It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Fakta 1: ada pekerjaan lain yang jika saya jalani dengan sepenuh waktu saya, maka dalam satu hari kerja (8 jam), bisa memberikan saya penghasilan sama dengan satu bulan gaji saya sebagai guru. Fakta 2: beberapa orang oom, tante dan para sepupu saya, berkali-kali bertanya kepada saya apakah saya menjadi guru itu benar-benar pilihan saya, bukan karena terpaksa; dan tentunya saya "ya". Fakta 3: berkali-kali orang menyayangkan kenapa saya dengan predikat dan kapabilitas saya pada akhirnya ‘hanya’ (begitu kata mereka) menjadi guru.
Kenyataannya sampai hari ini profesi guru masih merupakan sebuah profesi yang dipandang rendah. Bahkan seorang yang saya tahu adalah guru juga pernah berguyon: "Banyak orang bilang, guru itu bodoh. Apakah benar? Tentu saja! Lha, keputusan menjadi guru pun adalah keputusan yang bodoh, kok!"
Lantas kenapa saya menjadi guru? Di sini saya tidak hendak menguraikan berbagai argumentasi dan idealisme saya. Cukup sudah itu semua terbaca dari berbagai tulisan saya selama ini. Tetapi secara sederhana saya ingin mengutarakan satu keindahan menjadi guru: ada kepuasan yang berbeda. Seorang teman saya mengatakan, ada "sense of fulfillment"-nya
Menyentuh hati, mengubah hidup, satu demi satu.
Ada kalanya di saat-saat yang tidak terduga, ada murid yang mengatakan, "Bapak ingat tidak waktu itu ada begini dan begitu, kemudian Bapak mengatakan begini (atau berbuat begitu)?" Ada kalanya saya ingat, tapi seringkali juga tidak. Apa lanjutannya? "Saat itu hati saya tersentuh, Pak." Atau, "Saat itu, pintu hati saya terketuk, Pak." Dan banyak lagi ungkapan semacam itu. Itu adalah saat-saat yang sangat indah, yang tidak tergantikan.
Ada kalanya momen semacam itu terjadi di saat murid itu masih saya ajar, ada kalanya setelah dia lulus, ada kalanya pula hanya diketahui dari teman-temannya betapa dia berulang kali dan dalam berbagai kesempatan menceritakan satu-dua pengalaman yang sangat berkesan dengan nada yang berapi-api dan dengan sepenuh hatinya - momen-momen yang bersejarah di dalam hidupnya, satu-dua detik saat ketika jendela hati dan pikirannya terbuka lebar dan pada detik-detik yang berharga itu Tuhan mengizinkan saya masuk dan menyentuh hatinya.
Ilmu bisa didapat dari membaca buku. Kepandaian bisa didapat dari mengikuti banyak les. Tapi ada hal-hal yang sangat berharga yang Tuhan percayakan kepada guru-guru. Ada kesempatan-kesempatan yang sangat berharga. Dan dengan apa pun itu tak bisa digantikan.
Maka saya dengan bangga memilih menjadi guru dan tetap menjadi guru. Untuk menyentuh hati, mengubah kehidupan, senantiasa bersiap, satu demi satu. Tanpa pernah mengetahui kapan waktunya, kecuali dalam retrospeksi.
Andrea… Cia you…
Dj percaya kalau yang terbaik telah kau pilih…