Feb
06

“The Illusionist”

Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-02-2007

Ternyata hanya sebuah kisah cinta lainnya … hanya saja ditambah trik-trik yang tidak lazim. Dengan alur melingkar yang klasik, film berdurasi sekitar 110 menit ini memang menarik, walaupun selama 90 menitan alur-melingkarnya kelihatan begitu meyakinkan dan tidak membuat saya bertanya-tanya. Hanya kilasan-kilasan penjelasan di menit-menit terakhir yang membuat saya berpikir, "O, ternyata ada alur lain yang bisa terjadi." Penjelasan yang menarik, walaupun disajikan dengan cara yang nampaknya harus membuat sebagian orang mengernyitkan dahi.

Alur yang menarik, benar-benar cerdik, dan berlatar belakang kehidupan bangsawan adalah poin-poin yang membuat saya tertarik; walaupun ada juga sisi-sisi etis yang patut dipertanyakan seperti seks di luar pernikahan serta tindakan kedua insan yang dilanda cinta itu yang membuat Putra Mahkota membunuh dirinya sendiri, belum lagi Uhl yang nampaknya dipionkan dan lebih merasa senang dengan hadiah buku yang diterimanya dibandingkan merasa gundah dengan matinya Putra Mahkota dengan alasan yang salah.

Dengan adagiumnya bahwa tidak semua fakta bisa dipercaya: fakta bisa jadi adalah ilusi belaka dan ilusi bisa jadi adalah fakta, film ini menyampaikan pesan pasca-modern yang jelas. Kepercayaan kepada diri sendiri, indera-indera kita serta kekuatan pikiran masing-masing, sesuai konteks-hidup kita, itu semua disajikan dengan cukup kental. Sebuah tontonan yang menarik untuk mengerti ke mana dunia kita akan bergulir. Sebuah jendela untuk melihat ke depan dengan lebih jelas, secercah harapan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.

Satu pesan yang menarik dari film ini adalah keberhasilan terbesar sang ilusionis ternyata dilihat bukan dari kehebatannya dalam pertunjukan. Karya terbesar kita menjadi nyata bukan di atas pentas, bukan di dalam laboratorium, bukan di dalam situasi-situasi yang terkendali (ingat STP? Standard Temperature & Pressure). Itu semua adalah langkah-langkah awal yang diperlukan, tetapi keberhasilan sesungguhnya terjadi ketika apa yang dipersiapkan dan diujicobakan itu dibawa keluar dari situasi-situasi terkendali ke dalam situasi nyata di kehidupan kita. Bukan ketika sang ilusionis berhasil membawa semakin banyak pengunjung ke dalam gedung teaternyalah ia mencapai keberhasilan yang terbesar, tetapi ketika ia berhasil menggunakan kepandaian dan kecerdikannya untuk merengkuh suatu kehidupan yang lebih baik, suatu kehidupan yang lebih bermakna (kehidupan Sang Ilusionis berkeluarga bersama Duchess Von Teschen di pedesaan), seraya memberikan dampak nyata kepada orang-orang di sekeliling mereka (pengelolaan semua asetnya untuk manajernya, imbalan tak terduganya berupa buku dan pencerahan untuk mantan-inspektur Uhl serta - kalau orang mau memainkan adegan "Dark Justice", terbunuhnya sang Putra Mahkota di tangannya sendiri.

Di dalam kehidupan nyata di era pascamodern kita akan semakin banyak menjumpai fakta dan ilusi bertaut erat dan di alam semacam itulah semua teori dan pemahaman kita harus diuji dan dibuktikan kebesarannya, bukan dalam STP tapi justru dalam ketiadaan STP, yaitu di era pasca modern.



Post a Comment
Name:
Email:
Website:
Comments: