It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Jika nilai mutlak dari variabel x adalah 10, atau dirumuskan |x| = 10, berapakah nilai x? Bisa 10, tapi bisa juga -10. Begitu juga dengan keramahan.
Seorang yang polos sekali dan tidak terdidik dengan baik akan mempunyai nilai keramahan 0. Kalau dia sedikit belajar dan menjadi agak baik, maka nilai keramahannya akan naik menjadi 1, 2, dan seterusnya. Di sini misalnya saya menjumpai beberapa orang pekerja klerikal dan pesuruh yang sikapnya terasa agak kasar, walaupun hatinya saya yakin adalah baik. Di sini juga kita menjumpai para penjahat kelas super-teri, yang baru-baru belajar, kadang-kadang suka mengagetkan, tapi digertak sedikit juga sudah mundur. Demikian pula para karyawan yang brengsek di sejumlah toko, berada pada kategori ini.
Pada tingkat yang tinggi, misalnya 7, 8, dan seterusnya kita menjumpai orang-orang yang kita sebut "baik" dan "ramah". Orang-orang yang menyenangkan untuk diajak bergaul. Tetapi bukan hanya mereka. Di sini kita juga menjumpai penjahat-penjahat kerah putih. Semakin canggih kejahatan mereka, tentu mereka juga harus mengembangkan keterampilan antar-pribadi mereka. Keramahan mereka pun meningkat. Ketika nilai mereka sebenarnya -7, -8, -9, bahkan -10 tetap saja nilai mutlak mereka adalah 7, 8, 9, 10.
Bagaimana membedakan keduanya? Bagaimana supaya kita jangan terjebak pada nilai mutlak, tetapi pada nilai variabel itu sesungguhnya? Jangan terlalu polos. Jangan naif. Jangan percaya begitu saja pada keramahan orang. Orang yang bersikap agak kasar bisa saja diabaikan, tetapi orang yang ramah, apalagi sangat ramah, harus diwaspadai. Uji benar-benar, apakah dia benar-benar bernilai positif atau sebenarnya bernilai negatif dan hanya nilai mutlaknya yang positif sehingga kita sebenarnya sedang ditipu mentah-mentah.
Maka ketika orang berkata, "Dia orang yang sangat ramah," jangan langsung menganggap itu sebagai suatu hal yang baik. Uji. Temukan kebenarannya. Jangan sampai Anda termakan oleh kejahatan, apalagi bersahabat dengan kejahatan.
Pada peristiwa-peristiwa besar seperti HUT ke-50, perayaan-perayaan istimewa, ajang-ajang khusus, banyak orang akan memberikan dan menampilkan yang sebaik mungkin yang mereka bisa. Acara-acara itu adalah sebuah panggung, di mana pekerjaan orang akan terpampang dengan jelasnya di hadapan banyak orang. Di dalam kesempatan-kesempatan semacam itu, ketika melihat seseorang berkinerja baik, apakah kita memuji dan lantas mengangkat dia? Menurut saya, jangan. Prestasi dalam acara besar tidak boleh dijadikan patokan jika sebelumnya orang itu tidak menunjukkan prestasi dalam acara-acara kecil, pada kesempatan-kesempatan biasa.
Kinerja orang yang sesungguhnya terlihat dari hal-hal kecil, dari kegiatannya sehari-hari. Di situlah nampak prestasi yang sesungguhnya, di mana komitmen dan kesetiaan diuji. Ketika tidak ada orang yang melihat, ketika kita tidak berada di atas panggung, maka kinerja yang sesungguhnya terlihat. Jika orang tidak lulus dalam tes ini, maka sebaik apa pun ia berprestasi pada peristiwa besar, prestasi yang belakangan itu boleh - malah harus - diabaikan.
Seorang oportunis dan eksibisionis akan menggunakan setiap kesempatan di panggung untuk tampil sebaik mungkin, tapi ketika tidak ada lampu sorot, ketika tidak ada mata yang memandang, ia pun akan kembali ke jati dirinya. Itulah sebabnya kesetiaan sehari-hari lebih penting daripada performa publik yang sesaat.