It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Fakta 1: ada pekerjaan lain yang jika saya jalani dengan sepenuh waktu saya, maka dalam satu hari kerja (8 jam), bisa memberikan saya penghasilan sama dengan satu bulan gaji saya sebagai guru. Fakta 2: beberapa orang oom, tante dan para sepupu saya, berkali-kali bertanya kepada saya apakah saya menjadi guru itu benar-benar pilihan saya, bukan karena terpaksa; dan tentunya saya "ya". Fakta 3: berkali-kali orang menyayangkan kenapa saya dengan predikat dan kapabilitas saya pada akhirnya ‘hanya’ (begitu kata mereka) menjadi guru.
Kenyataannya sampai hari ini profesi guru masih merupakan sebuah profesi yang dipandang rendah. Bahkan seorang yang saya tahu adalah guru juga pernah berguyon: "Banyak orang bilang, guru itu bodoh. Apakah benar? Tentu saja! Lha, keputusan menjadi guru pun adalah keputusan yang bodoh, kok!"
Lantas kenapa saya menjadi guru? Di sini saya tidak hendak menguraikan berbagai argumentasi dan idealisme saya. Cukup sudah itu semua terbaca dari berbagai tulisan saya selama ini. Tetapi secara sederhana saya ingin mengutarakan satu keindahan menjadi guru: ada kepuasan yang berbeda. Seorang teman saya mengatakan, ada "sense of fulfillment"-nya
Menyentuh hati, mengubah hidup, satu demi satu.
Ada kalanya di saat-saat yang tidak terduga, ada murid yang mengatakan, "Bapak ingat tidak waktu itu ada begini dan begitu, kemudian Bapak mengatakan begini (atau berbuat begitu)?" Ada kalanya saya ingat, tapi seringkali juga tidak. Apa lanjutannya? "Saat itu hati saya tersentuh, Pak." Atau, "Saat itu, pintu hati saya terketuk, Pak." Dan banyak lagi ungkapan semacam itu. Itu adalah saat-saat yang sangat indah, yang tidak tergantikan.
Ada kalanya momen semacam itu terjadi di saat murid itu masih saya ajar, ada kalanya setelah dia lulus, ada kalanya pula hanya diketahui dari teman-temannya betapa dia berulang kali dan dalam berbagai kesempatan menceritakan satu-dua pengalaman yang sangat berkesan dengan nada yang berapi-api dan dengan sepenuh hatinya - momen-momen yang bersejarah di dalam hidupnya, satu-dua detik saat ketika jendela hati dan pikirannya terbuka lebar dan pada detik-detik yang berharga itu Tuhan mengizinkan saya masuk dan menyentuh hatinya.
Ilmu bisa didapat dari membaca buku. Kepandaian bisa didapat dari mengikuti banyak les. Tapi ada hal-hal yang sangat berharga yang Tuhan percayakan kepada guru-guru. Ada kesempatan-kesempatan yang sangat berharga. Dan dengan apa pun itu tak bisa digantikan.
Maka saya dengan bangga memilih menjadi guru dan tetap menjadi guru. Untuk menyentuh hati, mengubah kehidupan, senantiasa bersiap, satu demi satu. Tanpa pernah mengetahui kapan waktunya, kecuali dalam retrospeksi.
Dalam beberapa bulan terakhir saya terlibat lebih aktif di dalam sebuah kegiatan pendidikan yang memberikan semacam bimbingan belajar untuk anak-anak yang kurang mampu, di satu daerah yang agak kumuh di Jakarta. Ada kalanya saya terhenyak menyadari betapa buruknya kondisi pendidikan kita di Indonesia ini - artinya "pendidikan" dalam pengertian pendidikan sekolah yang diterima oleh kebanyakan murid di Indonesia. Tetapi ada juga saat-saat yang lebih mengejutkan ketika menemukan bahwa setelah yang buruk itu masih ada yang lebih buruk lagi … dan masih ada yang lebih buruk lagi … berulang kali. Entah seberapa dalam sebenarnya kita tengah terpuruk.
