Jan
25

Tidak Memadaikah Bahasa Indonesia?

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 25-01-2007

Seorang asing datang ke sebuah pusat kebugaran di Yogyakarta dan bertanya kepada petugasnya, "Bagaimana caranya saya bisa menjadi anggota pusat kebugaran ini?"

Beberapa detik si petugas terdiam. "O, maksud Bapak, Bapak ingin menjadi member di fitness center ini?"

Seberapa akrab kalimat pertama itu di telinga Anda? Bagaimana dengan kalimat yang kedua?

Ya, rasanya telinga kita sekarang ini sudah sangat terbiasa dengan kalimat-kalimat semacam kalimat kedua di atas. Banyak sekali orang Indonesia yang suka mencampuradukkan bahasa seperti itu. Bahasa Indonesia bukan, bahasa Inggris juga bukan. Bagaimana dengan kalimat ini: "Schedule Production Weekly"? Kalimat semacam itu pun sangat jamak dijumpai di kantor-kantor di Jakarta saat ini.

Apa masalahnya? Masalahnya adalah, kata-kata yang digunakan diambil dari bahasa Inggris, tapi strukturnya struktur bahasa Indonesia. Keren, pakai bahasa Inggris. Tapi soal struktur? Itu urusan belakangan. Yang penting kerennya. Kalau tidak bisa "schedule" yah pakailah "skedul", biar lebih Indonesia.

Banyak sekali pemerkosa bahasa di sekeliling kita dalam hari-hari belakangan ini. Menyedihkan, kita tidak punya kebanggaan berbahasa Indonesia! Lebih menyedihkan lagi, orang-orang itu cenderung mengecam bahasa Indonesia sebagai bahasa yang tidak memadai untuk mengakomodasi perkembangan zaman, perkembangan masyarakat, perkembangan teknologi dan perkembangan ilmu. Benarkah demikian?

Selama sebuah bahasa masih dikategorikan sebagai bahasa hidup, maka ia masih berkembang. Ia masih akan menyerap berbagai kosa kata dari sana-sini, mengikuti perkembangan zaman dan penuturnya. Kenapa kita punya "nasi goreng", "risotto", "riz sauté" dan "fried rice" bersama-sama? Apa bedanya? Bukankah secara harfiah keempat-empatnya memiliki arti yang sama? Lantas, kenapa pula kamus Cambridge memiliki lema "nasi goreng"? Kita mengenal satu ungkapan "football" yang memiliki arti yang berbeda-beda di banyak negara (ingat iklan HSBC yang terkenal itu?). Kenyataannya memang berbagai kata dalam berbagai bahasa, walaupun memiliki makna denotatif yang sama, bisa memiliki makna konotatif yang sama. Dan kebudayaan menambah kemungkinan keragaman itu sehingga terjemahan yang mekanis seringkali tidak memadai. Dibutuhkan kesensitifan terhadap rasa kata dalam menerjemahkan.

Di Greenland, Norwegia yang cuacanya bisa berubah setiap 15 menit, kata "berangin", "berawan" dan "hujan" tidak memiliki arti. Mereka memiliki sekitar 20 kata untuk menyebut "hujan", dan ada belasan kata untuk menyebut cuaca yang kita sebut "berangin". Kalau kita menerjemahkan sebuah tulisan tentang cuaca dari konteks mereka ke dalam bahasa Indonesia, tentu tulisan tersebut memiliki pemiskinan makna, tetapi sebaliknya ketika kita menerjemahkan tulisan dari konteks Indonesia ke konteks mereka, bagaimana kita akan menerjemahkan "berangin"? Orang Eskimo punya banyak sekali kosa kata untuk merujuk kepada keadaan "dingin", sedangkan kita, berapa banyak yang kita miliki?

Kenapa perbedaan itu bisa terjadi? Tentu karena kebutuhannya berbeda. Iklim yang ekstrem dan cuaca yang begitu cepat berubah di Greenland membuat orang-orang di sana membutuhkan ungkapan yang sangat spesifik tentang cuaca. Begitu pula orang Eskimo yang tinggal di iglo sangat butuh rujukan yang jauh lebih akurat kepada situasi dingin daripada kita yang tidak pernah berhadapan dengan salju. Di sisi lain, Indonesia memiliki kosakata yang sangat kaya dalam hal pertanian, perkebunan, dunia agraria dan bahari. Itulah alam kita. Dalam konteks itulah kebudayaan kita berkembang.

