It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
On the eve of 24 December 2006, I took part in a Christmas Eve service at GKI Maleo Raya. Taking part in a service at GKI always gives a blessing uniquely different - they always have well-thought, creative and communicative liturgy. That Christmas Eve, a part of the liturgy was Our Father’s prayer, as explored by St. Francis of Assisi (bold by me):
O OUR most holy FATHER,
Our Creator, Redeemer, Consoler, and Savior
WHO ARE IN HEAVEN:
In the angels and in the saints,
Enlightening them to love, because You, Lord, are light
Inflaming them to love, because You, Lord, are love
Dwelling in them and filling them with happiness,
because You, Lord, are the Supreme Good,
the Eternal Good
from Whom comes all good
without Whom there is no good
HALLOWED BE YOUR NAME:
May our knowledge of You become ever clearer
That we may know the breadth of Your blessings
the length of Your promises
the height of Your majesty
the depths of Your judgments
YOUR KINGDOM COME:
So that You may rule in us through Your grace
and enable us to come to Your kingdom
where thee is an unclouded vision of You
a perfect love of You
a blessed companionship with You
an eternal enjoyment of You
YOUR WILL BE DONE ON EARTH AS IT IS IN HEAVEN:
That we may love you with our whole heart by always thinking of You
with our whole soul by always desiring You
with our whole mind by directing all our
intentions to You and by seeking Your
glory in everything
and with our whole strength by spending all our
energies and affections
of soul and body
in the service of Your love
and of nothing else
and may we love our neighbors as ourselves
by drawing them all with our whole strength to Your love
by rejoicing in the good fortunes of others as well as our own
and by sympathizing with the misfortunes of others
and by giving offense to no one
GIVE US THIS DAY:
in memory and understanding and reverence
of the love which our Lord Jesus Christ had for us
and of those things which He said and did and suffered for us
OUR DAILY BREAD
Your own Beloved Son, our Lord Jesus Christ
AND FORGIVE US OUR TRESPASSES:
Through Your ineffable mercy
through the power of the Passion of Your Beloved Son
together with the merits and intercession of the Blessed Virgin
Mary and all Your chosen ones
AS WE FORGIVE THOSE WHO TRESPASS AGAINST US:
And whatever we do not forgive perfectly,
do you, Lord, enable us to forgive to the full
so that we may truly love our enemies
and fervently intercede for them before You
returning no one evil for evil
and striving to help everyone in You
AND LEAD US NOT INTO TEMPTATION
Hidden or obvious
Sudden or persistent
BUT DELIVER US FROM EVIL
Past, present and to come.
Glory to the Father and to the Son and to the Holy Spirit
As it was in the beginning, is now, and will be forever. Amen.
By that time, I was spiritually nose-diving. In my heart, I was screaming for a rejuvenated passion, a burning desire, a fresh spirit to grow, to enjoy the Lord’s presence with a renewed heart. It must had been weeks - at the least. I was hoping that these days of the year would inject into my spirit a strength to go on, to revive, to be back well and alive.
Two weeks earlier, Rev. Paulus Kurnia in his sermon mentioned about "Every Day with Jesus" by Selwyn Hughes as a good quiet time guide. I had ordered it, though not sure whether it would arrive on time, before 1 January. Hopefully it would be helpful to me.
Yet another week before, I made a joint commitment with a brother to read the Bible thoroughly in 2007, according to an outline by R.C. Sproul. Many other such things happened in those weeks.
So from all those "such things", come the Christmas resolution:
I pray that God would touch my heart to have a burning desire to enjoy the Lord more and more. Starting gradually from 24 December and effectively on 1 January, I would:
- Switch my quiet time from morning to evening, thus I should stop doing whatever I will be doing an hour before my planned sleep-time. By default, I should stop at 10.00 p.m. to do these things below.
- Have quiet time using "Every Day with Jesus" by Selwyn Hughes. Take notes. Write a spiritual journal. Don’t use minimum nor maximum length, just write.
