It’s where I’d like to share my thoughts, my passion, my life: the world of Christian Education. For more of my blogs, take a look at http://360.yahoo.com/akiskandar/ To have a peek at my world, go to http://www.flickr.com/photos/akiskandar/
Sebagai guru, dalam acara-acara bersama saya seringkali ditanya siapa guru saya yang berkesan, siapa guru yang sangat diingat dengan cara yang istimewa. Bagi saya tidak ada guru semacam itu. Rasanya tidak ada guru yang sampai menginspirasi diri saya. Mungkin karena gaya belajar saya yang sangat mengandalkan buku - visual dan bukannya audio. Mungkin juga karena saya memang terbiasa menjadi siswa berprestasi yang tidak terlau perlu didorong-dorong oleh guru, diberi nasihat ini dan itu. Belajar adalah suatu kenikmatan buat saya sehingga ada atau tidak ada guru menjadi tidak terlalu berpengaruh. Ketika tidak ada guru pun saya tetap bisa belajar.
Tetapi ternyata ada satu bidang yang sangat berbeda: olahraga. Sepanjang masa studi saya di pendidikan dasar tidak pernah saya menyukai olahraga. Itu satu pelajaran yang selalu menjadi momok. Guru-guru olahraga saya yang terburuk adalah orang-orang yang hanya mempedulikan mereka yang memang bisa berolahraga dan sama sekali tidak mempedulikan orang seperti saya yang tidak suka berolahraga, malahan mencemooh, meledek dan mempermalukan di depan kelas. Guru-guru olahraga saya yang terbaik pun hanyalah orang-orang yang cuek terhadap saya - memang mereka tidak melakukan hal yang buruk, tetapi juga nampaknya tidak berupaya membuat saya menjadi tertarik dan menyenangi olahraga.
Semua hal itu membuat saya memandang olahraga sebagai satu pelajaran yang inferior. Demikian pula dalam kehidupan: olahraga, hobi berolahraga, serta hal-hal yang berbau olahraga, adalah hal-hal inferior. Guru-guru olahraga pun demikian, ada kalnya saya memandang mereka sebagai orang-orang yang inferior.
Maka sangat tidak terduga bahwa ketika pada akhirnya ada orang yang menjadi guru yang inspiratif bagi saya, seorang guru yang sangat berkesan, ternyata ia adalah instruktur olahraga saya. Memang dia bukan sembarang orang: lulusan FKUI jurusan fisioterapi, ahli dalam anatomi pula. Kredensial itu masih ditambah pula dengan dasarnya bahwa ia memang orang yang suka membantu, ia memiliki kepribadian yang sangat menyenangkan dan kepedulian yang tinggi. Maka jadilah semua itu suatu kombinasi yang cocok dengan saya yang membenci olahraga - ia membuat saya menyenangi olahraga, ia bisa membuat saya melihat (bukan sekedar "tahu", tapi menyadari dengan hati) betapa pentingnya olahraga dan kebugaran bagi tubuh dan kehidupan saya.
Tidak terduga bahwa orang yang menjadi guru inspiratif saya tidak saya jumpai di sekolah, bahkan tidak berprofesi sebagai guru dalam pengertian tradisional. Tetapi dari dirinya banyak sekali hal yang saya pelajari: perhatiannya, kepeduliannya terhadap kemajuan saya, kemauan yang tulus untuk membantu, semangat untuk terus mendorong saya bahkan di saat-saat ketika terlihat jelas bahwa ia sendiri sedang kelelahan, pemahaman yang mendalam dan luas, kesediaan untuk melenceng dari "kurikulum" yang normal demi kemantapan kompetensi saya … dan masih banyak lagi.
Jarang sekali saya menjumpai orang semacam beliau ini. Dan selanjutnya, ketika orang tanya kepada saya, siapa guru favorit saya, saya sudah punya jawabannya: Rama. Seandainya dari dulu saya diajar oleh guru semacam beliau, hidup saya pasti akan sangat berbeda sekarang ini.
Ah … sudah lama sekali rasanya tidak menulis. Hari-hari belakangan ini memang sangat padat. Banyak tuntutan pekerjaan dan pelayanan, walaupun ada pula yang terbengkalai. Rasanya memang harus benar-benar fokus. Perlu mendisiplinkan diri untuk fokus pada beberapa bidang utama saja. Tapi ada saja tanggung jawab yang tidak bisa dielakkan, yang mau tidak mau harus diterima …. Seperti hari ini. Niatnya datang kondangan, eh, malah di sana disodorkan satu tanggung jawab lagi. Di satu sisi memang ini adalah kesempatan besar, tetapi di sisi lain saya juga merasa diri saya sudah teregang terlalu lebar hingga menjadi terlalu tipis (seperti Bilbo Baggins :-D).
Masih ada banyak tugas yang harus diselesaikan. Hari ini baru saja UAS, sudah 3 mata kuliah, tinggal 1 lagi minggu mendatang ditambah 1 makalah yang harus diselesaikan. Selebihnya? Ada tugas-tugas sampingan, pesanan-pesanan klien serta kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang memang sedang saya fokuskan dalam beberapa bulan ini.
Mulai bulan Mei lalu, saya sudah kembali ke rumah. Genap 46 bulan saya tinggal di kos (itu berarti sama dengan 4 tahun kurang 2 bulan). Memang bukan benar-benar kos karena hanya saya seorang diri yang kos di situ, ada kamar mandi pribadi, bisa masak, ada tukang cuci pula, tapi selama hampir 4 tahun itu saya benar-benar merasakan hidup mandiri. Mengurus diri sendiri, mulai dari belanja bulanan, memastikan semua stok kebutuhan sehari-hari tersedia dalam jumlah yang memadai, memastikan semua kebutuhan darurat selalu ada, mengatur kamar, mengelola ini dan itu. Kesimpulannya? Pengantin baru sebaiknya tinggal di rumah sendiri, walaupun kos atau kontrak, tetapi pengalaman tinggal sendiri itu tidak akan ada duanya dibandingkan kalau sejak awal tetap tinggal bersama orang tua. Ada hal-hal yang nampaknya tidak akan bisa dipelajari selama orang tetap tinggal bersama orang tua.
Ada banyak sekali hal yang menarik. Misalnya, saya jadi tahu bahwa banyak produk makanan di supermarket yang petunjuk penyajiannya tidak bisa dipercaya. Satu kali saya masak makaroni dengan mengikuti petunjuk di kemasannya, langkah demi langkah, tetapi tidak dituliskan bahwa makaroni harus direndam sekurang-kurangnya setengah jam dulu sebelum diproses, sehingga jadilah makaroni yang matang tapi keras. Satu hari saya kehabisan stok sabun mandi sehingga malam-malam harus ke warung mencari sabun. Kali yang lain saya mau minum obat, tapi ternyata obatnya sudah bau sabun karena diletakkan terlalu berdekatan (sabun dan makanan bahkan tidak boleh diletakkan di laci yang sama).
Sisi positifnya, dalam waktu 4 tahun itu jarang sekali saya menonton TV. Waktu saya benar-benar produktif dari bangun pagi sekitar pukul 5 atau 6, sampai tidur malam sekitar pukul 22 atau 23, nyaris tidak ada waktu yang terbuang di jalan, untuk nonton TV atau bermain-main lainnya. Sisi negatifnya, seringkali juga saya merasa kesepian, susah menghubungi teman, apalagi malam-malam, kalaupun ada yang masih bangun, tetap saja tidak enak menelepon selarut itu.
Yang paling parah adalah saat demam tinggi, memang orang di kos membantu membelikan makanan, tetapi ketika harus ke dokter, juga ketika harus pulang ke rumah … benar-benar sendirian! Sampai-sampai satu celana kerja saya sampai sekarang berbekas agak putih karena terjatuh di Tanah Abang, karena terlalu lemas untuk mengangkat kaki dari jalan ke trotoar.
Sebulan terakhir, saya sudah kembali ke rumah. Mei adalah bulan transisi. Bulan yang melelahkan, jam biologis masih harus diatur. Penghematan yang diperhitungkan pun belum menjadi kenyataan karena dalam masa transisi pengeluaran memang nyaris menjadi dua kali lipat - kos tetap dibayar, tetapi biaya pulang-pergi dan capek di jalan juga sudah terasa. Kini sudah tidak ada lagi kos. Bulan Juni sudah tiba.
Mudah-mudahan cuaca semakin cerah, walaupun jangan sampai terlalu panas. Mudah-mudahan banyak hal indah terjadi di bulan ini. Mudah-mudahan banyak hal yang menjadi semakin jelas dan semakin indah.