Bahasa tidak berkembang di dalam vakum. Bahasa berkembang di dalam masyarakat. Bahasa, apalagi bahasa tulisan, adalah mahkota kebudayaan. Orang-orang yang dengan entengnya mengatakan bahsa bahasa Indonesia tidak memadai, jangan-jangan mereka hanya malas berpikir. Mereka lebih suka mencaplok mentah-mentah kata-kata dalam bahasa asing, diutak-atik sana-sini sehingga lebih pas dengan lidah Indonesianya, kemudian dipakailah itu sebagai kata Indonesia. Untuk apa kita perlu "adres" padahal sudah ada "alamat" yang jauh lebih alami dan lebih indah? Untuk apa perlu "skedul" padahal sudah ada "jadwal"?

Jangan-jangan lagi, itu adalah tanda rendah dirinya kita sebagai sebuah bangsa. Kita malu menggunakan bahasa kita sendiri! Kita malas dan kita malu. Padahal sepatutnyalah kita malu kalau kita malas. Mencari padanan kata dalam bahasa sendiri saja malas. Alangkah malangnya kita!

Tetapi sebentar. Saya ingin menyoroti satu aspek yang sangat penting dari masalah bahasa ini dalam kekristenan.

Semakin lama, semakin banyak pula pengkhotbah yang dengan gagahnya bercuap-cuap dengan bahasa Inggris di sana-sini. Semakin lama, bisa-bisa kekristenan menjadi agama yang semakin asing. Orang tidak puas dengan Alkitab bahasa Indonesia, tidak afdol rasanya kalau tidak memakai Alkitab berbahasa Inggris. Maka ke gereja pun membawa-bawa Alkitab berbahasa Inggris.

Saya memiliki Alkitab dalam berbagai bahasa - di antaranya ada bahasa Indonesia, Inggris dan Prancis; masing-masing dalam beberapa versi. Tetapi ketika saya datang ke kebaktian, kecuali terpaksa, saya akan membawa Alkitab berbahasa Indonesia. Kenapa? Siapa tahu di sebelah saya ada orang yang baru pertama kali ke gereja, atau orang yang tidak mampu membeli Alkitab, atau orang yang begitu sederhana sehingga memang tidak pernah punya Alkitab, dan ia tidak bisa ikut serta dalam pembacaan Alkitab, di antaranya karena saya membawa Alkitab dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Bukankah di dalam ibadah itu pun kita harus siap berbagi?

Ketika ibadah semakin banyak menggunakan bahasa asing, bukan saja agama Kristen menjadi semakin asing, tetapi kita pun membangun tembok bagi mereka yang kurang beruntung secara intelektual. Bagaimana dengan mereka yang kemampuan bahasanya terbatas? Bagaimana dengan orang-orang tua? Bagaimana dengan orang-orang yang sederhana, mereka yang untuk kebutuhan perut saja masih harus berjuang? Mungkin saja kapasitas intelektual mereka untuk bertumbuh lebih terbatas. Tetapi itu menjadi masalah besar ketika kita juga membatasi kemampuan mereka untuk bertumbuh dalam pemahaman iman mereka karena kita menyajikan ibadah dan khotbah dalam bahasa yang tidak mereka mengerti! Bagaimana mereka bertumbuh melalui ibadah dan khotbah, sedangkan apa yang disampaikan pun mereka tidak mengerti? Apa yang mereka nikmati dalam puji-pujian sedangkan kata-kata syair lagu itu pun tidak mereka mengerti?

Allah yang begitu besar, begitu dahsyat, begitu agung, telah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia, bahkan dalam kondisi manusia yang paling hina. Dia yang begitu besar telah mengkomunikasikan diri-Nya begitu rupa, menjadi begitu kecil agar bisa berkomunikasi dengan kita. Masakan kita sekarang mau meninggikan diri dan menolak mengkomunikasikan kebenaran itu dari saudara-saudara kita yang kurang mampu itu? Kalau Allah saja bersedia membatasi diri-Nya dan kenyamanan-Nya agar kita bisa berkomunikasi dengan Dia, masakan kita tidak bersedia membatasi pergolakan intelektual kita dan membungkusnya dalam bahasa yang lebih sederhana agar orang-orang yang paling sederhana pun - mereka yang kurang beruntung secara intelektual - bisa memahaminya dan bertumbuh dalam pemahaman iman itu!

