It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Dalam beberapa bulan terakhir saya terlibat lebih aktif di dalam sebuah kegiatan pendidikan yang memberikan semacam bimbingan belajar untuk anak-anak yang kurang mampu, di satu daerah yang agak kumuh di Jakarta. Ada kalanya saya terhenyak menyadari betapa buruknya kondisi pendidikan kita di Indonesia ini - artinya "pendidikan" dalam pengertian pendidikan sekolah yang diterima oleh kebanyakan murid di Indonesia. Tetapi ada juga saat-saat yang lebih mengejutkan ketika menemukan bahwa setelah yang buruk itu masih ada yang lebih buruk lagi … dan masih ada yang lebih buruk lagi … berulang kali. Entah seberapa dalam sebenarnya kita tengah terpuruk.
Kemarin ini saya menemukan murid-murid SD diberikan PR IPA. PR itu berasal dari buku LKS (lembar kerja siswa), yang sebenarnya merupakan pedoman praktikum! Bayangkan saya, seorang murid SD (mungkin kelas 5?) diberikan PR untuk menyebutkan "3 bahan yang [tadi] kamu gunakan untuk membuat ruangan kedap suara", juga menyebutkan "berbagai alasan kenapa hidung pesawat runcing". Mereka juga diminta menyebutkan "dari tiga buah parasut berdiameter 20 cm, 40 cm dan 60 cm (dan seterusnya …), mana yang lebih dulu mencapai tanah"? Bagaimana mungkin pertanyaan-pertanyaan semacam ini dibuat jadi PR? Kapan praktikumnya?
Konyolnya, gurunya menjanjikan, kalau murid-muridnya bisa menjawab dengan benar (entah "benar" dari mana, mungkin "benar" kalau mereka bisa menjelaskan fenomena itu dengan bahasa orang dewasa - padahal jelas-jelas itu berarti orang tua mereka atau entah siapa yang membuatkannya), maka pada pertemuan berikutnya mereka akan praktikum membuat roket. Dan murid itu pun menunjukkan kepada saya sebuah gambar peluncuran pesawat NASA, yang tentunya dalam angan-angannya akan dibuatnya pada pertemuan berikut dengan si guru! Bagaimana mungkin, sedangkan membuat praktikum parasut saja gurunya tidak lakukan?
Dalam bahasa Inggris, murid-murid harus memenuhi satu tabel yang terdiri dari 3 kolom dan sekitar 20 baris dengan nama berbagai benda. Benda apa? Kolom pertama: benda-benda yang ada di ruang tamu. Kolom kedua: benda-benda yang ada di kamar tidur. Benda ketiga: benda-benda yang ada di dapur. Sungguh aneh, bahwa sebuah sekolah yang murid-muridnya berkondisi sangat minim menggunakan buku dari penerbit mahal yang buku-bukunya terkenal dua kali lebih mahal daripada buku serupa dari penerbit lain. Ada motivasi apa kiranya bahwa para guru di sekolah itu memilih buku yang bersangkutan? Jelas, bahwa buku itu dimaksudkan untuk murid-murid dari kalangan yang lebih berada.
Bagaimana mungkin para murid SD itu mengisi kolom tadi sampai penuh, sedangkan mungkin ruang tamu dan kamar tidurnya adalah satu ruangan yang sama? Dan mungkin juga dapurnya sama - atau mereka malah tidak mempunyai dapur, suatu hal yang nampaknya mungkin, mengingat murid tadi kebingungan ketika kami berbicara tentang dapur. Bagaimana mungkin murid itu mengerti "toaster"? Juga berbagai jenis lampu di berbagai ruangan: lampu baca, lampu ruangan, dll.?
Terpuruknya pendidikan kita selalu berhasil mengejutkan saya, bahwa ternyata saya belum juga sampai kepada dasarnya. Selama pendidikan kita masih berorientasi pada penguasaan bahan di buku - menghafal dan menghafal dan menghafal - nampaknya kita boleh melupakan banyak mimpi kita sebagai bangsa dan kita boleh mengantisipasi (atau mengkhawatirkan?) bahwa suatu pergerakan sosial akan terjadi akibat semakin jauhnya kesenjangan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia ini.