It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Life is an evolution, a continuous evolution. It involves and it is a constant, continuous change. Apart from the continuous change, however, there are times when we have to go through a series of events that force us to change … then we must deliberately change. There are times when we realise that the old "me" has been overused and that it was time to redesign, remake and re-image a new "me".
Such moments can all be deliberately planned as well as unwillingly accepted. It’s sometimes a matter of whether we have the courage to change, to adjust, to break through the old barriers and find way to step forward. The question is whether we would receive life’s challenges to yet a closer fulfillment of our dreams, to find a new "me".
It is in the pathway toward the ideal "me" that life would find yet another strength: strength to go ghrough, strength to fight, strength to struggle. It is now such a moment for me. Another great time - somehow, it’s just the right time to get the re-inventing thing to begin, to start yet another process of remaking myself.
Time after time, I find myself surrounded by great opportunities. I ask myself, "Who am I that I should be worthy of these?" These are not only great opportunities, not only wonderful, but also rare chances, honourable and distinguished. They oftenly bring me to the highest peaks in my life. Sadly, that’s not it oftenly ends. There are also moments - lots of them - that after the highest peaks come the deepest falls.
Every time, like tonight, at the end of yet another honourable, distinguished, successful event, I find myself overwhelmed by the success: a sigh of relief, a sense of disbelief, but also a sense of gratitude. Thank you God, for giving me this chance. Thank you for even helping me, guiding me all the way to its end and fulfillment. Thank you for the innumerable things I cannot even enlist fully and perfectly.
In such moments, at every end of relief-disbelief-gratitude, I could just do nothing else but sit in astonishment at how much God can use me. Indeed, He uses broken vessels. I find myself over and again asking, "Who am I Lord, that I should be worthy of this?" Nevertheless, I thank You. I try my best to get to the bottom of the valley after this peak.
Indeed, it is in receiving well that God can use a broken vessel like me that I would be able to grow even more, to hold myself from falling from the peak to the pit. Yes, that’s it! One root of the fall is my unability to accept that God can actually use me despite my falling short of His standard. I need to accept it well and be grateful about that.
Thank you God, for using a broken vessel like me. It’s not about me. It’s about you. I’m not worhty of these great things, but it is through my unworthiness that Your greatness would be more perfectly revealed. Thank you.
Semakin lama saya menemukan kenyataan bahwa berbicara ternyata sangat penting. Kompetensi berbicara ternyata bisa dan benar-benar menjadi sesuatu yang pelik di dalam karier saya. Bukan cuma soal duduk dan bekerja, tetapi ternyata ada banyak saat dan kesempatan di mana dengan berbicara saya bisa mencapai dan mewujudkan banyak hal yang lebih berarti dan berdampak lebih luas daripada kalau saya cuma duduk dan bekerja.
Ketika saya berbicara - tentang hal yang tepat, kepada orang yang tepat, pada saat yang tepat - maka saya bisa mendapatkan orang-orang dengan kompetensi yang tepat mengerjakan hal-hal yang tepat untuk alasan-alasan yang memiliki nilai strategis yang lebih tinggi. Sungguh menakjubkan, walaupun semula nampaknya tak masuk di akal saya, tetapi setelah direnungkan baik-baik nampaknya memang begitulah jadinya dengan masyarakat kita yang semakin kompleks ini. Berupaya mengerjakan banyak hal seorang diri - seberapa pun baik dan tepatnya itu - bisa jadi bukan hal yang terbaik.
Berpikir sistematis dan sistemik adalah imperatif. Memberdayakan orang-orang yang tepat untuk tugas yang tepat dan pada saat yang tepat akan membawa organisasi kepada pencapaian tujuan strategisnya. Dan untuk itu seringkali berarti pada bagian kita, kita perlu berbicara kepada orang yang tepat pada saat yang tepat. Untuk apa? Untuk memicu proses selanjutnya agar bergulir kepada pencapaian tujuan strategis itu dengan mengerahkan sejumlah orang lainnya, bukan cuma bekerja keras sendiri di satu pojok yang tak terlihat.
Jika apa yang kita lakukan memang sesuatu yang berarti bagi perusahaan, maka seharusnya kita tidak malu membawanya ke ruang publik, membuat itu semua menjadi agenda publik. Dan banyak dari antara upaya itu dilakukan dengan: berbicara.
Dalam sebulan terakhir ada dua hal serupa yang mengejutkan sekaligus membuat saya bangga. Yang pertama, dalam sebuah acara seminar di mana saya diminta menjadi moderator untuk dua sesi. Ketika saya datang ke tempat acara, alangkah terkejutnya saya karena berbagai tanda yang mereka tempel di sana-sini (panah penunjuk aula, dsb.) dibuat dari dokumen yang saya buat sudah cukup lama, dalam rangkaian acara serupa beberapa waktu sebelumnya di mana saya menjadi ketua panitia. "Mereka tidak mengubahnya? Cuma mendaur ulang karya saya?" Wah, saya merasa agak tersanjung di situ, walaupun cuma urusan kecil semacam itu. Setidaknya itu adalah sebentuk pengakuan atas kualitas pekerjaan saya.
Yang kedua, di lembaga lain di mana saya juga terlibat, beberapa tahun silam saya diminta membantu (artinya, itu sebenarnya bukan tanggung jawab saya) melakukan beberapa hal semacam: membuat angket, merekapitulasi data, terkadang juga membuat analisis data serta laporan akhirnya. Saya berpikir semua cuma pekerjaan sesaat, yang selesai sampai di situ. Sekian lama waktu berlalu. Dalam sebulan terakhir saya secara tak sengaja melihat satu dokumen yang baru diproduksi. "Apa itu?", saya penasaran. Sekali lagi saya terkejut, tapi juga tersanjung (mungkin yang kedua lebih dominan daripada yang pertama :D). Apakah itu? Saya melihat ternyata berbagai hasil pekerjaan saya tetap mereka simpan dan mereka pakai, bahkan terus-menerus di daur ulang. Ya, waktu demi waktu, mereka hanya mengubah datanya tetapi memakai seluruh kerangka hingga penyusunan laporan yang saya buat.
Sungguh membanggakan ketika pekerjaan diakui, walaupun tidak disertai gembar-gembor sana-sini dan banyak orang tidak mengetahui bahwa semua format dan alur itu dibuat oleh saya (orang yang cuma dimintai tolong :D). Setidaknya, pada saat ini saya bisa mengatakan bahwa di tempat-tempat itu, di semua lembaga itu, saya sudah meninggalkan sidik jari saya. Walaupun keterlibatan saya sangat minim, benar-benar tidak lebih dari "tukang bantu" yang tidak punya status apa-apa yang berarti, tetapi kesadaran bahwa hasil pekerjaan saya sangat dihargai adalah satu hal yang menyenangkan.
Tanpa kehadiran saya, tanpa "bantuan" saya, tanpa sidik jari saya, lembaga-lembaga itu tidak akan sama. Dan itu adalah kepuasan yang besar.