Dec
24

Hari Raya: Ngapain?

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 24-12-2006

Hari raya adalah sebuah perayaan keagamaan, saat-saat di sepanjang tahun di mana kita berhenti dari berbagai kesibukan pekerjaan kita untuk kembali meresapi makna-makna keberagamaan yang kita anut, untuk memberikan makna transendental kepada aktivitas sehari-hari kita yang begitu padat dan berkesinambungan seakan tanpa henti. Dalam hari-hari raya, kita mengorientasikan kembali kehidupan kita dalam suatu kerangka kehidupan beragama sekedar untuk mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu memiliki suatu makna yang akan bertahan; sekaligus juga mengingatkan kita bahwa kalau kita hanya berupaya dengan diri kita sendiri, tanpa mengandalkan Tuhan, semua itu akan sia-sia saja.

Di dalam hari-hari raya, kita beristirahat dari kepenatan bekerja dan kita masuk ke dalam perayaan - maka disebutlah hari-hari itu sebagai hari raya. Perayaan adalah juga suatu kebutuhan manusia. Tidak mungkin manusia terus-menerus bekerja dan bekerja dan bekerja. Ada saatnya kita harus bersukaria, merajut kembali hubungan-hubungan di antara sesama manusia yang untuk beberapa saat lamanya telah terabaikan karena kesibukan kita. Di dalam perayaan-perayaan kita, kita menjaga dan menguatkan hubungan-hubungan kekerabatan dan sosial yang membuat kemanusiaan kita menjadi lebih utuh.

Jadi, dalam hari raya ada dua elemen penting: elemen transendental dan elemen sosial.

Kehidupan beragama kita menuntut suatu komunitas sedangkan kehidupan komunal kita juga membawa kita kepada suatu kehidupan beragama. Di dalam hari raya, keduanya bertemu dan saling melengkapi.

Tetapi gaya hidup kita di masa kini ternyata juga menambahkan satu elemen penting bagi hari raya. Kita sekarang terjebak di dalam perputaran roda kehidupan dengan dinamika yang begitu cepat, terkadang bahkan bisa menuntut seluruh hidup dan waktu kita di dalamnya, sehingga kita seringkali tidak punya waktu untuk diri kita sendiri. Waktu untuk sendiri tidak ada lagi. Waktu untuk tidur didiskon habis-habisan. Relasi bisnis dijaga mati-matian, tetapi hubungan sosial pribadi semakin sulit dirangkai.

Mobilitas yang begitu tinggi menyebabkan kita bekerja kapan saja dan di mana saja. Rumah seringkali hanya menjadi tempat numpang tidur. Ruang tamu tidak pernah dipakai karena tidak ada lagi waktu untuk menjamu tamu. Ruang makan juga demikian, jarang dipakai karena langka sekali ada kesempatan satu keluarga bisa berkumpul bersama dan makan bersama.

Maka tidak heran kalau hari ini, ketika kita berhari raya, hari raya semakin menjadi sinonim dengan hari libur belaka: menjadi suatu momen bagi kita untuk beristirahat, membayar utang waktu tidur, memulihkan diri dari kepenatan hidup yang luar biasa. Kita berkumpul bersama sahabat dan handai-taulan, tetapi makna-makna keberagamaan itu semakin luntur.

Tiga aspek hari raya: agama, sosial, pribadi. Bagaimana Anda memaknai dan menghabiskan hari raya Anda? Agenda yang Anda miliki di hari raya bisa menjadi cerminan kesehatan dan keseimbangan hidup Anda sehari-hari.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: