Feb
26

Memasarkan Tuhan

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 26-02-2007

Sebuah pernikahan tengah dirancang. Bukan, bukan pernikahan itu sendiri, melainkan acara peresmiannya: banyak detail menjelang dan pada hari-H, pemberkatan di gereja, resepsi dsb. Dalam semua persiapan itu, ada sejumlah pertemuan dengan orang-orang yang menyebut dirinya entah konsultan entah tenaga ahli entah tenaga pemasaran. Ini adalah upacara yang besar dan penting - suatu pengalaman sekali seumur hidup bagi kedua mempelai.

Di dalam perjalanan mendampingi mempelai, saya menjumpai betapa banyak para tenaga pemasaran itu menggunakan nama Tuhan, seperti "kita boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan," "ya, kalau Tuhan berkehendak …", ada banyak sekali kalimat-kalimat semacam itu. Tentunya itu dipengaruhi oleh fakta bahwa di negara kita kehidupan beragama sedikit-banyak ada di ruang publik dan bukan cuma di ruang pribadi; juga oleh skala upacara yang tengah dirancang.

Tetapi satu hal yang membuat saya bertanya-tanya, untuk apa semua penyebutan nama Tuhan itu? Apakah mereka benar-benar orang yang relijius? Dari pembicaraan yang terjadi, saya yakin tidak. Kenyataannya, mereka bahkan seringkali tidak bisa membedakan antara yang esensial dan tidak; bahkan memaksakan tradisi yang tidak jelas makna dan muatannya di atas hal-hal yang jelas dan jernih makna dan muatannya. Lantas apa? Sekedar kesopanan? Basa-basi?

Jangan-jangan, Tuhan hanya dijadikan alat pemasaran - sebuah tameng untuk kondisi yang tidak baik dan sebuah payung untuk memastikan tangkapan yang besar atas umpan yang dilemparkan. Ketika itu benar terjadi, maka kata "Tuhan" menjadi hampa dan tidak lebih dari sekedar jargon bisnis.



1 Comment So Far

Rusdy on 2 March, 2007 at 2:57 pm #
    

Hmmmm…, memang “kalau Tuhan menghendaki…” adalah sebuah kebiasaan yang cukup disalahgunakan. Sedihnya, banyak kalangan orang Kristen sendiri juga tidak begitu mengerti apa maksud dan konsekuensi dari “kalau Tuhan menghendaki…”

Contoh:

“Kalau Tuhan menghendaki, bisnis saya akan lancar tahun ini … ”

“Kalau Tuhan menghendaki, resepsi pernikahan besok lancar-lancar saja … ”

“Kalau Tuhan menghendaki, saya akan diterima bekerja di perusahaan … ”

“Kalau Tuhan menhendaki, hubungan saya dengan si ‘anu’ akan lancar-lancar saja … ”

Sebelum lanjut, biar saya tekankan bahwa ungkapan-ungkapan di atas, dengan sendirinya adalah tidak salah, karena Alkitab sendiri juga mengajarkan untuk berserah kepada Tuhan untuk rencana-rencana kita:

“Now listen, you who say, “Today or tomorrow we will go to this or that city, spend a year there, carry on business and make money.” Why, you do not even know what will happen tomorrow. What is your life? You are a mist that appears for a little while and then vanishes. Instead, you ought to say, “If it is the Lord’s will, we will live and do this or that.” As it is, you boast and brag. All such boasting is evil. Anyone, then, who knows the good he ought to do and doesn’t do it, sins.” James 4:13-17 (NIV)

[maaf dalam bahasa inggris, soalnye tinggal copy and paste dari biblegateway.com :) ]

Nah, sekarang konsekuensi dari “kehendak Tuhan” adalah: ya jelas-jelas, kehendak TUHAN, BUKAN kehendak SAYA. “Lhoooo, itu jelas, memang bukan kehendak saya, maksudnya apa sih?”. Dengan mengatakan “kehendak Tuhan”, kita berserah seluruhnya bahwa semua kegiatan yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, BUKAN untuk kita sendiri. Kenyataannya, tidak sedikit dari kalangan orang Kristen (kalau di luar kalangan Kristen, semua argumen ini menjadi ‘irrelevant’), mempunyai sikap ke Tuhan seakan-akan Tuhan itu “Genie in the bottle”. Jadi dengan berkata, “Kalau memang kehendak Tuhan, bisnis (atau pekerjaan) saya akan lancar-lancar saja tahun ini”, bukannya memang berserah kepada Tuhan, tetapi memasarkan kepada orang lain ‘Wah, saya orang Kristen sejati nih, soalnya kan saya selalu bersandar kepada Tuhan, jadi Tuhan PASTI memberkati saya’. Wah wah wah, memang bilangnya “kehendak Tuhan” tapi kenyataannya, “kehendak Saya, tapi Tuhan berkati saja laah!”.

Pada sisi lain, saya percaya banyak saudara seiman yang memang benar-benar berpasrah kepada Tuhan dengan ungkapan mereka. Mari, kita lihat gambaran Alkitab, apa sih, “kehendak Tuhan” itu? Banyak yang bisa kita ambil dari Alkitab, tapi saya percaya, ayat ini adalah salah satu gambaran yang baik, apa kehendak Tuhan yang sebenarnya:

“that at the name of Jesus every knee should bow,
in heaven and on earth and under the earth,
and every tongue confess that Jesus Christ is Lord,
to the glory of God the Father.” Phillipians 2:10,11 (NIV)

Jadi marilah kita menjadi orang Kristen yang bersumber dari Tuhan Yesus sendiri, BUKAN menjadi orang Kristen dengan harapan Tuhan memberkati segala aspek hidup saya SUPAYA jadi sukses. Karena kehendak Tuhan adalah seperti yang disebut ayat di atas, BUKAN supaya SAYA jadi sukses, hubungan langgeng, dan lain-lainnya (TAPI, kalau memang Tuhan memberi berkat seperti itu, ya bagus lah!).

Kesimpulan, selain memberi ungkapan “kalau Tuhan menghendaki … “, tapi mungkin kita bisa mulai bilang “Wah, terima kasih Tuhan atas berkatnya hari ini”!


Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: