Jan
25
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 25-01-2007

Time Person of the Year: You.

Yes, you. You control the Information Age. Welcome to your world.

Itulah kata-kata yang tertera pada sampul Time edisi 25 Desember - 1 Januari yang lalu.

Menyenangkan sekali rasanya menjadi warga dunia. Menjadi setara. Memiliki kesempatan yang sama untuk menyebarkan ide, pemikiran, menggalang kekuatan dan meninggalkan warisan yang sangat berharga kepada orang banyak. Juga berbagi kehidupan, memperlihatkan dunia kepada dunia dari kacamata saya.

Ya, tatanan dunia telah berubah. Dengan Friendster, Flickr, YouTube dan berbagai layanan sejenisnya, dunia telah berubah. Kendali arus informasi praktis berada di tangan orang banyak. Sebagai orang yang lahir di tahun 1980, saya menikmati menjadi generasi pertama yang dibesarkan dengan komputer di rumah dan meledaknya popularitas Internet pada masa remaja. Walaupun sebagai seorang sarjana komputer saya tidak menikmati menerapkan dan memperdalam ilmu komputer saya, tetapi saya senang menjadi seorang pengguna-ahli dan terus bereksplorasi dengan berbagai kemungkinan baru yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Inilah dunia dengan kemungkinan eksplorasi tanpa ujung. Inilah dunia yang menantang.

Di hadapan kita terbentang kesempatan yang luar biasa besar - untuk kebaikan, maupun untuk kejahatan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.

Di hadapan kita ada raksasa besar yang menghadang. Tinggal apakah kita akan menunggangi dan mengendalikannya atau terinjak dan tertinggal.

Ingin melihat dunia saya lebih jauh? Silakan berkunjung:
http://www.friendster.com/akiskandar/
http://www.flickr.com/photos/akiskandar/

Bagaimana dengan YouTube? Saya sudah mencobanya di Singapura. Sangat menyenangkan, tapi sayangnya kapasitas dan tarif koneksi di Indonesia belum terjangkau untuk layanan YouTube walaupun saya sudah mendaftarkan rekening saya di situ. Mungkin lain kali. Tapi yang jelas, saya akan terus bereksplorasi.

Jan
25
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 25-01-2007

"Like so many tyrants, he was obsessed with his place in history."

Saya adalah orang yang terobsesi dengan masa depan. Di masa kecil saya, ketika berlibur bersama keluarga, begitu kami tiba kembali di hotel pada sore hari, saya selalu menanyakan satu pertanyaan yang membuat orang tua saya kesal, "Besok mau bangun pukul berapa? Mau ke mana saja?" Mereka ingin kami menikmati liburan, bersantai, bangun agak siang, ke beberapa tempat yang sudah direncanakan tetapi tidak begitu terpatok pada jadwal. Liburan adalah waktu di mana kami seharusnya tidak begitu memikirkan jadwal yang ketat.

Tetapi tidak demikian bagi saya. Ketidakpastian di masa depan adalah satu hal yang menggentarkan dan menggelisahkan. Agenda telah lama menjadi bagian dari hidup saya dan saya telah banyak bereksperimen dengan banyak jenis agenda sehingga hari ini saya tahu benar agenda macam apa yang paling tepat bagi saya dan agenda maupun kalender macam apa yang, walaupun diberikan gratis, tidak akan saya pakai karena akan mengganggu efektivitas hidup saya.

Saya adalah orang yang telah membuat perencanaan 15, 10, 5, dan 1 tahun ke depan sejak usia belasan. Rencana itu dibuat sangat rinci, terkadang hingga rencana per kuartal dan alokasi waktu per kuartal untuk membuat evaluasi kuartal dan evaluasi tahunan. Saya membuat berbagai bagan dan tabel rencana hidup, evaluasi ini dan itu - semuanya untuk mengoptimalkan perjalanan hidup saya. Hidup hanya satu kali. Kalau tidak direncanakan dengan baik, pada akhirnya yang ada hanyalah penyesalan. Itulah pemikiran saya ketika itu.

Apa yang dilahirkan dari situ? Keputusan-keputusan gila. Gila? Ya, ketika melihat kehidupan saya pasti banyak orang akan berkata bahwa banyak keputusan besar yang saya buat adalah keputusan gila. Tidak masuk akal. Tetapi, saya juga berpikir bahwa sedikit kadar kegilaan ("secukupnya", seperti bumbu masakan) harus ada dalam kehidupan supaya hidup terasa lebih hidup, supaya hidup menjadi lebih nikmat seperti masakan yang juga diberikan berbagai bumbu "secukupnya". Hanya dengan sedikit kegilaanlah maka kebesaran bisa dicapai.