- Read the Bible in a year using R.C. Sproul’s guide.
- Make Scripture passage index based on the Bible reading above, using Garry Friesen’s method.
- Memorise verses using Garry Friesen’s method.
Hari raya adalah sebuah perayaan keagamaan, saat-saat di sepanjang tahun di mana kita berhenti dari berbagai kesibukan pekerjaan kita untuk kembali meresapi makna-makna keberagamaan yang kita anut, untuk memberikan makna transendental kepada aktivitas sehari-hari kita yang begitu padat dan berkesinambungan seakan tanpa henti. Dalam hari-hari raya, kita mengorientasikan kembali kehidupan kita dalam suatu kerangka kehidupan beragama sekedar untuk mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu memiliki suatu makna yang akan bertahan; sekaligus juga mengingatkan kita bahwa kalau kita hanya berupaya dengan diri kita sendiri, tanpa mengandalkan Tuhan, semua itu akan sia-sia saja.
Di dalam hari-hari raya, kita beristirahat dari kepenatan bekerja dan kita masuk ke dalam perayaan - maka disebutlah hari-hari itu sebagai hari raya. Perayaan adalah juga suatu kebutuhan manusia. Tidak mungkin manusia terus-menerus bekerja dan bekerja dan bekerja. Ada saatnya kita harus bersukaria, merajut kembali hubungan-hubungan di antara sesama manusia yang untuk beberapa saat lamanya telah terabaikan karena kesibukan kita. Di dalam perayaan-perayaan kita, kita menjaga dan menguatkan hubungan-hubungan kekerabatan dan sosial yang membuat kemanusiaan kita menjadi lebih utuh.
Jadi, dalam hari raya ada dua elemen penting: elemen transendental dan elemen sosial.
Kehidupan beragama kita menuntut suatu komunitas sedangkan kehidupan komunal kita juga membawa kita kepada suatu kehidupan beragama. Di dalam hari raya, keduanya bertemu dan saling melengkapi.
Tetapi gaya hidup kita di masa kini ternyata juga menambahkan satu elemen penting bagi hari raya. Kita sekarang terjebak di dalam perputaran roda kehidupan dengan dinamika yang begitu cepat, terkadang bahkan bisa menuntut seluruh hidup dan waktu kita di dalamnya, sehingga kita seringkali tidak punya waktu untuk diri kita sendiri. Waktu untuk sendiri tidak ada lagi. Waktu untuk tidur didiskon habis-habisan. Relasi bisnis dijaga mati-matian, tetapi hubungan sosial pribadi semakin sulit dirangkai.
Mobilitas yang begitu tinggi menyebabkan kita bekerja kapan saja dan di mana saja. Rumah seringkali hanya menjadi tempat numpang tidur. Ruang tamu tidak pernah dipakai karena tidak ada lagi waktu untuk menjamu tamu. Ruang makan juga demikian, jarang dipakai karena langka sekali ada kesempatan satu keluarga bisa berkumpul bersama dan makan bersama.
Maka tidak heran kalau hari ini, ketika kita berhari raya, hari raya semakin menjadi sinonim dengan hari libur belaka: menjadi suatu momen bagi kita untuk beristirahat, membayar utang waktu tidur, memulihkan diri dari kepenatan hidup yang luar biasa. Kita berkumpul bersama sahabat dan handai-taulan, tetapi makna-makna keberagamaan itu semakin luntur.
Tiga aspek hari raya: agama, sosial, pribadi. Bagaimana Anda memaknai dan menghabiskan hari raya Anda? Agenda yang Anda miliki di hari raya bisa menjadi cerminan kesehatan dan keseimbangan hidup Anda sehari-hari.
