It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Banyak hal konyol dan bodoh, juga hal-hal yang tidak masuk akal dan aneh, yang saya lakukan dalam hidup. Dan sebagian besar di antaranya dilakukan karena satu hal: perasaan terdesak. Perasaan terdesak yang tidak masuk akal sebenarnya. Sejak kecil dan sepanjang masa remaja hingga baru-baru ini, saya selalu beranggapan bahwa: lebih cepat = lebih baik. Berbicara lebih cepat, bertindak lebih cepat, berjalan lebih cepat, dan sebagainya. Tetapi ternyata tidak demikian.
Yang paling kentara adalah hal berbicara. Kecepatan berbicara saya semakin lama menjadi semakin mengkhawatirkan, walaupun dalam empat tahun terakhir telah mengalami pelambatan yang lumayan pesat, dan dalam setahun terakhir semakin pesat lagi, walaupun kenyataannya seringkali masih terlalu cepat.
Tetapi bukan hanya itu. Yang lebih parah lagi adalah dalam hal bertindak. Ada masa-masa di mana saya merasa terdesak untuk bertindak lebih cepat, mengambil keputusan dengan segera, dan bahkan dalam keadaan-keadaan tertentu merasa satu hal yang telah dipicu, satu pesanan yang telah dilontarkan, satu instruksi yang telah diberikan, tidak bisa diinterupsi lagi dan dialihkan kepada hal yang lain padahal saya sebenarnya ingin mengalihkannya. Selanjutnya hal-hal itu telah membawa akibat-akibat yang walaupun baik tetapi tidak optimal … ujung-ujungnya, membawa penyesalan. Itu sisi yang lebih positif; sisi yang lebih negatifnya, ada kalanya sikap dan pemikiran saya itu membawa kekacauan. Ketertiban yang telah tercipta pada mulanya bisa berubah menjadi khaos karena ketidakmampuan saya untuk mengendalikan dorongan untuk menjadi lebih cepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi.
Kecepatan ternyata lebih mudah membawa bencana dan lebih banyak bahayanya daripada kebaikannya. Seperti kata seorang kawan, ketika belajar mengemudi mobil, "Mana bisa jago kalau tidak bisa bawa lambat?" Kata kuncinya, nampaknya, adalah pengendalian diri. Mengendalikan diri untuk berproses dengan cukup cepat tanpa mengorbankan hal-hal yang perlu, tetapi mengutarakan hasilnya dan berkomunikasi serta bertindak dengan kecepatan yang memadai untuk dipahami dengan baik oleh semua orang; juga berani bertindak, melontarkan interupsi-interupsi di saat-saat yang perlu, tanpa merasa enggan, tanpa merasa khawatir, tanpa merasa terdesak. Kenapa? Karena, jangan-jangan perasaan terdesak itu hanya ada di dalam diri sendiri, sebuah perasaan untuk menambah kecepatan tanpa henti, tanpa menyadari betapa absurdnya keadaan itu.
Kecepatan bukan segalanya. Ketercapaian jauh lebih penting. Kebermaknaan dan keutuhan makna adalah yang terpenting.
Dan kini saatnya saya belajar untuk melambatkan diri: melambatkan kecepatan berbicara saya, kecepatan bertindak yang cenderung menjadi gegabah, juga ketergesa-gesaan dalam banyak hal yang cenderung malah membuat saya menjadi tidak teliti dan sembrono.