Satu kali kita hidup dan segala sesuatu yang kita ucapkan dalam hidup kita ini kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan takhta Allah Bapa. Bagaimana para pengkhotbah hendak mempertanggungjawabkan kata-kata asing yang dikhotbahkannya dan membuat saudara-saudara kita yang "paling hina" itu menjadi tidak mengerti?

Jadi, benarkah bahwa bahasa Indonesia tidak memadai? Tidak demikian! Yang menjadi masalah bukanlah kememadaian, tetapi kesadaran tentang adanya kesenjangan budaya dan bahwa dalam menerjemahkan kita sedang membuat jembatan antar-budaya.

Membuat terjemahan yang baik memang tidak pernah mudah. Ketika kita belajar, kebanyakan sumber belajar kita tersedia dalam bahasa asing. Untuk mengkomunikasikannya ke dalam bahasa Indonesia dengan baik, dibutuhkan bukan semata-mata terjemahan mekanis, tetapi dibutuhkan pemahaman budaya - bukan satu, melainkan dua budaya - sehingga yang diterjemahkan bukan saja kata-katanya tetapi juga pemahaman antar-budaya. Tetapi itulah tanggung jawab kita, orang-orang yang telah diberikan kesempatan untuk belajar dan mendapatkan pendidikan yang sangat tinggi (sedangkan pemerintah saja masih berjuang untuk wajib belajar 9 tahun).

Kepada siapa Tuhan memberikan banyak, dari dia akan dituntut pertanggungjawaban yang lebih besar pula.



1 Comment So Far

Budi on 7 March, 2007 at 8:39 pm #
    

Dear Andrea

Memang pelik kasus pemerkosaan yang satu ini. Masalahnya kita tidak bisa minta keterangan korban untuk hal yg paling mendasar sekalipun: Apakah korban keberatan kalau dirinya diperkosa. Wong yang diperkosa ini bahasa. Yang bersangkutan tentu tidak bisa memakai dirinya sendiri untuk menyuarakan tuntutan bagi dirinya sendiri.

Lantas, siapa yg bisa ? Mengasumsikan bahwa pemerkosaan itu sendiri benar telah terjadi.

Mari kita berpaling kepada para pencari keadilan, yaitu mereka yg paling pertama berteriak bahwa sebuah pemerkosaan telah terjadi. Merekalah yg seakan telah membangunkan seantero jagad bahwa ada yg namanya pemerkosaan terhadap Bahasa Indonesia. Dalam hal ini salah duanya adalah Pejuang Antimediokritas kita tercinta bersama si pandir yg mengomentari blog Sang Pejuang.

Bisa kita lihat di sini bahwa kasus menarik ini tergantung pada pelapor yg bukan korban sedangkan korban dalam keadaan tidak memungkinkan untuk melapor. Karena pemerkosaan adalah delik aduan menurut hukum negara ini, rasa-rasanya kasus ini tidak akan bisa mendarat di muka hakim.

Bahkan, kelihatannya tidak semua orang yang berkepentingan dengan bahasa ini berpendapat bahwa ini adalah kasus. Berpendapat saja tidak, bagaimana mau ikut berteriak menuntut keadilan ?

Pada akhirnya nasib bahasa ini memang ditentukan di kurva normal. Keberadaan kasus itu sendiri bergantung pada kelompok mana yang dominan, yang normal, yang medioker hehehe… Yah, memang wajar karena bahasa macam apa yg dipakai tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan kesukaan pemakainya.

Kenyataannya sifat tergantung pemakai ini (user-defined) sudah merasuk sampai ke cara mengadopsi unsur asing. Pelayan bertanya, “Dagingnya mau dimasak bagaimana: matang, setengah matang, atau ala karnivora sejati ?” Mungkin kita yang harus belajar berbesar hati menerima bahasa karnivora pilihan bangsa yang sebagian besar baru bisa makan daging waktu Idul Fitri dan Idul Adha. Berharap saja suatu saat selera bangsa ini berubah.

Saat ini baru ada satu macam daging dan kita tidak suka itu.
Apa yang kita perbuat ? TELAN.


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: