Jan
25

Saddam Hussein, Aparisim Ghosh dan Saya

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 25-01-2007

"Like so many tyrants, he was obsessed with his place in history."

Saya adalah orang yang terobsesi dengan masa depan. Di masa kecil saya, ketika berlibur bersama keluarga, begitu kami tiba kembali di hotel pada sore hari, saya selalu menanyakan satu pertanyaan yang membuat orang tua saya kesal, "Besok mau bangun pukul berapa? Mau ke mana saja?" Mereka ingin kami menikmati liburan, bersantai, bangun agak siang, ke beberapa tempat yang sudah direncanakan tetapi tidak begitu terpatok pada jadwal. Liburan adalah waktu di mana kami seharusnya tidak begitu memikirkan jadwal yang ketat.

Tetapi tidak demikian bagi saya. Ketidakpastian di masa depan adalah satu hal yang menggentarkan dan menggelisahkan. Agenda telah lama menjadi bagian dari hidup saya dan saya telah banyak bereksperimen dengan banyak jenis agenda sehingga hari ini saya tahu benar agenda macam apa yang paling tepat bagi saya dan agenda maupun kalender macam apa yang, walaupun diberikan gratis, tidak akan saya pakai karena akan mengganggu efektivitas hidup saya.

Saya adalah orang yang telah membuat perencanaan 15, 10, 5, dan 1 tahun ke depan sejak usia belasan. Rencana itu dibuat sangat rinci, terkadang hingga rencana per kuartal dan alokasi waktu per kuartal untuk membuat evaluasi kuartal dan evaluasi tahunan. Saya membuat berbagai bagan dan tabel rencana hidup, evaluasi ini dan itu - semuanya untuk mengoptimalkan perjalanan hidup saya. Hidup hanya satu kali. Kalau tidak direncanakan dengan baik, pada akhirnya yang ada hanyalah penyesalan. Itulah pemikiran saya ketika itu.

Apa yang dilahirkan dari situ? Keputusan-keputusan gila. Gila? Ya, ketika melihat kehidupan saya pasti banyak orang akan berkata bahwa banyak keputusan besar yang saya buat adalah keputusan gila. Tidak masuk akal. Tetapi, saya juga berpikir bahwa sedikit kadar kegilaan ("secukupnya", seperti bumbu masakan) harus ada dalam kehidupan supaya hidup terasa lebih hidup, supaya hidup menjadi lebih nikmat seperti masakan yang juga diberikan berbagai bumbu "secukupnya". Hanya dengan sedikit kegilaanlah maka kebesaran bisa dicapai.

Ya, di situlah kita tiba pada kata "kebesaran". Sejak kecil saya bertanya-tanya, "Sekian ratus tahun lagi, lama sesudah saya meninggal, apa yang akan diketahui dan dipikirkan seorang anak SD di sebuah pulau kecil di tengah Samudra Pasifik sana tentang saya?" "Adakah sesuatu yang saya tinggalkan? Adakah jejak yang dalam dan goresan tinta emas dalam sejarah umat manusia yang saya tinggalkan sesudah saya meninggal?" "Mungkin sebuah jalan lintas-benua yang menghubungkan Prancis dan China yang diberi nama dengan nama saya?"

Nama baik yang saya tinggalkan dalam hidup saya - bukan, bukan hanya dalam hidup saya, tetapi juga sesudah saya meninggal. Bukan, bukan juga, bukan sekedar sesudah saya meninggal, tapi lama sesudah itu, ratusan tahun sesudah itu, itulah yang menjadi obsesi saya sejak lama.

Beberapa minggu lalu seorang sahabat bertanya, "Apa sih yang lu cari dalam hidup?" Jawab saya? "Nama."

Ada orang yang mengatakan salah satu alasan utama menikah adalam untuk meneruskan nama. Nama keluarga menjadi penting. Tetapi dalam sejarah umat manusia yang sekian milenium ini, di mana sih ada orang yang menjadi besar karena berkeluarga? Bukankah nama besar itu milik pribadi? Kalau orang menikah untuk meneruskan nama, seberapa besar jaminannya bahwa anaknya kelak akan menjadi anak baik-baik? Cucunya? Cicitnya? Sampai berapa generasi? Itu adalah rencana yang sangat riskan. Kalau kita hendak meninggalkan nama, maka dalam hidup kitalah kita harus memperjuangkannya.

Maka ketika pada 15 Januari saya membaca artikel "Saddam’s Second Life", saya terkejut sekali membaca kalimat di atas. Saddam? Memiliki pemikiran seperti saya? Wow! Wooowww! Waaahhh …! Tidak pernah terpikir oleh saya! Memang, waktu kecil orang tua saya pernah mengatakan bahwa sikap saya seperti diktator dan beberapa orang di sekitar saya beberapa kali mengatakan saya seringkali memimpin dengan tangan besi. Tetapi, memiliki pemikiran yang sama "like so many tyrants"? Tidak pernah terlintas dalam benak saya!

Entah ke mana jalan kehidupan ini akan membawa saya, tetapi yang jelas saya telah mengalami banyak sekali pembentukan dan masih akan ada banyak sekali yang saya alami. Entah ke mana Tuhan membawa saya, tetapi saya yakin Ia akan terus memimpin, membimbing dan membentuk saya di sepanjang perjalanan. Di dalam anugerah-Nya, saya menjadi alat-Nya dan jelas tidak menjadi seperti Saddam, walaupun kami memiliki obsesi yang sama.

Dan Aparisim Ghosh, siapa dia? O, dialah orang yang menulis artikel itu.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: