It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Sebuah pernikahan tengah dirancang. Bukan, bukan pernikahan itu sendiri, melainkan acara peresmiannya: banyak detail menjelang dan pada hari-H, pemberkatan di gereja, resepsi dsb. Dalam semua persiapan itu, ada sejumlah pertemuan dengan orang-orang yang menyebut dirinya entah konsultan entah tenaga ahli entah tenaga pemasaran. Ini adalah upacara yang besar dan penting - suatu pengalaman sekali seumur hidup bagi kedua mempelai.
Di dalam perjalanan mendampingi mempelai, saya menjumpai betapa banyak para tenaga pemasaran itu menggunakan nama Tuhan, seperti "kita boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan," "ya, kalau Tuhan berkehendak …", ada banyak sekali kalimat-kalimat semacam itu. Tentunya itu dipengaruhi oleh fakta bahwa di negara kita kehidupan beragama sedikit-banyak ada di ruang publik dan bukan cuma di ruang pribadi; juga oleh skala upacara yang tengah dirancang.
Tetapi satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, untuk apa semua penyebutan nama Tuhan itu? Apakah mereka benar-benar orang yang relijius? Dari pembicaraan yang terjadi, saya yakin tidak. Kenyataannya, mereka bahkan seringkali tidak bisa membedakan antara yang esensial dan tidak; bahkan memaksakan tradisi yang tidak jelas makna dan muatannya di atas hal-hal yang jelas dan jernih makna dan muatannya. Lantas apa? Sekedar kesopanan? Basa-basi?
Jangan-jangan, Tuhan hanya dijadikan alat pemasaran - sebuah tameng untuk kondisi yang tidak baik dan sebuah payung untuk memastikan tangkapan yang besar atas umpan yang dilemparkan. Ketika itu benar terjadi, maka kata "Tuhan" menjadi hampa dan tidak lebih dari sekedar jargon bisnis.
Sebuah email tiba dari Toko Buku Aksara. Buku ketujuh dari serial Harry Potter sudah bisa dipesan. Saya mem-browse website J.K. Rowling, ternyata buku itu, buku yang terakhir dari serial tersebut, baru akan terbit bulan Juli. Namun, tak pelak, informasi itu akhirnya membuat saya membaca buku yang ke-6, yang sudah lama saya simpan tanpa pernah dibaca.
Satu hal yang saya sadari: nampaknya tidak ada buku lain yang menggambarkan sekolah sebagai suatu lembaga yang begitu menggairahkan. Bagi saya, peranan yang dimainkan oleh Hogwarts dan Prof. Dumbledore terhadap dunia para penyihir seharusnya menjadi idealisme kita ketika kita membicarakan dan menghidupi peranan sekolah-sekolah kita serta para kepala sekolah kita - bahkan juga para guru - terhadap dunia tempat kita hidup. Sekolah menjadi lembaga yang terhormat, sebagai sebuah monumen peradaban tetapi juga sebagai pusat inovasi. Kepala sekolah sebagai salah satu tokoh masyarakat yang paling dihormati, paling berwibawa dan paling kompeten dalam bidangnya.
Kehormatan dan kewibawaan serta pengaruh yang besar yang dimiliki oleh sekolah maupun pribadi-pribadi di dalamnya, pribadi-pribadi yang turut membentuk perjalanan sekolah itu adalah sebuah permata bagi peradaban yang diampunya.
Tidak pernah ada film yang begitu membuat saya penasaran. Ingin sekali menontonnya. Tidak pernah saya berpikir sedemikian positif tentang bangsa Sparta. Tentu, dalam pelajaran Sejarah, saya selalu mengagungkan Atena sedangkan Sparta saya pandang sebagai kaum yang brutal, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Tetapi, jangan-jangan, dengan praduga yang sedemikian kuat, ada suatu nilai sejarah dan kemunusiaan yang kuat yang terhilang dari persepsi saya.
Ya, jangan-jangan, dari Sparta yang tidak berperikemanusiaan pun ada nilai kemanusiaan yang bisa kita pelajari.
Saya menunggu "300" dengan antusias. Mudah-mudahan pada 9 Maret, film ini diluncurkan serentak.
Kemerdekaan. Kebebasan. Itu adalah satu hal yang sangat saya syukuri. Di sepanjang hidup saya, ada banyak hal yang ingin saya lakukan dan saya merasa terkekang. Ada begitu banyak kendala. Tetapi ketika membandingkan dengan orang-orang lain, baru saya menyadari betapa bebasnya saya.
Menjelang lulus SD, saya bebas memilih SMP. Begitu juga SMP ke SMA dan saat kuliah. Bahkan ketika lulus dari perguruan tinggi, saya pun bebas mengambil sebuah kehidupan yang berbeda dan tak terduga sebelumnya - menjadi guru. Sungguh luar biasa bagaimana orang tua saya mengizinkan saya menjadi guru, sementara ada tawaran-tawaran pekerjaan dengan pendapatan lima kali lipat, suatu angka yang jauh di atas rata-rata.
Di dalam menjalani kehidupan, saya juga melihat bagaimana sehari-hari banyak orang terhalang untuk melakukan banyak hal karena harus mengemudi sendiri, karena harus menempuh perjalanan jauh dan menghabiskan banyak waktu di jalan, belum lagi harus mengantar orang tuanya, saudaranya, dsb. Acara-acara ini dan itu, sepertinya banyak sekali porsi dari agenda mereka yang berada di tangan orang lain sedangkan bagi saya, agenda saya nampaknya praktis seluruhnya berada di tangan saya sendiri.
Tiadanya kebutuhan transportasi, waktu yang dihabiskan di jalan, kebebasan dalam pekerjaan dan dalam berkarya, kebebasan bergerak di dalam kehidupan ini untuk mengambil keputusan-keputusan yang tidak populer, memilih jalan hidup yang tidak lazim, memilih suatu bentuk kehidupan yang berbeda dari orang kebanyakan … semua itu adalah hal-hal yang sangat luar biasa, kemerdekaan yang tak ternilai harganya, yang harus dipergunakan dengan bertanggung jawab. Tetapi di dalam semuanya, Tuhan selalu memelihara. Tuhan selalu menjaga dan mencukupkan semua kebutuhan pada waktunya. Di dalam pemeliharaan-Nya, semua berjalan dengan baik.
Kemerdekaan adalah hasrat terbesar manusia dan saya, saya percaya, telah mendapatkannya sejak saat pertama saya dipercayakan Tuhan kepada keluarga saya.
Apa yang menyebabkan Anda stres? Dulu, orang cenderung mengatakan bahwa beban pekerjaan yang tinggi atau kurangnya kendali kita sendiri atas pekerjaan adalah sumber stres yang besar. Tetapi dalam Time edisi 12 Februari, Christine Gorman (h. 52) menuliskan bahwa "unfairness and a mismatch in values", ‘ketidakpatutan dan ketidaksesuaian nilai-nilai" yang dianut antara pekerja dan atasannya merupakan pemicu stres yang besar. Bagaimana mengidentifikasinya? Salah satu penduga yang paling kuat, menurut Christina Maslach, pemrakarsa penelitian terhadap orang-orang yang ‘burnout’, adalah adanya vakum informasi - yaitu kondisi di mana orang tidak tahu kenapa suatu keputusan dibuat dan kenapa suatu hal berjalan dengan satu cara dan bukan dengan cara yang lainnya.
Setelah lelah bergulat dengan berbagai ketidakpastian dan vakum informasi yang memekakkan, saya pun akhirnya memutuskan sudah saatnya untuk bertindak. Apa yang disebutkan di Time sebagai "unfairness and a mismatch in values" memang benar didukung oleh sebuah "vacuum of information" yang benar-benar memekakkan kesadaran. Dampaknya? Para sahabat dan teman-teman saya bisa merasakannya dalam percakapan-percakapan mereka dengan saya dan dalam tulisan-tulisan saya. Apa isinya? Tidak lebih dari keluhan. Kalau saja saya bertahan lebih lama lagi, kasihan mereka, sudah terlalu lama mereka hanya mendengar keluhan dari saya. Optimisme, semangat dan gairah yang dulu ada kini terselubung oleh begitu pekatnya dengan kekelaman stres.
Fajar yang baru telah menyingsing.
Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. … Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. -Lukas 14:28-30, 34-35a (TB2, (C) LAI 2002)
Berapa sering kita menjumpai orang berjuang untuk satu alasan dan ternyata ia berakhir di ujung yang lain? Bahwa setelah sekian tahun ia berjuang, kita justru mendapati dia berada di pihak lawan? Bahwa setelah ajal menjemputnya, ia dikenang bukan sebagai pahlawan, malah sebagai pengkhianat?
Sebelum berjuang ada baiknya kita menimbang baik-baik alasan kita untuk berjuang. Seberapa besarkah alasan itu? Seberapa kuatkah dia menjadi alasan sebuah perjuangan? Seberapa besar dan seberapa panjang dan seberapa jauh dampak perjuangan kita itu? Apakah yang kita perjuangkan adalah satu hal yang memang esensial atau hanya dampak dari hal lain yang lebih esensial?
Kalau kita berjuang untuk hal yang esensial, maka ketika perjuangan itu berhasil efek dominonya akan sangat kuat. Tetapi kalau tidak esensial, sia-sia sajalah kita berjuang. Efeknya tidak akan berarti. Kelelahan kita setelah berjuang tidak ada manfaatnya dan karena akar permasalahannya tidak kunjung dibenahi, maka bisa diduga masalah itu akan muncul lagi dan muncul lagi seperti monster berkepala banyak yang dilawan oleh Hercules: setiap kali kepalanya berhasil ditebas, malah muncul lebih banyak lagi kepala di tempat yang sama.
Dan juga, jangan-jangan hanya kita sendiri yang menganggap itu penting tetapi ternyata bagi banyak orang itu bukan suatu hal yang penting. Maka di sini dibutuhkan banyak penasihat, orang-orang yang lebih dewasa, yang lebih berpengalaman, agar perjuangan kita menjadi perjuangan yang efektif dan tidak buang-buang waktu belaka.
Seberapa jauh kita bisa bertahan? Daya tahan kita terkait erat dengan pertanyaan sebelumnya. Jika orang memang memandang ini adalah suatu perjuangan yang perlu maka mereka tentu akan membantu kita. Tim adalah suatu hal yang imperatif. "… Bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan" (Pengkhotbah 4:12). Tapi kalau di tengah keletihan kita kita mendapati ternyata kita tengah berjuang seorang diri, jangan-jangan kita memang berada di medan pertempuran yang salah.
Memang ada kalanya dibutuhkan orang-orang yang memiliki kejelian dan keberanian untuk mulai mengobarkan sebuah perjuangan besar, tetapi orang itu harus menyadari dengan kekuatan siapa ia akan mengobarkan perjuangan itu. Apakah dengan kekuatannya sendiri ia bisa bertahan? Berapa lama? Ada kalanya dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyulut semangat massa. Dan, yang dibutuhkan juga bukan cuma otot, tapi juga otak. Dibutuhkan diplomasi. Apatah artinya bambu runcing jika tidak ada orang-orang yang berunding di Den Haag sana? Sampai hari ini toh bagi masyarakat internasional, kemerdekaan Indonesia masih tercatat jatuh pada Desember 1949 dan bukannya Agustus 1945!
Otak harus berada di balik otot dan Tuhan di balik semuanya. Ketika mengobarkan sebuah perjuangan ingatlah untuk terlebih dahulu duduk dan berhitung seberapa banyak kekuatan kita sendiri dan seberapa banyak kita bisa menggalang kekuatan bersama - mulai dari tim inti kita sendiri, orang-orang terdekat kita, sampai kepada massa yang besar. Seberapa penting arti perjuangan ini bagi mereka? Seberapa berarti semua yang akan kita lakukan? Seberapa esensial?
Apa bahayanya kalau ternyata kita kehabisan tenaga di tengah-tengah perjuangan dan tetap tidak ada gerakan nyata yang kita picu? Keletihan akan membuat kita ditertawakan orang banyak, kita akan menjadi seperti badut. Dan lebih parahnya lagi, ketika pada akhirnya kita berpikir antara "Jangan-jangan pihak lawan yang benar, saya akan bergabung dengan mereka" atau "Ya sudahlah, biarkan saja mereka, tidak perlu dilawan" akhirnya orang akan melihat kita entah sebagai bagian dari lawan atau - sekurang-kurangnya - orang yang alih-alih berjuang, malah mengakomodasi kepentingan pihak lawan. Dan apa yang akan terjadi pada diri kita? Tidak ada lagi harga diri! Seperti garam yang menjadi tawar, lebih baik dibuang. Dan di sanalah orang akan menginjak-injak, menertawakan, mencemooh, dan ke dunia orang mati kita akan turun dengan penuh cela dan nista.
Kalau mau berjuang, jangan setengah-setengah. Pertanyaan di paragraf pertama adalah pertanyaan yang agak sulit dijawab, "Berapa sering kita menjumpai orang berjuang untuk satu alasan dan ternyata ia berakhir di ujung yang lain? Bahwa setelah sekian tahun ia berjuang, kita justru mendapati dia berada di pihak lawan? Bahwa setelah ajal menjemputnya, ia dikenang bukan sebagai pahlawan, malah sebagai pengkhianat?" Kenapa? Karena orang harus mencermati sejarah dengan baik-baik. Biasanya kebaikan orang-orang semacam ini akan tenggelam dan hanya ujung dari kehidupannya yang mengenaskanlah yang diingat orang. Tapi itulah kemanusiaan. Itulah kita yang fana.
Jangan pernah menyerah kepada mediokritas. Tetapi yang lebih parah daripada mediokritas adalah perjuangan yang terlalu menggebu-gebu, kemudian kehabisan tenaga di tengah jalan, dan layu sebelum berkembang. Sekali perjuangan dikobarkan, berjuanglah hingga tetes darah penghabisan.
Satu hal yang sangat aneh terjadi di Ketapang (Jalan K.H. Zainul Arifin) seminggu belakangan ini. Biasanya, hujan sedikit saja - di bulan apa pun, bahkan di musim kemarau - akan menyebabkan Ketapang tergenang air hingga semata kaki. Beberapa tempat seperti di depan Gereja Kristus, bahkan jelas tidak membutuhkan hujan deras sama sekali karena hujan dengan curah yang biasa pun sudah cukup untuk menggenangi jalan di depannya. Tetapi sejak hari Jumat yang lalu, ketika curah hujan yang sangat deras mengguyur Jakarta, diikuti hari-hari yang panas terik tetapi tetap permukaan air sungai terus naik akibat kiriman dari tempat lain, justru Ketapang tetap kering. Bukan sekedar tidak tergenang, tapi benar-benar kering. Bukankah ini suatu keajaiban?
Dugaan sementara adalah karena proyek pembangunan wihara di sebelah gereja. Bukan, ini sama sekali bukan persoalan mistis, tapi pastinya lebih merupakan persoalan permainan kekuasaan di balik proyek-proyek besar ini.
Ternyata hanya sebuah kisah cinta lainnya … hanya saja ditambah trik-trik yang tidak lazim. Dengan alur melingkar yang klasik, film berdurasi sekitar 110 menit ini memang menarik, walaupun selama 90 menitan alur-melingkarnya kelihatan begitu meyakinkan dan tidak membuat saya bertanya-tanya. Hanya kilasan-kilasan penjelasan di menit-menit terakhir yang membuat saya berpikir, "O, ternyata ada alur lain yang bisa terjadi." Penjelasan yang menarik, walaupun disajikan dengan cara yang nampaknya harus membuat sebagian orang mengernyitkan dahi.
Alur yang menarik, benar-benar cerdik, dan berlatar belakang kehidupan bangsawan adalah poin-poin yang membuat saya tertarik; walaupun ada juga sisi-sisi etis yang patut dipertanyakan seperti seks di luar pernikahan serta tindakan kedua insan yang dilanda cinta itu yang membuat Putra Mahkota membunuh dirinya sendiri, belum lagi Uhl yang nampaknya dipionkan dan lebih merasa senang dengan hadiah buku yang diterimanya dibandingkan merasa gundah dengan matinya Putra Mahkota dengan alasan yang salah.
Dengan adagiumnya bahwa tidak semua fakta bisa dipercaya: fakta bisa jadi adalah ilusi belaka dan ilusi bisa jadi adalah fakta, film ini menyampaikan pesan pasca-modern yang jelas. Kepercayaan kepada diri sendiri, indera-indera kita serta kekuatan pikiran masing-masing, sesuai konteks-hidup kita, itu semua disajikan dengan cukup kental. Sebuah tontonan yang menarik untuk mengerti ke mana dunia kita akan bergulir. Sebuah jendela untuk melihat ke depan dengan lebih jelas, secercah harapan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.
Satu pesan yang menarik dari film ini adalah keberhasilan terbesar sang ilusionis ternyata dilihat bukan dari kehebatannya dalam pertunjukan. Karya terbesar kita menjadi nyata bukan di atas pentas, bukan di dalam laboratorium, bukan di dalam situasi-situasi yang terkendali (ingat STP? Standard Temperature & Pressure). Itu semua adalah langkah-langkah awal yang diperlukan, tetapi keberhasilan sesungguhnya terjadi ketika apa yang dipersiapkan dan diujicobakan itu dibawa keluar dari situasi-situasi terkendali ke dalam situasi nyata di kehidupan kita. Bukan ketika sang ilusionis berhasil membawa semakin banyak pengunjung ke dalam gedung teaternyalah ia mencapai keberhasilan yang terbesar, tetapi ketika ia berhasil menggunakan kepandaian dan kecerdikannya untuk merengkuh suatu kehidupan yang lebih baik, suatu kehidupan yang lebih bermakna (kehidupan Sang Ilusionis berkeluarga bersama Duchess Von Teschen di pedesaan), seraya memberikan dampak nyata kepada orang-orang di sekeliling mereka (pengelolaan semua asetnya untuk manajernya, imbalan tak terduganya berupa buku dan pencerahan untuk mantan-inspektur Uhl serta - kalau orang mau memainkan adegan "Dark Justice", terbunuhnya sang Putra Mahkota di tangannya sendiri.
Di dalam kehidupan nyata di era pascamodern kita akan semakin banyak menjumpai fakta dan ilusi bertaut erat dan di alam semacam itulah semua teori dan pemahaman kita harus diuji dan dibuktikan kebesarannya, bukan dalam STP tapi justru dalam ketiadaan STP, yaitu di era pasca modern.
Akhirnya kecemasan itu menyergap saya juga. Karena berbagai janji yang dibatalkan, akhirnya saya bisa bernapas cukup lega. Minggu pagi saya habiskan di Hanura, membaca, menulis dan membuat persiapan khotbah. Fyuh … senangnya …
Menjelang tengah hari saya keluar rumah, astaga … permukaan air di Kali Krukut yang mengalir di seberang jalan ternyata sudah naik tinggi sekali. Saya pun mulai khawatir. Jadilah siang itu saya ke Hypermart membeli dua botol besar Aqua dan tiga bungkus roti … berjaga-jaga seandainya sampai tidak bisa keluar karena tidak ada tukang makanan.
Rasa was-was terus datang dan pergi sepanjang sisa hari itu, hingga keesokan paginya, ketika permukaan air kembali turun. Bercampur pula dengan rasa kesal karena tidak bisa online sehingga blog yang sudah bertumpuk belum bisa juga diposkan. Pada sore hari, pk. 16.13, datang pemberitahuan bahwa sekolah diliburkan sampai hari Rabu. Wah … benar-benar lega nih. Dalam hidup saya, bencana selalu membawa kesempatan untuk menarik napas.
Tetapi saya juga merasakan ada sesuatu yang salah nih dengan diri saya. Ketika teman-teman sibuk mengurusi posko, mengumpulkan dan mendistribusikan bantuan ke sana kemari, saya rasanya kok malah lebih asyik dengan kesendirian saya ya? Rasanya ada sekrup yang harus dikencangkan di dalam kesadaran saya nih.
Memang ada kalanya saya menyadari bahwa ada kalanya pemahaman dan reaksi-hidup saya tidak menyatu. Misalnya, saya percaya bahwa semua manusia setara, tetapi seperti dikatakan seorang mantan presiden AS, saya nampaknya lebih percaya bahwa, "All men are equal; but some are more equal than the others." Misalnya ketika saya mendengar berita ada kecelakaan anu, sekian ratus orang meninggal. Reaksi saya adalah, "O …." Lantas? Ya sudah! Berikutnya, ada kecelakaan kereta api di India, 300 orang meninggal. Reaksinya? Sama! Bencana banjir menyebabkan sekian juta orang mengungsi dan sekian puluh orang meninggal. Tidak lebih dari "O …" yang meninggalkan mulut saya.
Di pihak lain, ketika saya membaca berita ada pesawat ulang-alik yang meledak dan kedelapan penumpangnya (delapan!), semua meninggal - delapan orang ilmuwan, delapan orang doktor, ya, delapan! Apa reaksi saya? Seketika itu juga saya merasa terpukul, saya terhenyak, saya merasa sedih sekali. Pada saat itu juga, di depan koran, saya meneteskan air mata. Saya sedih. Kenapa dunia harus kehilangan mereka?
Dari mana lahirnya perbedaan reaksi ini? Dari mana datangnya pembedaan ini?
Akal boleh mengikrarkan pengakuannya. Tetapi hati mempunyai logikanya sendiri.
Sejumlah SMS yang saya terima sehubungan dengan banjir di hari-hari ini membuat saya menyadari apa yang menjadi kenyataan selama ini, tetapi tidak pernah mencuat: media yang saya konsumsi membuat saya menjadi orang yang tidak mendarat di tengah-tengah lingkungan saya sendiri. Dalam keadaan saya sekarang, saya tidak mempunyai akses kepada TV dan radio. Akses kepada Internet hanya ada di jam kerja. Harian "Kompas" juga hanya bisa dibaca di kantor. Lantas, media apa yang saya akses?
Saya membaca Time, saya mendengar siaran BBC dan New York Times menggunakan iTunes. Saya juga membaca Christianity Today. Tetapi kondisi di sekitar saya sendiri kurang saya kenal, ternyata. Realita hidup saya jangan-jangan sangat berbeda dengan realita yang sesungguhnya (Anda bisa menangkap ironi dari frase saya itu? "Realita yang sesungguhnya"!) Ditambah pula dengan kemewahan hidup yang saya miliki, (baca blog saya sebelumnya: "Kemewahan Hidup") jadilah saya orang asing di tanah sendiri.
Tetapi mungkin ini adalah satu-satunya saat di mana akhirnya saya bisa beristirahat dengan tenang dan memulihkan diri. Mungkin hanya itu.