Feb
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

Satu hal yang sangat aneh terjadi di Ketapang (Jalan K.H. Zainul Arifin) seminggu belakangan ini. Biasanya, hujan sedikit saja - di bulan apa pun, bahkan di musim kemarau - akan menyebabkan Ketapang tergenang air hingga semata kaki. Beberapa tempat seperti di depan Gereja Kristus, bahkan jelas tidak membutuhkan hujan deras sama sekali karena hujan dengan curah yang biasa pun sudah cukup untuk menggenangi jalan di depannya. Tetapi sejak hari Jumat yang lalu, ketika curah hujan yang sangat deras mengguyur Jakarta, diikuti hari-hari yang panas terik tetapi tetap permukaan air sungai terus naik akibat kiriman dari tempat lain, justru Ketapang tetap kering. Bukan sekedar tidak tergenang, tapi benar-benar kering. Bukankah ini suatu keajaiban?

Dugaan sementara adalah karena proyek pembangunan wihara di sebelah gereja. Bukan, ini sama sekali bukan persoalan mistis, tapi pastinya lebih merupakan persoalan permainan kekuasaan di balik proyek-proyek besar ini.

Feb
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

Ternyata hanya sebuah kisah cinta lainnya … hanya saja ditambah trik-trik yang tidak lazim. Dengan alur melingkar yang klasik, film berdurasi sekitar 110 menit ini memang menarik, walaupun selama 90 menitan alur-melingkarnya kelihatan begitu meyakinkan dan tidak membuat saya bertanya-tanya. Hanya kilasan-kilasan penjelasan di menit-menit terakhir yang membuat saya berpikir, "O, ternyata ada alur lain yang bisa terjadi." Penjelasan yang menarik, walaupun disajikan dengan cara yang nampaknya harus membuat sebagian orang mengernyitkan dahi.

Alur yang menarik, benar-benar cerdik, dan berlatar belakang kehidupan bangsawan adalah poin-poin yang membuat saya tertarik; walaupun ada juga sisi-sisi etis yang patut dipertanyakan seperti seks di luar pernikahan serta tindakan kedua insan yang dilanda cinta itu yang membuat Putra Mahkota membunuh dirinya sendiri, belum lagi Uhl yang nampaknya dipionkan dan lebih merasa senang dengan hadiah buku yang diterimanya dibandingkan merasa gundah dengan matinya Putra Mahkota dengan alasan yang salah.

Dengan adagiumnya bahwa tidak semua fakta bisa dipercaya: fakta bisa jadi adalah ilusi belaka dan ilusi bisa jadi adalah fakta, film ini menyampaikan pesan pasca-modern yang jelas. Kepercayaan kepada diri sendiri, indera-indera kita serta kekuatan pikiran masing-masing, sesuai konteks-hidup kita, itu semua disajikan dengan cukup kental. Sebuah tontonan yang menarik untuk mengerti ke mana dunia kita akan bergulir. Sebuah jendela untuk melihat ke depan dengan lebih jelas, secercah harapan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.

Satu pesan yang menarik dari film ini adalah keberhasilan terbesar sang ilusionis ternyata dilihat bukan dari kehebatannya dalam pertunjukan. Karya terbesar kita menjadi nyata bukan di atas pentas, bukan di dalam laboratorium, bukan di dalam situasi-situasi yang terkendali (ingat STP? Standard Temperature & Pressure). Itu semua adalah langkah-langkah awal yang diperlukan, tetapi keberhasilan sesungguhnya terjadi ketika apa yang dipersiapkan dan diujicobakan itu dibawa keluar dari situasi-situasi terkendali ke dalam situasi nyata di kehidupan kita. Bukan ketika sang ilusionis berhasil membawa semakin banyak pengunjung ke dalam gedung teaternyalah ia mencapai keberhasilan yang terbesar, tetapi ketika ia berhasil menggunakan kepandaian dan kecerdikannya untuk merengkuh suatu kehidupan yang lebih baik, suatu kehidupan yang lebih bermakna (kehidupan Sang Ilusionis berkeluarga bersama Duchess Von Teschen di pedesaan), seraya memberikan dampak nyata kepada orang-orang di sekeliling mereka (pengelolaan semua asetnya untuk manajernya, imbalan tak terduganya berupa buku dan pencerahan untuk mantan-inspektur Uhl serta - kalau orang mau memainkan adegan "Dark Justice", terbunuhnya sang Putra Mahkota di tangannya sendiri.

Di dalam kehidupan nyata di era pascamodern kita akan semakin banyak menjumpai fakta dan ilusi bertaut erat dan di alam semacam itulah semua teori dan pemahaman kita harus diuji dan dibuktikan kebesarannya, bukan dalam STP tapi justru dalam ketiadaan STP, yaitu di era pasca modern.

Feb
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

Akhirnya kecemasan itu menyergap saya juga. Karena berbagai janji yang dibatalkan, akhirnya saya bisa bernapas cukup lega. Minggu pagi saya habiskan di Hanura, membaca, menulis dan membuat persiapan khotbah. Fyuh … senangnya … :-) Menjelang tengah hari saya keluar rumah, astaga … permukaan air di Kali Krukut yang mengalir di seberang jalan ternyata sudah naik tinggi sekali. Saya pun mulai khawatir. Jadilah siang itu saya ke Hypermart membeli dua botol besar Aqua dan tiga bungkus roti … berjaga-jaga seandainya sampai tidak bisa keluar karena tidak ada tukang makanan.

Rasa was-was terus datang dan pergi sepanjang sisa hari itu, hingga keesokan paginya, ketika permukaan air kembali turun. Bercampur pula dengan rasa kesal karena tidak bisa online sehingga blog yang sudah bertumpuk belum bisa juga diposkan. Pada sore hari, pk. 16.13, datang pemberitahuan bahwa sekolah diliburkan sampai hari Rabu. Wah … benar-benar lega nih. Dalam hidup saya, bencana selalu membawa kesempatan untuk menarik napas.

Tetapi saya juga merasakan ada sesuatu yang salah nih dengan diri saya. Ketika teman-teman sibuk mengurusi posko, mengumpulkan dan mendistribusikan bantuan ke sana kemari, saya rasanya kok malah lebih asyik dengan kesendirian saya ya? Rasanya ada sekrup yang harus dikencangkan di dalam kesadaran saya nih.

Memang ada kalanya saya menyadari bahwa ada kalanya pemahaman dan reaksi-hidup saya tidak menyatu. Misalnya, saya percaya bahwa semua manusia setara, tetapi seperti dikatakan seorang mantan presiden AS, saya nampaknya lebih percaya bahwa, "All men are equal; but some are more equal than the others." Misalnya ketika saya mendengar berita ada kecelakaan anu, sekian ratus orang meninggal. Reaksi saya adalah, "O …." Lantas? Ya sudah! Berikutnya, ada kecelakaan kereta api di India, 300 orang meninggal. Reaksinya? Sama! Bencana banjir menyebabkan sekian juta orang mengungsi dan sekian puluh orang meninggal. Tidak lebih dari "O …" yang meninggalkan mulut saya.

Di pihak lain, ketika saya membaca berita ada pesawat ulang-alik yang meledak dan kedelapan penumpangnya (delapan!), semua meninggal - delapan orang ilmuwan, delapan orang doktor, ya, delapan! Apa reaksi saya? Seketika itu juga saya merasa terpukul, saya terhenyak, saya merasa sedih sekali. Pada saat itu juga, di depan koran, saya meneteskan air mata. Saya sedih. Kenapa dunia harus kehilangan mereka?

Dari mana lahirnya perbedaan reaksi ini? Dari mana datangnya pembedaan ini?

Akal boleh mengikrarkan pengakuannya. Tetapi hati mempunyai logikanya sendiri.

Feb
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

Sejumlah SMS yang saya terima sehubungan dengan banjir di hari-hari ini membuat saya menyadari apa yang menjadi kenyataan selama ini, tetapi tidak pernah mencuat: media yang saya konsumsi membuat saya menjadi orang yang tidak mendarat di tengah-tengah lingkungan saya sendiri. Dalam keadaan saya sekarang, saya tidak mempunyai akses kepada TV dan radio. Akses kepada Internet hanya ada di jam kerja. Harian "Kompas" juga hanya bisa dibaca di kantor. Lantas, media apa yang saya akses?

Saya membaca Time, saya mendengar siaran BBC dan New York Times menggunakan iTunes. Saya juga membaca Christianity Today. Tetapi kondisi di sekitar saya sendiri kurang saya kenal, ternyata. Realita hidup saya jangan-jangan sangat berbeda dengan realita yang sesungguhnya (Anda bisa menangkap ironi dari frase saya itu? "Realita yang sesungguhnya"!) Ditambah pula dengan kemewahan hidup yang saya miliki, (baca blog saya sebelumnya: "Kemewahan Hidup") jadilah saya orang asing di tanah sendiri.

Tetapi mungkin ini adalah satu-satunya saat di mana akhirnya saya bisa beristirahat dengan tenang dan memulihkan diri. Mungkin hanya itu.

Feb
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

Lima tahun lalu, di tengah Jakarta yang bagaikan Venesia, saya menikmati kenyamanan di rumah yang tetap beroperasi normal seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda banjir, tidak ada juga ancaman banjir dan di sekitar tempat tinggal kami pun tidak ada tanda-tanda bencana seperti posko banjir, dsb. Maka selama berhari-hari saya menikmati waktu istirahat yang tidak lazim. Saya menonton TV yang praktis terus-menerus menayangkan banjir di mana-mana, serta pengumpulan dana kemanusiaan. Lagu yang melatarbelakangi iklan pengumpulan dana itu di satu stasiun TV yang paling sering saya tonton adalah "If We Hold On Together", OST "The Land Before Time" yang dinyanyikan Diana Ross. Karena seringnya mendengar lagu itu, akhirnya saya jadi sangat menikmati dan mencari-carinya.

Hampir lima tahun berselang, dan baru seminggu yang lalu saya berhasil mendapatkan lagu itu beserta teks lengkapnya. Ternyata kemudian banjir besar kembali datang. Tetapi bukan itu masalahnya. Saya jadi mengerti kenapa lagu itu yang dipakai, memang kata-katanya menginspirasi. Bahkan di saat itu pun, beberapa hari yang lalu ketika saya mendengarnya, saya dikuatkan, "Don’t lose your way with each passing day / you’ve come so far, don’t throw it away". Intinya selanjutnya adalah, ia mengingatkan kita agar tidak berhenti bermimpi karena keajaiban mungkin akan segera datang. Yang penting, yang teramat penting, adalah kita bergandengan tangan dan menjawab tantangan zaman.

Ya, bergandengan tangan, menjawab tantangan zaman, itulah yang sangat kita butuhkan pada masa ini. Di tengah berbagai kekecewaan dan pengharapan yang menerpa, mari kita terus berpegang kepada pengharapan dan terus maju. Berikut adalah syair lagu itu:

"If We Hold On Together"
Diana Ross
Words and Music: James Horner and Will Jennings
From the animated film, "The Land Before Time"

Don’t lose your way with each passing day
You’ve come so far, don’t throw it away
Live believing, dreams are for weaving
Wonders are waiting to start
Live your story: faith, hope and glory
Hold to the truth in your heart

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by, for you and I

Souls in the wind must learn how to bend
Seek out a star, hold on till the end
Valley, mountain, there is a fountain
Washes our tears all away
Worlds are swaying, someone is praying
Please let us come home to stay

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
Where clouds roll by, for you and I

When we are out there in the dark
We’ll dream about the sun
In the dark, we’ll feel the light
Warm our hearts … everyone

If we hold on together
I know our dreams will never die
Dreams see us through to forever
As high as souls can fly
The clouds roll by, for you and I

Dan kini saatnya saya mencari filmnya.

Feb
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

T.I.A. - "This is Africa". Maksim itulah yang dipakai sebagai pembenaran bagi berbagai peristiwa aneh dan tidak masuk akal yang terjadi dalam "Blood Diamond" dengan latar di Sierra Leone tahun 1990-an. Dalam satu adegan dikatakan, "Ada sesuatu yang aneh dengan kulit kita. Orang mengatakan kita hidup lebih baik ketika orang-orang putih memerintah atas diri kita. Sekarang, ketika kita merdeka dan memerintah atas diri sendiri, malah kita terus-menerus bertengkar dan berperang tanpa henti."

Setiap masyarakat mempunyai logikanya sendiri dan pembenarannya sendiri. Ada kalanya kita tidak mengerti mengapa sebuah masyarakat bertindak dengan cara tertentu yang menyakiti dan merugikan diri mereka sendiri. Angka kematian yang begitu tinggi, kekejaman yang terjadi dengan cara yang sangat brutal terulang di mana-mana, orang-orang yang tidak mati entah menjadi cacat, disiksa, dianiaya, bahkan mental mereka ditekan dan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga mereka kemudian menjadi bagian dari pihak lawan.

Kenapa itu semua terjadi? Dalam tataran yang berbeda, di tengah masyarakat yang cukup tertib pun kita ada kalanya melihat satu sub-kelompok masyarakat yang bertindak dengan cara yang merugikan diri mereka sendiri dan seperti dalam kasus perang-perang di Afrika itu, banyak orang mengulurkan tangannya dan ingin memberikan bantuan. Kita ingin bertindak, kita ingin terlibat di dalam penderitaan mereka, tetapi ada kalanya juga mereka nampaknya lebih suka berkanjang di dalam kebodohan dan ketidakmasukakalan tindakan-tindakan mereka. Mereka berupaya terus memabukkan diri dengan pikiran-pikiran mereka yang tidak masuk akal. Dan bahkan, mereka terus berupaya merekrut orang-orang lain untuk bergabung dengan mereka. Bagaimana mungkin sesuatu yang begitu konyol merasuki kemanusiaan?

Tetapi di sisi lain, kita juga melihat kekejaman yang brutal terjadi dengan cara yang lebih-kurang sama, dari Khmer Merah sampai kepada invasi Irak ke Iran dalam dekade yang lalu sampai kepada peperangan yang tak kunjung habisnya di Afrika. Mutilasi, perusakan anggota-anggota tubuh dalam keadaan hidup, pembunuhan orang di depan anggota keluarganya semata-mata sebagai sebuah bentuk ancaman - itu adalah hal yang lazim dijumpai. Berbagai metode dari zaman Nazi hingga perang saudara yang tak kunjung habisnya di Somalia. Ketika orang berperang, nampaknya tujuan mereka bukan cuma untuk meraih satu kemenangan puncak, tetapi dalam meraih kemenangan itu, mereka harus membuat kerusakan separah mungkin pada pihak lawan. Atau, lebih parah lagi, jangan-jangan semua orang yang tidak berpihak pun mereka ingin tarik ke pihak mereka atau langsung dicap sebagai bagian dari lawan. Demikianlah dalam "Blood Diamond" dikatakan bahwa ratusan ribu (?) orang mati, jutaan menjadi pengungsi karena perang memperebutkan intan … dan mereka semua belum pernah sekalipun seumur hidup mereka yang singkat dan mengenaskan itu, melihat sebutir pun intan.

Di mana akal sehat mereka? Kebodohan mereka telah menyebabkan kesengsaraan yang tak terobati bagi orang dalam jumlah yang tak lagi terbilang. Tetapi bagaimana kita bisa menolong? Bukan cuma di Afrika, bukan cuma dalam kondisi-kondisi yang luar biasa, tetapi dalam kondisi-kondisi serupa yang banyak terulang di sekitar kita, ketika peledakan jumlah penduduk, pemiskinan sistemik, urbanisasi dan serangkaian masalah ekologi secara kolektif dirakit menjadi bom waktu yang siap meledak, entah pada masa hidup kita, entah pada masa hidup anak-anak kita, atau cucu-cucu kita, atau entah kapan, apa yang bisa kita lakukan?

Dan bagaimana pula kalau, seperti kata Goenawan Mohamad, kita mungkin melihat adanya alasan untuk mengobarkan revolusi - atas nama rakyat - tetapi ternyata rakyat, massa itu, memiliki logikanya sendiri dan menolak untuk terlibat dalam upaya perbaikan nasib mereka?

Dan itukah sebabnya perang di Afrika tak kunjung berujung?

Feb
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

"Some men are born great, and some have greatness thrust upon them," demikian nasihat patung lilin Roosevelt yang diulang-ulang dalam film "A Night in the Museum". Walaupun ada beberapa bagian yang aneh dan kurang masuk akal, secara keseluruhan film ini adalah film yang menyenangkan, menghibur dan bisa memberikan pencerahan.

Keagungan dan kehebatan seorang manusia seringkali didapat dari kesiapan menangkap kesempatan yang baik pada waktu yang tepat; menjawab tantangan dengan cara yang berani dan tidak konvensional; serta berani membuat keputusan-keputusan yang tidak populis. Ketika orang "terjebak" di dalam situasi yang tidak lazim, entah karena situasi hidupnya atau karena ia memang memiliki suatu panggilan hidup yang tidak lazim, maka ia pun harus mengambil keputusan-keputusan yang berani, lompatan-lompatan besar yang sangat riskan yang mungkin tidak akan dihargai oleh orang lain. Tetapi itulah kesempatan-kesempatan yang istimewa, yang bisa menjadi ketapel kuantum bagi dirinya.

Nalar awam, ‘common sense‘, memang ada baiknya, sebab itu tentunya adalah sebuah kumpulan kebijaksanaan kolektif yang berguna bagi kehidupan banyak orang. Dalam banyak kesempatan di dalam kehidupan kita juga kita harus menggunakan nalar awam. Tetapi ada momen-momen yang sangat berharga di dalam kehidupan kita di mana nalar awam harus diabaikan. Misalnya, sebuah nalar awam mengatakan bahwa kalau semakin awal kita mulai menabung, kita akan mempunyai pertumbuhan jumlah tabungan yang lebih cepat dan pertumbuhan itu hanya bisa dikalahkan kalau kita menabung belakangan dengan suatu jumlah yang secara signifikan lebih besar. Itu adalah adagium yang sangat terkenal.

Tetapi lihatlah Aristotle Socrates, yang membangun kerajaan bisnis perkapalan Onassis yang luar biasa kaya-raya. Ia tiba di Buenos Aires dengan $60, kemudian bekerja sebagai tukang perbaikan telepon di mana ia menyadap pembicaraan-pembicaraan bisnis lintas benua. Setiap sen yang dimilikinya tidak ditabungnya, tetapi dihabiskan untuk pakaian-pakaian yang mewah, gaya hidup malam yang gemerlap untuk berpesta dengan kalangan atas sementara di siang hari ia kembali menjadi tukang perbaikan telepon. Dengan cara yang tidak lazim ini akhirnya dia menjadi kaya-raya.

Permasalahan yang hendak disoroti di sini bukan masalah etikanya, tetapi lihatlah: ada kalanya orang harus berani menentang kelaziman dan memberikan semua yang dimilikinya - waktu, pikiran, tenaga, uang - dan bekerja keras mencapai impiannya, meraih kebesaran itu. Dan perjuangan itu harus dilakukan secara terarah sejak sedini mungkin.

"Some men are born great, and some have greatness thrust upon them," ada orang yang dilahirkan sebagai orang besar dan ada yang tanpa disangka-sangka dihadapkan kepada kebesaran. Pertanyaannya adalah siapkah kita ketika kebesaran itu dilemparkan ke pangkuan kita, apakah kita akan menerimanya dengan keanggunan dan kehormatan atau melemparkannya kembali dan melanjutkan hidup … sebagai orang biasa-biasa saja, sebagai "orang kebanyakan"?

Seorang menjadi pemimpin, menjadi pemuka masyarakat, menjadi tokoh. Maka ia pun memperoleh status, memperoleh kehormatan. Status dan kehormatan yang diperoleh memberikan kebanggaan tersendiri. Keagungan, semarak dan kebesaran akan melekat pada orang itu ke mana ia pergi. Tetapi satu hal yang miris di muka bumi ini adalah melihat seorang pembesar jatuh dan dipermalukan.

Ketika seorang raja kalah dalam pertempuran dan menjadi tawanan, diolok-olok dan dihina oleh pihak lawan. Ketika seorang pembesar dilucuti dari kebesarannya dan menghadapi aib yang besar. Ketika seorang terhormat dipermalukan di depan umum. Sungguh adegan yang tidak pantas dan merendahkan kemanusiaan kita, tetapi ada kalanya toh adegan-adegan semacam itu terjadi di dalam sejarah kita. Bagaimana menghadapi situasi semacam itu?

Seorang pemimpin, pemuka, tokoh, raja, pembesar, orang-orang yang terhormat, walaupun mendapatkan status dan kebanggan yang tinggi seyogianya membangun dan mengisi dirinya dengan landasan yang solid dan struktur yang kokoh. Keagungan, semarak dan kebesarannya, alangkah baiknya jika semua itu dibangun di atas dasar prestasi dan bukan di atas dasar status semata. Jika semua itu dibangun di atas dasar prestasi, maka seluruh keberadaan dan kehidupan pemimpin itu akan menjadi teladan dan panutan bagi orang-orang yang dipimpinnya - perjuangan yang dikobarkan dan ditopangnya akan menjadi perjuangan bersama di mana ia menjadi inspirasi bagi rakyatnya, sang pemimpin adalah personifikasi dari idealisme orang-orang yang dipimpinnya.

Pemimpin sebagai personifikasi idealisme kolektif orang-orang yang dipimpinnya akan memiliki pola pikir, cara pandang dan sikap hidup yang sangat berbeda - ia akan memiliki kobaran api yang membara dengan bahan bakar yang berbeda - dibandingkan dengan pemimpin yang hidup dari statusnya belaka. Ketika para pemimpin jenis yang pertama pada akhirnya harus mengalami kekalahan dan mundur, atau malah ditaklukkan, ia akan menghadapinya dengan cara yang anggun dan terhormat. Dan ketika berada pada pihak penakluk, ia pun akan memperlakukan pemimpin pihak lawan dengan cara yang terhormat.

Pemimpin sebagai personifikasi idealisme kolektif akan dipandang dan diikuti oleh orang-orang yang dipimpinnya juga dengan cara yang berbeda dari pemimpin jenis kedua. Ia akan menjadi panutan mereka, baik dalam hidupnya maupun dalam matinya. Seorang pemimpin sejati tidak berhenti memberikan inspirasi ketika ia menemui ajalnya. Sebaliknya, dengan kematiannya, warisannya menjadi terabadikan dan ia pun masuk ke dalam jajaran para pahlawan - manusia-manusia besar, orang-orang yang mencatatkan namanya dengan tinta emas dalam sejarah umat manusia.

Bukan dari status kehormatan diraih, tetapi dari prestasi. Dan kebesaran sejati diraih dengan menginspirasikan, dengan merengkuh idealisme kolektif dan menghidupkannya di dalam diri - bahkan melampaui kematian sekalipun.

"Wet soil after mild rain." Itu adalah jawaban saya atas pertanyaan bau apa yang paling saya sukai, ketika sekitar lima tahun lalu seorang kawan mengirimkan email berisi serangkaian pertanyaan mengenai diri saya (tentu, semuanya ditanyakan dalam bahasa Inggris, maka datanglah jawaban di atas). Aroma tanah yang basah di tengah kelembaban dan dinginnya udara setelah hujan adalah satu hal yang menyenangkan, menenangkan dan menenteramkan saya.

Di hari-hari ini, itulah yang saya rasakan. Ketika hujan turun hari demi hari, udara menjadi dingin, air di bak mandi juga selalu dingin, dan aroma tanah yang dibasahi oleh air hujan selalu tercium, hari-hari yang saya lalui menjadi begitu menyenangkan, menenangkan dan menenteramkan bagi saya.

Ditambah pula, pada hari Jumat, 2 Februari, sekolah tengah bersiap-siap untuk penyelenggaraan "open house" sehingga tidak ada kegiatan belajar-mengajar dan saya bisa pulang sejak siang hari. Janji dengan klien yang dibuat untuk Jumat sore dibatalkan. Perkuliahan S2 di hari Sabtu ditiadakan. Janji pertemuan untuk Sabtu sore, Minggu pagi dan Minggu siang juga dibatalkan. Saat ini saya tengah mengantisipasi bahwa ada sekurang-kurangnya dua acara yang akan dibatalkan lagi untuk Senin sore dan Senin malam. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah pun mungkin akan lebih ringan jika benar bahwa curah hujan yang tinggi di Jakarta masih akan berlangsung hingga Senin sehingga sejumlah besar guru dan murid mungkin tidak akan bisa tiba di sekolah.

Itu semua membuat hari-hari ini dalam hidup saya menjadi suatu oasis yang tidak terbayangkan sebelumnya: padatnya agenda yang luar biasa bisa tiba-tiba menjadi lengang, melepaskan saya dari penatnya himpitan jadwal; sedangkan cuaca pun mendukung dengan memberikan saya iklim favorit saya. Suatu oasis yang luar biasa! Bahkan di malam hari ini, ketika saya menuliskan blog ini, jalanan di depan rumah pun cukup sepi, tidak bising dengan deru lalu-lalangnya kendaraan bermotor seperti biasa.

Akhirnya pada hari Jumat dan Sabtu saya bisa mempersiapkan khotbah dengan tenang, saya punya cukup banyak waktu untuk kembali membaca dan menulis, untuk merenung dan untuk menikmati cuaca yang luar biasa menyenangkan ini. Walaupun memang koneksi Internet mati (katanya, se-Jakarta) tetapi itu adalah kondisi yang bisa dimaklumi untuk semua kemewahan ini.

Ya, itu dia! Kemewahan. Saya merasa ini semua adalah sebuah kemewahan yang luar biasa.

Sepanjang hidup saya, walaupun keluarga kami sekedar berkecukupan dan tidak berkelimpahan, saya merasa bahwa hidup saya bergelimang dengan kemewahan. Kemewahan macam apa? Dalam konteks keluarga: saya tidak pernah mengalami kematian orang dekat saya; saya memiliki orang tua yang selalu ada untuk saya, yang setiap malam selalu menyediakan waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa bersama, kemudian mencium kami anak-anaknya (setiap malam, jika kami sama-sama ada di rumah), makan malam bersama, bercengkerama di sekeliling meja makan; orang tua yang memberikan saya kebebasan untuk menjadi apa yang saya mau, bahkan sejak lulus SD saya diberi kebebasan memilih SMP yang saya suka, dst., dst.

Dalam konteks lingkungan kehidupan: saya hidup di Jakarta yang telah berkali-kali mengalami banjir besar dan kerusuhan yang dahsyat. Tetapi semua itu nyaris berada di tepi ruang kehidupan saya. Pada banjir besar 1996, saya datang ke sekolah dan mengalami apa yang namanya "banjir" itu untuk pertama kalinya (dan juga terakhir kalinya, hingga sekarang) - tetapi toh rumah saya tidak pernah kebanjiran dan bahkan tidak pernah berada dalam bahaya banjir. Selanjutnya, pada banjir besar 2002 dan 2006 saya sama sekali tidak tersentuh oleh banjir besar itu. Banjir-banjir itu tidak menjadi suatu realita dalam kehidupan saya. Dalam kerusuhan Mei 1998, saya tengah berada di rumah karena telah menyelesaikan ebtanas dan tengah menunggu hasilnya. Kerusihan itu pun tidak menjadi suatu realita dalam kehidupan saya selain melalui kepanikan dan kegelisahan orang tua saya - pada hari-hari itu, saya tetap bisa tidur dengan nyenyak. Ketika pada 22 November 1998 terjadi Tragedi Ketapang, saya memang tengah berada di Gereja Kristus Ketapang, pusat dan titik awal kerusuhan itu, tetapi sebelum kerusuhan pecah, saya telah diungsikan keluar dari titik nol. Dalam hal itu pun, Tragedi Ketapang tidak sampai menjadi suatu realita dalam kehidupan saya. Semua peristiwa besar itu terjadi di tepi ruang kehidupan saya, menyentuh kehidupan saya, tetapi nyaris tidak lebih dari berita yang saya lihat di layar kaca.

Ketika kehidupan begitu mulus dan begitu menyenangkan, eksesnya adalah: ketidakpedulian. Untuk apa saya peduli, kalau kehidupan saya nyaman-nyaman saja. "Persetan dengan realita di luar sana," mungkin pemikiran semacam itu bisa terjadi dan sedikit banyak, disadari atau tidak, perasaan seperti itu pasti ada di dalam diri saya. Saya adalah orang yang bisa asyik dengan diri sendiri. Pada hari-hari ini, ketika di mana-mana layanan listrik, air dan telepon banyak dimatikan, saya masih bisa menikmati terangnya cahaya lampu, notebook yang masih bisa menyala, air masih tersedia di botol minum dan di bak mandi, telepon selular saya terisi penuh baterainya dan mendapat sinyal yang prima juga. Bukankah itu suatu kemewahan?

Tetapi pada akhirnya toh saya perlu mengingat bahwa dunia ini tidak berotasi pada diri saya - betapa pun kelihatannya demikian. Masih ada orang-orang lain. Dan kalau saya ingin terus menikmati cuaca yang sejuk dan air mandi yang dingin, udara yang membawa aroma tanah yang dibasahi oleh air hujan; menikmati jalan yang sepi dan lalu lintas yang lengang, saya harus mengingat jutaan orang yang menderita demi kenyamanan hidup saya - mereka yang harus mengungsi, mereka yang kehilangan harta bendanya, belum lagi kehilangan surat-surat berharga, ada juga yang kehilangan nyawa mereka.

Ketika Tuhan memberikan suatu momen yang bagaikan oasis dalam kehidupan, momen itu perlu digunakan dengan bijak - demi kesehatan diri sendiri, tetapi juga demi kebaikan orang lain. Kemewahan - apa pun bentuknya, entah itu harta, waktu, atau kesempatan yang tidak lazim - adalah hak istimewa yang Tuhan sediakan, bukan cuma supaya kita dapat bersyukur, tapi juga agar kita menjadi saluran berkat-Nya, dengan satu cara maupun yang lainnya.