It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Sebuah pernikahan tengah dirancang. Bukan, bukan pernikahan itu sendiri, melainkan acara peresmiannya: banyak detail menjelang dan pada hari-H, pemberkatan di gereja, resepsi dsb. Dalam semua persiapan itu, ada sejumlah pertemuan dengan orang-orang yang menyebut dirinya entah konsultan entah tenaga ahli entah tenaga pemasaran. Ini adalah upacara yang besar dan penting - suatu pengalaman sekali seumur hidup bagi kedua mempelai.
Di dalam perjalanan mendampingi mempelai, saya menjumpai betapa banyak para tenaga pemasaran itu menggunakan nama Tuhan, seperti "kita boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan," "ya, kalau Tuhan berkehendak …", ada banyak sekali kalimat-kalimat semacam itu. Tentunya itu dipengaruhi oleh fakta bahwa di negara kita kehidupan beragama sedikit-banyak ada di ruang publik dan bukan cuma di ruang pribadi; juga oleh skala upacara yang tengah dirancang.
Tetapi satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, untuk apa semua penyebutan nama Tuhan itu? Apakah mereka benar-benar orang yang relijius? Dari pembicaraan yang terjadi, saya yakin tidak. Kenyataannya, mereka bahkan seringkali tidak bisa membedakan antara yang esensial dan tidak; bahkan memaksakan tradisi yang tidak jelas makna dan muatannya di atas hal-hal yang jelas dan jernih makna dan muatannya. Lantas apa? Sekedar kesopanan? Basa-basi?
Jangan-jangan, Tuhan hanya dijadikan alat pemasaran - sebuah tameng untuk kondisi yang tidak baik dan sebuah payung untuk memastikan tangkapan yang besar atas umpan yang dilemparkan. Ketika itu benar terjadi, maka kata "Tuhan" menjadi hampa dan tidak lebih dari sekedar jargon bisnis.