Saya bersyukur tidak jadi menonton "Open Season" di bioskop, pasti merasa rugi sekali kalau waktu itu menontonnya. Durasinya hanya sekitar 70 menit dan filmnya banyak berisi adegan yang tidak senonoh seperti beruang yang mengacungkan jari tengah, pakaian dalam yang dipakai bermain-main oleh para binatang, juga banyak kata makian serta umpatan yang diucapkan baik oleh karakter hewan maupun manusia di dalamnya.
Bukan cuma itu, adegan-adegan yang lucunya pun tidak terlalu banyak dan tidak terlalu lucu. Film ini juga banyak mengandung kekejaman, kekerasan dan kebencian. Walaupun untuk orang-orang dewasa muatan itu tidak terlalu berarti, tapi untuk anak kecil nampaknya bisa jadi pengaruh negatif yang berarti.
Jadi, kesimpulannya: mengecewakan dan tidak cocok untuk anak kecil.
Di saat Natal, kita di Indonesia seringkali mengucapkan "Merry Christmas!" alih-alih "Selamat Natal!" Kenapa? Apakah karena lebih singkat? Atau lebih bergaya? Atau …? "Merry Christmas" secara harfiah berarti Natal yang meriah, Natal yang ceria. Tetapi pertanyaan saya, "Should Christmas be merry?"
Natal yang pertama sama sekali bukan Natal yang meriah. Natal pertama adalah Natal yang penuh dengan kesusahan, penderitaan, pergumulan, walaupun Allah juga pasti menyertai Yusuf dan Maria dan memberikan kepada mereka damai sejahtera serta pengharapan yang istimewa melalui masa-masa yang sulit.
Pergumulan Yusuf dan Maria banyak sekali melibatkan konteks sosial mereka. Kehamilan seorang perawan, seorang perempuan yang belum menikah, adalah obyek pergunjingan besar. Bahkan hingga Yesus besar pun di dalam Injil Yohanes masih dicatat orang-orang mencemoohnya sebagai anak haram (Yoh. 8:33). Untuk menerima kehadiran bayi Yesus di dalam kehidupan mereka, Yusuf dan Maria mengorbankan kehidupan sosial mereka, mengorbankan reputasi serta nama baik mereka. Memang bagi Maria ada penghiburan dari pujian Elisabet. Sepupunya yang juga sedang mengandung bayi yang kemudian dikenal sebagai Yohanes Pembaptis menyebutnya sebagai wanita yang "terpuji di antara segala wanita". Tetapi berapa tahun lagi baru dia bisa mengalami kemuliaan itu? Bahkan dalam tiga abad pertama, Gereja masih harus melalui banyak cobaan berat, dianggap sebagai sekte Yahudi, kemudian sebagai agama ilegal, komunitas yang tertindas dan ketika akhirnya tiba waktunya bahwa menjadi orang Kristen berarti menjadi orang terhormat, Maria sudah lama meninggal dan bersama dengan Tuhannya. Di dalam hidupnya Maria tidak sempat menikmati kemuliaan yang besar seperti yang sekarang kita berikan kepada beliau.
Begitu pula dengan Yusuf yang digelari "seorang yang tulus hati" (Mat. 1:19). Gelar itu tidak didapat dengan mudah. Hanya orang-orang yang benar-benar berintegritas tinggi dalam kehidupannya sehari-hari akan digelari sebagai orang yang tulus hati. Tetapi kalau dia menikahi seorang perempuan yang telah mengandung di luar pernikahan, apakah gelar itu tetap akan melekat padanya? Dia akan menjadi orang yang bermasalah. Kehidupannya tidak lagi "sempurna" di hadapan manusia! Dia mungkin akan dicemooh orang!
Ketika hari ini kita merayakan Natal dengan mudah kita bersukaria dan bergembira karena kita mengetahui sang bayi ini membawa keselamatan bagi kita. Dialah Sang Juruselamat. Tetapi bagaimana dengan Yusuf dan Maria? Mereka belum mengetahui dan belum melihat apa yang kita ketahui dan kita lihat sekarang! Dibutuhkan iman yang luar biasa untuk menerima bayi Yesus dalam kehidupan mereka, tidak seperti kita. Bagi kita, menerima bayi Yesus berarti menerima kehidupan kekal, berpindah dari maut ke dalam hidup. Tetapi bagi mereka? Menerima bayi Yesus bagi Yusuf dan Maria berarti harus rela kehilangan reputasi, kehidupan sosial, menjadi cibiran banyak orang, dicerca, dihina, dibuang dari pergaulan, bahkan Maria harus rela bahwa "suatu pedang akan menembus jiwa"-nya. Tetapi toh Maria berkata, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk. 1:38).
Ketika hari ini kita bisa bersukaria karena Natal, justru karena Natal yang samalah Yusuf dan Maria justru harus menderita. Maka kalau hari ini kita bisa mengatakan, "Merry Christmas", itu bukan karena Natal harus menjadi Natal yang meriah. Natal bisa menjadi Natal yang meriah karena Natal yang pertama adalah Natal yang penuh dengan penderitaan, pengorbanan, penyerahan diri yang penuh dan tulus.
Ketika Allah memutuskan untuk menjadi manusia, menjadi Juruselamat kita, Dia tidak membiarkan orang-orang hanya berdiri dari kejauhan dan menjadi penonton. Terlalu mudah bagi kita sekedar menjadi penonton, tetapi Dia juga mengajak kita terlibat, terlibat di dalam penderitaan-Nya, ikut meneladani Dia di dalam penderitaan-Nya. Pertama-tama Dia mengajak Maria, kemudian Yusuf. Mereka meneladani Dia, memberikan semua yang mereka punya - status, kehormatan, harta benda, waktu, kenyamanan hidup bahkan seluruh kehidupan mereka - dan sejak itu banyak orang telah rela memberikan status, harta, kenyamanan hidup, kebebasan dan bahkan nyawa mereka demi Sang Bayi yang juga sudah memberikan segalanya untuk kita.
Maka ketika kita menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, kita bisa dengan kesadaran penuh bergembira dan bersukacita pada hari Natal ini. Tetapi ingat: kalau kita sungguh-sungguh mengikut Dia, Allah tidak akan membiarkan kita berdiri dari jauh dan menonton; tidak bisa tidak, kita harus datang mendekat, bertelut di palungan-Nya, menyerahkan semua yang ada pada kita - status, kehormatan, harta benda, waktu, kenyamanan hidup bahkan seluruh kehidupan kita - dan meletakkannya di palungan-Nya.
Orang Kristen tidak mungkin hanya berdiri dan menonton dari jauh. Kita harus datang mendekat, bertelut dan menyerahkan semua yang ada pada kita. Berkorban, seperti Allah sendiri dan Yusuf dan Maria, yang berkata, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu".
Bagaimana dengan Anda? Apakah engkau hanya penonton, atau Allah sudah menjamah hati Anda untuk turut terlibat di dalam penderitaan-Nya, memberikan semua yang ada pada Anda seperti Dia juga sudah memberikan semua yang ada pada-Nya? Bisakah Anda berkata, "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu"?
Ketika Anda bisa berkata demikian, barulah Anda dapat menghayati kenapa kita mengatakan, "Merry Christmas!"
Ada satu hal yang aneh dalam Natal: kita merayakan kelahiran seorang besar dalam sejarah umat manusia, tetapi kita merayakan Dia sebagai seorang bayi. Mana ada pahlawan besar lainnya yang - walaupun hari kelahirannya dirayakan - tetapi diingat sebagai seorang bayi? Kenapa bayi? Kenapa kita tidak mengingat dia sebagai seorang dewasa?
