It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Apa cita-cita saya? Sewaktu kecil, mau jadi pendeta. Tapi karena beberapa hal di masa SMP saya akhirnya saya memutuskan untuk mengalihkan cita-cita itu. Selanjutnya selama bertahun-tahun saya tidak tahu lagi mau jadi apa.
Pada akhirnya, sewaktu kuliah, saya tahu: bukan soal menjadi apa, tetapi soal melakukan apa. Hingga saat ini saya kebingungan kalau orang bertanya apa cita-cita saya. Biasanya mereka menginginkan jawaban yang singkat, satu label belaka. Tetapi yang ada dalam pemikiran saya bukan label semacam itu, melainkan suatu peranan yang lebih luas dan sulit dilabelkan. Yang menjadi cita-cita saya adalah melakukan sesuatu yang berarti di dunia pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan Kristen.
Di akhir masa kuliah saya sempat terpikir menjadi konsultan, kumpulkan uang yang banyak, buat usaha sendiri. Dari hasil usaha itu, kemudian saya akan membangun sebuah jaringan sekolah - sekolah yang berkualitas baik, disediakan untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu. Bukan cuma itu, tapi juga jaringan perpustakaan. Tetapi setelah dipikir-pikir, akhirnya yang kedua saya hilangkan dari rencana saya. Siapa yang mau menulis? Mau diisi dengan buku-buku macam apa perpustakaan itu? Tidak, belum saatnya bagi Indonesia. Usaha pertama harus difokuskan pada sekolah.
Tetapi ternyata jalan hidup berbicara lain. Tuhan memimpin ke arah yang berbeda. Setelah 6 kali wawancara dan 2 kali tes di MarkPlus dalam kurun waktu 2 minggu, orang-orang di sana mengatakan, 2 wawancara yang terakhir (ke-6 dan ke-7) hanyalah formalitas, maka saya menunggu wawancara ke-7. Ternyata saya dihubungi pada pukul 9 pagi, diminta datang untuk wawancara pada pukul 9 malam itu, di kantornya. Dalam sekejap saya berpikir: bagaimana dengan pelayanan saya, KTB yang saya baru mulai pegang, dst.? Segera saya menolak dan berakhirlah proses itu.
Saya tetap masuk ke dunia pendidikan, tapi dari jalur yang berbeda - dengan menjadi guru. Ini adalah profesi, sebuah bentuk kehidupan, yang sangat saya nikmati. Dan saya sangat bersyukur Tuhan telah memimpin sejauh ini dengan karier yang luar biasa, pengalaman yang tak tergantikan, kehidupan yang sungguh bermakna.
Ada banyak batu tapal, ada banyak kesempatan, ada banyak pijakan. Tinggal bagaimana bersikap bijak, memanfaatkan yang terbaik dari setiap kesempatan, mematangkan diri, dan bergerak pada waktunya - dengan kematangan yang tepat. Cita-cita saya nampak semakin hari semakin jelas, semakin jernih. Setiap langkah, setiap hari harus dipersiapkan sebaik mungkin. Hidup hanya sekali, banyak kesempatan hanya datang sekali. Kita tidak pernah tahu kesempatan apa dan kapan datangnya, tetapi yang terpenting adalah kita mempersiapkan diri kita, sebaik mungkin, pada setiap saat di dalam hidup ini.
Bercermin pada Musa, ketika kita membagi kehidupan kita ke dalam tiga bagian, banyak orang merasa puas dengan 1:2, yaitu 1 bagian persiapan dan 2 bagian berkarya; atau 1:1:1, yaitu 1 bagian persiapan, 1 bagian berkarya dan 1 bagian pensiun. Maka banyak orang ingin pensiun semuda mungkin dan ongkang-ongkang kaki, menikmati hidup. Tetapi saya yakin hidup lebih dari itu. Pertanyaan hidup adalah soal makna dan keberartian kita bagi masyarakat, bagi umat manusia. Maka tidak ragu saya kalau harus memiliki hidup 2:1. Sesungguhnya, 2 bagian persiapan dan 1 bagian berkarya lebih baik jika itu berarti dalam 1 bagian untuk berkarya itu saya bisa menghasilkan suatu karya fenomenal, monumental, meninggalkan jejak yang berarti dan menjadi seorang yang menggoreskan nama dengan tinta emas di buku sejarah umat manusia.
Hidup adalah soal menjawab tantangan, terus bergerak, terus berjuang, terus merengkuh dan meraih dan melempar dan menjangkau, serangkaian perjuangan untuk mencari makna dan memberi makna dan meninggalkan makna. Maka cita-cita bagi saya bukan soal melontarkan satu label, tapi soal berkarya.