Ya, di situlah kita tiba pada kata "kebesaran". Sejak kecil saya bertanya-tanya, "Sekian ratus tahun lagi, lama sesudah saya meninggal, apa yang akan diketahui dan dipikirkan seorang anak SD di sebuah pulau kecil di tengah Samudra Pasifik sana tentang saya?" "Adakah sesuatu yang saya tinggalkan? Adakah jejak yang dalam dan goresan tinta emas dalam sejarah umat manusia yang saya tinggalkan sesudah saya meninggal?" "Mungkin sebuah jalan lintas-benua yang menghubungkan Prancis dan China yang diberi nama dengan nama saya?"

Nama baik yang saya tinggalkan dalam hidup saya - bukan, bukan hanya dalam hidup saya, tetapi juga sesudah saya meninggal. Bukan, bukan juga, bukan sekedar sesudah saya meninggal, tapi lama sesudah itu, ratusan tahun sesudah itu, itulah yang menjadi obsesi saya sejak lama.

Beberapa minggu lalu seorang sahabat bertanya, "Apa sih yang lu cari dalam hidup?" Jawab saya? "Nama."

Ada orang yang mengatakan salah satu alasan utama menikah adalam untuk meneruskan nama. Nama keluarga menjadi penting. Tetapi dalam sejarah umat manusia yang sekian milenium ini, di mana sih ada orang yang menjadi besar karena berkeluarga? Bukankah nama besar itu milik pribadi? Kalau orang menikah untuk meneruskan nama, seberapa besar jaminannya bahwa anaknya kelak akan menjadi anak baik-baik? Cucunya? Cicitnya? Sampai berapa generasi? Itu adalah rencana yang sangat riskan. Kalau kita hendak meninggalkan nama, maka dalam hidup kitalah kita harus memperjuangkannya.

Maka ketika pada 15 Januari saya membaca artikel "Saddam’s Second Life", saya terkejut sekali membaca kalimat di atas. Saddam? Memiliki pemikiran seperti saya? Wow! Wooowww! Waaahhh …! Tidak pernah terpikir oleh saya! Memang, waktu kecil orang tua saya pernah mengatakan bahwa sikap saya seperti diktator dan beberapa orang di sekitar saya beberapa kali mengatakan saya seringkali memimpin dengan tangan besi. Tetapi, memiliki pemikiran yang sama "like so many tyrants"? Tidak pernah terlintas dalam benak saya!

Entah ke mana jalan kehidupan ini akan membawa saya, tetapi yang jelas saya telah mengalami banyak sekali pembentukan dan masih akan ada banyak sekali yang saya alami. Entah ke mana Tuhan membawa saya, tetapi saya yakin Ia akan terus memimpin, membimbing dan membentuk saya di sepanjang perjalanan. Di dalam anugerah-Nya, saya menjadi alat-Nya dan jelas tidak menjadi seperti Saddam, walaupun kami memiliki obsesi yang sama.

Dan Aparisim Ghosh, siapa dia? O, dialah orang yang menulis artikel itu.

Jan
25
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 25-01-2007

Seorang asing datang ke sebuah pusat kebugaran di Yogyakarta dan bertanya kepada petugasnya, "Bagaimana caranya saya bisa menjadi anggota pusat kebugaran ini?"

Beberapa detik si petugas terdiam. "O, maksud Bapak, Bapak ingin menjadi member di fitness center ini?"

Seberapa akrab kalimat pertama itu di telinga Anda? Bagaimana dengan kalimat yang kedua?

Ya, rasanya telinga kita sekarang ini sudah sangat terbiasa dengan kalimat-kalimat semacam kalimat kedua di atas. Banyak sekali orang Indonesia yang suka mencampuradukkan bahasa seperti itu. Bahasa Indonesia bukan, bahasa Inggris juga bukan. Bagaimana dengan kalimat ini: "Schedule Production Weekly"? Kalimat semacam itu pun sangat jamak dijumpai di kantor-kantor di Jakarta saat ini.

Apa masalahnya? Masalahnya adalah, kata-kata yang digunakan diambil dari bahasa Inggris, tapi strukturnya struktur bahasa Indonesia. Keren, pakai bahasa Inggris. Tapi soal struktur? Itu urusan belakangan. Yang penting kerennya. Kalau tidak bisa "schedule" yah pakailah "skedul", biar lebih Indonesia.

Banyak sekali pemerkosa bahasa di sekeliling kita dalam hari-hari belakangan ini. Menyedihkan, kita tidak punya kebanggaan berbahasa Indonesia! Lebih menyedihkan lagi, orang-orang itu cenderung mengecam bahasa Indonesia sebagai bahasa yang tidak memadai untuk mengakomodasi perkembangan zaman, perkembangan masyarakat, perkembangan teknologi dan perkembangan ilmu. Benarkah demikian?

Selama sebuah bahasa masih dikategorikan sebagai bahasa hidup, maka ia masih berkembang. Ia masih akan menyerap berbagai kosa kata dari sana-sini, mengikuti perkembangan zaman dan penuturnya. Kenapa kita punya "nasi goreng", "risotto", "riz sauté" dan "fried rice" bersama-sama? Apa bedanya? Bukankah secara harfiah keempat-empatnya memiliki arti yang sama? Lantas, kenapa pula kamus Cambridge memiliki lema "nasi goreng"? Kita mengenal satu ungkapan "football" yang memiliki arti yang berbeda-beda di banyak negara (ingat iklan HSBC yang terkenal itu?). Kenyataannya memang berbagai kata dalam berbagai bahasa, walaupun memiliki makna denotatif yang sama, bisa memiliki makna konotatif yang sama. Dan kebudayaan menambah kemungkinan keragaman itu sehingga terjemahan yang mekanis seringkali tidak memadai. Dibutuhkan kesensitifan terhadap rasa kata dalam menerjemahkan.

Di Greenland, Norwegia yang cuacanya bisa berubah setiap 15 menit, kata "berangin", "berawan" dan "hujan" tidak memiliki arti. Mereka memiliki sekitar 20 kata untuk menyebut "hujan", dan ada belasan kata untuk menyebut cuaca yang kita sebut "berangin". Kalau kita menerjemahkan sebuah tulisan tentang cuaca dari konteks mereka ke dalam bahasa Indonesia, tentu tulisan tersebut memiliki pemiskinan makna, tetapi sebaliknya ketika kita menerjemahkan tulisan dari konteks Indonesia ke konteks mereka, bagaimana kita akan menerjemahkan "berangin"? Orang Eskimo punya banyak sekali kosa kata untuk merujuk kepada keadaan "dingin", sedangkan kita, berapa banyak yang kita miliki?

Kenapa perbedaan itu bisa terjadi? Tentu karena kebutuhannya berbeda. Iklim yang ekstrem dan cuaca yang begitu cepat berubah di Greenland membuat orang-orang di sana membutuhkan ungkapan yang sangat spesifik tentang cuaca. Begitu pula orang Eskimo yang tinggal di iglo sangat butuh rujukan yang jauh lebih akurat kepada situasi dingin daripada kita yang tidak pernah berhadapan dengan salju. Di sisi lain, Indonesia memiliki kosakata yang sangat kaya dalam hal pertanian, perkebunan, dunia agraria dan bahari. Itulah alam kita. Dalam konteks itulah kebudayaan kita berkembang.

Bahasa tidak berkembang di dalam vakum. Bahasa berkembang di dalam masyarakat. Bahasa, apalagi bahasa tulisan, adalah mahkota kebudayaan. Orang-orang yang dengan entengnya mengatakan bahsa bahasa Indonesia tidak memadai, jangan-jangan mereka hanya malas berpikir. Mereka lebih suka mencaplok mentah-mentah kata-kata dalam bahasa asing, diutak-atik sana-sini sehingga lebih pas dengan lidah Indonesianya, kemudian dipakailah itu sebagai kata Indonesia. Untuk apa kita perlu "adres" padahal sudah ada "alamat" yang jauh lebih alami dan lebih indah? Untuk apa perlu "skedul" padahal sudah ada "jadwal"?

Jangan-jangan lagi, itu adalah tanda rendah dirinya kita sebagai sebuah bangsa. Kita malu menggunakan bahasa kita sendiri! Kita malas dan kita malu. Padahal sepatutnyalah kita malu kalau kita malas. Mencari padanan kata dalam bahasa sendiri saja malas. Alangkah malangnya kita!

Tetapi sebentar. Saya ingin menyoroti satu aspek yang sangat penting dari masalah bahasa ini dalam kekristenan.

Semakin lama, semakin banyak pula pengkhotbah yang dengan gagahnya bercuap-cuap dengan bahasa Inggris di sana-sini. Semakin lama, bisa-bisa kekristenan menjadi agama yang semakin asing. Orang tidak puas dengan Alkitab bahasa Indonesia, tidak afdol rasanya kalau tidak memakai Alkitab berbahasa Inggris. Maka ke gereja pun membawa-bawa Alkitab berbahasa Inggris.

Saya memiliki Alkitab dalam berbagai bahasa - di antaranya ada bahasa Indonesia, Inggris dan Prancis; masing-masing dalam beberapa versi. Tetapi ketika saya datang ke kebaktian, kecuali terpaksa, saya akan membawa Alkitab berbahasa Indonesia. Kenapa? Siapa tahu di sebelah saya ada orang yang baru pertama kali ke gereja, atau orang yang tidak mampu membeli Alkitab, atau orang yang begitu sederhana sehingga memang tidak pernah punya Alkitab, dan ia tidak bisa ikut serta dalam pembacaan Alkitab, di antaranya karena saya membawa Alkitab dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Bukankah di dalam ibadah itu pun kita harus siap berbagi?

Ketika ibadah semakin banyak menggunakan bahasa asing, bukan saja agama Kristen menjadi semakin asing, tetapi kita pun membangun tembok bagi mereka yang kurang beruntung secara intelektual. Bagaimana dengan mereka yang kemampuan bahasanya terbatas? Bagaimana dengan orang-orang tua? Bagaimana dengan orang-orang yang sederhana, mereka yang untuk kebutuhan perut saja masih harus berjuang? Mungkin saja kapasitas intelektual mereka untuk bertumbuh lebih terbatas. Tetapi itu menjadi masalah besar ketika kita juga membatasi kemampuan mereka untuk bertumbuh dalam pemahaman iman mereka karena kita menyajikan ibadah dan khotbah dalam bahasa yang tidak mereka mengerti! Bagaimana mereka bertumbuh melalui ibadah dan khotbah, sedangkan apa yang disampaikan pun mereka tidak mengerti? Apa yang mereka nikmati dalam puji-pujian sedangkan kata-kata syair lagu itu pun tidak mereka mengerti?

Allah yang begitu besar, begitu dahsyat, begitu agung, telah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia, bahkan dalam kondisi manusia yang paling hina. Dia yang begitu besar telah mengkomunikasikan diri-Nya begitu rupa, menjadi begitu kecil agar bisa berkomunikasi dengan kita. Masakan kita sekarang mau meninggikan diri dan menolak mengkomunikasikan kebenaran itu dari saudara-saudara kita yang kurang mampu itu? Kalau Allah saja bersedia membatasi diri-Nya dan kenyamanan-Nya agar kita bisa berkomunikasi dengan Dia, masakan kita tidak bersedia membatasi pergolakan intelektual kita dan membungkusnya dalam bahasa yang lebih sederhana agar orang-orang yang paling sederhana pun - mereka yang kurang beruntung secara intelektual - bisa memahaminya dan bertumbuh dalam pemahaman iman itu!

Satu kali kita hidup dan segala sesuatu yang kita ucapkan dalam hidup kita ini kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan takhta Allah Bapa. Bagaimana para pengkhotbah hendak mempertanggungjawabkan kata-kata asing yang dikhotbahkannya dan membuat saudara-saudara kita yang "paling hina" itu menjadi tidak mengerti?

Jadi, benarkah bahwa bahasa Indonesia tidak memadai? Tidak demikian! Yang menjadi masalah bukanlah kememadaian, tetapi kesadaran tentang adanya kesenjangan budaya dan bahwa dalam menerjemahkan kita sedang membuat jembatan antar-budaya.

Membuat terjemahan yang baik memang tidak pernah mudah. Ketika kita belajar, kebanyakan sumber belajar kita tersedia dalam bahasa asing. Untuk mengkomunikasikannya ke dalam bahasa Indonesia dengan baik, dibutuhkan bukan semata-mata terjemahan mekanis, tetapi dibutuhkan pemahaman budaya - bukan satu, melainkan dua budaya - sehingga yang diterjemahkan bukan saja kata-katanya tetapi juga pemahaman antar-budaya. Tetapi itulah tanggung jawab kita, orang-orang yang telah diberikan kesempatan untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang sangat tinggi (sedangkan pemerintah saja masih berjuang untuk wajib belajar 9 tahun).

Kepada siapa Tuhan memberikan banyak, dari dia akan dituntut pertanggungjawaban yang lebih besar pula.