Kemarin ini saya menemukan murid-murid SD diberikan PR IPA. PR itu berasal dari buku LKS (lembar kerja siswa), yang sebenarnya merupakan pedoman praktikum! Bayangkan saya, seorang murid SD (mungkin kelas 5?) diberikan PR untuk menyebutkan "3 bahan yang [tadi] kamu gunakan untuk membuat ruangan kedap suara", juga menyebutkan "berbagai alasan kenapa hidung pesawat runcing". Mereka juga diminta menyebutkan "dari tiga buah parasut berdiameter 20 cm, 40 cm dan 60 cm (dan seterusnya …), mana yang lebih dulu mencapai tanah"? Bagaimana mungkin pertanyaan-pertanyaan semacam ini dibuat jadi PR? Kapan praktikumnya?
Konyolnya, gurunya menjanjikan, kalau murid-muridnya bisa menjawab dengan benar (entah "benar" dari mana, mungkin "benar" kalau mereka bisa menjelaskan fenomena itu dengan bahasa orang dewasa - padahal jelas-jelas itu berarti orang tua mereka atau entah siapa yang membuatkannya), maka pada pertemuan berikutnya mereka akan praktikum membuat roket. Dan murid itu pun menunjukkan kepada saya sebuah gambar peluncuran pesawat NASA, yang tentunya dalam angan-angannya akan dibuatnya pada pertemuan berikut dengan si guru! Bagaimana mungkin, sedangkan membuat praktikum parasut saja gurunya tidak lakukan?
Dalam bahasa Inggris, murid-murid harus memenuhi satu tabel yang terdiri dari 3 kolom dan sekitar 20 baris dengan nama berbagai benda. Benda apa? Kolom pertama: benda-benda yang ada di ruang tamu. Kolom kedua: benda-benda yang ada di kamar tidur. Benda ketiga: benda-benda yang ada di dapur. Sungguh aneh, bahwa sebuah sekolah yang murid-muridnya berkondisi sangat minim menggunakan buku dari penerbit mahal yang buku-bukunya terkenal dua kali lebih mahal daripada buku serupa dari penerbit lain. Ada motivasi apa kiranya bahwa para guru di sekolah itu memilih buku yang bersangkutan? Jelas, bahwa buku itu dimaksudkan untuk murid-murid dari kalangan yang lebih berada.
Bagaimana mungkin para murid SD itu mengisi kolom tadi sampai penuh, sedangkan mungkin ruang tamu dan kamar tidurnya adalah satu ruangan yang sama? Dan mungkin juga dapurnya sama - atau mereka malah tidak mempunyai dapur, suatu hal yang nampaknya mungkin, mengingat murid tadi kebingungan ketika kami berbicara tentang dapur. Bagaimana mungkin murid itu mengerti "toaster"? Juga berbagai jenis lampu di berbagai ruangan: lampu baca, lampu ruangan, dll.?
Terpuruknya pendidikan kita selalu berhasil mengejutkan saya, bahwa ternyata saya belum juga sampai kepada dasarnya. Selama pendidikan kita masih berorientasi pada penguasaan bahan di buku - menghafal dan menghafal dan menghafal - nampaknya kita boleh melupakan banyak mimpi kita sebagai bangsa dan kita boleh mengantisipasi (atau mengkhawatirkan?) bahwa suatu pergerakan sosial akan terjadi akibat semakin jauhnya kesenjangan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia ini.
Les chaussettes sont les plus mystérieuses de toutes sortes d’habillement. J’ai essayé beaucoup de genres de chaussettes - avec des prix s’étendant de Rp5.000 pour 3 paires, à Rp50.000 pour chaque paire.
Les paires Rp5.000/3, ne demandez pas même : J’ai essayé un par le passé, jamais ne l’ai encore porté, jamais même touché les deux autres paires. Il était terriblement terrible ! Celui avec Rp10.000/3 paires est le meilleur : il dure plus longtemps (jusqu’à 4 mois à la moyenne), ils se sent confortable, et encore plus : il est bon marché ! Malheureusement, il y a quelques semaines, j’ai trouvé le magasin avais sorti à un endroit que je ne connais pas.
Et les plus chers ? Quel est le problème ? Trop cher ? Pas nécessairement. Il est juste je ne les ont plus jamais portés de pendant deux semaines, ils tellement sont facilement déchirés loin ! Les trous ? Ooohhh… ne demandent pas même ! Parfois ils sont déjà là vers la fin du temps même que je les emploie !
Parmi tous les autres genres d’habillements, les chaussettes sont les plus mystérieuses. Je me demande comment ces types à l’industrie de vêtement étiquettent les chaussettes. Est-ce que je suis attendant trop ? Je ne pense pas ainsi. J’espère juste que les chaussettes dureraient pendant au moins 3 mois ! Est-ce que c’est trop ? Il est idiot de mettre une étiquette si chère des prix - Rp50.000/paire, comparée aux cravates, Rp40.000 habituellement étiqueté - 120.000 par morceau - une paire de chaussettes qui juste durez un couple des jours !
The Mystery of Socks
Socks are the most mysterious of all kinds of clothing. I’ve tried many kinds of socks - with prices ranging from Rp5.000 for 3 pairs, to Rp50.000 for each pair.
For the Rp5.000 / 3 pairs, don’t even ask: I tried one once, never wore it again, never even touched the other two pairs. It was terribly awful! The ones with Rp10.000 / 3 pairs are the best: they last longer (up to 4 months in average), they feel comfortable, and even more: they’re cheap! Unfortunately, a few weeks ago, I found out the store had moved to a place I don’t know.
What about the more expensive ones? What’s the problem? Too expensive? Not necessarily. It’s just I’ve never worn them more than two weeks, they’re so easily torn away! The holes? Ooohhh … don’t even ask! Sometimes they’re already there by the end of the very time I use them!
Among all the other kinds of clothings, socks are the most mysterious. I wonder how those guys at the garment industry tag the socks. Am I expecting too much? I don’t think so. I just hope that the socks would last for at least 3 months! Is that too much? It’s silly to put such an expensive price tag - Rp50.000 / pair, compared to ties, usually tagged Rp40.000 - 120.000 per piece - for a pair of socks that would just last for a couple of days!
Apa cita-cita saya? Sewaktu kecil, mau jadi pendeta. Tapi karena beberapa hal di masa SMP saya akhirnya saya memutuskan untuk mengalihkan cita-cita itu. Selanjutnya selama bertahun-tahun saya tidak tahu lagi mau jadi apa.
Pada akhirnya, sewaktu kuliah, saya tahu: bukan soal menjadi apa, tetapi soal melakukan apa. Hingga saat ini saya kebingungan kalau orang bertanya apa cita-cita saya. Biasanya mereka menginginkan jawaban yang singkat, satu label belaka. Tetapi yang ada dalam pemikiran saya bukan label semacam itu, melainkan suatu peranan yang lebih luas dan sulit dilabelkan. Yang menjadi cita-cita saya adalah melakukan sesuatu yang berarti di dunia pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan Kristen.
Di akhir masa kuliah saya sempat terpikir menjadi konsultan, kumpulkan uang yang banyak, buat usaha sendiri. Dari hasil usaha itu, kemudian saya akan membangun sebuah jaringan sekolah - sekolah yang berkualitas baik, disediakan untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. Bukan cuma itu, tapi juga jaringan perpustakaan. Tetapi setelah dipikir-pikir, akhirnya yang kedua saya hilangkan dari rencana saya. Siapa yang mau menulis? Mau diisi dengan buku-buku macam apa perpustakaan itu? Tidak, belum saatnya bagi Indonesia. Usaha pertama harus difokuskan pada sekolah.
Tetapi ternyata jalan hidup berbicara lain. Tuhan memimpin ke arah yang berbeda. Setelah 6 kali wawancara dan 2 kali tes di MarkPlus dalam kurun waktu 2 minggu, orang-orang di sana mengatakan, 2 wawancara yang terakhir (ke-6 dan ke-7) hanyalah formalitas, maka saya menunggu wawancara ke-7. Ternyata saya dihubungi pada pukul 9 pagi, diminta datang untuk wawancara pada pukul 9 malam itu, di kantornya. Dalam sekejap saya berpikir: bagaimana dengan pelayanan saya, KTB yang saya baru mulai pegang, dst.? Segera saya menolak dan berakhirlah proses itu.
Saya tetap masuk ke dunia pendidikan, tapi dari jalur yang berbeda - dengan menjadi guru. Ini adalah profesi, sebuah bentuk kehidupan, yang sangat saya nikmati. Dan saya sangat bersyukur Tuhan telah memimpin sejauh ini dengan karier yang luar biasa, pengalaman yang tak tergantikan, kehidupan yang sungguh bermakna.
Ada banyak batu tapal, ada banyak kesempatan, ada banyak pijakan. Tinggal bagaimana bersikap bijak, memanfaatkan yang terbaik dari setiap kesempatan, mematangkan diri, dan bergerak pada waktunya - dengan kematangan yang tepat. Cita-cita saya nampak semakin hari semakin jelas, semakin jernih. Setiap langkah, setiap hari harus dipersiapkan sebaik mungkin. Hidup hanya sekali, banyak kesempatan hanya datang sekali. Kita tidak pernah tahu kesempatan apa dan kapan datangnya, tetapi yang terpenting adalah kita mempersiapkan diri kita, sebaik mungkin, pada setiap saat di dalam hidup ini.
Bercermin pada Musa, ketika kita membagi kehidupan kita ke dalam tiga bagian, banyak orang merasa puas dengan 1:2, yaitu 1 bagian persiapan dan 2 bagian berkarya; atau 1:1:1, yaitu 1 bagian persiapan, 1 bagian berkarya dan 1 bagian pensiun. Maka banyak orang ingin pensiun semuda mungkin dan ongkang-ongkang kaki, menikmati hidup. Tetapi saya yakin hidup lebih dari itu. Pertanyaan hidup adalah soal makna dan keberartian kita bagi masyarakat, bagi umat manusia. Maka tidak ragu saya kalau harus memiliki hidup 2:1. Sesungguhnya, 2 bagian persiapan dan 1 bagian berkarya lebih baik jika itu berarti dalam 1 bagian untuk berkarya itu saya bisa menghasilkan suatu karya fenomenal, monumental, meninggalkan jejak yang berarti dan menjadi seorang yang menggoreskan nama dengan tinta emas di buku sejarah umat manusia.
Hidup adalah soal menjawab tantangan, terus bergerak, terus berjuang, terus merengkuh dan meraih dan melempar dan menjangkau, serangkaian perjuangan untuk mencari makna dan memberi makna dan meninggalkan makna. Maka cita-cita bagi saya bukan soal melontarkan satu label, tapi soal berkarya.
The 10 March 2007 was an important day for them. Everyone knew it. But it was also an important day for me. It was the day when I realise how "getting married" is a very normal thing to do. Though another good friend of mine wrote that it’s a sure path to an ordinary life - something I’m afraid of - I now believe marriage is a venture with its own great challenges, great opportunites for a life in its fullness.
In marriage - in an exclusive relationship - one must learn to sacrifice, learn to understand than to be understood, learn to give than just to take. Lots of character building lesson are available in abundance when one commits one’s life to an exclusive relationship. Unfortunately, it’s one of a couple of things I’ve always tried to avoid. Why? Because I think that would obstruct me off my prearranged path toward a "life in its fullness" (or at least, my myopic version of it).
So, does that mean I will try better to find a girlfriend these days? I don’t think so. Somehow, I still think there’s much things I need to do, I need to pursue, with the limited capabilities that I have and having a girlfriend in these days would just … well, obstruct it. Maybe next year.
I’ve always loved English knight tales. Sir Cedric Gray was one of my childhood hero. They’re knights. That means they’re honored. They’re always good-looking. People adore them and want to be like them. They’re elegant. They behave all the time. At least in public appeareances. The problem is, behind the walls of their castles, lots of them are also immoral.
I find myself much in likeness of them. I always try my best to appear with elegance. I place myself in such places to be honored. I give people reason to easily honor and pay respect to me. Now that seems to be problematic since sometimes my inner life can’t balance out my public life. When that happens, my integrity might be in danger.
These days I’ll be looking for a quality time to be with myself, to be spent alone, to have solitude, that I would gain strength to put my public life again in harmony with my inner life - hopefully for good, now. As a friend of mine put it, "I need to rewrite my life script." My ideal self, the way I perceive myself, though it’s been working pretty well this far, needs a reworking if I want to go yet further.
Life is a series of changes. Some are small. Some are big. Most are continuous. None is once-for-good. It’s a matter of courage now. Courage to reflect. Courage to have a comprehensive self-dialogue. Courage to break through the old me. Courage to metamorphose to a more mature version of myself.
For time evaporates. It’s not coming back. The show goes on. The script must be changed while in the run.
How hard it is these days for me to find solitude, to keep myself in silence. Indeed, hectic days are the normal rather than the exception but it’s getting harder for me to find solitude. Deep in my heart I know how crucial it is for every one to have a regular quality solitude. But the busyness of my life has more and more often trampled upon those chances of solitude. It’s a matter of discipline, I suppose.
Were I to go further, having a regular quality solitude is not an option - it’s an imperative. Even major business and leadership books now speak on this, how can I, a Christian, a seminary graduate, abandon solitude?
Microsoft benar-benar menyebalkan. Windows XP Home saya ternyata sangat rentan. Sedikit saja gangguan sudah bisa mengganggu kinerja sistemnya. Yang paling parah, setelah saya menginstall ulang Windows XP Home saya, masih dibutuhkan belasan jam untuk meng-update ini dan itu di mana-mana, Security Update-nya tidak tanggung-tanggung jumlahnya, belum lagi berbagai komponen yang total jumlah "Critical Updates"-nya saja tidak kurang dari 60!
Setelah update apa? Restart. Setelah itu? Ternyata masih ada lagi update tahap ke-2. Baiklah, update lagi, restart lagi, eh masih ada lagi! Begitu seterusnya. Kenapa tidak sekalian saja semua di-update, kok keluarnya harus sedikit-sedikit begitu? Rasanya pakai Windows bajakan kok lebih gampang ya? Ini, pakai Windows asli malah jadi ribet! Tapi tentu saja itu membawa kita ke persoalan etis.
Rasanya saya sudah harus mulai mencari alternatif Windows: Linux-kah? Apple-kah? Tetapi sekali lagi: kompatibilitas adalah persoalan besar dan di sinilah keunggulan terbesar Microsoft. Kini, sebuah perjalanan panjang yang harus selalu ditempuh adalah bagaimana bersiap-siap agar sebuah pergantian mesin-penopang-kehidupan saya (notebook dan ponsel) bisa saya ganti (atau, kalau sewaktu-waktu terpaksa diganti) tanpa membawa riak yang berarti pada kehidupan saya.
Begitu juga dengan ponsel saya: selain memang fiturnya canggih dan sangat memuaskan, tetapi layar Sony Ericsson K800i itu ternyata tidak tahan gores dan masalah yang ada di dalamnya sehingga saya harus bolak-balik ke pusat servisnya malah menyebabkan tukang servisnya menitikkan satu codet pada layarnya. Lagi-lagi: menyebalkan! Belum lagi keyboardnya seringkali membuat saya salah ketik, karena tombolnya yang agak kurang lembut - dan yang buat mencari tanda "&" saja susahnya bukan main, butuh puluhan kali klik sini dan sana, sekedar untuk pakai "&", maka lebih baik sekalian saya ketik "dan" saja. Itu kalau SMS ke sesama XL, gratis, kalau ke operator lain?
Lagipula, jalan pintas tombol utama ke atas dan kanan juga seringkali kembali ke fungsi semula dan menolak set yang dipilih sendiri. Katanya masalah software, tapi setelah software-nya diremajakan pun, hari ini saya masih mengalaminya sekali lagi. Mudah-mudahan ini hanya karena tidak ada memory stick M2-nya, dan setelah pakai memory stick semua kembali sesuai fungsinya yang saya harapkan. Tidak pernah sebelumnya saya punya ponsel secanggih ini - memang waktu itu belum zamannya - tetapi juga tidak pernah saya mengalami kerepotan dan ganjalan seperti ini saat berganti ponsel.
Setelah beberapa hari berlalu, saya kini mendapati ternyata karakter "&" semakin lama semakin mudah digunakan, nampaknya karakter-karakter istimewa diatur berdasarkan frekuensi penggunaannya. Juga, menu utama ternyata lebih intuitif dengan fungsi-fungsi yang bisa diakses dari beberapa menu, misalnya "Games" yang bisa diakses baik dari Applications maupun dari Entertainment.
Notebook baru, ponsel baru - haruskah saya menyisihkan satu-dua minggu setiap kali menggantinya? Bisakah mesin-mesin yang sangat penting ini saya dapatkan dengan fitur yang sempurna, cukup dengan browse di Internet, lantas beli? Atau memang benar kata kawan saya, "Setiap produk semacam itu pasti ada cacatnya" dan jarang sekali yang bisa kita peroleh langsung beres?
Sekurang-kurangnya saya masih berharap ketika berikutnya saya harus mengganti notebook dan ponsel, saya bisa beralih mesin dengan mulus, tanpa harus mengalami keribetan semacam ini lagi.
Dua minggu ini benar-benar melelahkan. Diawali dari kejadian-kejadian sederhana: kaus kaki saya bolong. Saya tidak pernah memakai kaus kaki yang bolong. Maka, alangkah baiknya ketika kaus kaki menjadi bolong saat dicuci, bukan pada saat dipakai. Tetapi dua minggu yang lalu, dalam kurun waktu satu minggu, empat pasang kaus kaki saya menjadi bolong - pada saat dipakai! Benar-benar menyebalkan!