Contoh ekstrem di sisi lain adalah Abraham Lincoln yang hampir seumur hidupnya tidak pernah memelihara jenggot. Tetapi suatu ketika seorang anak kecil menulis surat kepada dia, sang presiden, bahwa dia akan tampak lebih ganteng kalau berjenggot. Maka ia pun memelihara jenggot. Tiga bulan kemudian, ia tewas ditembak orang. Tetapi sejak saat itu ia selalu dikenang sebagai seorang yang berjenggot. Orang mengingat dia dalam postur terbaiknya, bukan dalam postur-postur sebelumnya. Apalagi bayi!
Tetapi kenapa kita merayakan kelahiran Yesus ini sebagai bayi?
Ketika Allah memutuskan untuk berkurban, Dia datang menjadi manusia. Allah yang begitu mulia, besar, mahakuasa dan kudus, menjadi manusia yang tidak dipedulikan orang, menjadi bayi yang begitu kecil.
Dia yang dengan Firman-Nya menciptakan langit dan Bumi menjadi bayi yang hanya bisa menangis.
Dia yang menopang seluruh ciptaan, mengatur panas-hujan dan menyediakan makanan untuk seluruh umat manusia kini harus bergantung kepada air susu ibunya.
Dia yang tidak bisa melihat dosa kini berada di antara manusia yang berdosa.
Dia yang mahakuasa menjadi bayi yang begitu lemah.
Maka kita merayakan Yesus sebagai sang bayi karena di dalam tubuh bayi itulah kita melihat pengurbanan Allah yang luar biasa, karena dengan menjadi bayi berarti Dia telah memberikan semuanya untuk umat manusia. Di dalam figur sang bayi-lah Allah berbicara kepada kita, mengundang kita untuk meneladani-Nya, memberikan semua yang ada pada kita, rela melepaskan semuanya, demi Dia yang telah terlebih dulu melepaskan semua yang ada pada-Nya agar kita selamat.
Ketika satu babak dalam perjalanan karier saya nampaknya hampir berakhir, saya melihat perjalanan yang begitu lucu. Pada awalnya saya merasa bagaikan ujung tombak dalam banyak hal yang kami lakukan. Keterlibatan saya begitu aktif dan begitu menonjol. Dalam berbagai bidang saya merambah tetapi memang itu semua didukung oleh rapat. Saya jarang sekali bertindak dan meluncurkan suatu prosedur/formulir tanpa terlebih dulu disetujui oleh rapat.
Tetapi ternyata ada orang-orang yang tidak suka dan ketika kami diserang, saya dijadikan tameng. Kalau ada apa-apa, yang salah ya saya. Rapat tidak bertanggung jawab. Tim tidak mengetahui apa yang saya perbuat. Yang paling menyakitkan, ketika satu kali saya keluar kota, semua kesepakatan yang telah ada diabaikan dan saya dikatakan telah berjalan sendiri, tanpa melibatkan orang-orang lain. Pada awalnya saya ingin membantu di bidang-bidang tertentu dan setelah semuanya berjalan lancar, sistem itu secara keseluruhan telah mapan, maka saya siap mengembalikannya kepada yang empunya. Tetapi sesaat saja saya meninggalkan pengawasan atas satu bidang, semua aturan langsung diabaikan dan bahkan terkadang seluruh sub-sistem itu dianggap tidak ada dan sama sekali tidak dikerjakan.
Pada akhirnya, datanglah babak yang penghabisan: ketika saya dipandang terlalu progresif, terlalu meritokratis (!) dan terlalu disiplin (!). Rasanya saya ingin tertawa terbahak-bahak. Penilaian macam apa pula itu? Terlalu meritokratis? Terlalu disiplin? Ya sudahlah, sekarang saya hanya menikmati bulan-bulan terakhir saya. Biarlah saya dijadikan sapi perah. Tetapi satu hal yang harus disadari: sistem ini dibangun dengan orang-orang di dalamnya. Sistem ini bukan mesin. Orang-orang di dalamnya menopang semua yang ada. Kalau orang-orang itu berhenti menopang dan dengan serentak mereka melakukannya, sistem ini akan segera rubuh.
Ketika meritokrasi dan disiplin tidak lagi dihargai, ketika orang-orang yang menopang sistem dikecewakan dan dilukai secara sistematis, apa lagi yang bisa diharapkan? Hanya tinggal menunggu waktu sebelum semua yang keropos itu terpapar dan seluruh struktur akan roboh menimpa semua yang masih tinggal di dalamnya.
Tahun 2006 adalah tahun yang penuh dengan gejolak. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang cukup stabil, dalam banyak aspek kehidupanku terjadi perubahan-perubahan yang berarti dan beberapa perubahan bahkan melibatkan pergulatan yang tidak ringan. Berikut adalah kilas balik 2006 dalam kehidupanku.
Karier. Naik-turunnya pergulatan dalam karier adalah yang paling seru. Kalau saja aku tidak tidak terlalu peduli, tidak mau terlalu ambil pusing, semuanya tentu akan berjalan dengan jauh lebih mulus dan aku pun tidak perlu pusing-pusing dengan berbagai permasalahan, kemelut dan bencana yang ada. Tetapi kenyatannya, tidak bisa begitu. Januari hingga Juni 2006 merupakan masa-masa "normal", yaitu ketika konflik-konflik yang ada nampaknya telah bisa teratasi dengan baik, walaupun hal-hal yang fundamental sama sekali tidak berani disentuh. Tanggal 1 Juli 2006 adalah hari puncak, suatu hari yang luar biasa dalam kehidupanku dan juga dalam sejarah lembaga.
Pada hari Sabtu, tanggal 1 Juli 2006 untuk pertama kalinya visi lembaga dieksposisi secara sistematis dan menyeluruh, untuk pertama kalinya kegiatan sehari-hari yang terjadi di akar rumput dikaitkan dengan visi dan banyak hal kecil seharusnya menjadi jelas bahwa semua itu berkaitan erat juga dengan visi. Kenyataannya, bagi hampir semua orang dan praktis dalam semua kegiatan yang mereka lakukan, visi lembaga tidak lebih dari omong kosong belaka. Visi itu adalah sesuatu yang tidak relevan dan tidak perlu dipedulikan sama sekali. Visi tidak lebih dari hiasan dinding belaka.
Tetapi tanggal 1 Juli itu dalam laporan akademik yang aku bacakan dalam acara wisuda, ada satu kesempatan yang sangat baik yang telah kugunakan untuk memproklamasikan apa yang baik, apa yang benar, dan bagaimana seharusnya kita hidup sejalan dengan visi itu. Tetapi 1 Juli juga adalah suatu pembelah yang sangat jelas: orang tidak bisa bersikap netral terhadap peristiwa 1 Juli itu. Ada sebagian orang yang sangat tidak suka serta menganggapnya tidak berguna, hanya buang-buang waktu; dan ada sebagian lagi orang yang memandang itu semua sebagai sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu dan sudah saatnya menjadi kenyataan. Dan pembedaan itu sangat nyata, hati setiap orang menjadi jelas di situ. Aku berharap kelak kita akan memandang kembali kepada 1 Juli 2006 sebagai suatu tanggal yang bersejarah bagi lembaga ini.
Selepas dari 1 Juli 2006, segalanya berubah. Berubah dengan sangat drastis. Sementara aku mendapatkan kesempatan emas dalam lingkup yang lebih luas, justru di dalam lingkup yang lebih sempit aku dibuang. Lokerku dicabut. Dalam perencanaan tahunan aku (’the COO of the unit’!) tidak dilibatkan. Fungsi strategisku berubah menjadi tidak lebih dari tenaga administratif, walaupun jabatannya masih sama. Dalam keadaan yang demikian, berbagai hal yang aneh pun terjadi. Hal-hal yang mustahil menjadi kenyataan. Orang-orang terbaik diturunkan dan orang-orang lain yang belum bisa membuktikan dirinya diangkat sebegitu tinggi. Banyak orang berkeluh kesah, tetapi apa yang bisa kulakukan? Dalam paruh kedua tahun ini, aku pun belajar untuk menjadi seorang fatalis. Terlalu banyak hal yang terjadi. Akhirnya aku pun menyimpulkan: waktuku sudah berlalu di sini.
