It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Hari ini, 13 April 2007, saya membaca dua berita mengenai dua buah buku tentang tokoh besar: Kompas mengulas buku “Soeharto: The Life and Legacy Indonesia Second’s President” karya Retnowati Abdulgani-Knapp dan Time mengulas buku “Being Mohandas” tentang Mahatma Gandhi karya Rajmohan Gandhi.
Buku tentang Soeharto menceritakan tentang bagaimana Soeharto di tengah-tengah masa yang sulit bisa bersikap sangat ksatria dan menjadi seorang tokoh penting, seorang yang sangat berharga dan benar-benar berkarakter bagi banyak orang, misalnya ketika di awal pemerintahannya Indonesia berutang beras kepada Singapura dan harga beras naik tinggi, kemudian Singapura ingin menghapuskan utang itu, tetapi ia bersikeras tetap membayar kembali utang itu, bahkan dengan beras berkualitas yang lebih baik. Soeharto menunjukkan kehormatan yang luar biasa dan jasa yang tidak kecil bagi rakyat Singapura. Juga bagi ASEAN. Dikutip, “Ia merupakan tokoh yang sangat penting untuk menjadikan Asia Tenggara seperti sekarang,” kata Kesavapany dari Institute of South East Asian Studies.
Kenyataannya memang banyak sekali jasa Soeharto bagi Indonesia ini, juga bagi Asia Tenggara dan sejumlah bangsa di dunia. Pada akhirnya ia memang jatuh; ia mengakhiri pemerintahannya dengan cara yang tercela dan memalukan. Tetapi, tunggu dulu: jangan gampang-gampang menghujat beliau. Terlepas dari masalah pengadilan, ketika kita berbicara tentang biografi, kita juga perlu mengingat banyaknya hal yang telah beliau lakukan dari banyak orang.
Buku tentang Gandhi menguak tentang kehidupannya sebagai suami yang kejam, ayah yang nyaris tidak pernah ada untuk anak-anaknya. Istrinya sangat menderita karena banyak kelakuannya yang menyakitkan hati, belum lagi perselingkuhan-perselingkuhannya serta berulang kali ia bermain perempuan, walaupun dalihnya itu untuk menguatkan askesenya (orang tentu bertanya-tanya sejauh mana tingkat keberhasilannya). Nampaknya, orang yang seringkali dipandang sebagai santo ini juga sangat bergelut dengan kemanusiaannya yang telah tercemar. Jauh di dalam hatinya, Gandhi masih mengalami kuatnya tarik-ulur kedua kutub dalam kompas moralnya.
Penting sekali seorang pemimpin menjaga hatinya, menjaga dirinya otentik, luar dalam sama. Hidup manusia selamanya adalah perjuangan. Dan bagi para pemimpin, bagi para figur publik, perjuangan itu akan berlipat ganda beratnya. Tanpa otentisitas itu, cepat atau lambat, inotentisitas akan melemahkan dan mempermalukan kita.