It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Microsoft benar-benar menyebalkan. Windows XP Home saya ternyata sangat rentan. Sedikit saja gangguan sudah bisa mengganggu kinerja sistemnya. Yang paling parah, setelah saya menginstall ulang Windows XP Home saya, masih dibutuhkan belasan jam untuk meng-update ini dan itu di mana-mana, Security Update-nya tidak tanggung-tanggung jumlahnya, belum lagi berbagai komponen yang total jumlah "Critical Updates"-nya saja tidak kurang dari 60!
Setelah update apa? Restart. Setelah itu? Ternyata masih ada lagi update tahap ke-2. Baiklah, update lagi, restart lagi, eh masih ada lagi! Begitu seterusnya. Kenapa tidak sekalian saja semua di-update, kok keluarnya harus sedikit-sedikit begitu? Rasanya pakai Windows bajakan kok lebih gampang ya? Ini, pakai Windows asli malah jadi ribet! Tapi tentu saja itu membawa kita ke persoalan etis.
Rasanya saya sudah harus mulai mencari alternatif Windows: Linux-kah? Apple-kah? Tetapi sekali lagi: kompatibilitas adalah persoalan besar dan di sinilah keunggulan terbesar Microsoft. Kini, sebuah perjalanan panjang yang harus selalu ditempuh adalah bagaimana bersiap-siap agar sebuah pergantian mesin-penopang-kehidupan saya (notebook dan ponsel) bisa saya ganti (atau, kalau sewaktu-waktu terpaksa diganti) tanpa membawa riak yang berarti pada kehidupan saya.
Begitu juga dengan ponsel saya: selain memang fiturnya canggih dan sangat memuaskan, tetapi layar Sony Ericsson K800i itu ternyata tidak tahan gores dan masalah yang ada di dalamnya sehingga saya harus bolak-balik ke pusat servisnya malah menyebabkan tukang servisnya menitikkan satu codet pada layarnya. Lagi-lagi: menyebalkan! Belum lagi keyboardnya seringkali membuat saya salah ketik, karena tombolnya yang agak kurang lembut - dan yang buat mencari tanda "&" saja susahnya bukan main, butuh puluhan kali klik sini dan sana, sekedar untuk pakai "&", maka lebih baik sekalian saya ketik "dan" saja. Itu kalau SMS ke sesama XL, gratis, kalau ke operator lain?
Lagipula, jalan pintas tombol utama ke atas dan kanan juga seringkali kembali ke fungsi semula dan menolak set yang dipilih sendiri. Katanya masalah software, tapi setelah software-nya diremajakan pun, hari ini saya masih mengalaminya sekali lagi. Mudah-mudahan ini hanya karena tidak ada memory stick M2-nya, dan setelah pakai memory stick semua kembali sesuai fungsinya yang saya harapkan. Tidak pernah sebelumnya saya punya ponsel secanggih ini - memang waktu itu belum zamannya - tetapi juga tidak pernah saya mengalami kerepotan dan ganjalan seperti ini saat berganti ponsel.
Setelah beberapa hari berlalu, saya kini mendapati ternyata karakter "&" semakin lama semakin mudah digunakan, nampaknya karakter-karakter istimewa diatur berdasarkan frekuensi penggunaannya. Juga, menu utama ternyata lebih intuitif dengan fungsi-fungsi yang bisa diakses dari beberapa menu, misalnya "Games" yang bisa diakses baik dari Applications maupun dari Entertainment.
Notebook baru, ponsel baru - haruskah saya menyisihkan satu-dua minggu setiap kali menggantinya? Bisakah mesin-mesin yang sangat penting ini saya dapatkan dengan fitur yang sempurna, cukup dengan browse di Internet, lantas beli? Atau memang benar kata kawan saya, "Setiap produk semacam itu pasti ada cacatnya" dan jarang sekali yang bisa kita peroleh langsung beres?
Sekurang-kurangnya saya masih berharap ketika berikutnya saya harus mengganti notebook dan ponsel, saya bisa beralih mesin dengan mulus, tanpa harus mengalami keribetan semacam ini lagi.
Dua minggu ini benar-benar melelahkan. Diawali dari kejadian-kejadian sederhana: kaus kaki saya bolong. Saya tidak pernah memakai kaus kaki yang bolong. Maka, alangkah baiknya ketika kaus kaki menjadi bolong saat dicuci, bukan pada saat dipakai. Tetapi dua minggu yang lalu, dalam kurun waktu satu minggu, empat pasang kaus kaki saya menjadi bolong - pada saat dipakai! Benar-benar menyebalkan!
Tetapi ternyata itu belum seberapa. Selanjutnya, di penghujung minggu itu, pada hari Jumat, notebook saya hancur. Satu hari, ketika seorang teman sedang meminjamnya, tiba-tiba Windows XP Home saya melambat sehingga harus di-restart. Setelah itu, login pun masih butuh waktu lama sehingga akhirnya di-restart untuk kedua kalinya secara paksa. Itulah awal dari bencana: layar biru. Pilih sistem: Command Prompt? Command Prompt with Networking? Last Known Good Configuration? Semua pilihan dicoba dan tidak ada satupun yang tidak membawa saya kembali ke layar biru.
Seketika, seluruh tubuh rasanya menjadi dingin. Dalam kurun waktu dua setengah tahun dengan notebook ini saya tidak pernah mengalami bencana yang berarti, maka saya pun tidak pernah lagi mem-back up data secara rutin. Dan seingat saya, setelah bulan Juli (awal tahun ajaran baru), saya sama sekali belum pernah mem-back up data lagi. Kacau! Selanjutnya hanya panik yang mengikuti saya. Semua data hilang. Itu baru yang abstrak, "Semua data hilang." Sejak saat itu, hingga keesokan paginya, setiap lima menit (setidaknya, rasanya setiap lima menit) setiap kali saya memikirkan ini dan itu, rupanya setiap pemikiran di dalam otak saya terkait langsung dengan satu atau lebih file dan saya pun menjadi teringat, "Aduh, file ini hilang!" "Aduh, yang itu juga hilang!" Satu hari yang menyiksa.
Belum cukup sampai di situ, dalam minggu berikutnya, ketika saya masih sibuk meng-install ulang ini dan itu, serta mengembalikan data yang terancam hilang (untungnya ada teman yang memberikan bantuan yang luar biasa sehingga semua data bisa didapatkan kembali), ponsel baru saya bermasalah sehingga saya harus bolak-balik Ketapang-Roxy, belum lagi ada bug di sana-sini. Rasanya, kalau fitur-fitur yang canggih itu tidak ada di ponsel juga tidak apa-apa, tetapi karena kenyataannya ada dan tidak berfungsi sempurna, jadilah itu sebuah ganjalan di hati sehingga bekerja pun rasanya tidak tenang.
Ketika segala sesuatu menjadi digital, praktis seluruh kehidupan kita didigitalkan, kita memang menjadi jauh lebih efektif, tetapi sekali ada gangguan, ternyata produktivitas kita pun terancam harus turun mesin. Maka seiring dengan digitalisasi kita pun menjadi semakin rentan terhadap gangguan-gangguan terhadap mesin-mesin yang kita pakai - ya, gangguan terhadap notebook dan ponsel saya juga adalah gangguan terhadap hidup saya karena setiap kegiatan saya, bahkan boleh dikatakan setiap pemikiran saya pasti sedikit-banyak terkait dengan kedua mesin saya - keduanya sudah menjadi bagian dari kehidupan saya.
Gangguan-gangguan dalam hidup tidak pernah kita harapkan. Tetapi toh ada juga saatnya kita masih harus dikejutkan oleh gangguan-gangguan yang tidak kita harapkan itu, dan kita pun menyadari bahwa semua benda canggih itu tetap hanya mesin yang harus kita pilih dengan bijak, dirawat dengan baik, dan pada saatnya harus dipensiunkan - dan juga, sangat penting kita mempersiapkan perpindahan mesin, entah direncanakan maupun tidak, agar berjalan dengan mulus sehingga kehidupan kita pun sedapat mungkin tidak terganggu oleh perpindahan-perpindahan itu.
Tindakan pencegahan harus dipersiapkan dengan cermat.