It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Asian Civilisations Museum dan Changi Museum. Ini adalah dua museum terpenting yang saya kunjungi di Singapura. Kesan saya: luar biasa!
Kedua museum itu secara fisik sangat bertolak belakang. Museum yang satu, Asian Civilisations Museum (ACM), menempati gedung yang sangat besa r dan megah, terdiri dari 4 atau 5 lantai. Mengelilingi museum yang satu ini hanya dengan melihat koleksinya sekilas, mungkin sudah membutuhkan 2 jam tersendiri. Museum yang lainnya, Changi Museum (CM), berbentuk persegi panjang dan menempati lahan yang sangat kecil - mungkin hanya beberapa ratus meter, baik panjang maupun lebarnya. Untuk mengelilingi museum ini hanya dibutuhkan waktu kurang dari 10 menit.
Asian Civilisations Museum
Asian Civilisations Museum adalah sebuah kisah yang fenomenal. Sesuai namanya, museum ini memiliki koleksi yang luar biasa lengkap dalam peradaban-peradaban Asia. Dengan "lengkap" saya memaksudkan menyeluruh dan mendalam. Kata-kata tidak akan cukup melukiskannya, walaupun saya berupaya menuliskan sebaik mungkin kesan yang saya tangkap di sana. Dan dengan "civilisations" - bentuk jamak - museum itu benar-benar memaparkan berbagai peradaban utama Asia, mulai dari Asia Barat, Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, termasuk berbagai peradaban lintas-etnis seperti peradaban-peradaban agama.
Tidak perlu dipertanyakan, koleksi yang dipamerkan luas biasa lengkap. Misalnya, dari mana mulainya peradaban Indonesia? Dari beras! Ya, museum ini memberikan penuturan yang begitu lengkap tentang beras sebagai satu ciri khas mayor bagi peradaban kita - satu elemen dari peradaban yang membuat kita bertahan dan berkembang, dan kemudian dalam banyak masyarakat juga berkembang menjadi bentuk-bentuk peradaban yang lebih lanjut, seperti pemujaan kepada dewa-dewi tertentu, berbagai ritual keagamaan yang berkembang di sekitarnya, sistem kemasyarakatan serta politik … banyak sekali elemen peradaban yang berkembang dari: padi! Ya, selengkap itulah ruang lingkup museum ini.
Bukan saja memamerkan berbagai barang dari berbagai tempat dan waktu yang dipajang di dalam kotak-kotak kaca dengan papan keterangan di depannya, di banyak pojok ACM juga menyediakan komputer interaktif dengan tampilan menarik, layar sentuh dan speaker yang senantiasa siap memberikan informasi lebih mendalam lagi tentang topik tertentu yang spesifik dari satu peradaban. Di satu ruang pamer yang mencakup satu peradaban bisa tersedia 5 komputer semacam itu.
Tidak hanya sampai di situ. Untuk pengayaan lebih jauh, di beberapa pojokan juga tersedia ruang bermain untuk anak maupun dewasa - bukan sembarang permainan, tetapi permainan dari suatu peradaban yang mengajarkan kita cara hidup, cara berpikir dan cara bermasyarakat orang-orang dari peradaban tertentu (gambar kanan).
Di banyak pojokan lainnya lagi, di masing-masing ruang pamer pada setiap peradaban, disediakan ruangan perpustakaan mini (gambar kiri) yang didekorasi secara khas menggambarkan peradaban bersangkutan. Perpustakaan ini bukanlah perpustakaan yang kaku, tetapi perpustakaan yang menyenangkan, dengan sofa dan bantal yang disebar, terkadang juga disediakan meja mini - semua tergantung peradaban yang sedang dipaparkan. Di situlah disebar berbagai buku yang membantu para peneliti untuk lebih jauh mempelajari suatu peradaban.
Singkat kata, ACM menyediakan suatu pandangan yang menyeluruh praktis tentang semua peradaban utama di Asia, dari masa ke masa - atau mungkin lebih tepatnya bukan hanya pandangan, melainkan pengalaman. Ya, dengan menyusuri lorong-lorong dan menjelajahi ruang-ruang pamer ACM, setiap pengunjung bisa memilih sedalam mana mereka ingin melibatkan dirinya ke dalam penjelajahan dan penemuan-kembali suatu peradaban bagi dirinya sendiri - sebuah pengalaman lintas-ruang dan lintas-waktu. Sebuah upaya menenggelamkan diri ke dalam kekayaan warisan umat manusia yang disediakan ACM akan membutuhkan waktu berbulan-bulan. Seorang sejarawan akan menemukan dirinya berada di tengah kekayaan yang luar biasa dan tak terbandingkan di tempat ini.
Bagi setiap pecinta sejarah - kasual maupun ilmuwan, ACM adalah tempat yang harus dikunjungi.
Changi Museum
Dengan slogannya, "Lest We Forget", "Supaya Kita Jangan Lupa", CM memiliki satu misi yang jelas: berdiri sebagai sebuah tonggak sejarah, memberikan kepada setiap pengunjungnya ingatan yang jelas dan jernih tentang satu tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di tanah itu: suatu tragedi yang menjadi bingkai kemanusiaan yang luar biasa dalam sejarah Singapura, ketika orang-orang dari berbagai bangsa berdiri bahu-membahu, saling menopang demi keberlangsungan hidup umat manusia yang luhur.
CM berawal dari sebuah lapangan terbang yang dijadikan penjara pada masa Perang Dunia II. Di situ dikisahkan agresi Jepang dari Asia Utara dengan kecepatan yang luar biasa tinggi masuk ke Malaysia hingga melumpuhkan Singapura, nasib para tawanan yang adalah tentara sekutu, baik orang-orang Eropa maupun Australia, juga para warga lokal Singapura yang terdiri dari banyak etnis - mereka pun banyak menjadi korban dan berkorban demi kelangsungan hidup bersama. Banyak orang mengabaikan keselamatan dan kenyamanan hidupnya sendiri untuk membantu orang lain. CM berdiri bukan saja sebagai sebuah tonggak sejarah, tetapi juga sebagai sebuah tonggak kemanusiaan - sejarah kemanusiaan.
Dengan caranya sendiri CM juga menjadi sebuah museum yang lengkap. ACM menyediakan survei lengkap tentang bayak peradaban, CM menyediakan survei yang lengkap juga tentang satu hal - dan CM telah melakukannya dengan baik. CM bisa menyediakan perspektif lintas-waktu, lintas-budaya, lintas-generasi, dan ia bahkan mencoba merekonstruksi beberapa situs terpenting dari tragedi besar itu yang kalau tidak demikian, mungkin sudah lama dilupakan orang.
Tarif masuk CM gratis, tetapi disediakan pilihan audio tour seharga S$8 - suatu inovasi yang luar biasa! Dengan audio-tour pengunjung disediakan sebuah alat pengendali rekaman audio beserta earphone-nya yang berisi penjelasan rinci tentang berbagai benda, lukisan dan karya yang dipamerkan - bahkan kesaksian lisan dari para saksi mata dan orang-orang yang mengalami sendiri tragedi itu. Ruang penjara dan kapel-kapel yang direkonstruksi membantu pengunjung untuk mengalami kembali kejadian demi kejadian, adegan demi adegan dari tragedi kemanusiaan ini.
CM menjadi suatu monumen, bukan saja bagi masyarakat Singapura, tetapi juga bagi masyarakat dunia.
Kapel Changi yang terkenal tetap menjadi sebuah kapel yang hidup di mana orang datang untuk berdoa dan mengenal mereka yang telah gugur di sana, mereka yang telah mengalami penderitaan yang dahsyat serta sanak keluarga mereka. Kapel Changi juga tetap aktif digunakan untuk upacara-upacara khusus, seperti ibadah pernikahan.
Inilah kreativitas pemerintah Singapura. Museum bukan suatu situs yang mati, dingin dan terbujur kaku seperti benda-benda di dalamnya. Museum dirancang sedemikian rupa menjadi suatu tempat yang hangat, terus berdenyut dengan semangat kehidupan; bukannya terkungkung dalam masa lalu yang telah berlalu, tetapi ada dan hidup sebagai penunjuk jalan kepada masa depan, menuju hari esok yang lebih baik, agar kita belajar dari sejarah dan menjadi manusia - dan umat manusia - yang lebih baik, yang lebih bijaksana, yang bertumbuh dalam kearifan-bersama, bukan saja untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk anak-cucu kita, untuk generasi-generasi yang akan datang.
Penutup
Pemerintah Singapura menunjukkan kearifan yang luar biasa dan keagungan jiwa yang tak terbandingkan dengan kita di Indonesia. Ketika mereka membangun, mereka menyadari apa yang penting bagi kemajuan umat manusia dan apa yang benar-benar penting. Sesungguhnya, sains tanpa humaniora hanya akan membuat kita menjadi bangsa mutan.
Bukan satu hal yang aneh bahwa pelajar di Indonesia - dan juga banyak orang tua, banyak orang dewasa - yang begitu mengagung-agungkan sains. Ilmu alam di atas ilmu sosial, teknologi rekayasa (= teknik, ‘engineering‘) di atas ilmu budaya. Sosiologi dan ilmu sejarah dilecehkan. Para ilmuwan dieksploitasi. Kita menggenjot minat para pemuda di bidang teknologi rekayasa, bisnis, keuangan dan ilmu komputer; tetapi pada saat yang bersamaan mematikan minat mereka ke dalam bidang-bidang humaniora. Di hadapan kita terbentang jalan yang begitu lebar dan hampir pasti untuk menjadi bangsa mutan.
Kapankah kita akan belajar untuk menghargai sejarah, untuk menghargai ilmu sejarah, menghargai humaniora, hal-hal yang membuat kita menjadi manusia yang lebih utuh dan ketika kita menjadi ilmuwan, kita menjadi ilmuwan yang lebih lengkap, dengan pijakan yang kokoh pada kemanusiaan dan sejarah umat manusia? Marilah kita memulainya dengan memberikan penghargaan yang lebih kepada ilmu-ilmu humaniora, membangun museum-museum kita menjadi tempat yang hangat, mengundang, dan nyaman untuk dikunjungi - suatu pusat belajar yang memperkaya para pengunjungnya bukan cuma untuk membuat laporan kunjungan, tetapi memberi pengalaman lintas-ruang, lintas-waktu, lintas-budaya, menuju kearifan-bersama sebagai sebuah bangsa, sebagai bagian dari umat manusia.