Tetapi ternyata itu belum seberapa. Selanjutnya, di penghujung minggu itu, pada hari Jumat, notebook saya hancur. Satu hari, ketika seorang teman sedang meminjamnya, tiba-tiba Windows XP Home saya melambat sehingga harus di-restart. Setelah itu, login pun masih butuh waktu lama sehingga akhirnya di-restart untuk kedua kalinya secara paksa. Itulah awal dari bencana: layar biru. Pilih sistem: Command Prompt? Command Prompt with Networking? Last Known Good Configuration? Semua pilihan dicoba dan tidak ada satupun yang tidak membawa saya kembali ke layar biru.
Seketika, seluruh tubuh rasanya menjadi dingin. Dalam kurun waktu dua setengah tahun dengan notebook ini saya tidak pernah mengalami bencana yang berarti, maka saya pun tidak pernah lagi mem-back up data secara rutin. Dan seingat saya, setelah bulan Juli (awal tahun ajaran baru), saya sama sekali belum pernah mem-back up data lagi. Kacau! Selanjutnya hanya panik yang mengikuti saya. Semua data hilang. Itu baru yang abstrak, "Semua data hilang." Sejak saat itu, hingga keesokan paginya, setiap lima menit (setidaknya, rasanya setiap lima menit) setiap kali saya memikirkan ini dan itu, rupanya setiap pemikiran di dalam otak saya terkait langsung dengan satu atau lebih file dan saya pun menjadi teringat, "Aduh, file ini hilang!" "Aduh, yang itu juga hilang!" Satu hari yang menyiksa.
Belum cukup sampai di situ, dalam minggu berikutnya, ketika saya masih sibuk meng-install ulang ini dan itu, serta mengembalikan data yang terancam hilang (untungnya ada teman yang memberikan bantuan yang luar biasa sehingga semua data bisa didapatkan kembali), ponsel baru saya bermasalah sehingga saya harus bolak-balik Ketapang-Roxy, belum lagi ada bug di sana-sini. Rasanya, kalau fitur-fitur yang canggih itu tidak ada di ponsel juga tidak apa-apa, tetapi karena kenyataannya ada dan tidak berfungsi sempurna, jadilah itu sebuah ganjalan di hati sehingga bekerja pun rasanya tidak tenang.
Ketika segala sesuatu menjadi digital, praktis seluruh kehidupan kita didigitalkan, kita memang menjadi jauh lebih efektif, tetapi sekali ada gangguan, ternyata produktivitas kita pun terancam harus turun mesin. Maka seiring dengan digitalisasi kita pun menjadi semakin rentan terhadap gangguan-gangguan terhadap mesin-mesin yang kita pakai - ya, gangguan terhadap notebook dan ponsel saya juga adalah gangguan terhadap hidup saya karena setiap kegiatan saya, bahkan boleh dikatakan setiap pemikiran saya pasti sedikit-banyak terkait dengan kedua mesin saya - keduanya sudah menjadi bagian dari kehidupan saya.
Gangguan-gangguan dalam hidup tidak pernah kita harapkan. Tetapi toh ada juga saatnya kita masih harus dikejutkan oleh gangguan-gangguan yang tidak kita harapkan itu, dan kita pun menyadari bahwa semua benda canggih itu tetap hanya mesin yang harus kita pilih dengan bijak, dirawat dengan baik, dan pada saatnya harus dipensiunkan - dan juga, sangat penting kita mempersiapkan perpindahan mesin, entah direncanakan maupun tidak, agar berjalan dengan mulus sehingga kehidupan kita pun sedapat mungkin tidak terganggu oleh perpindahan-perpindahan itu.
Tindakan pencegahan harus dipersiapkan dengan cermat.
Mulai bulan Februari 2007, saya mencoba memulai satu seri blog baru: "Daftar Bacaan", berisi buku-buku yang saya baca dalam satu bulan itu. Mudah-mudahan ini membantu saya ketika mau merujuk kembali ke buku-buku yang saya baca di masa tertentu tapi kemudian terlupakan. Juga bisa sebagai alat mengamati pola baca saya sendiri sambil membuka kesempatan untuk berbagi dan berdiskusi tentang buku-buku itu