Apr
29
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 29-04-2007

Life is an evolution, a continuous evolution. It involves and it is a constant, continuous change. Apart from the continuous change, however, there are times when we have to go through a series of events that force us to change … then we must deliberately change. There are times when we realise that the old "me" has been overused and that it was time to redesign, remake and re-image a new "me".

Such moments can all be deliberately planned as well as unwillingly accepted. It’s sometimes a matter of whether we have the courage to change, to adjust, to break through the old barriers and find way to step forward. The question is whether we would receive life’s challenges to yet a closer fulfillment of our dreams, to find a new "me".

It is in the pathway toward the ideal "me" that life would find yet another strength: strength to go ghrough, strength to fight, strength to struggle. It is now such a moment for me. Another great time - somehow, it’s just the right time to get the re-inventing thing to begin, to start yet another process of remaking myself.

Apr
29
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 29-04-2007

Time after time, I find myself surrounded by great opportunities. I ask myself, "Who am I that I should be worthy of these?" These are not only great opportunities, not only wonderful, but also rare chances, honourable and distinguished. They oftenly bring me to the highest peaks in my life. Sadly, that’s not it oftenly ends. There are also moments - lots of them - that after the highest peaks come the deepest falls.

Every time, like tonight, at the end of yet another honourable, distinguished, successful event, I find myself overwhelmed by the success: a sigh of relief, a sense of disbelief, but also a sense of gratitude. Thank you God, for giving me this chance. Thank you for even helping me, guiding me all the way to its end and fulfillment. Thank you for the innumerable things I cannot even enlist fully and perfectly.

In such moments, at every end of relief-disbelief-gratitude, I could just do nothing else but sit in astonishment at how much God can use me. Indeed, He uses broken vessels. I find myself over and again asking, "Who am I Lord, that I should be worthy of this?" Nevertheless, I thank You. I try my best to get to the bottom of the valley after this peak.

Indeed, it is in receiving well that God can use a broken vessel like me that I would be able to grow even more, to hold myself from falling from the peak to the pit. Yes, that’s it! One root of the fall is my unability to accept that God can actually use me despite my falling short of His standard. I need to accept it well and be grateful about that.

Thank you God, for using a broken vessel like me. It’s not about me. It’s about you. I’m not worhty of these great things, but it is through my unworthiness that Your greatness would be more perfectly revealed. Thank you.

Apr
29
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 29-04-2007

Semakin lama saya menemukan kenyataan bahwa berbicara ternyata sangat penting. Kompetensi berbicara ternyata bisa dan benar-benar menjadi sesuatu yang pelik di dalam karier saya. Bukan cuma soal duduk dan bekerja, tetapi ternyata ada banyak saat dan kesempatan di mana dengan berbicara saya bisa mencapai dan mewujudkan banyak hal yang lebih berarti dan berdampak lebih luas daripada kalau saya cuma duduk dan bekerja.

Ketika saya berbicara - tentang hal yang tepat, kepada orang yang tepat, pada saat yang tepat - maka saya bisa mendapatkan orang-orang dengan kompetensi yang tepat mengerjakan hal-hal yang tepat untuk alasan-alasan yang memiliki nilai strategis yang lebih tinggi. Sungguh menakjubkan, walaupun semula nampaknya tak masuk di akal saya, tetapi setelah direnungkan baik-baik nampaknya memang begitulah jadinya dengan masyarakat kita yang semakin kompleks ini. Berupaya mengerjakan banyak hal seorang diri - seberapa pun baik dan tepatnya itu - bisa jadi bukan hal yang terbaik.

Berpikir sistematis dan sistemik adalah imperatif. Memberdayakan orang-orang yang tepat untuk tugas yang tepat dan pada saat yang tepat akan membawa organisasi kepada pencapaian tujuan strategisnya. Dan untuk itu seringkali berarti pada bagian kita, kita perlu berbicara kepada orang yang tepat pada saat yang tepat. Untuk apa? Untuk memicu proses selanjutnya agar bergulir kepada pencapaian tujuan strategis itu dengan mengerahkan sejumlah orang lainnya, bukan cuma bekerja keras sendiri di satu pojok yang tak terlihat.

Jika apa yang kita lakukan memang sesuatu yang berarti bagi perusahaan, maka seharusnya kita tidak malu membawanya ke ruang publik, membuat itu semua menjadi agenda publik. Dan banyak dari antara upaya itu dilakukan dengan: berbicara.

