It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Sebuah email tiba dari Toko Buku Aksara. Buku ketujuh dari serial Harry Potter sudah bisa dipesan. Saya mem-browse website J.K. Rowling, ternyata buku itu, buku yang terakhir dari serial tersebut, baru akan terbit bulan Juli. Namun, tak pelak, informasi itu akhirnya membuat saya membaca buku yang ke-6, yang sudah lama saya simpan tanpa pernah dibaca.
Satu hal yang saya sadari: nampaknya tidak ada buku lain yang menggambarkan sekolah sebagai suatu lembaga yang begitu menggairahkan. Bagi saya, peranan yang dimainkan oleh Hogwarts dan Prof. Dumbledore terhadap dunia para penyihir seharusnya menjadi idealisme kita ketika kita membicarakan dan menghidupi peranan sekolah-sekolah kita serta para kepala sekolah kita - bahkan juga para guru - terhadap dunia tempat kita hidup. Sekolah menjadi lembaga yang terhormat, sebagai sebuah monumen peradaban tetapi juga sebagai pusat inovasi. Kepala sekolah sebagai salah satu tokoh masyarakat yang paling dihormati, paling berwibawa dan paling kompeten dalam bidangnya.
Kehormatan dan kewibawaan serta pengaruh yang besar yang dimiliki oleh sekolah maupun pribadi-pribadi di dalamnya, pribadi-pribadi yang turut membentuk perjalanan sekolah itu adalah sebuah permata bagi peradaban yang diampunya.
Tidak pernah ada film yang begitu membuat saya penasaran. Ingin sekali menontonnya. Tidak pernah saya berpikir sedemikian positif tentang bangsa Sparta. Tentu, dalam pelajaran Sejarah, saya selalu mengagungkan Atena sedangkan Sparta saya pandang sebagai kaum yang brutal, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Tetapi, jangan-jangan, dengan praduga yang sedemikian kuat, ada suatu nilai sejarah dan kemunusiaan yang kuat yang terhilang dari persepsi saya.
Ya, jangan-jangan, dari Sparta yang tidak berperikemanusiaan pun ada nilai kemanusiaan yang bisa kita pelajari.
Saya menunggu "300" dengan antusias. Mudah-mudahan pada 9 Maret, film ini diluncurkan serentak.
Kemerdekaan. Kebebasan. Itu adalah satu hal yang sangat saya syukuri. Di sepanjang hidup saya, ada banyak hal yang ingin saya lakukan dan saya merasa terkekang. Ada begitu banyak kendala. Tetapi ketika membandingkan dengan orang-orang lain, baru saya menyadari betapa bebasnya saya.
Menjelang lulus SD, saya bebas memilih SMP. Begitu juga SMP ke SMA dan saat kuliah. Bahkan ketika lulus dari perguruan tinggi, saya pun bebas mengambil sebuah kehidupan yang berbeda dan tak terduga sebelumnya - menjadi guru. Sungguh luar biasa bagaimana orang tua saya mengizinkan saya menjadi guru, sementara ada tawaran-tawaran pekerjaan dengan pendapatan lima kali lipat, suatu angka yang jauh di atas rata-rata.
Di dalam menjalani kehidupan, saya juga melihat bagaimana sehari-hari banyak orang terhalang untuk melakukan banyak hal karena harus mengemudi sendiri, karena harus menempuh perjalanan jauh dan menghabiskan banyak waktu di jalan, belum lagi harus mengantar orang tuanya, saudaranya, dsb. Acara-acara ini dan itu, sepertinya banyak sekali porsi dari agenda mereka yang berada di tangan orang lain sedangkan bagi saya, agenda saya nampaknya praktis seluruhnya berada di tangan saya sendiri.
Tiadanya kebutuhan transportasi, waktu yang dihabiskan di jalan, kebebasan dalam pekerjaan dan dalam berkarya, kebebasan bergerak di dalam kehidupan ini untuk mengambil keputusan-keputusan yang tidak populer, memilih jalan hidup yang tidak lazim, memilih suatu bentuk kehidupan yang berbeda dari orang kebanyakan … semua itu adalah hal-hal yang sangat luar biasa, kemerdekaan yang tak ternilai harganya, yang harus dipergunakan dengan bertanggung jawab. Tetapi di dalam semuanya, Tuhan selalu memelihara. Tuhan selalu menjaga dan mencukupkan semua kebutuhan pada waktunya. Di dalam pemeliharaan-Nya, semua berjalan dengan baik.
Kemerdekaan adalah hasrat terbesar manusia dan saya, saya percaya, telah mendapatkannya sejak saat pertama saya dipercayakan Tuhan kepada keluarga saya.