Feb
07
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 07-02-2007

Apa yang menyebabkan Anda stres? Dulu, orang cenderung mengatakan bahwa beban pekerjaan yang tinggi atau kurangnya kendali kita sendiri atas pekerjaan adalah sumber stres yang besar. Tetapi dalam Time edisi 12 Februari, Christine Gorman (h. 52) menuliskan bahwa "unfairness and a mismatch in values", ‘ketidakpatutan dan ketidaksesuaian nilai-nilai" yang dianut antara pekerja dan atasannya merupakan pemicu stres yang besar. Bagaimana mengidentifikasinya? Salah satu penduga yang paling kuat, menurut Christina Maslach, pemrakarsa penelitian terhadap orang-orang yang ‘burnout’, adalah adanya vakum informasi - yaitu kondisi di mana orang tidak tahu kenapa suatu keputusan dibuat dan kenapa suatu hal berjalan dengan satu cara dan bukan dengan cara yang lainnya.

Setelah lelah bergulat dengan berbagai ketidakpastian dan vakum informasi yang memekakkan, saya pun akhirnya memutuskan sudah saatnya untuk bertindak. Apa yang disebutkan di Time sebagai "unfairness and a mismatch in values" memang benar didukung oleh sebuah "vacuum of information" yang benar-benar memekakkan kesadaran. Dampaknya? Para sahabat dan teman-teman saya bisa merasakannya dalam percakapan-percakapan mereka dengan saya dan dalam tulisan-tulisan saya. Apa isinya? Tidak lebih dari keluhan. Kalau saja saya bertahan lebih lama lagi, kasihan mereka, sudah terlalu lama mereka hanya mendengar keluhan dari saya. Optimisme, semangat dan gairah yang dulu ada kini terselubung oleh begitu pekatnya dengan kekelaman stres.

Fajar yang baru telah menyingsing.

Feb
07
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 07-02-2007

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. … Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya baik untuk ladang maupun untuk pupuk, dan orang membuangnya saja. -Lukas 14:28-30, 34-35a (TB2, (C) LAI 2002)

Berapa sering kita menjumpai orang berjuang untuk satu alasan dan ternyata ia berakhir di ujung yang lain? Bahwa setelah sekian tahun ia berjuang, kita justru mendapati dia berada di pihak lawan? Bahwa setelah ajal menjemputnya, ia dikenang bukan sebagai pahlawan, malah sebagai pengkhianat?

Sebelum berjuang ada baiknya kita menimbang baik-baik alasan kita untuk berjuang. Seberapa besarkah alasan itu? Seberapa kuatkah dia menjadi alasan sebuah perjuangan? Seberapa besar dan seberapa panjang dan seberapa jauh dampak perjuangan kita itu? Apakah yang kita perjuangkan adalah satu hal yang memang esensial atau hanya dampak dari hal lain yang lebih esensial?

Kalau kita berjuang untuk hal yang esensial, maka ketika perjuangan itu berhasil efek dominonya akan sangat kuat. Tetapi kalau tidak esensial, sia-sia sajalah kita berjuang. Efeknya tidak akan berarti. Kelelahan kita setelah berjuang tidak ada manfaatnya dan karena akar permasalahannya tidak kunjung dibenahi, maka bisa diduga masalah itu akan muncul lagi dan muncul lagi seperti monster berkepala banyak yang dilawan oleh Hercules: setiap kali kepalanya berhasil ditebas, malah muncul lebih banyak lagi kepala di tempat yang sama.

Dan juga, jangan-jangan hanya kita sendiri yang menganggap itu penting tetapi ternyata bagi banyak orang itu bukan suatu hal yang penting. Maka di sini dibutuhkan banyak penasihat, orang-orang yang lebih dewasa, yang lebih berpengalaman, agar perjuangan kita menjadi perjuangan yang efektif dan tidak buang-buang waktu belaka.

Seberapa jauh kita bisa bertahan? Daya tahan kita terkait erat dengan pertanyaan sebelumnya. Jika orang memang memandang ini adalah suatu perjuangan yang perlu maka mereka tentu akan membantu kita. Tim adalah suatu hal yang imperatif. "… Bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan" (Pengkhotbah 4:12). Tapi kalau di tengah keletihan kita kita mendapati ternyata kita tengah berjuang seorang diri, jangan-jangan kita memang berada di medan pertempuran yang salah.

Memang ada kalanya dibutuhkan orang-orang yang memiliki kejelian dan keberanian untuk mulai mengobarkan sebuah perjuangan besar, tetapi orang itu harus menyadari dengan kekuatan siapa ia akan mengobarkan perjuangan itu. Apakah dengan kekuatannya sendiri ia bisa bertahan? Berapa lama? Ada kalanya dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyulut semangat massa. Dan, yang dibutuhkan juga bukan cuma otot, tapi juga otak. Dibutuhkan diplomasi. Apatah artinya bambu runcing jika tidak ada orang-orang yang berunding di Den Haag sana? Sampai hari ini toh bagi masyarakat internasional, kemerdekaan Indonesia masih tercatat jatuh pada Desember 1949 dan bukannya Agustus 1945!

Otak harus berada di balik otot dan Tuhan di balik semuanya. Ketika mengobarkan sebuah perjuangan ingatlah untuk terlebih dahulu duduk dan berhitung seberapa banyak kekuatan kita sendiri dan seberapa banyak kita bisa menggalang kekuatan bersama - mulai dari tim inti kita sendiri, orang-orang terdekat kita, sampai kepada massa yang besar. Seberapa penting arti perjuangan ini bagi mereka? Seberapa berarti semua yang akan kita lakukan? Seberapa esensial?

Apa bahayanya kalau ternyata kita kehabisan tenaga di tengah-tengah perjuangan dan tetap tidak ada gerakan nyata yang kita picu? Keletihan akan membuat kita ditertawakan orang banyak, kita akan menjadi seperti badut. Dan lebih parahnya lagi, ketika pada akhirnya kita berpikir antara "Jangan-jangan pihak lawan yang benar, saya akan bergabung dengan mereka" atau "Ya sudahlah, biarkan saja mereka, tidak perlu dilawan" akhirnya orang akan melihat kita entah sebagai bagian dari lawan atau - sekurang-kurangnya - orang yang alih-alih berjuang, malah mengakomodasi kepentingan pihak lawan. Dan apa yang akan terjadi pada diri kita? Tidak ada lagi harga diri! Seperti garam yang menjadi tawar, lebih baik dibuang. Dan di sanalah orang akan menginjak-injak, menertawakan, mencemooh, dan ke dunia orang mati kita akan turun dengan penuh cela dan nista.

Kalau mau berjuang, jangan setengah-setengah. Pertanyaan di paragraf pertama adalah pertanyaan yang agak sulit dijawab, "Berapa sering kita menjumpai orang berjuang untuk satu alasan dan ternyata ia berakhir di ujung yang lain? Bahwa setelah sekian tahun ia berjuang, kita justru mendapati dia berada di pihak lawan? Bahwa setelah ajal menjemputnya, ia dikenang bukan sebagai pahlawan, malah sebagai pengkhianat?" Kenapa? Karena orang harus mencermati sejarah dengan baik-baik. Biasanya kebaikan orang-orang semacam ini akan tenggelam dan hanya ujung dari kehidupannya yang mengenaskanlah yang diingat orang. Tapi itulah kemanusiaan. Itulah kita yang fana.

Jangan pernah menyerah kepada mediokritas. Tetapi yang lebih parah daripada mediokritas adalah perjuangan yang terlalu menggebu-gebu, kemudian kehabisan tenaga di tengah jalan, dan layu sebelum berkembang. Sekali perjuangan dikobarkan, berjuanglah hingga tetes darah penghabisan.