanya mengambang-ambang. Saya menghidupi berbagai peran di berbagai lembaga tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar "berpijak", didalam secara serius. Berbagai peran itu: SMK Kristen Ketapang (guru Matematika, koordinator kurikulum, pembimbing persekutuan siswa), SMA Kristen Ketapang (guru Matematika), Pemuda Gereja Kristus Ketapang (sekretaris; koordinator misi; selain terlibat juga di bidang publikasi & informasi, tema, home training), Magister Pendidikan UPH (mahasiswa, moderator), Persekutuan Pembaca Alkitab (aktivis), pembimbing KTB (Opus Dei, Passion), belum lagi sejumlah peran minor dan beberapa tugas baru yang menanti di tahun 2007.
O ya, jadi teringat, itu satu hal yang juga menyebabkan tahun 2007 nampaknya cukup menakutkan. Masih ada sekurang-kurangnya empat peran lagi yang ditawarkan kepada saya di 2007 dan dua di antaranya sepertinya tidak bisa ditolak, sedangkan yang dua lagi kemungkinan besar akan saya tolak. Masalah yang sama selalu berulang: saya menjadi begitu sibuk sehingga kehidupan pribadi menjadi terbengkalai, lalu saya berkomitmen untuk mengurangi berbagai kegiatan, memangkas di sana-sini, tetapi begitu ada waktu luang sedikit saja, saya langsung mudah menerima ini dan itu lagi sehingga saya berakhir dengan keadaan lebih sibuk daripada semula. Risiko terbesarnya adalah ketidakmampuan kehidupan pribadi dan rohani saya untuk menopang semua kesibukan itu. Dan jika itu yang terjadi, betapa berbahayanya!
Jadi, apa yang akan saya lakukan kalau hidup saya tinggal tiga bulan lagi?
Pertama-tama saya mungkin akan meninggalkan banyak peran di atas dan berkonsentrasi pada peran-peran di mana saya bisa mengkonsentrasikan diri secara mendalam (!) kepada sejumlah kecil orang. Konsentrasi dan pengaruh yang dimiliki terhadap sejumlah kecil orang, asalkan mendalam, jauh, sangat jauh lebih berarti daripada pengaruh kepada sejumlah besar orang tetapi hanya superfisial. Ketika hidup saya, nilai-nilai yang saya anut, pemikiran dan teladan hidup saya menjadi berkat secara fundamental bagi sedikit orang, menguatkan dan memberdayakan orang-orang untuk lebih baik memenuhi panggilan dan maksud Tuhan atas kehidupan mereka, tentu itu lebih memuaskan dan menyenangkan serta berarti daripada jika itu terjadi bagi banyak orang tetapi hanya superfisial - paling lama dalam beberapa tahun yang superfisial itu akan terkikis habis dan tidak akan berbuah.
KTB akan menjadi fokus yang utama. Kemudian beberapa hubungan mentor juga akan menjadi satu hal yang sangat penting untuk dipupuk agar setelah kematian saya, semua karya, pemikiran dan idealisme saya bisa dilanjutkan dengan satu semangat, dinamika dan dorongan yang baru sehingga pada akhirnya mencapai ketinggian yang baru dan bahkan bisa diwujudnyatakan walaupun tanpa kehadiran saya. Blog juga adalah satu hal yang kelihatannya akan menjadi lebih penting, saya akan mencoba menguraikan segalanya dengan lebih menyeluruh, lebih sistematis, dan lebih praktis agar "my thoughts, my passion, my life" benar-benar menjadi suatu karya Allah (opus Dei) dalam mengubah dunia ini, mengubah kehidupan orang-orang di dalamnya, agar umat manusia bergerak ke arah yang lebih baik.
Ketika kematian menghadang, semakin nampak jelas apa yang berarti dan apa yang tidak berarti, apa yang akan bertahan dan apa yang akan binasa, apa yang akan kita bawa dan apa yang akan kita tinggalkan. Sebagaimana dalam Fil. 1:21 Rs. Paulus menulis, "… bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."
Vivere Christus est et mori lucrum.
Kita tidak akan siap - dan tidak akan bisa - menjalani hidup dengan segla kepenuhan, kelimpahan dan kekayaan maknanya sampai kita siap menghadapi kematian.
Ketika kita menghitung mundur detik-detik menjelang tahun baru - 10, 9, 8, 7, … - ingatlah, kita pun sebenarnya sedang menghitung mundur waktu kehidupan kita. Siapkah kita menghadapinya?
Kesepian menjadi satu tema yang semakin akut - ada kalanya, di tengah keramaian, hiruk-pikuk dan kesibukan yang terus-menerus, saya seperti tergulung dalam suatu roda besar … tetapi masalahnya dengan kinerja yang semakin menurun. Kurangnya fokus dan banyaknya permasalahan yang mencabik-cabik dari sana-sini membuat saya seperti gurita yang berkaki banyak, tetapi semua kakinya hanya melayang-layang, tidak ada yang berpijak dengan mantap di satu tempat. Konsekuensi lainnya adalah saya menjadi seringkali mempertanyakan nilai-nilai persahabatan. Di tengah-tengah kesibukan dan tuntutan terhadap kinerja, hubungan pribadi menjadi terancam pula, kalau tidak dengan sengaja dibenahi dan dijaga baik-baik.
Hubungan yang kelihatannya telah gagal membuat saya bertanya-tanya, sejauh mana kekuatan suatu hubungan? Seberapa lama ia bisa diuji dan setelah berapa lama bisa dikatakan sudah mantap? Atau sebenarnya kelanggengan suatu hubungan adalah perjuangan seumur hidup, sebuah proses yang berkesinambungan dan bukan suatu keadaan yang statis dan stagnan?
Ketika malam datang dan semua orang pulang ke rumahnya masing-masing, siapa yang bisa ditelepon untuk dimintai bantuan? Siapa yang bisa ditelepon untuk sekedar berbincang-bincang? Ketika tuntutan kehidupan dan pekerjaan menuntut begitu banyak dari diri kita, pada akhirnya kita tidak bisa mengingkari bahwa persahabatan yang baik adalah satu faktor yang tidak bisa diabaikan. Terlebih penting, bahkan sangat penting, kita menjaga hubungan dengan Tuhan karena hanya Dia yang bisa dan akan selalu ada bersama dengan kita, kapan pun dan di mana pun kita membutuhkan seorang sahabat - Ia selalu ada bersama kita.
Ketika kita meniti karier, mencapai posisi yang semakin tinggi baik di perusahaan maupun di tengah-tengah masyarakat, menjadi orang yang semakin terpandang, kita harus mengimbanginya dengan hubungan-hubungan yang sehat, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama - persahabatan yang baik adalah imperatif kalau kita mau bertumbuh sebagai manusia yang utuh dan seimbang. Tanpa itu, keberhasilan kita di depan publik akan menyebabkan kehidupan pribadi kita menjadi keropos dan semakin lama semakin sulit menopang kehidupan publik kita.
Jika itu yang terjadi, maka pengalaman kesendirian dan kesepian di malam yang mencekam hanya akan diperparah karena pengalaman itu akan terus berlanjut di siang hari, dengan skala, intensitas dan durasi yang jauh lebih dahsyat. Dan di tengah itu semua, apa yang bisa orang lakukan? Gelimang keberhasilan di luar, tetapi kopong dan hampa di dalam, ke mana itu akan membawa kita?
Ketika di malam hari terasa begitu sendiri, begitu sepi, rasanya tidak ada orang yang bisa menemani dan menjangkau ke dalam kehampaan jiwa, baiklah kita belajar untuk bergantung kepada Tuhan, mempercayakan hidup kepada-Nya, menjalin hubungan-hubungan persahabatan yang baik, agar seluruh hidup kita memuliakan Tuhan, bukan hanya permukaannya, tetapi benar-benar memiliki fondasi yang solid, masif dan kokoh.
Dalam setahun, mungkin hanya sekitar tiga puluh jam saya menonton TV. Maka saat-saat semacam hari-hari ini juga menjadi langka. Tetapi ketika saya pulang, terasa dengan sangat jelas bagaimana TV bisa mengubah gaya hidup saya dengan cara yang luar biasa.
Ketika duduk di sofa di depan TV, posisi tubuh, aktivitas otak dan seluruh postur saya hampir secara otomatis terkondisikan menjadi sangat santai. Di depan TV, kebutuhan terhadap mobilitas yang tinggi, aktivitas yang luar biasa cepat, serta akses terhadap informasi dengan mudah terpenuhi - sementara saya sendiri hanya duduk-duduk di situ. Di depan TV, saya bisa tetap merasa (!) terhubung ke dunia luas sementara sebenarnya tidak melakukan apa pun selain memencet-mencet remote control tanpa tentu tujuannya, saluran mana dan acara semacam apa yang ingin ditonton.
TV ternyata adalah hiburan yang amat menyenangkan (ini satu hal yang nyaris saya lupakan), walaupun punya risiko tinggi untuk membuat orang kecanduan sehingga akhirnya otaknya terlalu banyak dorman dan bukan saja produktivitasnya melainkan jangan-jangan kapasitasnya pun bisa menurun.
TV bisa menjadi media hiburan, tetapi juga bisa menjadi opium yang membuat kita lupa dunia nyata, membantu kita membius diri, untuk sesaat melayang dari kesadaran kita. Masalahnya adalah bagaimana kita memanfaatkan TV dengan bijaksana: memilih saluran yang tepat, program yang tepat, waktu dan durasi yang tepat.
Bertahun-tahun yang lalu, jika saya aktif di suatu organisasi sebagai sekretaris, maka saya akan mengumpulkan biodata anggota lainnya. Dalam biodata itu antara lain kolom yang pasti ada adalah: nama, alamat rumah, nomor telepon rumah. Itu jugalah salah satu hal yang pertama saya lakukan ketika mulai memimpin KTB Opus Dei empat tahun silam. Baru-baru ini saya menyadari bahwa ternyata sikap dan pola pikir saya sudah berubah. Setelah hampir setahun memimpin KTB Passion, saya menyadari saya tidak tahu di mana rumah kebanyakan dari antara mereka dan saya bahkan tidak tahu nomor telepon rumah mereka.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, data yang penting bagi saya adalah alamat email dan nomor HP. Setelah dipikir-pikir, nampaknya itu berimbas dari gaya hidup bermobilitas tinggi yang saya jalani belakangan ini. Dari menggunakan desktop, sekarang saya menggunakan laptop. Dari satu tempat tinggal, kini ada dua. Saya juga nyaris tidak pernah lagi menggunakan telepon rumah; kini, HP adalah alat komunikasi standar. Ketika mengisi formulir data pribadi, satu kolom yang selalu menimbulkan kesulitan adalah alamat: alamat mana yang akan saya berikan? Apakah rumah, kos atau kantor? Bahkan rumah pun tidak lagi terasa rumah. Bagi saya, sekarang sepertinya tidak ada lagi istilah ‘home sick’; yang mana yang saya mau sebut ‘home’ saja tidak jelas, bagaimana mau ‘home sick’?
Gaya hidup yang demikian membuat saya menjadi orang yang bermobilitas tinggi dan praktis tanpa rumah. Tetapi yang parah, saya juga cenderung memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Rumah dan telepon rumah bukan lagi menjadi suatu hal yang penting dan melekat pada seseorang seperti halnya alamat email dan HP. Walaupun menelepon ke rumah lebih murah, tetapi menelepon ke HP lebih nyaman karena pasti yang mengangkat orang yang dituju dan tidak perlu lagi menunggu-nunggu orang itu dipanggil, apalagi kalau ternyata dia sedang tidak ada di tempat.
