Apr
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-04-2007

Mungkin saya terlalu konvensional, terlalu kolot. Tetapi di dalam kehidupan beragama, saya berpikir bahwa tradisi itu penting. Ada hal-hal simbolis yang perlu dan harus dipertahankan. Walaupun bukan demi nilai esensinya, sekurang-kurangnya demi nilai relijiositasnya; dan nilai relijiositas itu juga bukan dimulai tanpa pemikiran doktrinal yang matang.

Hari ini saya benar-benar terusik mengikuti ibadah Sakramen Perjamuan Kudus Jumat Agung yang liturginya dan berbagai mata acara di dalamnya benar-benar penuh kejutan dan mengecewakan. Sampai-sampai saya terpikir, jangan-jangan saya berada di gereja yang salah.

Berawal dari naskah liturgi. Sekitar 8 tahun lalu, ketika saya menjadi sekretaris Panitia Natal Pusat, saya memfotokopi liturgi di kertas putih. Komentar orang? “Liturgi orang mati saja lebih bagus.” Ya, rupanya di gereja ini jenis kertas yang digunakan sangat dihargai. Tetapi soal isinya? Nampaknya nyaris tidak ada yang peduli untuk merancang isinya sebobot dengan pilihan jenis kertasnya. Banyak sekali hal yang mengganjal seperti frase-frase “Engkau … mengangkat kami menjadi putra-putri Bapa” (putri Bapa?), “Kasih setia Tuhan kiranya menyertai Saudara, seperti yang Saudara harapkan” (yang Saudara harapkan?), belum lagi bait-baik nyanyian yang dipadatkan sedemikian rupa sehingga keindahan bentuk puisinya lenyap. Elemen-elemen liturgis seperti Hukum Tuhan dan Petunjuk Hidup Baru dibacakan bersama-sama (!) dan bukannya dibacakan oleh Pendeta. Lagu-lagu yang judulnya saja dalam bahasa Inggris, tetapi isinya seluruhnya ternyata dalam bahasa Indonesia. Lebih parah lagi, pelayanan sakramen tidak dimasukkan secara terperinci sebagai bagian dari liturgi.

Hal ini semakin diperparah oleh dua hal: pertama, hari-hari libur, yang juga berarti hari-hari ketika kita menggunakan liturgi khusus, adalah hari-hari saya pulang dan juga beribadah bersama keluarga, di GKI, atau sekurang-kurangnya saya pasti dibawakan pulang liturgi ibadah mereka. Senantiasa ibadah GKI memiliki alur liturgi yang mantap, jelas, sejernih kristal makna dan tatanannya. Langkah demi langkah. Kaya makna, ditata dengan sangat baik, sangat indah, menakjubkan, benar-benar memudahkan saya sebagai jemaat untuk menjumpai Allah di dalam liturgi. Dan saya tidak pernah juga menjumpai liturgi ibadah GKI difotokopikan di kertas warna-warni. Bukan soal kertasnya, tetapi soal isinya.

Hal kedua, komentar seorang rohaniwan ketika saya mengatakan bahwa ada elemen-elemen liturgi yang mengganggu saya, “Jangan terlalu sering merasa terganggu, An.” Saya tersentak! Bagaimana mungkin ia berkata demikian?

Di dalam minggu-minggu sengsara saya semakin merindukan ibadah yang saya alami semasa kecil saya, ibadah yang kaya makna, ditunjang dan dimungkinkan oleh liturgi yang juga kaya makna - yang dari buku liturginya saja sudah terbaca jelas. Saya sempat terpikir untuk mencoba ibadah di Gereja Anglikan, sayangnya sampai sekarang belum kesampaian. Tetapi inilah minggu-minggu ketika saya merasa benar-benar tidak puas oleh keacuhan jemaat ini terhadap liturgi dan simbol-simbol liturgis di dalam ibadah. Saya haus … dan saya ingin dipuaskan.

Apr
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-04-2007

Sejumlah besar orang yang terlibat dalam pelayanan paduan suara, sepenglihatan saya, tidak menganggap serius pelayanannya. Mungkin di dalam paduan suaralah terjadi kesenjangan terbesar antara persepsi dengan esensi pelayanan. Paduan suara adalah bagian dari pimpinan ibadah, pengarah ibadah; paduan suara melayani dalam satu ibadah seharusnya bukan sebagai kumpulan orang-orang yang tampil seperti artil menampilkan diri di sebuah pertunjukan. Mereka hadir untuk memandu ibadah, menguaskan suatu warna dan aksen kepada ibadah itu. Kehadiran mereka seharusnya membuat keseluruhan ibadah menjadi berbeda, bukan sekedar hadir untuk tampil. Kalaupun di dalam suatu ibadah "paduan suara" hanya dicantumkan sebagai satu mata acara, sudah sepatutnya seluruh anggota paduan suara menghadiri ibadah itu secara lengkap sebagaimana juga para pelayan ibadah yang lain. Kenapa? Karena pelayanan itu berkonteks ibadah, bukan penampilan publik.

Jarang sekali saya menjumpai seorang anggota paduan suara seperti seorang ibu yang jauh-jauh kembali lebih awal dari liburan di luar kota karena ada pelayanan paduan suara - ketika berbincang-bincang dengan ibu ini beberapa tahun silam, saya merasa bahwa dari ibu ini ada penghargaan yang tinggi terhadap pelayanannya, nyaris seperti seorang pembicara menghargai pelayanannya. Tapi bukankah memang demikian seharusnya?

Dalam ibadah pagi ini saya melihat betapa menyedihkannya kondisi paduan suara yang menyanyi: di situ saya melihat ada orang-orang yang berkepribadian tercela, orang-orang yang telah melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji dan tidak pernah menunjukkan penyesalannya, orang-orang yang telah merusak nama baik banyak orang dan telah merusak jalan hidup banyak orang juga. Dan mereka berdiri di situ, di dalam kumpulan paduan suara! Betapa tidak pantasnya!

Tetapi mungkin saja itu adalah bagian dari penyakit kita, bahwa pelayanan paduan suara dipandang begitu remehnya sehingga secara praktis pelayanan itu tak ubahnya bagaikan seorang artis yang tampil di muka penonton, bukan lagi orang-orang yang melayani dan mempersiapkan diri untuk tampil di hadapan satu penonton tunggal yang ilahi.

Apr
06
Filed Under (Uncategorized) by akiskandar on 06-04-2007

Seorang kawan lama saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan lamanya di salah satu perusahaan paling terkemuka di dunia, sebuah pekerjaan yang telah melambungkannya ke percaturan internasional dan membawanya melanglang buana, untuk melanjutkan usaha keluarganya di sebuah kota yang tidak terlalu besar dengan infrastuktur yang rasanya belum terlalu maju. Sebuah keputusan yang mengejutkan. Sebuah keputusan yang sangat berani. Tetapi tentu bukan tanpa pertimbangan yang matang.

Saya telah lama mengenalnya, mungkin sejak sekitar 11 tahun yang lalu, di SMA. Tetapi sebenarnya kami tidak pernah benar-benar akrab, hanya sekedar saling tahu. Kami kemudian kuliah di jurusan yang berbeda dari sebuah universitas yang sama, juga tanpa pernah banyak berinteraksi. Justru di dunia maya-lah kami akhirnya lebih banyak berinteraksi ketika kami sama-sama memblog, dan ber-Friendster ria.

Mungkin dia tidak pernah tahu ini, tetapi sejak SMA saya selalu terkesan atas pembawaannya: seorang pria yang selalu tenang, kalem, ramah, murah senyum; singkatnya, selalu enak dilihat. Dia juga seorang yang sangat, sangat, sangat rendah hati. Kalau saya membuat peringkat 5 orang paling rendah hati yang pernah saya kenal dalam hidup saya, dia pasti masuk di dalamnya. Satu hal yang juga mengesankan adalah istrinya, juga satu sekolah dengan kami, telah dipacarinya sejak SMP tanpa pernah putus. Ya, itu juga satu hal yang selalu membuat saya bertanya-tanya: bagaimana ya rasanya melalui masa-masa remaja tanpa pernah menjadi lajang? Praktis seluruh masa remaja kawan saya ini dijalaninya dalam status berpacaran - dengan satu orang, sejak SMP, melalui masa-masa SMA dan kuliah hingga akhirnya mereka menikah. Mengagumkan!

Saya terkejut sekali ketika dalam salah satu blognya ia menyatakan, "Sewaktu SMA, mimpi saya sederhana, saya ingin masuk ke bangku kuliah." Saya tidak pernah menyangka bahwa baginya "… ‘duduk di bangku kuliah’ merupakan sesuatu yang serius bahkan hampir seperti impian … bisa tercapai bisa juga tidak." Saya sendiri tidak berasal dari keluarga yang berlebihan, tapi kami berkecukupan. Baru di kemudian hari saya mengetahui betapa kerasnya upaya orang tua saya supaya saya bisa berkuliah di universitas yang baik - bagi saya, semua itu memang sudah semestinya begitu: setelah SMA, ya kuliah. Tidak pernah terbersit dalam benak saya bahwa saya tidak kuliah. Bahkan dengan enaknya saya tinggal memilih di mana saya ingin kuliah tanpa pernah tahu apa yang terjadi di balik layar.

Memang perjuangan kawan saya ini nampaknya berat, namun kekuatannya sangat mengagumkan. "Tergantung hoki kata orang, namun saya selalu percaya hanya dengan usaha kita hoki itu bisa datang." Mimpinya, satu demi satu, menjadi kenyataan. Dan kariernya pun gemilang. Mungkin ia inilah contoh dari teori mestakungnya Yohannes Surya.

Dalam perjalanan kariernya yang gemilang itu, tiba-tiba ia berhenti. Untuk meneruskan usaha keluarga. Saya pikir ini satu hal yang sangat logis, walaupun agak mengejutkan mengingat riskannya keputusan ini. Bagaimanapun, walaupun judulnya "usaha keluarga", tentu tidak mudah: semakin baik perusahaan lama kita dan semakin gemilang karier kita, tentu lebih berat meninggalkannya dan mulai mengurusi usaha sendiri, daripada kalau perusahaan yang lama adalah perusahaan mediokre dan karier kita pun mediokre. Maka keputusannya itu patut diacungi jempol. Luar biasa! Chapeau!

Melihat kehidupan banyak orang, bosan rasanya melihat begitu banyak mereka yang puas dengan kehidupan mediokre, yang biasa-biasa saja, cari amannya, akhirnya sampai mati pun cuma jadi orang biasa yang tidak pernah berani hidup dalam kepenuhan kemanusiaannya. Setiap keputusan seperti yang diambil kawan saya ini, betapa pun tidak populis, adalah satu jenis keputusan yang membuat kemanusiaan kita terasa manis dan berharga, yang membuat hidup kita lebih hidup dan sejarah manusia mengalami belokan-belokan yang tidak terduga. Seperti E. Roosevelt yang dikutipnya di akhir blognya, "The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams."

Hidupilah mimpimu, kawan. Buatlah keindahannya menjadi kenyataan. Selamat berjuang! Selamat menempuh hidup baru!

PS: Jangan lupa nge-blog dari sana ya :-)