Apr
29
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 29-04-2007

Dalam sebulan terakhir ada dua hal serupa yang mengejutkan sekaligus membuat saya bangga. Yang pertama, dalam sebuah acara seminar di mana saya diminta menjadi moderator untuk dua sesi. Ketika saya datang ke tempat acara, alangkah terkejutnya saya karena berbagai tanda yang mereka tempel di sana-sini (panah penunjuk aula, dsb.) dibuat dari dokumen yang saya buat sudah cukup lama, dalam rangkaian acara serupa beberapa waktu sebelumnya di mana saya menjadi ketua panitia. "Mereka tidak mengubahnya? Cuma mendaur ulang karya saya?" Wah, saya merasa agak tersanjung di situ, walaupun cuma urusan kecil semacam itu. Setidaknya itu adalah sebentuk pengakuan atas kualitas pekerjaan saya.

Yang kedua, di lembaga lain di mana saya juga terlibat, beberapa tahun silam saya diminta membantu (artinya, itu sebenarnya bukan tanggung jawab saya) melakukan beberapa hal semacam: membuat angket, merekapitulasi data, terkadang juga membuat analisis data serta laporan akhirnya. Saya berpikir semua cuma pekerjaan sesaat, yang selesai sampai di situ. Sekian lama waktu berlalu. Dalam sebulan terakhir saya secara tak sengaja melihat satu dokumen yang baru diproduksi. "Apa itu?", saya penasaran. Sekali lagi saya terkejut, tapi juga tersanjung (mungkin yang kedua lebih dominan daripada yang pertama :D). Apakah itu? Saya melihat ternyata berbagai hasil pekerjaan saya tetap mereka simpan dan mereka pakai, bahkan terus-menerus di daur ulang. Ya, waktu demi waktu, mereka hanya mengubah datanya tetapi memakai seluruh kerangka hingga penyusunan laporan yang saya buat.

Sungguh membanggakan ketika pekerjaan diakui, walaupun tidak disertai gembar-gembor sana-sini dan banyak orang tidak mengetahui bahwa semua format dan alur itu dibuat oleh saya (orang yang cuma dimintai tolong :D). Setidaknya, pada saat ini saya bisa mengatakan bahwa di tempat-tempat itu, di semua lembaga itu, saya sudah meninggalkan sidik jari saya. Walaupun keterlibatan saya sangat minim, benar-benar tidak lebih dari "tukang bantu" yang tidak punya status apa-apa yang berarti, tetapi kesadaran bahwa hasil pekerjaan saya sangat dihargai adalah satu hal yang menyenangkan.

Tanpa kehadiran saya, tanpa "bantuan" saya, tanpa sidik jari saya, lembaga-lembaga itu tidak akan sama. Dan itu adalah kepuasan yang besar.

Apr
26
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 26-04-2007

Isu lingkungan hidup belakangan ini sangat kencang terdengar di media massa. Kalau sebelumnya hanya di media internasional seperti Time (saya tidak menonton TV, jadi tidak tahu bagaimana kondisi di dunia itu), belakangan ini santer sudah isu-isu itu dihembuskan juga oleh Kompas. Memang sulit sekali hidup "hijau" di Indonesia. Kalau kita mau belanja, bilang ke petugasnya, "Tidak usah pakai kantong plastik deh, saya langsung bawa saja." Apa reaksi mereka?

Biasanya agak melongo sebentar, atau bertanya "Benar nih?" atau malah ragu-ragu, takut ditegur oleh atasannya. Kalau di toko buku lebih enak, karena bisa langsung ditenteng, dan kalaupun petugasnya bertanya, paling-paling pertanyaannya, "Mau langsung dibaca ya?" Kalau beli banyak buku, saya sudah menyiapkan tas ransel, jadi semuanya bisa langsung dimasukkan ke tas. Lha kalau belanja di supermarket? Yah, mau tidak mau deh.

Yang mengesalkan kalau di toko buku pinggiran jalan. Nilai plus mereka adalah diskonnya yang besar, mereka berani memberikan diskon sampai 20% dalam kondisi normal. Mereka menekan marjin keuntungan untuk mendapatkan dan mempertahankan pelanggan. Untuk mencegah buku-buku yang mereka jual menjadi kotor, setiap buku dibungkus plastik dan saat kita berbelanja semua buku yang sudah berplastik itu dimasukkan lagi ke kantong plastik. Sangat banyak plastik! Kalau diberitahu, "Tidak usah pakai kantong plastik deh," apa reaksi mereka? Satu kali saya dijawab, "Nggak diskon lagi kok, kalau nggak pakai plastik." Hmmh, memang susah berurusan dengan orang-orang yang cuma bisa melihat selangkah ke depan! Memangnya dia kira cuma uang yang saya pikirkan?

Hari ini saya mendapat kabar gembira. Satu email tiba dari toko buku (ak.’sa.ra), "(ak.’sa.ra) Goes Green", salah satu isinya mengenai BYOB (Bring Your Own Bag):

BYOB (Bring Your Own Bag)
We would like to encourage our customers to avoid unnecessary packaging (reducing waste = reducing carbon emissions) by bringing their own bag for their purchases. We are in the process of procuring a more environmentally-friendly alternative to replace our plastic shopping bag, effective once the current supply runs out.

Akhirnya! Memang sudah waktunya! Konsumsi kantong plastik kita luar biasa banyaknya, dan ironisnya, banyak orang merasa kantong plastik adalah sebuah tanda kemewahan dan ukuran bonafit sebuah toko sementara mereka memperlakukan kantong plastik sebagai sebuah barang sekali pakai (disposable) sementara kenyataannya sampai tujuh turunan pun kantong plastik itu tidak akan habis terurai. Sudah saatnya. Jangan tunda-tunda lagi.

Apr
13
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 13-04-2007

There’s this feeling always hovering me whenever a close friend of mine is about to be involved inn ay kind of sport. I don’t enjoy sport, as you must have known by now. Even worse, it’s always disturbing my conscience that someone I love, someone I care about, is involved in, and even enjoying, something I detest.

Stranger still, I am known as someone very well acquainted with myself, with my own feelings. My EQ tests always show that I have a self-knowledge and self-conscience well above the average. But this feeling … it’s very disturbing. I feel like I’m standing behind a glass window, trying to reach them, but I can’t! I can’t even scream loud enough to be heard. What can I do? What should I do?

I know it’s a need - a basic need of being a complete and balanced human being. But it’s never easy for me. I just wish someone would fetch me in, help me mingle around them, orient me to the enjoyment and pleasure of having sports. If only ….

Apr
13
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 13-04-2007

Hari ini, 13 April 2007, saya membaca dua berita mengenai dua buah buku tentang tokoh besar: Kompas mengulas buku “Soeharto: The Life and Legacy Indonesia Second’s President” karya Retnowati Abdulgani-Knapp dan Time mengulas buku “Being Mohandas” tentang Mahatma Gandhi karya Rajmohan Gandhi.

Buku tentang Soeharto menceritakan tentang bagaimana Soeharto di tengah-tengah masa yang sulit bisa bersikap sangat ksatria dan menjadi seorang tokoh penting, seorang yang sangat berharga dan benar-benar berkarakter bagi banyak orang, misalnya ketika di awal pemerintahannya Indonesia berutang beras kepada Singapura dan harga beras naik tinggi, kemudian Singapura ingin menghapuskan utang itu, tetapi ia bersikeras tetap membayar kembali utang itu, bahkan dengan beras berkualitas yang lebih baik. Soeharto menunjukkan kehormatan yang luar biasa dan jasa yang tidak kecil bagi rakyat Singapura. Juga bagi ASEAN. Dikutip, “Ia merupakan tokoh yang sangat penting untuk menjadikan Asia Tenggara seperti sekarang,” kata Kesavapany dari Institute of South East Asian Studies.

Kenyataannya memang banyak sekali jasa Soeharto bagi Indonesia ini, juga bagi Asia Tenggara dan sejumlah bangsa di dunia. Pada akhirnya ia memang jatuh; ia mengakhiri pemerintahannya dengan cara yang tercela dan memalukan. Tetapi, tunggu dulu: jangan gampang-gampang menghujat beliau. Terlepas dari masalah pengadilan, ketika kita berbicara tentang biografi, kita juga perlu mengingat banyaknya hal yang telah beliau lakukan dari banyak orang.

Buku tentang Gandhi menguak tentang kehidupannya sebagai suami yang kejam, ayah yang nyaris tidak pernah ada untuk anak-anaknya. Istrinya sangat menderita karena banyak kelakuannya yang menyakitkan hati, belum lagi perselingkuhan-perselingkuhannya serta berulang kali ia bermain perempuan, walaupun dalihnya itu untuk menguatkan askesenya (orang tentu bertanya-tanya sejauh mana tingkat keberhasilannya). Nampaknya, orang yang seringkali dipandang sebagai santo ini juga sangat bergelut dengan kemanusiaannya yang telah tercemar. Jauh di dalam hatinya, Gandhi masih mengalami kuatnya tarik-ulur kedua kutub dalam kompas moralnya.

Penting sekali seorang pemimpin menjaga hatinya, menjaga dirinya otentik, luar dalam sama. Hidup manusia selamanya adalah perjuangan. Dan bagi para pemimpin, bagi para figur publik, perjuangan itu akan berlipat ganda beratnya. Tanpa otentisitas itu, cepat atau lambat, inotentisitas akan melemahkan dan mempermalukan kita.

Apr
11
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 11-04-2007

Jika nilai mutlak dari variabel x adalah 10, atau dirumuskan |x| = 10, berapakah nilai x? Bisa 10, tapi bisa juga -10. Begitu juga dengan keramahan.

Seorang yang polos sekali dan tidak terdidik dengan baik akan mempunyai nilai keramahan 0. Kalau dia sedikit belajar dan menjadi agak baik, maka nilai keramahannya akan naik menjadi 1, 2, dan seterusnya. Di sini misalnya saya menjumpai beberapa orang pekerja klerikal dan pesuruh yang sikapnya terasa agak kasar, walaupun hatinya saya yakin adalah baik. Di sini juga kita menjumpai para penjahat kelas super-teri, yang baru-baru belajar, kadang-kadang suka mengagetkan, tapi digertak sedikit juga sudah mundur. Demikian pula para karyawan yang brengsek di sejumlah toko, berada pada kategori ini.

Pada tingkat yang tinggi, misalnya 7, 8, dan seterusnya kita menjumpai orang-orang yang kita sebut "baik" dan "ramah". Orang-orang yang menyenangkan untuk diajak bergaul. Tetapi bukan hanya mereka. Di sini kita juga menjumpai penjahat-penjahat kerah putih. Semakin canggih kejahatan mereka, tentu mereka juga harus mengembangkan keterampilan antar-pribadi mereka. Keramahan mereka pun meningkat. Ketika nilai mereka sebenarnya -7, -8, -9, bahkan -10 tetap saja nilai mutlak mereka adalah 7, 8, 9, 10.

Bagaimana membedakan keduanya? Bagaimana supaya kita jangan terjebak pada nilai mutlak, tetapi pada nilai variabel itu sesungguhnya? Jangan terlalu polos. Jangan naif. Jangan percaya begitu saja pada keramahan orang. Orang yang bersikap agak kasar bisa saja diabaikan, tetapi orang yang ramah, apalagi sangat ramah, harus diwaspadai. Uji benar-benar, apakah dia benar-benar bernilai positif atau sebenarnya bernilai negatif dan hanya nilai mutlaknya yang positif sehingga kita sebenarnya sedang ditipu mentah-mentah.

Maka ketika orang berkata, "Dia orang yang sangat ramah," jangan langsung menganggap itu sebagai suatu hal yang baik. Uji. Temukan kebenarannya. Jangan sampai Anda termakan oleh kejahatan, apalagi bersahabat dengan kejahatan.

Apr
11
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 11-04-2007

Pada peristiwa-peristiwa besar seperti HUT ke-50, perayaan-perayaan istimewa, ajang-ajang khusus, banyak orang akan memberikan dan menampilkan yang sebaik mungkin yang mereka bisa. Acara-acara itu adalah sebuah panggung, di mana pekerjaan orang akan terpampang dengan jelasnya di hadapan banyak orang. Di dalam kesempatan-kesempatan semacam itu, ketika melihat seseorang berkinerja baik, apakah kita memuji dan lantas mengangkat dia? Menurut saya, jangan. Prestasi dalam acara besar tidak boleh dijadikan patokan jika sebelumnya orang itu tidak menunjukkan prestasi dalam acara-acara kecil, pada kesempatan-kesempatan biasa.

Kinerja orang yang sesungguhnya terlihat dari hal-hal kecil, dari kegiatannya sehari-hari. Di situlah nampak prestasi yang sesungguhnya, di mana komitmen dan kesetiaan diuji. Ketika tidak ada orang yang melihat, ketika kita tidak berada di atas panggung, maka kinerja yang sesungguhnya terlihat. Jika orang tidak lulus dalam tes ini, maka sebaik apa pun ia berprestasi pada peristiwa besar, prestasi yang belakangan itu boleh - malah harus - diabaikan.

Seorang oportunis dan eksibisionis akan menggunakan setiap kesempatan di panggung untuk tampil sebaik mungkin, tapi ketika tidak ada lampu sorot, ketika tidak ada mata yang memandang, ia pun akan kembali ke jati dirinya. Itulah sebabnya kesetiaan sehari-hari lebih penting daripada performa publik yang sesaat.

Apr
07
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 07-04-2007

Banyak hal konyol dan bodoh, juga hal-hal yang tidak masuk akal dan aneh, yang saya lakukan dalam hidup. Dan sebagian besar di antaranya dilakukan karena satu hal: perasaan terdesak. Perasaan terdesak yang tidak masuk akal sebenarnya. Sejak kecil dan sepanjang masa remaja hingga baru-baru ini, saya selalu beranggapan bahwa: lebih cepat = lebih baik. Berbicara lebih cepat, bertindak lebih cepat, berjalan lebih cepat, dan sebagainya. Tetapi ternyata tidak demikian.

Yang paling kentara adalah hal berbicara. Kecepatan berbicara saya semakin lama menjadi semakin mengkhawatirkan, walaupun dalam empat tahun terakhir telah mengalami pelambatan yang lumayan pesat, dan dalam setahun terakhir semakin pesat lagi, walaupun kenyataannya seringkali masih terlalu cepat.

Tetapi bukan hanya itu. Yang lebih parah lagi adalah dalam hal bertindak. Ada masa-masa di mana saya merasa terdesak untuk bertindak lebih cepat, mengambil keputusan dengan segera, dan bahkan dalam keadaan-keadaan tertentu merasa satu hal yang telah dipicu, satu pesanan yang telah dilontarkan, satu instruksi yang telah diberikan, tidak bisa diinterupsi lagi dan dialihkan kepada hal yang lain padahal saya sebenarnya ingin mengalihkannya. Selanjutnya hal-hal itu telah membawa akibat-akibat yang walaupun baik tetapi tidak optimal … ujung-ujungnya, membawa penyesalan. Itu sisi yang lebih positif; sisi yang lebih negatifnya, ada kalanya sikap dan pemikiran saya itu membawa kekacauan. Ketertiban yang telah tercipta pada mulanya bisa berubah menjadi khaos karena ketidakmampuan saya untuk mengendalikan dorongan untuk menjadi lebih cepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi.

Kecepatan ternyata lebih mudah membawa bencana dan lebih banyak bahayanya daripada kebaikannya. Seperti kata seorang kawan, ketika belajar mengemudi mobil, "Mana bisa jago kalau tidak bisa bawa lambat?" Kata kuncinya, nampaknya, adalah pengendalian diri. Mengendalikan diri untuk berproses dengan cukup cepat tanpa mengorbankan hal-hal yang perlu, tetapi mengutarakan hasilnya dan berkomunikasi serta bertindak dengan kecepatan yang memadai untuk dipahami dengan baik oleh semua orang; juga berani bertindak, melontarkan interupsi-interupsi di saat-saat yang perlu, tanpa merasa enggan, tanpa merasa khawatir, tanpa merasa terdesak. Kenapa? Karena, jangan-jangan perasaan terdesak itu hanya ada di dalam diri sendiri, sebuah perasaan untuk menambah kecepatan tanpa henti, tanpa menyadari betapa absurdnya keadaan itu.

Kecepatan bukan segalanya. Ketercapaian jauh lebih penting. Kebermaknaan dan keutuhan makna adalah yang terpenting.

Dan kini saatnya saya belajar untuk melambatkan diri: melambatkan kecepatan berbicara saya, kecepatan bertindak yang cenderung menjadi gegabah, juga ketergesa-gesaan dalam banyak hal yang cenderung malah membuat saya menjadi tidak teliti dan sembrono.