Dunia sedang berubah. Gaya hidup dan cara orang berkomunikasi pun berubah dengan drastis. Keberadaan secara fisik tidak lagi terlalu penting dibandingkan keberadaan secara virtual. "Bisa ditemui" bukanlah suatu hal yang begitu penting, lebih penting jika seseorang "bisa dihubungi", entah via email entah via HP. Maka hal-hal yang sebelumnya mungkin nampak remeh seperti men-charge baterai HP pada waktunya, memastikan pulsa cukup dan memeriksa email secara berkala menjadi hal yang semakin penting. Jika bisa bertemu di ruang virtual dengan chatting, itu lebih baik lagi.
Tetapi justru dalam saat-saat seperti inilah kehadiran teman yang baik, seorang sahabat sejati, menjadi semakin dibutuhkan, untuk sekedar mendengarkan keluh kesah, untuk hadir secara fisik, untuk sekedar ada bersama kita melalui masa-masa yang sulit. Bahkan salah satu alasan saya akhirnya berpindah operator selular dari Telkomsel ke XL adalah sulitnya mendapatkan sinyal di kamar saya sehingga saya juga kesulitan berhubungan dengan teman-teman.
Di dalam era yang semakin impersonal ini, ketika cara kita berkomunikasi pun semakin impersonal, maka konektivitas yang dibutuhkan setiap orang (bnd. Nokia, "Connecting people") pun semakin tinggi. Pada akhirnya kita tetap tidak mungkin mengingkari kemanusiaan kita. Teknologi berkembang, gaya hidup berubah, tetapi manusia tetap sangat butuh "stay connected", kita sangat butuh untuk tetap berhubungan dengan orang lain.
Akhirnya, malam ini, waktu yang telah lama saya nanti-nantikan tiba juga. Selama satu semester yang sibuk di perkuliahan M.Pd. UPH dan penuh gejolak di SKK, sulit sekali menemukan waktu untuk berdiam diri dan menulis. Kini, waktu yang dinanti-nantikan itu pun tiba.
Selama beberapa bulan belakangan ini jelas terlihat betapa sedikitnya blog yang saya tulis. Kalaupun ada, sebagian besar hanyalah blog yang dibuat secara spontan tanpa pemikiran panjang-lebar. Blog terakhir sebelum ini misalnya, ditulis dalam keadaan mengantuk berat sebelum akhirnya saya tertidur sedangkan koneksi dial-up saya masih tersambung. Untungnya ada mencabut kabel teleponnya ketika saya sedang tertidur dengan sangat pulasnya.
Memang, bagi saya liburan kali ini tidak benar-benar liburan karena banyaknya pekerjaan dari kantor yang harus dikerjakan di rumah - tanpa lembur, tanpa ekstra apa pun, bahkan mungkin tanpa ucapan "terima kasih" - yah, katanya kan "pelayanan". Tetapi sekurang-kurangnya di sela-sela masa liburan ini saya berupaya sebaik mungkin untuk meluangkan beberapa hari untuk sekedar berdiam diri, merenung, membaca dan menulis - bagi saya, itulah salah satu cara menikmati hidup. Tetapi keheningan dan kesendirian telah memiliki makna yang berbeda bagi saya sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu; kini, saya jauh lebih membutuhkan teman-teman, tetapi biarlah ini menjadi satu topik tersendiri.
Satu hal lagi yang saya rasakan di hari-hari belakangan ini adalah kebutuhan untuk tidur yang luaaar biasa besar. Rasanya mengantuuuk terus. Mungkin memang perlu menyeimbangkan waktu tidur di hari-hari ini. Kalau saja tidak ada pekerjaan kantor yang harus dibawa pulang itu, saya pasti punya jauh lebih banyak waktu untuk menikmati kebersamaan dengan kasur dan bantal saya.
Liburan masih cukup panjang. Kini saatnya memulainya dengan menikmati hari-hari ini: mulai lagi menuliskan blog, membaca, merenung, berdiam diri.