Studi Lanjut. Tahun ini aku menyelesaikan M.Div. dengan proses penyusunan tesis serta sidang yang berlangsung baik dan lancar. Semula aku berencana langsung melanjutkan ke M.Th. tetapi ketidaksetujuan beberapa orang membuatku bergumul cukup berat hingga menghabiskan beberapa hari di Cipanas, hingga di Gunung Kasur aku memutuskan bahwa M.Th. memang bukan panggilanku saat itu. Dalam waktu yang relatif singkat aku memutuskan mengambil M.Pd. di UPH dan proses perkuliahan pun kini telah berlangsung 1 semester. Ketika kondisi kehidupanku di paruh kedua tahun 2006 menjadi semakin tidak menentu, begitu banyak gejolak dan gelombang menderu, kehidupan pun terasa menjadi begitu tumpul dan tidak mengarah kepada sesuatu yang berguna dan bertahan, studi M.Pd. memberikan semangat baru untuk bertahan dan bangkit dari keterpurukan.
Persahabatan. Ini adalah topik besar juga dalam pergulatan tahun ini. Jelas bahwa hubungan-hubungan yang telah terjalin selama ini sangat berarti bagiku. Aku bukan lagi orang yang bisa hidup tanpa sahabat. Kehidupanku dan perasaanku, keputusan-keputusan yang aku buat, ada kalanya sangat dipengaruhi oleh keberadaan seorang sahabat. Tetapi aku juga terheran-heran ketika merasa ada orang yang dalam segala pemikirannya, tutur kata dan tindak-tanduknya nampaknya tidak bisa tidak mengecewakanku, tidak bisa tidak membuatku marah. Kenapa segala sesuatu yang dia pikirkan, yang dia katakan dan yang dia perbuat justru semuanya itu adalah hal-hal yang tidak aku suka? Dan ketidaksukaanku itu adalah ketidaksukaanku yang masuk akal. Orang normal mana pun dalam kondisi yang aku hadapi akan berpendapat demikian.
Orang-orang berbicara tentang belahan jiwa dan aku mendapati diriku dalam kondisi yang aneh dan menyebalkan. Kenapa semua ini terjadi? Kenapa bicara soal nalar awam, ‘common sense’ saja tidak bisa ‘nyambung’? Padahal, dengan orang-orang lain justru aku tidak pernah mempermasalahkan nalar awam! Kenapa ketika aku mempunyai idealisme dan mimpi yang begitu tinggi justru harus dia yang menjadi orang yang meruntuhkan semua yang telah dengan susah-payah kubangun? Dan dia tidak pernah merasa bersalah menjadi orang yang meruntuhkan semua itu.
Berawal dari hari-hari yang sangat buruk, berlanjut kepada bulan-bulan yang menyenangkan, datanglah bulan-bulan ketika aku dicampakkan - tidak kurang dari sepertiga tahun lamanya - hingga upaya rekonsiliasi diadakan, tetapi ke mana ini semua mengarah? Beberapa hal yang dijanjikan untuk dilakukan sebelum tahun ini berakhir ternyata belum juga dilakukan hingga sekarang. Kenapa ini semua mengarah? Nampaknya semua sudah jelas. Dan aku tidak tahu lagi apa yang harus diharapkan.
Singapore. Karena rencana studi M.Th. yang sudah dibuat di awal tahun, dalam bulan Maret aku sudah memesan tiket ke Singapura untuk mengadakan riset M.Th. Tetapi ketika studi itu ternyata tidak jadi ditempuh, sedangkan tiket sudah dibeli, jadilah perjalanan itu berubah menjadi liburan yang menyenangkan di Singapura. Banyak blog sudah kutulis mengenai perjalanan ini, tinggal menunggu foto-foto yang masih harus di-upload.
Pengharapan. Ratapan 3:22-23 dan Yeremia 29:11. Allah itu setia dan Dia selalu menopang dan menjaga kita. Di saat-saat ketika semua rasanya tidak ada manfaatnya lagi, bagiku Allah memberikan hadiah yang sangat besar: seorang saudara, seorang sahabat, seorang putra pengharapan dan penghiburan. Sebuah harapan bagi masa depan, sebuah tugas dan kehormatan yang luar biasa untuk menjadi mentor, untuk menjadi sahabat, untuk meneruskan tongkat maraton itu. Setelah kegagalan demi kegagalan yang kualami dalam regenerasi, nampaknya hubungan satu-ke-satu dan satu-ke-sedikit adalah cara yang paling efektif untuk menularkan idealisme dan pola pikir serta semangat juang demi suatu dunia dan peradaban yang lebih baik. Sahabat itu adalah anugerah dari Tuhan.
Pelayanan Gerejawi. Literatur yang sudah kugeluti selama 9 tahun akhirnya kutinggalkan untuk Pemuda. Masa-masa di awal tahun 2006 memang diwarnai dengan kejenuhan di Literatur - sudah lama tidak ada lagi inovasi, semua bergulir hanya begitu-begitu saja, bahkan moral di dalam tim pun sudah tidak begitu baik. Kegagalan yang sama nampaknya terus berulang: regenerasi menjadi bagian yang paling sulit dalam kepemimpinanku. Kini aku di bagian Pemuda, untuk pertama kalinya berhadapan dengan dan mengelola massa yang begitu besar, untungnya ada tim yang baik dan solid, walaupun seringkali aku juga merasa kesulitan mengikuti derap langkah mereka serta banyaknya asumsi dan pola pikir yang belum dibicarakan.
Pelayanan mimbar juga mulai dipercayakan kepadaku walaupun belum terlalu banyak dan kebanyakan justru di luar gereja sendiri. Memang, pelayanan di tempat di mana kita sudah dikenal justru lebih sulit dan tantangannya lebih berat.
KTB. Setelah 3 tahun lebih memimpin Opus Dei, di awal tahun 2006 aku dipercayakan lagi satu kelompok KTB: Passion. Menyenangkan sekali mencurahkan hidup untuk pelayanan semacam ini, bergumul bersama, bertumbuh bersama, saling menopang dalam jatuh-bangun kehidupan masing-masing. Penyelesaian masalah yang sudah lama ada di KTB Opus Dei dengan penjatuhan sanksi skors kepada satu anggotanya membuat dinamika di KTB itu kembali hidup dan bergairah. KTB Passion sendiri adalah KTB yang sangat dinamis dan ketika keduanya digabungkan, Opus Dei dan Passion, wow, ini menjadi satu kelompok yang luar biasa! Dinamikanya, semangatnya, intelektualitasnya, kebersamaannya, gejolak yang luar biasa ini harusnya menjadi satu berkat yang besar bagi Gereja - sekarang dan nanti.
Ekstra Kurikuler. Sejak kecil aku menyukai musik dan ingin les piano, walaupun tidak pernah berani memintanya kepada orang tua. Akhirnya aku pun mengambil les gitar sekitar 2 tahun lalu. Di pertengahan 2006 akhirnya aku berhenti karena sangat kurangnya waktu yang bisa aku alokasikan untuk berlatih gitar dan aku sendiri nampaknya tidak menghasilkan kemajuan yang berarti. Setelah jeda beberapa bulan, dalam kuartal terakhir 2006 aku pun mengambil les vokal. Mudah-mudahan yang ini berhasil. Aku yakin memiliki bakat dalam bidang musik, walaupun belum tahu di mana tepatnya - apakah itu vokal, atau alat musik, dan alat musik apa.